Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

9 Mei 2020

Kapan Terakhir Kali Hatimu Berantakan?

Aku, hari ini.



Jadi, sejak jam 6 pagi tadi Baba dan Anak Bayik pergi. Ke rumah simbah doang sih di kabupaten sebelah. Tujuannya agar aku punya waktu istirahat di rumah karena udah beberapa hari aku kayak rada ngeluh gitu ke Baba, setiap menjelang buka puasa tuh Anak Bayik suka agak susah diatur. Padahal jam segitu aku lagi ngantuk-ngantuknya dan laper-lapernya (kalau siang Anak Bayik suka ga mau tidur), sedangkan aku momong sendirian.

Hari ini Baba kasih aku me time. Ini selalu Baba lakukan kalau aku udah mulai kelihatan jenuh dengan rutinitas harianku. Dia pasti akan ngasih aku waktu untuk menikmati kesendirianku untuk melakukan hal apapun yang aku mau.

Alhasil seharian ini aku di rumah sendirian.

Sebelum mereka berangkat, aku tuh super ngantuk karena biasanya habis subuh kan tidur lagi. Eh ini Anak Bayik ikut bangun dan nggak mau tidur lagi setelah subuh. Akhirnya Baba langsung prepare untuk ngajak Anak Bayik pergi se-pagi-itu. Emang sengaja diajak pergi pagi banget karena banyak hal; pertama, Baba harus ke sawah. Kedua, kalau siang keburu banyak orang dan panas di jalan. Setelah menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid 19, mereka berangkat.

Setelah mereka berangkat, aku masuk rumah. Seketika rasa ngantukku lenyap entah kemana. Akhirnya ku niatkan hari ini mau beres-beres rumah aja. 

Aku nyuci baju, nyuci piring, beresin dapur, ganti layout kamar, beresin tempat main Anak Bayik, ganti sprei, dorong-angkat 2 kasur, geser meja, buang sampah, pindah-pindahin lemari, nyapu, ngepel. Oiya, disambi ngajar daring juga buat 6 kelas hari ini. Semuanya kelar jam setengah 1 siang. Capek? Lumayan. Tapi seneng. 

Hasilnya, dapur rapi ga ada sampah dan cucian piring. Baju kotor udah nggak numpuk lagi. Layout kamar baru, barang nggak terpakai taroh di gudang, kamar jadi lega dan suasananya baru. Lantai bersih, kinclong, wangi. Buatku yang nggak terlalu suka berantakan, ini adalah saat-saat rumah yang paling rapi sejak Anak Bayik mulai bisa jalan.


Hujan deras

Habis sholat, ternyata mendung dan hujan deres banget. Akhirnya aku istirahat, tidur siang sampai jam 4 sore. Bangun, sholat dan rapi-rapi sambil persiapan buka puasa yang ala kadarnya.

Di luar hujan masih turun.

Laptop masih nyala. Memutar beberapa buah lagu. Aku menatap layarnya.

Lagu selesai. Hening.

Rumah udah beres, sajian buka sudah siap. Tapi, kayak ada yang kurang...
Ah, ternyata rumah yang rapi ini tidak seperti biasanya. Hari-hari sebelumnya, setiap sore pasti ada Anak Bayik yang minta jalan-jalan, atau minta disuapin di depan rumah, atau mainan balok, atau sekedar merengek minta digendong. Emang sih dia cuma di rumah simbahnya, deket. Tapi hatiku ternyata bisa jadi se-berantakan-itu.

Pojok mainan yang tidak tersentuh pemiliknya

Rencananya, Anak Bayik dan Baba akan pulang sebelum magrib. Tapi hujannya sampai menjelang magrib kok belum juga reda. Biasanya Baba akan pulang dari sawah 30 menit sebelum berbuka dan masak makanan enak untuk kami buka puasa, kali ini kok belum juga kelihatan muka gantengnya batang hidungnya.

Akhirnya aku buka puasa sendirian. Biar nggak sepi-sepi banget aku sambil muter channel Youtube-nya Desta Vincent. Ah setelah hampir 2 tahun menjalani Ramadhan bertiga, hari ini aku buka puasa sendiri. Semakin dirasakan, hatiku makin berantakan. Tiap ada kendaraan lewat, aku melongok keluar jendela. Oh, bukan. Gituuu terus.

Baba sampai rumah sebelum isya. Anak Bayik kurang lebih satu jam kemudian diantar simbahnya. Ketemu aku dan langsung nodong-gentong. Selesai nodong-gentong, dia mulai menyentuh mainan-mainannya. Satu persatu dimainkan, dipindah-pindahkan. Bosan dengan mainan yang satu, ganti dengan mainan yang lain.

Kini rumah rapi itu seakan tidak bersisa. Tapi ada berantakan lain yang hilang. Hatiku terasa sudah berada di tempatnya lagi seperti semula. Mendengar suara Baba. Mendengar celoteh dan tawa Anak Bayik yang menggemaskan. Mendengar dia memanggil, "Mama... mamaaa.." sambil tangan mungilnya memberikan sebuah balok kayu mainan buatku.

Jadi seorang ibu itu memang perasaannya kadang se-aneh-itu.
24 jam dengan tugas yang sama setiap harinya. Siapa yang tak jenuh? Sungguh aku salut dengan para ibu rumah tangga yang selalu menghadapi kegiatan yang hampir itu-itu saja setiap harinya.

Selama WFH, setiap hari aku belajar menjadi ibu rumah tangga. Belajar mengelola emosi. Yah, anggapan bahwa "Nanti kalau udah gede juga nggak gitu lagi..", saat si anak "membuat permasalahan", sesungguhnya adalah hal yang tak akan pernah terwujud. Anak tumbuh dan berkembang, begitupun permasalahan yang akan ada dan kita hadapi sebagai orang tua.

Adakah yang mengalami masa-masa saat anak udah masuk jam tidur siang. Udah nodong-gentong, dikipasin, dia udah merem-merem, kita udah ikutan ngantuk, tiba-tiba ada motor knalpot racing lewat. Wrenggggggggggg. Kemudian mata yang hampir merem itu mendadak melek melotot dan nyari jendela untuk lihat 'ada paan sih nih?'? Anak nggak jadi tidur, emaknya puyeng karena udah ngantuk tapi harus bangun lagi.

Jadi, me time untuk ibu memang diperlukan. Dan sebagai suami, Baba sudah amat sangat baik dan pengertian dengan take over pengasuhan dan memberikan kesempatan istirahat buatku. Walaupun ujung-ujungnya baru ditinggal Anak Bayik beberapa jam aja udah kangen berat, tapi setelah me time ibu akan lebih fresh. Badan lebih seger karena istirahat nggak terinterupsi rengekan nodong-gentong dan siap untuk momong Anak Bayik lagi keesokan harinya.

Jadi, gapapa nih kalau hatinya berantakan?
Ya gapapa. Bentar doang inih.

27 Januari 2020

Jadi working mom atau di rumah aja?

Wah berat nih berat..

Membahas soal working mom dan stay-at-home mom memang nggak akan ada habisnya. Semua punya kelebihan dan kekurangan, semua keputusan akhir sudah pasti telah didiskusikan dengan matang bersama keluarga. Walaupun waktu bersama di rumah dengan si kecil akan berbeda, satu hal yang sama: ibu hanya ingin anaknya sehat dan bahagia. Betul tydaq?

Di postingan ini aku nggak mau bahas perbandingan working mom dan stay-at-home mom, termasuk bagaimana pola asuhnya yang kadangkala kalau dilihat di sosial media tuh kayaknya bikin para ibu jadi insekyur. "Kalo jadi working mom itu nggak bisa ngontrol pola asuh anak..", atau "Buat apa aku kuliah tinggi-tinggi kalau hanya untuk di rumah aja..". Hadeh, percaya padaku bahwa perdebatan soal itu tiada gunanya. Bikin emosi doang.

Aku cuma akan cerita tentang bagaimana aku menjalani kehidupanku sebagai seorang working mom dan juga sesekali menjadi stay-at-home mom. Tentang bagaimana realitanya, bagaimana perasaanku, dan berakhir dengan kesimpulan: mana sih yang lebih enak?

Oke, tarik nafas dulu. Mudah-mudahan ngga salah ngomong. Hehe.

Secara default, jadwal kerjaku mulai Juli 2019 sampai saat ini bisa dibilang hampir kayak ASN (walaupun aku bukan), which is berangkat pagi banget dan pulang setelah Ashar.

"Loh, kamu kan GTT, ngapain ikut jam kerja ASN?"

Ya sebenernya siapa yang mau sih? Wkwk. Sayangnya, pengaturan jadwal di tahun ajaran 2019/2020 ini memang kayaknya nggak bersahabat gitu sama aku. Selalu dapet jam ngajar pertama dan terakhir, tengahnya bolong. 36 jam pelajaran yang mesti aku ampu juga nggak bisa bikin aku pulang pas jam kosong, karena..... jauh banget ya Allah dari rumah T.T

Oiya, aku kerja 5 hari seminggu. Senin-Kamis dan Sabtu. Jum'at kosong alias howreeeee jadi stay-at-home mom!

Jadwal kerjaku berimbas pada kuantitas pertemuanku dengan Anak Bayik. Pagi dia bangun sebelum Subuh, aku gendong, ganti popok dan langsung dimomong sama Ayah atau Mbah Kakung. Aku nyiapin keperluanku sendiri. Maksimal jam 6.30 aku udah harus banget berangkat. Seharian Anak Bayik dimomong sama Mbah Kakung, Ati (ibu mertuaku) atau Ayah kalau lagi nggak ke sawah atau nggak ada jadwal ngajar. Sampai rumah jam 16.00 kadang Anak Bayik udah selesai mandi, tinggal DBF, main sampai magrib, makan malam dan dia tidur (biasanya sih tidur habis Isya).

Udah, gitu aja tiap hari.
Kadang rasanya belum puas main sama Anak Bayik, ngelihat hari ini dia punya kemampuan baru apa, makannya lahap atau enggak, snack dan buahnya habis seberapa banyak, minum yang aku siapin habis atau enggak.. Tapi ya mau gimana, keadaannya harus begitu. 

Sejujurnya, aku besar di keluarga yang perempuannya kebanyakan jadi stay-at-home mom alias mbokku dewe ki yo IRT. Jadi, aku agak kurang bisa membawa diri dan susah juga buat membiasakan diri hidup di lingkungan yang suami-istri kudu kerja, anak dijagain orang lain. Tapi ya semakin kesini aku semakin terbiasa lah.. tapi, masih belajar membiasakan diri.

Kalau udah kamis malam, ku happy banget gaes. Bukan karena malam jum'at lalu sunnah rosul (emmm...), tapi karena Jum'at aku off. Aku bisa seharian di rumah, main, nyuapin, pokoknya hari bermain bersama ibu deh kalau Jum'at tuh.

Apalagi minggu kemarin tuh kebetulan banget sempet kejadian aku salah makan dan akhirnya tengah malam aku muntah-muntah, dibawa ke IGD dan untungnya nggak sampai harus dirawat. Singkat cerita aku dapet surat dokter untuk istirahat 2 hari, which is itu hari Rabu dan Kamis. Hari Jum'at emang aku off, dan Sabtu tanggal merah Imlek. Minggu libur pula. OMG, ini liburan yang tak terencana. Hehe.

Akhirnya aku melepaskan semua beban kerjaan di minggu kemaren, dan fokus untuk istirahat dan mengganti waktu yang hilang bersama Anak Bayik.

Kemudian aku dan Suami memboyong Anak Bayik ke rumah Sleman...

Nggak tau ini emang terjadi di semua orang atau aku aja, tapi kalau kita ada deket sama ibu tuh bawaannya jadi lebih manja ngga sih? Haha. Di rumah Kalibawang tuh aku rasanya kayak nggak ngapa-ngapain karena hampir sebagian besar kerjaan dihandle ibu mertua. Even nyuci pun! (Gara-gara aku gabisa pake mesin cuci front load nih, dan kalo nyuci kudu sampai penuh).

Tapi kalau di Sleman, aku merasa hidupku jadi lebih tertata. Hahaha. Ini aku ceritain bagianku saat jadi stay-at-home mom.

Sebelum subuh bangun, nyuci piring, beresin mainan Anak Bayik, nyapu, sholat. Anak Bayik bangun, ganti popok, nyuci baju terus ngajak Anak Bayik main di depan rumah. Nyuapin Anak Bayik, terus nemenin bobok pagi. Habis Anak Bayik bangun, mandiin, ngajak main, snack time. Makan siang, bobok siang. Bangun, mandi sore, main di depan rumah, makan malam. Main sebentar, nemenin bobok habis Isya. 

Repeat.

Feels like... Ha gene aku yo ki iso nggarap gawean omah sakmono akehe. Apa? Nggak ada masak? Ya emang. Kalo masak aku bhabhay ajaaa~ Serahkan pada ahlinya (baca: Suami). Hahahaha.

Seneng banget tau rasanya bisa nemenin Anak Bayik main, jadi yang pertama tau kemampuan baru dia, ngajarin ngomong, bacain buku. Pokoknya selalu ada disampingnya, dan jadi orang pertama yang bantu ketika dia butuh bantuan.

Tapi....... ternyata kerjaan kantorku nggak bisa kepegang gaes.
Biasanya, di waktu-waktu kosong di sekolah pas aku nggak ngajar, aku bisa nyelesaikan pekerjaanku, ngoreksi, bikin soal, jobsheet atau nulis di blog kayak gini.

Kadangkala seorang stay-at-home mom mengeluhkan kondisi dimana mereka susah banget buat 'me time', karena yaa emang bener kalau jadi stay-at-home mom itu ke kamar mandi aja ditangisin. Nggak keliatan sedetik doang gara-gara beda ruangan aja dicari-cari. Lihat kondisi rumah yang begituuuu terus juga pasti bikin ibu merasa jenuh. Nah, kalau buatku waktu ketika aku harus bekerja juga kudedikasikan sebagai 'me time'. Asalkan jam pulang nggak molor dan tetep sampai rumah on time.

Jadi, menurutku mana yang lebih enak?
Pertama, somehow seorang ibu bekerja punya berbagai alasan, bisa jadi karena faktor ekonomi, atau lainnya. Kalau aku sih karena cita-citaku emang jadi guru dan biar aku juga punya penghasilan sendiri untuk tabungan (masih related ngga sih kalau ngomongin cita-cita, haha). Cuma aku tuh nggak mau yang ngoyo banget kerjanya, aku masih pengen punya waktu beberapa hari dalam seminggu untuk jadi stay-at-home mom. Jadi misal kerja 3 hari, di rumah 4 hari.

Bekerja juga bisa jadi pengembangan diri untuk si ibu. Ketemu banyak orang, banyak insight juga. Ketemu banyak anak-anak remaja beserta problematikanya. Bisa banget itu jadi bekal biar ngga salah asuh anak.

Kesimpulannya: aku bahagia dan bersyukur dengan apa yang aku jalani saat ini.
Tapi aku dan Suami sedang merencanakan sesuatu yang mudah-mudahan aja bisa jadi jalan pembuka pintu rezeki yang lain. Doakan ya om dan tante onlen :)

16 Januari 2020

How I Deal With This Feeling

Photo by Kelly Sikkema on Unsplash

Postingan curhat doang. Ngga dibaca juga gapapa.
Setiap ibu tuh pasti akan mengusahakan yang terbaik dong ya buat anaknya, termasuk dalam hal meng-ASI-hi. Segala macam cara untuk menaikkan produksi ASI mulai dari banyak makan makanan yang bergizi, selalu berusaha untuk merasa happy, sering-sering pumping, makan dan minum ASI booster pasti udah dijabanin. Kali ini aku mau cerita soal lika liku perjalanan meng-ASI-hi Anak Bayik selama hampir 11 bulan, berikut dengan berbagai drama yang ada.

Jadi, sebenernya aku bukan tipe yang bermasalah dengan ASI sejak Anak Bayik lahir. Pas hamil di 36-37 minggu itu, ASIku udah keluar. Sampai pas Anak Bayik lahir dan dbf pertama kali tuh juga aman-aman aja nggak ada masalah dengan ASI. Terus, karena aku baca-baca di instagram soal bagaimana mencukupi kebutuhan ASI untuk working mom, aku jadi beli alat pumping untuk bikin stok ASIP di kulkas.

Alat pumping pertamaku itu yang manual. Pertama kali pumping di hari ke 4 setelah melahirkan kalau aku nggak lupa, dan langsung dapat kurang lebih 160 ml. Hasilnya langsung masuk kulkas dan freezer. Sengaja akutu mulai pumping di awal, karena masa cutiku kan masih 3 bulan, jadi aku bisa ngumpulin stok ASIP yang banyak biar Anak Bayik nggak kekurangan, plus aku juga nggak perlu ngoyo kejar tayang.

Akhirnya botol-botol penuh ASIP mulai memadati freezer..
Setelah beberapa kali nyoba pumping pakai pompa manual, lama-lama nggak betah karena pompanya tuh sakit banget dan aku susah setting alatnya. Kalo kekendoran, nggak keluar itu ASI. Kalo kekencengan ya sakit juga. Udah gitu kalau misalnya habis pumping terus mau dbf, Anak Bayik gamau karena ada yang bengkak (yah you know what is that). Jadilah aku mulai belajar untuk pumping pakai tangan atau istilahnya tuh marmet kata mamak @rennatapranata.

Aku marmet 2x sehari di jam 10 pagi dan jam 10 malam. Setiap kali marmet aku nggak pernah targetin harus dapet sekian ratus ml. Sedapetnya aja. Dapat banyak ya bersyukur, kalau pas nggak banyak ya bersyukur juga. Pokoknya tetap happy. Karena kunci kelancaran ASI juga dipengaruhi oleh rasa bahagia dan mood dari si ibu. Oiya, ada kok tips and trick supaya pas marmet tu aliran ASI jadi lancar (dapet LDR), aku udah nerapin cara itu juga. Jangan kira tiap marmet aku selalu banjir yaa, enggak juga. Bahkan pernah kok basahin pantat botol doang. But it's okay..

Drama setelah marmet adalah, payudaraku lecet. Bukan lecet lagi sih, luka. Jadi di bagian yang diperah itu kulitnya terkelupas kayak kulit habis digarukin gara-gara digigit nyamuk gitu loh. Soalnya kalau marmet itu kan bagian kulit yang kena jempol kan itu-itu terus, jadinya yah lecet lah. Dan itu di kanan dan kiri. Kebayang rasanya marmet sambil nahan perih tapi tetep harus happy. Daripada nggak nabung ASIP, ya kaaaan? Yaudah dinikmatin aja lah rasa sakitnya gimana sambil berharap lukanya cepet sembuh dan nggak meninggalkan bekas. Terus, apakah lukanya sembuh? Alhamdulillah iya...

Setelah stok ASIP mulai membeku memenuhi freezer, ternyata daerah rumahku sering banget mati listrik T.T Ibu-ibu menyusui yang stok ASIP pasti bakalan panik banget kalau udah mati listrik sampai berjam-jam. Masalahnya adalah, ASIP beku, kalo udah encer gabisa dibekuin lagi gaes. Udah gitu asip beku yang udah encer cuma punya waktu 4 jam aja di suhu ruang. Jadi, intinya pada suatu hari, mati lampu lumayan lama banget dan akhirnya stok ASIP ku nggak bisa diselamatkan. Ah, jadi pen nangis kan inget ini. Akhirnya dengan penuh kerelaan, ASIP itu dibuang. Ya dibuang, orang udah nggak bisa diapa-apain lagi..

Mulai lagi deh dari awal..
Kali ini, aku bikin tempat cadangan untuk simpan stok ASIP. Jadi, selain di rumah mertuaku (tempatku tinggal), aku juga nyetok ASIP di rumah simbahku yang notabene kulkas kosong dan jarang banget mati listrik. Suamiku bertugas sebagai kurir ASIP yang mindah-mindahin ASIP dengan jarak tempuh kurang lebih 20 km-an lah. Capek? Yah, pokoknya prinsipku adalah aku mau ngasih yang terbaik buat anakku.

Menjelang masa cuti berakhir, aku mulai cari-cari pompa elektrik supaya pumping jadi lebih gampang. Kalau marmet kan nggak bisa disembarang tempat, begitupun kalau pakai yang manual. Kalau pakai pompa elektrik, tangan masih bebas ngapain aja selama proses pumping, dan nggak perlu terlalu terekspos. Maklum, di tempatku kerja ngga ada ruang laktasi. Jadi ya pinter-pinternya aja lah gimana caranya. Akhirnya aku sewa pompa elektrik (karena yang menurut orang-orang bagus dan awet itu lumayan mahal harganya) selama satu bulan. Ternyata Alhamdulillah cocok, dan aku mulai nyetok ASIP pakai pompa itu. Pumping juga bisa jadi lebih sering karena bisa sambil santai-santai.

Menjelang masa cuti berakhir juga adalah saat mendebarkan dimana suamiku belajar untuk ngasih ASIP ke Anak Bayik. Suamiku belajar gimana caranya menyiapkan ASIP, nurunin ke chiller, sterilin botol, menghangatkan ASIP sampai memastikan ASIP masuk ke perut Anak Bayik. Kalau dbf mah gampang banget, tapi kalau minumin ASIP? Ooooo tidak semudah itu ferguso. Awalnya aku mencoba tidak menggunakan dot. Aku coba semua media pemberian ASIP mulai dari botol sendok, pipet, sendok, gelas kecil (khusus untuk obat/ASIP), daaaaan semuanya tidak berhasil dengan baik. Hahaha.

Emang nggak mudah untuk Anak Bayik, untuk suamiku, bahkan untuk aku sendiri saat melalui proses ini. Kami semua belajar. Anak Bayik tuh gini, kalau aku ada di rumah, dia maunya dbf. Dan kalau aku di rumah, aku nggak tega liat dia minum nggak dbf. Padahal ya harus latihan dulu sebelum aku bener-bener masuk kerja. Akhirnya suamiku bilang, "Kamu me time dulu sana..". Jadilah ketemuan sama Akhi dan Rahma di Sushi Story waktu itu. Kutinggal pergi beberapa jam, dan pas pulang dikabari kalau Anak Bayik susah diminumin ASIP.

Gimana dong terusan?

Ya tetep dicoba. Sampai akhirnya hari pertama aku kerja lagi, Anak Bayik di rumah berdua sama suamiku. Selama aku tinggal kerja, minum Anak Bayik tetap aku pantau. Sedihnya adalah ketika dalam waktu 7 jam itu dia cuma mau minum 50 ml aja. Hiks, hiks. Ibu tau ini nggak mudah, nak..

Karena pemberian ASIP ini udah ngga sesuai dengan rencana awal, akhirnya kami mencoba pakai dot. Gimana hasilnya? Ternyata masih susah gaes. Minumnya nggak mau banyak. Aku coba evaluasi dari ASIPnya, caraku nyimpan udah sesuai dengan yang seharusnya kok. Cara mencairkannya juga udah sesuai dengan yang seharusnya kok.

Nah, pada masa ini kan kepotong lebaran tuh. Pas libur lebaran aku sempet bersih-bersih freezer dan menerima kenyataan bahwa aku harus mengosongkan freezer dari ASIP beku yang udah lebih dari 3 bulan diperah. Alhasil, dua kantong kresek gede itu isi freezer aku keluarin dan harus aku buang karena udah kadaluarsa. Kalau dihitung, mungkin ada 50an lebih kantong ASIP beku yang berakhir di pembuangan. HOOOOOOH MONANGES AJA WAKTU ITU. Freezer kini tersisa ASIP beku yang belum sampai 3 bulan dan menunggu dihabiskan oleh Anak Bayik.

Ternyata setelah dikulik-kulik, dilakukan penelitian, dan dicoba sampai berminggu-minggu kemudian dengan berbagai cara untuk ngasih ASIP ke Anak Bayik (entah itu ganti karet dot dan lain sebagainya), ditemukanlah solusi bagi permasalahan ini.

Anak Bayik mau minum kalau ASIPnya belum pernah dibekukan.

Drama apa lagi ini gaes?
Jadi, kalau ASIP baru sampai chiller, dia mau minum agak banyak. Tapi kalau ASIP beku yang dicairkan, BIG NO. Nah, mulai dari sinilah drama selanjutnya dimulai. Aku kudu kejar tayang gaes. ASIP di chiller cuma bisa bertahan maksimal 72 jam (cmiiw ya, seingetku gini tapi ada suhu pastinya kok, cuma aku lupa). Jadi, aku pumping hari ini untuk diminum Anak Bayik keesokan harinya. Nah, dalam sehari pumping pas kerja, aku cuma bisa 2x doang pas istirahat. Alhasil, paling aku cuma bawa pulang 2 botol aja setiap harinya.

Kadang kalau ada lebihan ya bisa tuh di kulkas sampai 3 botol penuh untuk diminum Anak Bayik dalam satu hari. Tapi, ternyata, Anak Bayik ini beneran gabisa diprediksi. Apalagi setelah MPASI, minum ASIP dia nggak langsung meningkat 100% gitu. Kadang cuma minum 100 ml doang, masih sisa 2 botol lagi dan kalau udah kelamaan tetep berakhir dengan "buang".

Kadang tuh saking akutu nggak tega buang ASIP, aku akan taruh ASIP basi di pinggir wastafel sampai ada orang lain yang buang itu ASIPnya. Yah pokoknya gitu lah.

Terakhir,
Sejak liburan akhir tahun kemarin, aku full tuh sama Anak Bayik. Liburan ke Bogor juga. Alhasil aku skip pumping dong karena ngga bakal bisa nyetok juga. Aku liburannya di Bogor (bawa ASIP nya ke Jogja gimane biar tetep bisa dipake ya kan?). Efeknya ternyata membuatku menyesal gaes. Pertama, PD yang jarang dipake DBF sama Anak Bayik jadi bengkak. Kedua, setelah balik ke Jogja dan mulai pumping lagi, hasilnya nggak sebanyak kemaren-kemaren dong. Huahauahauaua...

Pertamanya kayak yang, "Oh hasilnya segini.. Oke..", berusaha untuk tetep biasa aja walaupun kalau pumping pagi tuh seringnya cuma basahin pantat botol doang. Tapi setelah liburan ini bumer dan pakmer yang bantu momong Anak Bayik tuh bilang kalau ASIP yang aku siapin di rumah tu kurang. Anak Bayik sekarang minumnya udah banyak, plus air putih juga. Ya emang aku ngerasa banget kalau stok yang aku siapin kurang, dan sekarang lagi berusaha untuk memperbaiki semua.

Memperbaiki mindset, memperbaiki pola makan dan memperbaiki jadwal pumping. Harapanku cuma satu, ASIku cukup. Nggak berlebih nggak apa-apa, asalkan cukup, yasudah.

Oiya, kemaren sempet agak ketrigger gara-gara waktu pumping di sekolah (kebetulan yang busui nggak cuma aku), temenku dapet dua botol penuh dan aku cuma dapet sebotol aja dalam satu sesi pumping.

"Loh, punya bu xxx itu penuh sampe dua botol, kok punya njenengan enggak bu?"
Ingin aku ngegas rasanya, haha. Tapi yasudahlah. Ternyata memang sesensitif itu rasanya.

Daaaaaan di bulan ke 10 kemarin (kayaknya sih 10,5), akhirnya Anak Bayik minum sufor...
Bentar, tisu mana tisu..

Harapanku untuk bisa full ASI doang sampai Anak Bayik disapih sudahlah sirna. Awalnya kayak mengutuki diri gitu, "Elu sih pumping ga teratur, makan ga bener. Sekarang kurang kan ASInya.". Tapi mengingat bahwa Anak Bayik juga perlu tambahan cairan supaya tetep sehat dan bb nya nggak turun, akhirnya hati kecil ini perlahan menerima. Aku akan tetap mengusahakan ASI untuk Anak Bayik, sufor cuma tambahan. Tiap pulang kerja aku kudu bawain Anak Bayik oleh-oleh botol kaca yang terisi ASIP. Dan aku pasti bisa menyusui Anak Bayik, memenuhi haknya sampai 2 tahun nanti.

Sebenernya ngga ada yang berubah dari diriku. Cuma kadang sedih aja gitu. Tapi suamiku tu nguatin banget. Dia ngga pernah ngepush aku untuk saklek ini dan itu. Nggak pernah marah juga kalau aku nunjukin hasil pumping yang cuma basahin pantat botol doang, paling cuma ketawa. Dan suamiku adalah orang yang concern banget soal apa yang aku dan Anak Bayik makan. Dibalik semua kesibukannya ngajar dan nyawah, dia juga akan memilihkan makanan terbaik buat aku dan Anak Bayik. Masakin makanan enak, sesuatu yang aku nggak bisa lakukan.

Emang bener, jadi orang tua tu belajarnya setiap hari setiap waktu. Ngga ada ceritanya jadi orang tua tu terus bakal nyaman-nyaman aja. Kalau selalu terhanyut dengan perasaan mellow, sedih dan perasaan negatif lainnya, secara nggak sadar pasti akan terasa dan mungkin terbawa sama anak. Jadi, since hidupku bukan lagi hanya tentang aku, harus pinter-pinter mengolah rasa aja.

Om dan tante online, doakan kami sehat dan bahagia selalu ya :)

Kok panjang ya? Haha.

6 Januari 2020

Mudik Naik Kereta bersama Anak Bayik

Setelah sekian lama, akhirnya kita ketemu lagi duhai Stasiun Tugu :')

Halo gaes..

Postingan ini harusnya naik sebelum tahun 2020. Tapi gapapa lah ya~

Setelah satu tahun berlalu, akhirnya aku punya kesempatan lagi untuk mudik ke tanah tempatku dibesarkan. Bogor. Bersamaan dengan liburan sekolah, aku nggak akan menyia-nyiakan waktu untuk quality time bersama keluargaku. Ya, hitung-hitung untuk menyeimbangkan antara kerja dan keluarga dong ya. Mosok setahun kerja ga boleh cuti seminggu buat mengunjungi orang tua? Anak macam apa~

Mudik kali ini sungguhlah berbeda. Persiapannya beneran sejak berbulan-bulan sebelumnya. Memikirkan semuanya dengan sangat matang. Karena apaaa? Yap, karena mudik kali ini, aku tidak lagi sendiri ataupun hanya berdua dengan suami. Kami sudah ketambahan seorang personil cilik, yaitu si Anak Bayik. Sebenernya Ibu Bapak udah nyuruh kami mudik bawa Anak Bayik sejak berbulan-bulan lalu sih, tapi karena waktu itu kami merasa si Anak Bayik belum siap secara mental, ditambah kerjaan yang emang belum ada senggangnya, akhirnya kami memutuskan untuk mudik ketika libur akhir tahun saat kami merasa bisa mempersiapkan diri lebih baik juga.

Nah, biar suatu hari nanti Anak Bayik bisa baca pengalaman mudik pertama kali yang dia alami, aku akan menuliskannya di sini. Syukur juga bisa jadi tips untuk para ortu yang berniat untuk mudik dengan transportasi umum sambil membawa anak bayi.

1. Kenali Anakmu
Ketika kami memutuskan untuk mudik di akhir tahun, beberapa bulan sebelumnya kami sudah mulai mempersiapkan diri. Kami belajar untuk mengenali anak kami sendiri. Tentang bagaimana kebiasaannya saat di perjalanan? Apakah ia mudah bosan? Bagaimana siklus tidurnya? Apa yang bisa dilakukan saat macet? Bagaimana ia makan ketika dalam perjalanan? dan lain sebagainya. Pokoknya segala macam kebiasaan yang dilakukannya setiap hari bisa menjadi informasi mengenai hal apa saja yang perlu kami antisipasi. Walaupun pada kenyataannya, ketika anak tumbuh, akan ada banyak yang berubah juga dalam dirinya. Misalnya, pas naik mobil yang berhenti di lampu merah saat usia 4 bulan, dia akan menangis. Eh pas sudah usia 10 bulan ternyata sudah nggak nangis lagi kalau mobil berhenti. Tetapi kalaupun ada perubahan, biasanya ya nggak akan jauh dari itu.

Jangan lupa sounding! Sejak beberapa bulan ke belakang, setiap ngajak Anak Bayi main atau ketika dia setengah tidur gitu aku suka bilang ke dia, "Adek, besok kita jalan-jalan ke tempat yanguti ya. Kita berangkat bertiga sama Ayah. Nanti di jalan kita bisa seneng-seneng, naik kereta (waktu itu sih kepikirannya langsung kereta aja gitu)." dan berbagai afirmasi positif lainnya. Intinya ajak bayi bekerja sama lewat alam bawah sadarnya.

Kenapa kami mengajak Anak Bayik mudik saat usia 10 bulan?
Selain karena memang sempetnya (dan kebetulan juga mudik ke Bogor kali ini adalah dalam rangka jenguk keponakan yang baru lahir, plus menghadiri aqiqahnya) pas si Anak Bayik usia segitu, menurut kami di usia segitu Anak Bayik udah mulai bisa ngasih sinyal tentang apa yang dia mau walaupun memang belum sempurna. Kami selaku orang tuanya juga udah mulai hafal jam makan, apa makanan yang disuka, dan snack apa yang disuka. Hafal juga ritme tidur dia gimana, dia akan tidur kalau apa, dan dia akan kebangun/ga nyaman tidur kalau apa. Jangan lupa mainan kesukaan dan  kebiasaan apa yang bisa bikin dia happy. Kami juga udah training Anak Bayik dengan ngajak dia bepergian dengan range waktu tertentu (misal lebih dari 3 jam dan sukses tanpa rewel). Anak bayi yang rewel tu kadang bikin emosi naik lho, kasihan di anak bayinya, kasihan orang tuanya dan kasihan lingkungan sekitarnya juga. Coba deh kalau kita ada di manaa gitu terus lihat bayi rewel nangis terus, kita pasti kasihan dan pengen ikut bantu menenangkan, kan?

2. Pilih Transportasi yang Akan Digunakan
Setelah mampu mengenali karakter anak, kami mulai memilih jenis transportasi yang akan dipakai. Untuk perjalanan jauh pertama si Anak Bayik, tentu kami akan memilih jenis transportasi yang nyaman dan aman. Urusan kantong boleh lah ada nego dikit, toh kegiatan ini nggak setiap bulan diadakan. Hehe.

Tanpa banyak berdebat, aku dan suamiku langsung kompak untuk memilih transportasi umum berupa kereta api. Kelasnya, kami pilih yang eksekutif dengan rangkaian kereta yang tidak memiliki gerbong bisnis ataupun ekonomi. Alasannya ya sederhana aja sih. Waktu tempuh yang relatif pendek, tanpa terlalu banyak berhenti, ruang untuk kaki lebih luas dan kami selaku orang tua juga merasa nyaman untuk 'momong'. 

Seat yang kami dudukin. Foto dari mysukmanablog

Loh, kok nggak naik pesawat aja kalau mau yang cepet?
Wah, walaupun aku udah berkali-kali naik pesawat buat PP Jogja-Jakarta pas masih bujangan dulu, aku tetap akan mikir berkali-kali untuk menjadikan pesawat sebagai pengalaman pertama Anak Bayik bepergian jauh. Sejujurnya, aku tu kalo naik pesawat bakal tegang banget selama tu pesawat belum menyentuh tanah. Hahaha. Gimana mau bikin anak bayik tenang di pesawat kalau emaknya aja gelisah. Dan suamiku sepertinya sependapat sama aku tentang hal ini.

3. Tentukan Waktu Keberangkatan
Rencana keberangkatan kami ke Bogor bertepatan dengan peak season liburan akhir tahun. Jadi, kami sudah memesan tiket 30 hari sebelum keberangkatan supaya tetap kebagian tempat dan perjalanan sesuai dengan rencana. Ini gambling banget sih, begitu keluar jadwal pembagian raport aku langsung gercep beli tiket.

Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat dengan kereta Argo Dwipangga dengan waktu berangkat jam 20.42 dari stasiun Tugu dan berakhir di stasiun Jatinegara jam 4.02 keesokan harinya. Kami memilih jam berangkat malam hari yaitu pada saat jam tidur Anak Bayik. Sejak usia 4 bulan Anak Bayik udah mulai punya jam tidur dan bangun yang cukup teratur (alias kalaupun geser yaa paling beberapa menit aja), jadi kami udah tau nih dia bakal tidur jam berapa dan bangun kira-kira jam berapa. Dan kalo udah deep sleep, mau digendong-gendong atau kena berisik kek gimana juga bakal susah bangunnya. Kasian dong ngga bisa lihat pemandangan? Ya emang tujuannya bukan itu, kok. Anak segede Anak Bayik juga belum ngeh dan belum bisa rekam ingatan soal pemandangan. Nanti kalau dia udah semakin besar, kita ulangi trip naik keretanya dengan waktu perjalanan di siang hari. Ups, is that a promise?

Kami memilih seat paling depan, alias deket banget sama pintu dan bodres. Awalnya suamiku mikir kalau kami ambil di depan bakal berisik banget kan sama orang yg lalu lalang, jadi dia pengennya di tengah aja. Tapi kalau di tengah, ruang kaki lebih sempit dan kalau Anak Bayik rewel bakal ngganggu istirahat penumpang segerbong deh sedangkan kalau di depan kan bisa jadi suara tangisnya nggak bakal sampai ke belakang banget. Keputusannya, kami ambil seat 1A dan 1B.



4. Bawa Barang Secukupnya
Untuk trip kali ini aku berusaha banget untuk tidak membawa barang bawaan yang terlalu banyak. Emang ya, ketika udah punya bayi tuh semua faktor kenyamanan bener-bener jadi prioritas. Dulu suamiku ogah banget kalo travelling bawa koper, maunya backpack atau ransel aja yang bisa digendong-gendong. Tapi sekarang dia mau pake koper biar tinggal tarik aja nggak perlu gendong. Eh, tapi itu antara lebih nyaman atau karena punggung dan pundak yang semakin tua ya? Wkwk.

Kami cuma bawa 2 tas dan 1 koper. 1 tas Anak Bayik isinya printilan bayi (snack, popok, pakaian ganti, minyak telon, mainan) dan dompetku. 1 koper isinya baju (aku, suami dan anak bayi), dan 1 tas ransel lagi isinya laptop (karena liburan tetep kerjaaaaah gaessss), dudukan hipseat, makanan ringan dan selimut sama bantal Anak Bayik.

Tas bayi nya aku pake Hanzel ransel dari BabyGo. Tas bayi yang bisa buat naroh cooler bag dan ada slot laptop sampai 14"-nya. Udah gitu, di bagian belakang tas ada strap untuk naroh di koper. Ini bantu banget sih biar nggak perlu gendong-gendong. Cukup pasang di koper, terus tinggal tarik deh.





Untuk baby carriernya, aku bawa Soft Structure Carrier (SSC) Ultimo dari Cuddle Me. Gendongan yang selalu menjadi andalankuh dalam menggendong Anak Bayik dalam waktu lama tanpa bikin badan terlalu pegel. Aku cuma bawa satu gendongan ini aja tanpa bawa gendongan samping atau jarik dan sebagainya. Pertama, biar nggak terlalu banyak bawaan. Kedua, biar aku dan suami bisa sama-sama pakai dan nggak ngeribetin. Cukup ganti setting talinya aja kalau mau gantian gendong. Secharaaa ukuran pinggangku dan pinggang suami kan berbezaa.

Ini foto di mall. Pokoknya bentukannya kek ginih.


Kurang lebih kek gene ya, bisa hadap depan juga.

5. Pastikan tak Ada yang Tertinggal
Sebelum berangkat, pastikan nggak ada barang yang tertinggal ya. Jangan lupa topi, jaket dan kaos kaki untuk bayi karena di kereta itu dingin banget cuy kalau malam. Dompet berisi KTP/SIM juga jangan lupa dibawa. Bawa snack secukupnya, tapi bawa minuman yang lebih dari cukup (ini kalau aku). Karena aku masih menyusui, jadi bakal sering haus kalau sering dbf juga ke Anak Bayik.

6. Berangkaaaaat!
Setelah semua rangkaian persiapan beres, saatnya menuju stasiun!
Usahakan agar tiba di stasiun paling enggak 1 jam sebelum keberangkatan. Kemarin kami sampai di stasiun 2 setengah jam lebih cepat dari jadwal berangkat. Alhasil Anak Bayik sempet agak rewel karena gerah banget, berisik dan susah buat dbf. Walaupun akhirnya digendong sama ayahnya sambil jalan-jalan di stasiun dan bisa tidur juga kurang lebih satu jam.

Oiya, sebelum naik kereta aku juga ganti popok Anak Bayik supaya selama perjalanan nggak terganggu dengan popok yang basah dan bisa bobok pules. 

Pas udah masuk di kereta, ternyata seat paling depan itu emang luas banget sih itungannya menurutku. Karena ada ruang untuk kursi roda gitu. As long as nggak ada kursi roda yang membutuhkan ruang itu yaa gapapa ya aku pake untuk taruh barang. 
Barang semua ku taruh depan kaki.

Anak Bayik selalu excited dengan segala pengalaman pertamanya, termasuk naik kereta ini. Hasilnya, waktu yang sudah memasuki jam tidurnya ternyata tertunda 2 jam karena dia sibuk banget duduk-berdiri di kursi, lihat lampu dan minta jalan-jalan di sepanjang gerbong (ngga mau diajak duduk anteng). Untungnya sih dia nggak nangis ya. Akhirnya jam 11 malam barulah dia beneran ngantuk dan tidur di pangkuanku sampai kereta tiba di stasiun tujuan.

Maafkan muka yang distikerin karena uda ga kontrol bgt. Ngantuq~


Yeaaaaay!

Alhamdulillah segala hal yang direncanakan ternyata cukup berhasil. Walaupun pas Anak Bayik tidur di pangkuanku tuh ya pegelnya pake banget. Aku susah gerak, sementara Anak Bayik kalo tidur juga suka gegulingan. Akan lebih enak sebenernya kalau bawa stroller (kalau bayinya juga terbiasa bobok di stroller), jadi ortu tetep bisa istirahat dengan proper.

Terus, ternyata bantal bayi dan selimut yang aku siapin dari rumah nggak kepake selama perjalanan. Selain karena di kelas eksekutif udah dapet bantal dan selimut, ternyata Anak Bayik tetep keringetan dong di kereta yang dingin itu. Nah karena Anak Bayik keringetan, aku juga kepanasan dan hasilnya malah jadi buka jaket selama perjalanan.

Menurutku, kunci sukses perjalanan jauh dengan bawa bayi adalah kita sebagai orang tua yang memahami kebiasaan si anak. Jangan ikut panik kalau bayi mulai rewel. Tetap harus saling komunikasi antara suami dan istri. Kalau capek nggendong, bilang. Kalau minta gantian momong karena harus ke belakang atau perlu ngapain gitu, bilang. Ngga usah merasa nggak enakan, wong ya suami/istrinya sendiri, ya kan?

Seneng rasanya bisa membawa pengalaman pertama Anak Bayik naik kereta tanpa drama. Kalau kamu, gimana perjalanan mudikmu sambil bawa anak bayi?

16 Desember 2019

Review MPASI Baby H dari 6-9 Bulan

Photo by JOSHUA COLEMAN on Unsplash
Ternyata... (belom-belom udah ternyata)
Yah, ternyata menjadi orang tua seperti apa kita nantinya memang dimulai sejak kita mengenal diri kita masing-masing. Pernikahan maupun kelahiran barangkali memang tidak akan serta merta mengubah pola, gaya hidup dan kebiasaan yang sudah bertahun-tahun dilakukan. Oke, ini berhubungan dengan salah satu kekuranganku yang paling nggak aku suka: nggak bisa masak.

Dari dulu sampai sekarang. Dari kecil sampai udah jadi emak-emak gini akutuh nggak pernah terbiasa masak. Dikasih resep sederhana banyak lupanya. Mau nyoba banyak malesnya. Ternyata ini berpengaruh banget ketika baby H sudah selesai ASI ekslusif dan sudah harus mulai MPASI. Aku akan cerita pengalamanku memberikan MPASI untuk baby H dari dia usia 6 sampai 9 bulan.

Aku tu khawatir banget sama MPASI yang akan aku kasih ke baby H. Seperti emak-emak baru pada umumnya, pasti bakal cari informasi kesana kemari tentang gimana sih cara agar MPASI yang diberikan ke baby tuh bisa sesuai, dari segi kalori maupun tekstur?

Alhasil aku berselancar dan bertemu dengan ig nya dokmet @metahanindita (buibu pasti udah paham lah ya). Hampir setiap hari aku baca highlight nya soal MPASI, ku screenshot, kusimpan di smartphone dan kubuka-buka lagi supaya nggak lupa. Setiap yang aku temuin langsung aku diskusikan sama paksu. Hampir tiap hari kepikiran kombinasi menu. Ya, sekhawatir itu aku.

Bulan ke 6
Menjelang usianya yang ke 6 bulan (cuma kurang beberapa hari lagi deh pokoknya), baby H mulai aku kenalkan dengan alat-alat makan. Cuma mangkuk sama sendok sih. Pokoknya supaya dia tau bahwa alat-alat itu nantinya dipakai untuk memasukkan makanan ke dalam mulut. Terus aku juga bikin jadwal makan harian untuk baby H. Kapan dia harus dbf, kapan dia harus snack time, kapan harus makan berat.

Kubikinin juga rules ketika dia makan. Misalnya setiap makan harus duduk, no TV/Smartphone dan maksimal waktu makan adalah 30 menit, jika lebih dari 30 menit dan belum habis maka sudahi sesi makan. Aku tau beberapa aturan kadang dibuat untuk  dilanggar, termasuk mungkin aturan yang aku buat sendiri. Apalagi baby H dimomong oleh orang lain selain aku dan paksu (nasib working mom T.T).

Sampai tibalah hari pertama baby H MPASI. Supaya nggak kaget, aku kasih dia sari buah dulu. Pertama buah naga. Dari hari pertama MPASI emang anakku kayaknya kurang suka dengan sesuatu yang baru, plus mudah bosan (ya ampun niru siapa kamu nak..). Jadi, supaya baby H mau buka mulut dan memasukkan makanan itu bener-bener perlu waktu yang cukup lama. Padahal kalo udah di dalam mulut ya ditelen sama dia. Ditambah lagi, dia baru belajar duduk dan belum terlalu tegak, alhasil tetep harus digendong.

Sejak bulan ke 6, menu MPASI baby H kuusahakan selalu menu lengkap. Alias ada karbo, prohe (wajib), prona, dan lemak. Hampir setiap hari makan makanan home made, dan sebelum berangkat kerja aku dan paksu pasti sibuk untuk menyaring makanan pake saringan kawat. Pertamanya nggak diblender, pegel banget dan nggak selesai-selesai (terutama jagung, baby H suka banget). Lama kelamaan diblender juga dan, yah, kenapa ga dari kemaren-kemaren memunah (emosi).

Bulan ke 7
Menurut IG dokmet, bubur terfortifikasi atau yang biasa disebut bubur MPASI instan itu bukan sesuatu yang harus dihindari kok. Begitupun dengan aku. Aku bukan penganut paham semua harus homemade. Jadinya ya untuk variasi makanan, aku juga menyediakan MPASI instan di rumah.

Baby H udah mulai mau makan sambil duduk. Tetap diakhiri jika lebih dari 30 menit belum habis. Ini udah masuk fase lumayan nyaman buat baby dan emak bapaknya. Alias kalo disuapin udah mulai mau habis banyak. Sayangnya, tidak diimbangi dengan ASIP yang diminumnya. Jadi, tiap aku kerja, dia suka ngga mau ASIP yang udah aku siapin di kulkas. Akhirnya kadang kalo aku sampe rumah ya masih sisa banyak dan mau nggak mau harus dibuang. Drama ASIP ini masih berlanjut sampai sekarang.


Bulan ke 8
Di bulan ke 8 ini ternyata BB baby H cuma naik 200gr dari bulan sebelumnya. Kalau dibandingkan dengan panjang badannya, ternyata udah sampai di garis merah. Supaya normal, paling enggak baby H kudu naik 1.5 kg di bulan depannya. Nah, PR banget dong ini buat emak dan bapaknya. Akhirnya, dengan segala pertimbangan, diputuskanlah untuk menambahkan kuantitas lemak dan juga nambah sufor di MPASI nya.

Alhamdulillah makannya jadi lahap banget walaupun masih tekstur lembut. Kebetulan di usia 8 bulan ini baby H belum tumgi, jadi aku belum kasih dia untuk naik tekstur. Di bulan ini MPASI bener-bener aman. Mau duduk di kursi, no TV, dan belum sampai 30 menit pasti udah habis. Plus tiada masalah juga di bagian BAB. Mamak tenang deh pokoknya.

Bulan ke 9
Pas imunisasi campak di bulan ke 9, ternyata BB baby H naik 900 gram dong. Syukur Alhamdulillah seneng banget rasanya. Usaha yang sedemikian rupa akhirnya membuahkan hasil. Pelan tapi pasti baby H ngejar ketinggalan BBnya dan sekarang udah hampir di garis hijau. 

Beberapa hari setelah masuk di 9 bulan, pas aku lagi nyuapin kok kerasa ada yang nyangkut di sendok. Eh ternyata, baby H tumbuh gigi. Happy banget mamak. Akhirnya rencana untuk naik tekstur makin mantep. Setelah beberapa hari tau kalau tumbuh gigi, akhirnya coba deh pakai MPASI instan untuk 8 bulan ke atas.

Jeng jeeng..
Masuk sih, tapi disuapan ke empat hoeks dong saudara-saudara. Akhirnya kembali lagi turun tekstur dan dia makan lagi dengan lahap.

Nah, suatu hari dia kudu ikut emak bapaknya ke Magelang karena ada urusan yang tidak bisa diwakilkan. Ketika itu aku bawain dia MPASI instan yang biasa dia makan supaya nggak ribet. Ternyata dia cuma mau sedikit doang. Mulai sejak itu, dia memulai gerakan mingkem kalau disuapin.

Sehari, dua hari... kupikir bosen kali ya dia lagi nggak kepengen makan aja. Eh kok keterusan, tiap makan nggak mau buka mulut. Udah gitu sekarang nggak mau lah dia duduk di kursi makan biasanya. Tiap didudukin dia meloror-melorot nolak gitu. Wah, sudahlah ini mah rules yang dibuat di awal untuk sementara disuwek dulu. 

Akhirnya aku puter otak apa yang perlu aku kasih buat dia supaya dia mau. Mungkin dia butuh variasi makanan yang lain. Yaudah tuh, akhirnya aku mencoba untuk masakin dia makaroni telur. Waktu itu aku suapin pakai tangan. Eh, mau dong dia. Walaupun sambil mbrangkang kesana kemari dan lebih dari 30 menit, akhirnya habis. Aku mulai menaruh harapan padanya. Kupikir, wah udah sembuh ni mingkemnya.

Nyatanya belum pemirsa.....
Sampai hari ini dia udah 10 bulan, untuk urusan makan masih jadi PR besar banget buatku sama paksu. Aku juga nggak tau kenapa selalu aja ada alasan kalau mau masakin baby H makanan. Waktu itu aku pernah nyoba niru resep snack MPASI, eh gagal. Tidak edibel untuk bayi tapi yang ngabisin malah bapaknya.

Pagi ini ada secercah harapan muncul lagi dari ba-mer (bapak mertua ya bukan bawang merah). Beliau ngirimin aku WA ketika aku lagi hectic ngerjain raport digital yang deadlinenya hari ini.

"H udah maem. Habis banyak. Bubur ro sayur. Sekarang bobok. Setelah makan, mandi, ngantuk"
Sampe sekarang masih nyesek sih kenapa aku nggak sesemangat itu kalau urusan masak. Kalau aku lebih kreatif lagi di dapur, mungkin ceritanya akan beda.


Mengasuh bayi nyatanya memang nggak semudah itu. Tidak ada istilah "nanti kalo udah gede pasti lebih gampang" karena seiring bertambahnya usia, problemnya ya bakal beda lagi. Kalo dulu masih ASI eksklusif barangkali masalahnya A, nanti kalo udah MPASI masalahnya jadi B. Kalau udah preschool bakal beda lagi, dan seterusnya.

Bulan ini aku mau review BB nya H dan melihat perubahan apakah yang akan terjadi. Setelah tau hasilnya, pasti akan kudiskusikan dengan paksu tentang langkah seperti apa yang akan kami ambil.

Doain baby H supaya sehat terus ya om dan tante onlen yang baik hatinya....




26 Agustus 2019

Tips Memerah saat Bekerja

Kenapa sih saat sedang berjauhan dengan bayi, ibu tetap harus mengosongkan payudara? Riweh banget.

Eh, jangan dulu bilang riweh kalau belum tau plus dan minusnya. Jadi gini, ASI itu kan sistemnya supply and demand. ASI akan diproduksi dengan membaca 'bahasa' tubuh, yakni dengan mendeteksi apakah payudara sudah kosong atau masih terisi. Kalau payudara sudah kosong, kelenjar ASI akan memproduksi ASI lagi. Kalau payudaranya masih penuh, ASI nggak akan diproduksi. Nah, akibat jangka panjangnya adalah, volume ASI yang dihasilkan akan semakin sedikit jumlahnya. Selain itu, kalau payudara penuh tapi nggak segera dikosongkan, para ibu menyusui pasti tau lah ya sakitnya kayak gimana. Bengkak, panas dan nyeri. Udah paling bener kalau langsung dikosongin deh.

Setelah tiga bulan cuti pasca melahirkan, ibu bekerja yang menyusui biasanya dihadapkan pada persoalan baru. "Gimana nih caranya supaya payudara tetep bisa dikosongin saat berjauhan dengan si bayi?", karena ya nggak memungkinkan juga kan kalau si bayi dibawa sambil bekerja, apalagi kerja kantoran. Jadi, satu-satunya jalan adalah dengan memompa ASI keluar.

Sumber: Pinterest

Kalau pakai pompa ASI, istilahnya dikenal dengan pumping. Kalau dengan tangan kosong, istilahnya marmet (merah pakai tangan). Ini istilahnya kudapat dari mak marmet @rennatapranata. Hihi. Jadi, ngga ada tuh istilah ngga bisa ngosongin payudara karena alat pompa itu mahal. Jangan lupa, Allah menciptakan tangan untuk kita dengan sejuta fungsinya.



Aku adalah seorang ibu pekerja yang harus berangkat dari rumah jam 6 pagi dan pulang jam 3 sore. Kantorku ada di sekolah. Nah, dalam waktu selama itu saat berjauhan dengan bayi, aku tetep harus pumping dong. Kalau temen-temen pernah baca bahwa pumping itu harus rutin per 2 jam, aku menganut paham pumping per 3 jam. Beda dikit gapapa ya. Prinsipku sih ASIku nggak berlebih nggak apa-apa, yang penting cukup untuk anakku.

Alasan aku pumping per 3 jam karena anakku kan sekarang udah 5 bulan. Jeda waktu dia mau minum itu biasanya hampir per 3 jam sekali, jadi kusamain aja deh polanya. Selama 5 bulan ini aku hampir jarang banget pergi sendiri dengan ninggalin anakku di rumah. Alhamdulillah setelah cuti resmi 3 bulan, masih ketambahan libur Idul Adha dan libur kenaikan kelas hampir 2 bulan, jadi anakku hampir nggak pernah minum ASI dari media yang lain alias selalu direct breastfeeding. Sedikit kekhawatiran dimulai ketika aku meninggalkannya di rumah untuk mulai kerja, anakku belum mau minum banyak. Dalam sehari dia paling mentok mau 70ml doang. Terus, anakku juga cuma mau ASIP fresh yang belum masuk freezer alias emaknya harus kejar tayang tiap hari. Aku kudu bye bye sama stok ASIP di freezer :( Yang penting, stok untuk hari esok harus ready hari ini. Gitu aja. Jadi, buatku, cukup lah dengan pumping per 3 jam selama aku kerja.

Alasan kedua, aku bisa nyempetin pumping cuma pas jam istirahat aja. Nggak mungkin pumping di kelas juga kalau jam ngajar berderet-deret. Cukup di stirahat pertama jam 10, istirahat kedua jam 12. Atau kadang mblandang-mblandang dikit lah yang penting harus ada waktu untuk mompa.

Nah, agar pumping di tempat kerja tetap terasa nyaman, aku mau berbagi kerempongan share beberapa tips dan barang bawaan aku kalau berangkat kerja. Cekidot~

Bawaan tambahan segambreng. Demi si cinta <3 td="">

1. Tempat
Aku ngajar di 2 sekolah saat ini. Di sekolahku yang pertama, aku pumping di ruang guru. Eh serius buuuuu? Iya bener. Sekolahku nggak ada ruang laktasi, dan menurutku jauh lebih mendingan di ruang guru daripada di kamar mandi. Ye kan?

Soal bapak-bapak guru yang ada di sana, Alhamdulillah mereka sekarang udah biasa sih. Pas awal-awal ya aku juga agak ragu kalau pumping di ruang guru, secara ya itu kegiatan yang hampir belum pernah dilakukan di ruang guru sebelum aku saat ini, terus bapak-bapak suka lewat sambil nanya. Ya aku jelasin aja seperlunya. Menurutku wajar sih ya ibu menyusui lagi pumping tuh. Toh tertutup juga, nggak diumbar-umbar. Dan juga hampir semua bapak guru sudah berkeluarga dan punya anak. Jadi ya biasa aja harusnya~

Di sekolahku yang satu lagi aku dapet amanah untuk jaga lab. Jadi, pumpingnya bener-bener di ruang privat dan berAC. Nyaman banget. Ngga ada komplain lah ini. Prinsipku sih selama tempatnya bersih dan nyaman, nggak ada masalah pumping di situ.

2. Pompa
Untuk pumping, terutama di ruang guru kayak aku gitu, aku nggak rekomen pumping pake pompa manual atau marmet. Mendingan pake pompa elektrik. Tapi kalau ada ruang laktasi khusus, pakai pompa manual atau marmet sekalian malah gapapa. Kan ga bakal ada bapak-bapak yang sliwar sliwir masuk. Kalau milih pompa elektrik, banyak kok pompa elektrik yang harganya terjangkau. Tangan leluasa bisa sambil ngerjain yang lain (kalo aku biasanya sambil makan, haha), dan nggak perlu terlalu terumbar-umbar lah.

Sedikit tips dari aku nih. Pompa ASI itu cocok-cocokan. Sebelum memutuskan untuk membeli pompa ASI, ada baiknya nyoba dulu dengan menyewa selama sebulan. Karena ada lho pompa elektrik yang suaranya kasar, sedotannya sakit, menuh-menuhin tas, berat, dan sebagainya. Termasuk ada juga yang suaranya halus, pemakaiannya gampang, sparepartnya juga gampang dicari, enteng, dan lain-lain. Aku sekarang pakai Spectra 9+, dan Alhamdulillah cocok karena nggak berisik, enteng dan nggak menuh-menuhin tempat. Eits, tapi cocok di aku belum tentu cocok di kalian ya.

3. Apron
Apron penting banget. Kalau nggak bawa, bubar sudah acara mompa ASI, haha. Nggak bisa akutu kalo cuma ditutupin pake kerudung. Tapi jenisnya opsional aja. Intinya yang bisa buat nutupin dada selama pumping. Aku cuma pakai selimut bayi yang ada jepitannya di bagian ujung, jadi bisa ku jepit di belakang leher, sementara bagian depannya terurai sampai bawah perut. Teman sekantorku bahkan hanya pakai jaket, dan aku juga pernah cuma pakai jaket.

4. Wadah ASIP
Fungsinya untuk menampung ASIP yang sudah diperah. Ini bisa berbentuk botol kaca atau plastik ASIP. Biasanya aku pakai plastik ASIP yang ukuran 100ml karena emang hasil pumpingku selalu ngepas aja, ga sampe yang tumpeh-tumpeh, jadi sedikit eman kalau harus beli yang ukuran besar. Awalnya aku menghindari botol kaca, pertama karena aku males cuci sterilnya, kedua karena takut pecah pas dibawa-bawa. Tapiiiiii, dikarenakan anakku hanya mau minum ASIP fresh, dimana ngga sampe masuk freezer, itu kantong ASIP akhirnya cuma kepake sehari terus harus dibuang T.T. Plis lah berapa banyak sampah plastik yang kusebabkan karena itu? Akhirnya sekarang aku ngalahi untuk lebih rajin cuci steril botol kaca. Demi bumi tempat tinggalku satu-satunya ini~

Oiya, kalau tep masih butuh plastik ASIP ini banyak yang jual kok, jadi bukan plastik kiloan biasa buat wadah es dawet gitu yaa. Tersedia berbagai merk dan kapasitas. Tinggal sesuaikan dengan kebutuhan dan ketebalan dompet kalian aja, hehehe.

5. Makanan dan minuman
Ini penting banget sih buatku, haha. Pumping bikin lapar. Dan waktu yang aku miliki cuma sebentar untuk pumping. Jadi, biasanya aku pumping sambil makan. Jadi, dua kegiatan bisa selesai bersamaan. Anak-anak di kelas menanti beb~

6. Ice Gel/Ice Pack

Fungsinya untuk mendinginkan perangkat pompa dan ASI yang udah selesai diperah. Aku biasanya cuma bawa satu ice gel beku dari rumah.

Tips lagi. Pompa ASI nggak perlu cuci setiap kali habis dipakai. Kalau di kantor, biasanya habis selesai dipakai langsung kutaruh plastik dan dimasukkan cooler bag. Kalau di rumah, setelah dipakai langsung masuk plastik atau wadah yg tutupnya rapat, terus masuk chiller. Nyuci perintilannya per 24 jam sekali dan biasanya setelah bangun tidur.

7. Cooler Bag
Fungsinya untuk bawa perangkat pompa (bukan mesin pompanya ya) dan ASIP yang sudah masuk wadah. Dengan dimasukkan ke cooler bag yang masih ada ice gel bekunya, ASIP bisa bertahan sampai 24 jam. Sedangkan di suhu ruang, ASIP hanya bisa bertahan maksimal 4 jam.

Setelah rutin pumping di tempat kerja, Alhamdulillah produksi ASI masih stabil. Bisa mencukupi kebutuhan anakku. Kuncinya hanya satu: JANGAN MALES. Kadang, rasanya kayak, "Ah nanti aja deh pumpingnya..", tapi percayalah kalau rasa malas itu dituruti, dia akan ngelunjak. Haha. Nggak perlu takut untuk pumping sambil bekerja. Bahkan saat acara outing sama temen-temen kantor, aku tetep berusaha pumping walaupun harus curi-curi tempat dan waktu. Asal ada waktu senggang, aku langsung mlipir cari tempat. Bahkan di bis yang berjalan pun pernah! Ya, demi anak tercinta, apa aja rela ku lakukan.

Oiya, untuk panutanku dalam menyusui, aku biasa buka instagramnya @olevelove dan @rennatapranata. Mereka berdua ibu menyusui yang juga bekerja.Kalian bisa buka profilnya kalau butuh insight lebih lengkap dan jelas tentang menyusui.






Part 1/2. . Ini pertanyaan yg sering bgt ditanyakan ke aku dan biasanya nih jadi alasan "males pumping" krna hasilnya dikit alasannya krna pake BP engkol alias manual #eeeaaa. . Wait, sblum aku lanjutken, takut banyak yg blm paham apa itu BP. BP itu adalah breast pump alias mesin pompa syusyu yak. Bukan pemain sepak bola atau penyenyong lagunya si lumba2 wkwkw #mukegile 🤣. Ya abisnya ada loh yang nge DM nanya BP itu apa 😜. . OK baek kta coba bahas ya. . Sbnernya BP itu ccok2an ya. Ga bisa dijadikan patokan kalo BP mahal itulah yg terbaik dan bisa jadikan hasil perah jadi banyak. . TAPI... tentunya yg membedakan harga BP A dengan BP B pastinya di kekuatan mesinnya. Simple nya kan kalo BP mahal pastinya mesinnya jga bagus, mesin bagus pastinya punya keunggulan bsa lebih mengoptimalkan pengosongan payudara toh. Payudara cpt kosong ya pastinya jga cpt ngisi lagi dan produksinya makin meningkat, ya duit emang ga bodoh sih. . TAPI (lagi) kya yg aku bilang jga, ccok2an. BP mahal jga di mak A blm tentu bsa dptin hasil perah yg banyak dibanding sama si mak B yg masih ngengkol atau pake BP manual harga 100rb an. Krna again ya, koentji hasil pumping banyak adalah di LDR atau Let Down Reflexs yg mau baca dan pelajari LDR ini bsa check #ldrmakmarmet. . Sejjurnya akutu jga malah ga nyaman pake BP ya, susah ga bisa, makanya mending pake tangan sndiri 🤭😂. Dan kalo alasan krna pake BP nya manual alias ngengkol makanya hasilnya ga maksimal trus jdi ga mau pumping lagi krna sakit ati hasilnya dikit itu salah besar kakak. Krna BP itu butuh kebiasaan supaya tau selahnya. Dan asi jga prinsip nya supply by demand. Demand banyak tbuh bakal produksi banyak. Demand dikit tubuh produksi dikit. Demand ga ada ga bakalan ada produksi. Jadi pumping bertujuan banyakin asi bukan krna asi udh banyak produksi #catet. . Belajar pake BP yg bener dlu, kalo ngengkol ya kudu engkol tipis2 dlu buat datengin LDR, kalo udh dpt LDR silahkan engkol sedalem mungkin dan secepat mungkin, pegel... Ya iyalah namanya jga ngengkol wkwk. . . Bersambung di part 2 ya.. . . #pejuangasi #mamaperah #mamakbauasi #pumping #marmet #perahtangan #mamaperahbekerja #tipsasimakmarmet
A post shared by Rennata Hartati Pranata (@rennatapranata) on


Tips lainnya bisa diilihat disini:
Sumber: loveliliya.com

Sumber: notapowercouple.com


Buat ibu menyusui yang bekerja, tetap semangat ya! 

18 Juli 2019

Kenapa Melahirkan di Puskesmas?

M.H.A ❤
Perjalanan kehamilan diakhiri dengan proses persalinan. Persalinan bisa dilakukan dimanapun, baik di sarana kesehatan, bahkan ada juga yang memilih untuk melahirkan di rumah. Dari sekian banyak pilihan tempat melahirkan, bulan Februari lalu akhirnya aku memilih untuk melahirkan di sebuah puskesmas di wilayah Magelang, Jawa Tengah. Mungkin sedikit cerita ini bisa menjadi insight bagi calon ibu yang masih bingung untuk memilih tempat bersalin.

Oiya, disclaimer dulu ya. Ini murni berbagi pengalaman pribadi. Perbedaan layanan di masing-masing Puskesmas bisa saja terjadi. Tapi kalau berminat untuk melahirkan di puskesmas yang sama denganku, boleh tanya-tanya lebih lanjut ya!

Here we go!

Pertama, selama kehamilan, sejujurnya aku belum punya bayangan sama sekali akan melahirkan dimana. Dokter tempatku kontrol tiap bulannya tidak melayani persalinan di tempat beliau praktik (di rumahnya) karena beliau juga praktik di rumah sakit yang cukup besar di Yogyakarta. Pandangan awalku adalah, aku ingin melahirkan di tempat yang dekat dengan rumah. Jadi, setiap ditanya, aku hanya menjawab "di Bidan". Setelah diskusi dengan keluarga, akhirnya sempat diputuskan untuk rencana melahirkan di bidan dekat rumah (kebetulan memang ada, dan kakak iparku juga melahirkan di sana). Oiya, aku memang tidak berencana melahirkan di rumah sakit ya dari awal. Alhamdulillah, kandunganku tidak ada indikasi medis yang berbahaya pada waktu itu. Tapi ternyata ada second opinion, kakak iparku menawarkan supaya melahirkan di puskesmas tempatnya bekerja. Pertama kali mendengar tawaran melahirkan di puskesmas, aku sempat ragu, kayak yang, "Ntar kalo di puskesmas nyaman nggak ya?"

Kakak iparku menepis kekhawatiranku dengan mengatakan bahwa tempat bersalin di puskesmas tempatnya bekerja sangat nyaman karena terpisah dari bangunan puskesmas utama. Kemudian hanya ada satu ranjang, jadi malah seperti kamar VIP kalau di rumah sakit. Nah, ketika tiba saatnya aku melahirkan di sana, pertama kali aku datang dengan kondisi sudah kontraksi yang cukup intens. Masuk ke ruangannya, Alhamdulillah memang betul terasa nyaman. Bersih, luas, dan nakesnya fokus untuk membantu persalinanku saja. Jadi, konsentrasiku nggak terpecah, tetap fokus, nggak terganggu dengan pasien lain dan mengganggu pasien lain juga.

Kedua, bidannya pro gentle birth. Setelah bayi keluar, ibu dan bayi dikasih kesempatan IMD. Duh aku terharu kalo inget momen yang ini. Tiba-tiba di atas dadaku ada bayi mungil merangkak mencari minuman pertamanya. Terus, nggak main gunting perineum juga. Epis akan dilakukan kalau kita minta deh kayaknya. Jadi, para nakes ini membiarkan kelahiran berjalan sealami mungkin. Mereka juga teman kerja kakak iparku, jadi untuk komunikasi lebih enak. Mereka bener-bener berusaha untuk bikin aku nyaman dan nggak trauma. Terlebih di persalinan kemaren aku lumayan heboh cerewet dan payah banget nafasnya karena lemes. Nggak yang marah-marahin ibu bersalinnya misal gara-gara nafas nggak bener, dll. Kontrol nifas dan bayi juga lebih enak dan santai. Padahal kontrol nifas itu kadang masih bikin aku trauma, dengkul tegang banget pokoknya. Haha.

Ketiga, ruangan persalinan yang super nyaman dan fasilitas lengkap plus Ambulance. Jadi, tempat persalinannya itu sebetulnya rumah dinas yang nggak dipakai. Di dalam ruangan persalinan ada AC juga. Kerasa kayak di tempat VIP juga karena di dalam ruangan itu kasurnya cuma ada satu. Terus kalo tetiba ada indikasi medis yang gawat, Ambulance juga siap sedia. Jadi, jangan khawatir ya. Udah ada SOPnya juga dan bisa dibaca siapapun termasuk ibu yang melahirkan. Ini aku sempet baca juga sih, tapi karena selama melahirkan aku gak pegang HP sama sekali yaa nggak ada foto deh. Hehe.

Keempat, minim orang nggak dikenal. Yang belum ku kenal di ruangan itu cuma 3 bidan. Lainnya ya suami dan keluarga. Kalau di rumah sakit atau rumah bersalin kan bisa terintervensi sama suara orang melahirkan di bed sebelah. Alih-alih bikin tenang, malah bikin khawatir pas dia teriak kesakitan. Orangnya juga banyak yang nggak dikenal. Ada dokter SPOG, dokter anak, suster, bahkan kadang koas. Buatku pribadi, kurang nyaman.

Kelima, nggak perlu rawat inap. Malamnya persalinan, pagi sudah boleh pulang dan istirahat di rumah. Yeeeeeey~ "Loh, udah bisa jalan emang?". Udah kok. Udah buang air juga malahan. Yakali semaleman ngga pipis padahal minumnya lumayan banyak. Asal udah dicek lagi beberapa jam setelah melahirkan dan memang tidak ada indikasi medis, boleh langsung pulang.  

Keenam, muraaaaaah. Hehe. Seluruh tindakan yang aku terima saat persalinan di puskesmas menghabiskan biaya nggak sampai 1 juta lho tanpa BPJS! Ini kejadian gapake BPJS terjadi karena BPJS baru aktif tanggal 14 Februari, sementara anakku lahir tanggal 13 Februari jam 23.05. Hahaha. Emaknya udah ga kuat nahan karena anaknya juga udah kebelet keluar. 

Menurutku, puskesmas bisa jadi pilihan tempat melahirkan juga kok. Tapi ya yang jelas pastikan dulu fasilitas puskesmasnya kayak gimana. Kalau biasa kontrol di dokter, minimal sekali lah kontrol di puskesmas sambil tanya-tanya soal fasilitas persalinannya gimana. 

Lokasi puskesmas: