Tampilkan postingan dengan label holiday. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label holiday. Tampilkan semua postingan

6 Januari 2020

Mudik Naik Kereta bersama Anak Bayik

Setelah sekian lama, akhirnya kita ketemu lagi duhai Stasiun Tugu :')

Halo gaes..

Postingan ini harusnya naik sebelum tahun 2020. Tapi gapapa lah ya~

Setelah satu tahun berlalu, akhirnya aku punya kesempatan lagi untuk mudik ke tanah tempatku dibesarkan. Bogor. Bersamaan dengan liburan sekolah, aku nggak akan menyia-nyiakan waktu untuk quality time bersama keluargaku. Ya, hitung-hitung untuk menyeimbangkan antara kerja dan keluarga dong ya. Mosok setahun kerja ga boleh cuti seminggu buat mengunjungi orang tua? Anak macam apa~

Mudik kali ini sungguhlah berbeda. Persiapannya beneran sejak berbulan-bulan sebelumnya. Memikirkan semuanya dengan sangat matang. Karena apaaa? Yap, karena mudik kali ini, aku tidak lagi sendiri ataupun hanya berdua dengan suami. Kami sudah ketambahan seorang personil cilik, yaitu si Anak Bayik. Sebenernya Ibu Bapak udah nyuruh kami mudik bawa Anak Bayik sejak berbulan-bulan lalu sih, tapi karena waktu itu kami merasa si Anak Bayik belum siap secara mental, ditambah kerjaan yang emang belum ada senggangnya, akhirnya kami memutuskan untuk mudik ketika libur akhir tahun saat kami merasa bisa mempersiapkan diri lebih baik juga.

Nah, biar suatu hari nanti Anak Bayik bisa baca pengalaman mudik pertama kali yang dia alami, aku akan menuliskannya di sini. Syukur juga bisa jadi tips untuk para ortu yang berniat untuk mudik dengan transportasi umum sambil membawa anak bayi.

1. Kenali Anakmu
Ketika kami memutuskan untuk mudik di akhir tahun, beberapa bulan sebelumnya kami sudah mulai mempersiapkan diri. Kami belajar untuk mengenali anak kami sendiri. Tentang bagaimana kebiasaannya saat di perjalanan? Apakah ia mudah bosan? Bagaimana siklus tidurnya? Apa yang bisa dilakukan saat macet? Bagaimana ia makan ketika dalam perjalanan? dan lain sebagainya. Pokoknya segala macam kebiasaan yang dilakukannya setiap hari bisa menjadi informasi mengenai hal apa saja yang perlu kami antisipasi. Walaupun pada kenyataannya, ketika anak tumbuh, akan ada banyak yang berubah juga dalam dirinya. Misalnya, pas naik mobil yang berhenti di lampu merah saat usia 4 bulan, dia akan menangis. Eh pas sudah usia 10 bulan ternyata sudah nggak nangis lagi kalau mobil berhenti. Tetapi kalaupun ada perubahan, biasanya ya nggak akan jauh dari itu.

Jangan lupa sounding! Sejak beberapa bulan ke belakang, setiap ngajak Anak Bayi main atau ketika dia setengah tidur gitu aku suka bilang ke dia, "Adek, besok kita jalan-jalan ke tempat yanguti ya. Kita berangkat bertiga sama Ayah. Nanti di jalan kita bisa seneng-seneng, naik kereta (waktu itu sih kepikirannya langsung kereta aja gitu)." dan berbagai afirmasi positif lainnya. Intinya ajak bayi bekerja sama lewat alam bawah sadarnya.

Kenapa kami mengajak Anak Bayik mudik saat usia 10 bulan?
Selain karena memang sempetnya (dan kebetulan juga mudik ke Bogor kali ini adalah dalam rangka jenguk keponakan yang baru lahir, plus menghadiri aqiqahnya) pas si Anak Bayik usia segitu, menurut kami di usia segitu Anak Bayik udah mulai bisa ngasih sinyal tentang apa yang dia mau walaupun memang belum sempurna. Kami selaku orang tuanya juga udah mulai hafal jam makan, apa makanan yang disuka, dan snack apa yang disuka. Hafal juga ritme tidur dia gimana, dia akan tidur kalau apa, dan dia akan kebangun/ga nyaman tidur kalau apa. Jangan lupa mainan kesukaan dan  kebiasaan apa yang bisa bikin dia happy. Kami juga udah training Anak Bayik dengan ngajak dia bepergian dengan range waktu tertentu (misal lebih dari 3 jam dan sukses tanpa rewel). Anak bayi yang rewel tu kadang bikin emosi naik lho, kasihan di anak bayinya, kasihan orang tuanya dan kasihan lingkungan sekitarnya juga. Coba deh kalau kita ada di manaa gitu terus lihat bayi rewel nangis terus, kita pasti kasihan dan pengen ikut bantu menenangkan, kan?

2. Pilih Transportasi yang Akan Digunakan
Setelah mampu mengenali karakter anak, kami mulai memilih jenis transportasi yang akan dipakai. Untuk perjalanan jauh pertama si Anak Bayik, tentu kami akan memilih jenis transportasi yang nyaman dan aman. Urusan kantong boleh lah ada nego dikit, toh kegiatan ini nggak setiap bulan diadakan. Hehe.

Tanpa banyak berdebat, aku dan suamiku langsung kompak untuk memilih transportasi umum berupa kereta api. Kelasnya, kami pilih yang eksekutif dengan rangkaian kereta yang tidak memiliki gerbong bisnis ataupun ekonomi. Alasannya ya sederhana aja sih. Waktu tempuh yang relatif pendek, tanpa terlalu banyak berhenti, ruang untuk kaki lebih luas dan kami selaku orang tua juga merasa nyaman untuk 'momong'. 

Seat yang kami dudukin. Foto dari mysukmanablog

Loh, kok nggak naik pesawat aja kalau mau yang cepet?
Wah, walaupun aku udah berkali-kali naik pesawat buat PP Jogja-Jakarta pas masih bujangan dulu, aku tetap akan mikir berkali-kali untuk menjadikan pesawat sebagai pengalaman pertama Anak Bayik bepergian jauh. Sejujurnya, aku tu kalo naik pesawat bakal tegang banget selama tu pesawat belum menyentuh tanah. Hahaha. Gimana mau bikin anak bayik tenang di pesawat kalau emaknya aja gelisah. Dan suamiku sepertinya sependapat sama aku tentang hal ini.

3. Tentukan Waktu Keberangkatan
Rencana keberangkatan kami ke Bogor bertepatan dengan peak season liburan akhir tahun. Jadi, kami sudah memesan tiket 30 hari sebelum keberangkatan supaya tetap kebagian tempat dan perjalanan sesuai dengan rencana. Ini gambling banget sih, begitu keluar jadwal pembagian raport aku langsung gercep beli tiket.

Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat dengan kereta Argo Dwipangga dengan waktu berangkat jam 20.42 dari stasiun Tugu dan berakhir di stasiun Jatinegara jam 4.02 keesokan harinya. Kami memilih jam berangkat malam hari yaitu pada saat jam tidur Anak Bayik. Sejak usia 4 bulan Anak Bayik udah mulai punya jam tidur dan bangun yang cukup teratur (alias kalaupun geser yaa paling beberapa menit aja), jadi kami udah tau nih dia bakal tidur jam berapa dan bangun kira-kira jam berapa. Dan kalo udah deep sleep, mau digendong-gendong atau kena berisik kek gimana juga bakal susah bangunnya. Kasian dong ngga bisa lihat pemandangan? Ya emang tujuannya bukan itu, kok. Anak segede Anak Bayik juga belum ngeh dan belum bisa rekam ingatan soal pemandangan. Nanti kalau dia udah semakin besar, kita ulangi trip naik keretanya dengan waktu perjalanan di siang hari. Ups, is that a promise?

Kami memilih seat paling depan, alias deket banget sama pintu dan bodres. Awalnya suamiku mikir kalau kami ambil di depan bakal berisik banget kan sama orang yg lalu lalang, jadi dia pengennya di tengah aja. Tapi kalau di tengah, ruang kaki lebih sempit dan kalau Anak Bayik rewel bakal ngganggu istirahat penumpang segerbong deh sedangkan kalau di depan kan bisa jadi suara tangisnya nggak bakal sampai ke belakang banget. Keputusannya, kami ambil seat 1A dan 1B.



4. Bawa Barang Secukupnya
Untuk trip kali ini aku berusaha banget untuk tidak membawa barang bawaan yang terlalu banyak. Emang ya, ketika udah punya bayi tuh semua faktor kenyamanan bener-bener jadi prioritas. Dulu suamiku ogah banget kalo travelling bawa koper, maunya backpack atau ransel aja yang bisa digendong-gendong. Tapi sekarang dia mau pake koper biar tinggal tarik aja nggak perlu gendong. Eh, tapi itu antara lebih nyaman atau karena punggung dan pundak yang semakin tua ya? Wkwk.

Kami cuma bawa 2 tas dan 1 koper. 1 tas Anak Bayik isinya printilan bayi (snack, popok, pakaian ganti, minyak telon, mainan) dan dompetku. 1 koper isinya baju (aku, suami dan anak bayi), dan 1 tas ransel lagi isinya laptop (karena liburan tetep kerjaaaaah gaessss), dudukan hipseat, makanan ringan dan selimut sama bantal Anak Bayik.

Tas bayi nya aku pake Hanzel ransel dari BabyGo. Tas bayi yang bisa buat naroh cooler bag dan ada slot laptop sampai 14"-nya. Udah gitu, di bagian belakang tas ada strap untuk naroh di koper. Ini bantu banget sih biar nggak perlu gendong-gendong. Cukup pasang di koper, terus tinggal tarik deh.





Untuk baby carriernya, aku bawa Soft Structure Carrier (SSC) Ultimo dari Cuddle Me. Gendongan yang selalu menjadi andalankuh dalam menggendong Anak Bayik dalam waktu lama tanpa bikin badan terlalu pegel. Aku cuma bawa satu gendongan ini aja tanpa bawa gendongan samping atau jarik dan sebagainya. Pertama, biar nggak terlalu banyak bawaan. Kedua, biar aku dan suami bisa sama-sama pakai dan nggak ngeribetin. Cukup ganti setting talinya aja kalau mau gantian gendong. Secharaaa ukuran pinggangku dan pinggang suami kan berbezaa.

Ini foto di mall. Pokoknya bentukannya kek ginih.


Kurang lebih kek gene ya, bisa hadap depan juga.

5. Pastikan tak Ada yang Tertinggal
Sebelum berangkat, pastikan nggak ada barang yang tertinggal ya. Jangan lupa topi, jaket dan kaos kaki untuk bayi karena di kereta itu dingin banget cuy kalau malam. Dompet berisi KTP/SIM juga jangan lupa dibawa. Bawa snack secukupnya, tapi bawa minuman yang lebih dari cukup (ini kalau aku). Karena aku masih menyusui, jadi bakal sering haus kalau sering dbf juga ke Anak Bayik.

6. Berangkaaaaat!
Setelah semua rangkaian persiapan beres, saatnya menuju stasiun!
Usahakan agar tiba di stasiun paling enggak 1 jam sebelum keberangkatan. Kemarin kami sampai di stasiun 2 setengah jam lebih cepat dari jadwal berangkat. Alhasil Anak Bayik sempet agak rewel karena gerah banget, berisik dan susah buat dbf. Walaupun akhirnya digendong sama ayahnya sambil jalan-jalan di stasiun dan bisa tidur juga kurang lebih satu jam.

Oiya, sebelum naik kereta aku juga ganti popok Anak Bayik supaya selama perjalanan nggak terganggu dengan popok yang basah dan bisa bobok pules. 

Pas udah masuk di kereta, ternyata seat paling depan itu emang luas banget sih itungannya menurutku. Karena ada ruang untuk kursi roda gitu. As long as nggak ada kursi roda yang membutuhkan ruang itu yaa gapapa ya aku pake untuk taruh barang. 
Barang semua ku taruh depan kaki.

Anak Bayik selalu excited dengan segala pengalaman pertamanya, termasuk naik kereta ini. Hasilnya, waktu yang sudah memasuki jam tidurnya ternyata tertunda 2 jam karena dia sibuk banget duduk-berdiri di kursi, lihat lampu dan minta jalan-jalan di sepanjang gerbong (ngga mau diajak duduk anteng). Untungnya sih dia nggak nangis ya. Akhirnya jam 11 malam barulah dia beneran ngantuk dan tidur di pangkuanku sampai kereta tiba di stasiun tujuan.

Maafkan muka yang distikerin karena uda ga kontrol bgt. Ngantuq~


Yeaaaaay!

Alhamdulillah segala hal yang direncanakan ternyata cukup berhasil. Walaupun pas Anak Bayik tidur di pangkuanku tuh ya pegelnya pake banget. Aku susah gerak, sementara Anak Bayik kalo tidur juga suka gegulingan. Akan lebih enak sebenernya kalau bawa stroller (kalau bayinya juga terbiasa bobok di stroller), jadi ortu tetep bisa istirahat dengan proper.

Terus, ternyata bantal bayi dan selimut yang aku siapin dari rumah nggak kepake selama perjalanan. Selain karena di kelas eksekutif udah dapet bantal dan selimut, ternyata Anak Bayik tetep keringetan dong di kereta yang dingin itu. Nah karena Anak Bayik keringetan, aku juga kepanasan dan hasilnya malah jadi buka jaket selama perjalanan.

Menurutku, kunci sukses perjalanan jauh dengan bawa bayi adalah kita sebagai orang tua yang memahami kebiasaan si anak. Jangan ikut panik kalau bayi mulai rewel. Tetap harus saling komunikasi antara suami dan istri. Kalau capek nggendong, bilang. Kalau minta gantian momong karena harus ke belakang atau perlu ngapain gitu, bilang. Ngga usah merasa nggak enakan, wong ya suami/istrinya sendiri, ya kan?

Seneng rasanya bisa membawa pengalaman pertama Anak Bayik naik kereta tanpa drama. Kalau kamu, gimana perjalanan mudikmu sambil bawa anak bayi?

30 Maret 2015

Ujung Genteng, Maret 2015

Baru aja pulang dari piknik tiga hari dua malam di Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat. Dibalik 6 jam perjalanan berangkat dan 8 jam perjalanan pulang ke Bogor, ini dia sedikit oleh-oleh yang bisa dibagikan:
Kalau pagi-pagi pantai disini agak surut, jadinya bisa jalan ke tengah laut dan nyari ikan diantara karang-karang.




Pantai jam 10.00






Ayah - Ibu - Radit. Menanti Senja.




One of my favorite photos :3 Lebih mirip gurun dibanding pantai.



Foto-foto lain, pas pantai lagi bagus-bagusnya. Sayangnya udah kena filter dari  B612 :|





Gimana?
Subhanallah banget kan? Barangkali Ujung Genteng bisa jadi salah satu destinasi wisata bloggers sekalian. Tapi sebelum yas yes yas yes mau kesana, silakan dilihat dulu, sebenernya Ujung Genteng ada dimana sih...

Ujung Genteng itu di:

Di sini..

Ciracap, Sukabumi, Jawa Barat

Terus, kalau dari Bogor sebelah mananya?

Sebelah sini~~~

 Jauh? Ya lumayan lah sekitar 170km dari rumah gue. Jangan dibayangkan perjalanan yang mulus halus ya, soalnya perjalanan ke Ujung Genteng ini harus melewati gunung yang jalannya bener-bener berkelok dan banyak yang masih rusak. Alhasil perjalanan kemarin gue harus minum obat anti mabuk perjalanan supaya sepanjang jalan gue tertidur pulas. Haha.

Kalau udah sampai di Ujung Genteng, seharusnya bayar dulu di pos registrasi. Tapi karena waktu itu gue dateng hari Jum'at dan udah mepet waktu Jum'atan, jadilah pos registrasinya nggak ada yang jagain, njuk bablas. Hehe. Jangan khawatir nggak dapet tempat buat nginep atau istirahat, karena di sepanjang pantai bakalan ada banyak banget pondokan yang ditawarkan. Pas kemaren gue kesana sih gue nginep di Pondok Hexa. Berhubung kesananya berlima sama Ibu Ayah dan Adek adek, kami nyewa satu kamar dengan dua bed seharga hampir 400k per malam. Dengan fasilitas AC dan hot water. Worth it sih, soalnya mumpung gue lagi nggak liburan ala-ala backpacker gitu jadinya ya liburan senyaman mungkin. Haha.

Selain bisa menikmati pantai dari pagi sampai pagi lagi, pengunjung juga bisa ke berbagai destinasi lain. Contohnya ke Konservasi Penyu buat lihat pelepasan penyu, atau ke pantai yang biasa dipakai buat surfing. Kalau mau ke Konservasi Penyu, dari Ujung Genteng harus jalan/berkendara dulu kira-kira 5km dengan rute yang non aspal alus. Terus masuk ke kawasan konservasi yang namanya Kawasan Konservasi Penyu Pantai Pangumbahan dengan membayar Rp. 10.000 per kepala untuk ikutan pelepasan penyu. Pelepasan penyu ada setiap hari jam 17.30. Sayangnya waktu itu mendung, nggak dapet sunset dan ngelepasin penyu sambil hujan-hujanan. Haha.

Btw, sedikit informasi soal penyu yaa.. Jadi, penyu yang dilepas di Pantai Pangumbahan ini baru berusia sehari semalam. Terus dia kudu dilepas gitu aja di lautan, sendiri. Tujuannya adalah supaya penyu itu bisa tumbuh secara alami di lautan lepas untuk suatu hari nanti kembali lagi ke Pantai Pangumbahan saat mereka udah dewasa, untuk bertelur dan menghasilkan generasi penyu selanjutnya. Salah satu syaratnya adalah, Pantai Pangumbahan tidak boleh dirusak dan harus tetap dapat dikenali si penyu sebagai rumahnya. Ini petjah bangen dan mengandung filosofi banget men. Karena sejauh apapun si penyu pergi, dia akan pulang lagi ke tempat yang disebut rumah. Dengan terms and condition yang harus dipenuhi, yakni si penyu masih mengenali tempat yang disebut dengan rumah itu.

Di Kawasan Konservasi Penyu Pantai Pangumbahan

Umurnya baru sehari semalam, tapi udah harus dilepas hidup di lautan lepas.

"Tungguin akuu..."
Yang paling bikin seneng adalah, bisa liburan berlima. Novi pas libur karena kelas XII pada ujian, kemudian Ayah pas dapet libur piket dari kantor. Insya Allah selalu ada waktu untuk berbahagia bersama orang-orang tersayang :)
Nah, liburan kelar. Habis ini mau piknik lagi apa ngerjain skripsi? :3

Piknik kemana lagi nih?

20 Mei 2014

Outdoor Activity: Microteaching di Gunung Kidul

Microteaching atau pembelajaran mikro adalah salah satu mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa S1 kependidikan di UNY sebagai syarat untuk dapat mengikuti PPL (Praktik Pengalaman Lapangan). Kelas microteaching biasanya terdiri dari 10 sampai 12 orang mahasiswa. Kegiatan selama mata kuliah microteaching adalah bagaimana belajar menjadi seorang guru, mulai dari berlatih berbagai macam keterampilan dalam pembelajaran sampai dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Mata kuliah microteaching memiliki kelas tersendiri yang memang dikhususkan untuk menunjang mata kuliah tersebut. Untuk semester ini, kelas F2 mendapat mata kuliah tersebut pada hari kamis. Namun, sayangnya pada bulan Mei ini terdapat tiga kali tanggal merah pada hari kamis sehingga sudah dapat dipastikan tidak ada pembelajaran mikro sebanyak tiga kali di ruang kelas seperti biasanya. Padahal, untuk memenuhi persyaratan pada mata kuliah microteaching, setiap mahasiswa harus memperagakan microteaching sebanyak enam kali dalam satu semester. 

Deuh pengantarnya berat banget :3
Habis ini dibikin ringan deh..


Berangkat dari latar belakang tersebut, Kamis kemarin (1/5) kelas F2 Pendidikan Teknik Informatika UNY 2011 diajak sama Pak Totok yang merupakan Dosen Pembimbing Akademik kelas F sekaligus Dosen Microteaching kelas F2 untuk mengadakan kegiatan outdoor microteaching di Pantai Nguyahan, Gunung Kidul, Yogyakarta. Kami yang memang mahasiswa seneng dolan ini ya seneng banget diajakin kegiatan di luar. Berhubung waktu untuk bersama (tsaah..) tinggal sebentar lagi, dan mumpung ini bisa dijadikan ajang pergi sekelas yang niatnya bukan Cuma buat main-main doang. Tadinya, ada rencana biar sekalian nginep di rumah Adit, tapi saya sendiri agak nggak setuju. Bukan apa-apa, ada agenda lain yang mesti dikerjakan hari Jum'atnya.

Skip planning. 
Keputusan finalnya adalah outdoor microteaching hanya akan berlangsung selama sehari penuh dan tanpa acara nginep.

Kamis pagi janjian di rumah Rifa jam 06.00. Tapi ternyata baru bisa berangkat jam tujuh lewat beberapa menit dengan formasi Saya-Nika, Guruh-Disma, Rifa-Akhi, Selfi-Rahma, Andry-Hanan, Romafit-Novita menembus jalan Wonosari buat jemput Yos yang nungguin di Pathuk. Sebenernya kepengen sih berani buat ngendarain motor sendiri ke Gunung Kidul. Tapi berdasarkan pengalaman yang udah udah, saya agak trauma sama jalanan di Gunung Kidul yang dihiasi dengan tanjakan dan belokan yang ternyata kurang bersahabat dengan kepala saya. Terakhir ngebela-belain berani sampai Nglanggeran, habis itu kepalanya pusing -_- Emang dasarnya #mbakatNebeng sih. Padahal Nika badannya kecil gitu, tapi dia setrong banget loh. Nika keren beud #semuaOrangHarusTau

Ini dia squad F2 yang ikut :

Entah kenapa pas bagian mau masukin fotonya Rifa, gambarnya blank semua :o

ini Rifa
Waktu itu posisinya saya pake rok. Biar anggun dan bener-bener "nyewek".  Tapi berhubung Cuma nebeng, jadilah saya duduknya melangkah gitu. Motornya Nika kan Mio, terus pijakan kakinya agak tinggi gitu ya. Alhasil kaki saya naik gitu, dan itu rasanya puegel pol. Pas udah mau sampai di Nguyahan, baru deh saya ngeh kalau di motornya Nika ada pijakan yang lebih rendah. Akhirnya kaki saya bisa berpijak dengan lebih manusiawi :3

Sebelum itu, ada kejadian yang bikin Yos sebagai anak Gunung Kidul diragukan keGunung Kidulan-nya. Gimana enggak, kita tinggal beberapa belas kilometer lagi sampai di Pantai Nguyahan, tapi Yos membelokkan rombongan ke arah Panggang. Saya, Nika, Roma dan Novita yang posisinya paling belakang bingung dan nggak ngelanjutin buat ngikutin Yos. Kita berhenti dan tanya sama penduduk disana. Saya kemudian inisiatif telfon Akhi, ya keleus mereka kesasar atau malah udah nyampe di tempatnya.

"Khi, kamu dimana?"
"Nggak tau. Ini ngikutin Yos.. Kamu dimana?"
"Aku di tempat pertigaan tadi.. Kamu mau lewat mana?"
"Kata Yos, kalau lewat sini lebih cepet. Kalau lewat jalan yang itu, nanti ngalang.."
"Emang Yos udah pernah lewat sana?"
"Bentar ya.. Tak tanyain dulu.."

#duhDek,
Nggak lama kemudian,

"Han, kita balik lagi kesana…"

Tuhkan, lumayan kan.. Bensinnya. Hehe. Akhirnya kita lewat jalur yang biasanya dan beberapa belas menit kemudian, kita sampai di Pantai Nguyahan. Dan ternyataaaa, ombaknyaa..

Gede banget dan bikin ngeri.

Sambil menyusuri pantai, kita mencari keberadaan Pak Totok. Tapi hasilnya nihil, alias Pak Totok kayaknya belum dateng. Alhasil kita duduk-duduk di tepi saung sambil narsis-narsisan. Guruh mulai mengeluarkan bakat narsis dan selfienya. Nggak tanggung-tanggung, tak ada tongsis tripodpun jadi. Walaupun setelan kita hari itu bener-bener udah ready for microteaching banget dan nggak ada unsur pikniknya sama sekali, kita mah santai aja.

Nggak beberapa lama, rombongan kedua yang terdiri dari Annis, Adit sama Arend datang. Tebak dong apa yang mereka bawa.. Tak disangka,mereka bawa layangan loh gaes. Ketara banget Adit butuh banget piknik, soalnya dia yang paling semangat buat nerbangin layang-layangnya. Sayangnya, kita semua terlalu heboh ngeliatin Adit main layangan, sampai-sampai nggak ada yang mendokumentasikan salah satu hal yang jarang banget dilihat dari seorang Adit. Tapi, permainan Adit nggak berlangsung lama soalnya pas layangannya udah terbang, tiba-tiba layangannya jatuh ke laut #pukpukAdit

Hasil mainan air

Sekitar jam setengah 10, Pak Totok dateng sama dua anaknya. Begitu beliau dateng, langsung macak piknik dan nyebur ke laut. Awalnya kita Cuma ngeliatin Pak Totok sambil heboh sendiri. Lama-lama, Guruh diceburin. Lebih lama lagi, semua makin anarkis dengan nyeburin yang masih kering satu persatu. Saya udah berprinsip untuk nggak mau nyebur soalnya saya nggak bawa baju ganti. Belajar lagi dari yang udah-udah, waktu itu saya nekat diceburin di Goa Pindul padahal nggak bawa baju ganti. Hasilnya, besoknya saya demam -_- 

Temen-temen kelihatan menikmati banget acara cebur-ceburannya, padahal nggak semua yang ikut nyebur itu bawa salin. Misalnya, Guruh, Nika sama Rahma. Tapi mereka tetep kena diceburin. Kalau kata Pak Totok sih, sayang udah ke pantai tapi nggak basah. Saya juga nggak lepas dari sasaran cebur-ceburan mereka padahal saya nggak ikutan nyeburin siapapun. Begitu Rifa sama Guruh datengin saya, saya udah megangin tangan Selfi soalnya dia juga bilang kalau dia nggak mau nyebur. Ternyata mereka juga anarkis gaes. Tangan saya dipegangin Rifa sama entah siapa lagi, kaki saya dipegangin Guruh sama entah siapa lagi (kayaknya Adit juga). Tapi posisi saya udah kekunci di tangannya Selfi. Semakin kenceng mereka narik, semakin kenceng saya pegangan di tangannya Selfi. 

Awalnya saya udah bilang nggak mau diceburin, tapi mereka tetep keukeuh. Oke, insting perlawanan mulai aktif dan saya udah nggak tau siapa aja yang megangin saya. Selama masih terjangkau oleh mulut, tangan siapapun saya gigit. Dan selama masih terjangkau sama kaki, siapapun saya tendang. Jahat ya? Tapi ya mau gimana lagi. Hehe. Saya juga pengen seneng-seneng, tapi bukan dengan cara seperti itu. Saya berusaha meminimalisir resiko sakit. Hehe. Akhirnya, saya dilepasin dan mereka cari sasaran lain. Rahma sama Selfi juga ditarik dan mereka akhirnya basah. Yang waktu itu nggak basah kuyup kena air laut Cuma saya sama Annis, soalnya Annis baru sakit.

Jam setengah 12 semuanya naik. Pak Totok minta kita semua untuk mandi dan persiapan microteaching. Tapi karena kita berbanyak dan waktu buat mandi dan bersih-bersih ala cewek nggak cukup sebentar, jadilah semua siap untuk microteaching jam 1 siang. Selama menunggu, kita disuguhi Susu Kedelai dan Kripik Pisang dari Pak Totok. Pak Totok juga banyak cerita soal Gunung Kidul. Dari ceritanya, sudah bisa ditebak kalau Pak Totok dulunya juga seneng piknik karena beliau tau perubahan-perubahan di pantai Nguyahan dari jaman dulu sampai sekarang. Apalagi kalau ceritanya sama Adit juga, udah deh itu nggak ada habisnya.

Pas kita semua udah siap microteaching, kita pindah pantai. Yang jadi penunjuk arah kayaknya Adit deh, lupa juga soalnya waktu itu saya ada di bagian belakang. Perjalanannya nggak jauh kok. Lewat ladang gitu. Tapi berhubung itu tengah hari, jadinya panas to the max. Pemandangannya masih hijau dengan berbagai macam pepohonan yang ditanam di ladang. Ini asik banget men. Di Fakultas Teknik, jarang-jarang nemu tempat kayak gini. Karena itu, kita semua selalu ingin mengabadikan setiap momen. Disinilah peran Yos selaku fotografer jadi paling penting (alias jadi sering dipanggil dan terdengar kalimat seperti ini 'Yos, fotokke dong..'). Hehe. 

Setelah lewat lebatnya pohon pandan dan turunan yang cukup terjal, sampailah kita di sebuah pantai kecil yang teduh. Sepi dan cocok banget untuk microteaching. Waktu itu jumlah mahasiswanya ada 16. Untuk menghemat waktu, kami dibagi menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari lima orang. Satu orang sisanya bertugas sebagai videografer atau fotografer. Awalnya saya jadi murid, tapi setelah itu saya tukeran sama Yos soalnya dia mau maju mikro. Berbekal kameranya Rifa, saya kelilingin semua kelompok. 

Di kelompok 2 ada Adit, Disma, Rahma, Guruh sama Andry. Saya kesana waktu Rahma maju. Walaupun di alam terbuka, menurut saya persiapan Rahma mateng banget. Terbukti dia bikin media pembelajaran yang sesuai sama kondisi di lapangan. Dan lagi, penugasannya juga nggak monoton.

Di kelompok 1 ada Hanan, Novita, Romafit, Nika sama Akhi. Waktu itu yang maju adalah Nika. Dia menyampaikan materi tentang teknik pengambilan gambar (kalau nggak salah). Nika juga niat banget gaes. Dia bikin media pembelajarannya mewah banget. Pokoknya Nika wow bingit.

Di kelompok 3 ada Yos, Annis, Selfi, Arend sama Rifa. Disini paling berisik. Yang majunya cukup niat adalah Yos, soalnya dia bawa motherbboard secara fisik sebagai media pembelajarannya.

ini gurunya

ini muridnya

Selesai microteaching, kita foto-foto. Udah lah ini nggak bisa dideskripsikan. Lihat dari fotonya aja :3




Hari menjelang sore dan kita udah cukup capek buat lebih heboh lagi. Kita balik ke tempat parkir. Pak Totok pamit pulang. Andry sama Hanan juga pamit soalnya ada kerjaan yang harus dikerjain sama Andry. Yang masih tersisa di sana kemudian ke pantai yang ada pura nya itu loh. Namanya Ngrenehan bukan sih? Pura itu letaknya ada di atas laut, bagus dan puas kalau mau ngelihat laut sejauh mata memandang. Atau mau menggalau di pinggir pura. Tapi jangan kelamaan ada disana, bisa masuk angin. Kayaknya sih ini baru di rehab gitu bangunannya, soalnya masih baru.



Jam 4 kita pulang. Saya mencoba untuk gantian boncengin Nika, tapi sepertinya Nika cukup khawatir dengan saya. Alhasil Nika mengambil alih kemudi pas nungguin Selfi yang lagi isi bensin. Oiya, habis itu kita mampir makan bakso di Paliyan. Perut udah laper banget karena seharian belum diisi makanan berat. 

Pas lanjut perjalanan pulang, ternyata kita terjebak nostalgia #halah, bukan ding, kita terjebak hujan deres di daerah Wanagama agak kesana dikit. Sebelum deres, hujannya Cuma cimit-cimit gitu. Saya sama Nika Cuma macak mantolan pakai bajunya doang karena kita lihat kendaraan dari arah berlawanan nggak banyak yang pake mantol. Tapi gaes, ternyata hujannya tambah deres. Terus kita berteduh buat pakai bawahannya meskipun nggak match gara-gara saya pakai celanannya Nika dan Nika pakai rok jas hujan saya. Agak ngeri sih jalan pas hujan deres gitu, jadi saya request sama Nika biar nggak usah ngebut bawa motornya. 

Sampai di Rumah Rifa lagi jam 6 lebih beberapa belas menit. Sholat. Lihat foto dan capcus ke tempat lain karena ada urusan lain~

Overall, aktivitas yang sungguh menyenangkan. Mau berucap terima kasih banyak buat Pak Totok yang udah ngajak kita jalan-jalan. Seneng juga bisa seharian ber enam belas sama temen-temen F2. Barangkali ini aktivitas mikro diluar pertama dan terakhir buat saya, soalnya pas mikro di luar yang kedua nanti, saya nggak bisa ikut karena masih di Bogor. Terima kasih ya temen-temen buat enam semesternya. Semoga saya nggak kalian anggap sebagai salah satu teman yang cukup menyebalkan walaupun saya suka lebay. Saya sayang kalian semua. Emuuuuah :*


Postingan Rifa tentang kegiatan ini bisa dibaca di sini


31 Agustus 2013

Tawa yang Tertahan


Atas nama seluruh tawa pada hari ini, saya mau menyampaikan terima kasih untuk ketiga sahabat yang sudah bersama meluangkan waktu untuk menikmati 'late holiday' untuk semester kemarin. 

Sebenernya ide untuk perjalanan kali ini muncul saat ada rencana syawalan ke rumah Pak Totok selaku dosen Pembimbing Akademik kelas F PTI 2011. Rencananya, selain silaturahmi ke rumah Pak Totok, saya dengan teman-teman sekelas juga akan pergi bersenang-senang ke Pantai Baru. Tapi, setelah di konfirmasi ke Pak Totok, beliau meminta agar syawalannya dilakukan di kampus saja. Alhasil, rencananya dialihkan hanya untuk bersenang-senang. Sayangnya, seperti biasa, kurang mendapat respon positif dari teman-teman sekelas, hingga akhirnya pada hari ini hanya ada empat orang yang bisa ikut. But the show must go on... Kalu misalnya ini dibatalkan, wah, saya kecewa. Hehe. Udah bener-bener kebelet main dan kangen juga sama temen-temen....

Saya sms ke temen-temen yang mau ikut supaya kumpul di PKM jam 7 pagi. Nyatanya, sesampainya saya di PKM, teman sekelas saya hanya ada Budi. Dan setelah menunggu beberapa saat, kami memutuskan untuk berangkat saja karena kemungkinan besar memang tidak ada lagi yang ikut. Awalnya, kami akan langsung ke tujuan yaitu Pantai Baru di Srandakan, Bantul. Tapi ternyata, Fiani yang niat awalnya mau nyegat di jalan baru bangun jam setengah delapan lewat, kami memutuskan untuk mampir ke rumah Fiani terlebih dahulu.

"Assalamualaikum, Bu, Fiani nya ada?"
"Oh, ada mbak. Masuk... Fiani kalo dibangunin susah. Tukang tidur..."
*dalem hati* Muahahaha :D

Saya sama Budi duduk dan nunggu Fiani datang ke ruang tamu. Aaaaak, kangen rasanya, setelah dua bulan nggak ketemu karena sama-sama sibuk PI. Saya di Jogja, sementara Fiani sama Budi di Jakarta, kami cerita banyak banget. Tapi yang nggak berubah dari mereka adalah, mereka tetep medok. Budi tetep cepet banget kalau ngomong, dan Fiani tetep lucu. Malahan, saya ngerasa kalau tingkat kelucuan Fiani naik beberapa tingkat. 

Sebenarnya kami bertiga masih nunggu satu pasukan lagi yang diterjunkan langsung dari Kalibawang. Yup, Farid. Setelah nunggu beberapa lama, dia sampai dan kami berempat berangkat. Sempet ada insiden ketika Farid kepleset dan motornya jatuh ke cor-coran semen. Seperti biasa, bukannya nolongin, kami malah jahat banget ngetawain dia.

Skip. Skip. Skip.

Sesampainya di Pantai Baru sekitar jam setengah sepuluh, kami langsung menuju pinggir laut. Aaaaaaak, walaupun minggu kemarin saya udah ke Parangtritis, tapi ini rasanya beda. Parangtritis itu rame jadinya nggak terlalu asik, sementara Pantai Baru masih sepi tadi siang. Saya ngerasa kayak anak kecil yang udah bener-bener penat sama sekolahnya, terus diajakin orang tuanya liburan. Yak, kami berempat ini adalah mahasiswa tingkat tiga yang baru selesai masa Praktik Industrinya dan menyadari bahwa waktu liburan sudah nyaris habis. Untuk Farid, Fiani dan Budi, mereka kayaknya kangen banget sama laut yang kayak gini karena di Jakarta nggak ada :p Kalau saya, saya bukan kangen lautnya. Laut itu cuma perantara. Sebenernya saya kangen sama temen-temen sekelas saya, kangen main bareng sama mereka.

Ada anak ilang

Setelah dapet tempat yang cukup rindang, kami bermain air atau Budi menyebutnya dengan keceh (baca e nya kayak kalo baca kata 'kecewa'). Awalnya masih malu-malu sama ombak laut, jadi kami hanya menyingsingkan celana kami dan berlarian ketika ada ombak datang. Tapi semakin lama, dan karena Budi yang mengawali, akhirnya siram-siraman pake air laut. Haha. Sayangnya, kami nggak mempersiapkan baju ganti, jadi kecehnya tadi agak nanggung. Sedangkan keceh pamungkasnya adalah ketika Budi sedang membelakangi laut, kemudian ada ombak cukup besar yang menghantam badannya sampai bajunya basah.

Lega juga sih, akhirnya saya bisa jejeritan di pinggir laut. Puas rasanya bisa teriak sekenceng itu. Nggak akan ada yang denger karena angin disana terlampau kencang, dan suara ombak juga mengalahkan suara teriakan saya. Fiani juga nggak mau kalah, akhirnya kami teriak-teriakan berdua, sementara Farid dengan enaknya tiduran beralaskan jaket di atas pasir .____.

Pas semuanya udah kembali menepi ke tempat meletakkan tas, kami beli kelapa muda atau biasa disebut degan. Sebenernya ada yang lucu pas minta dibeliin degan, tapi kalo ditulis pake bahasa tulisan lucunya nanti hilang :p Kami beli empat degan. Posisi duduknya begini : Fiani bersebelahan dengan Budi. Budi bersebelahan dengan Farid dan saya duduk membelakangi Farid. Ketika saya akan berpindah tempat, otomatis saya berdiri, nah ketika saya berdiri, ternyata pasir yang menempel di pakaian saya rontok kedalam air kelapa milik Budi dan Farid. Tapi Budi lebih beruntung karena posisinya jauh. Sedangkan Farid.. Hahaha, masih ngakak kalau ingat yang itu :D

"Nggonamu gulane gula tebu tho? Nak nggonku gula pasir tenanan. Seko pantat meneh.."
"Kamu bikin rasa bersalahku naik 10 kali lipat, Rid"
"Emang itu tujuanku kok"
*menjep*

Nggak enaknya buat Farid lagi adalah, ternyata kelapa yang dia pilih terlalu muda, jadinya daging buahnya belum terlalu banyak :3 #pukpuk

Sama Fiani :3


Skip.

Setelah ngobrol ngobrol, kami kemudian mendokumentasikan diri sendiri alias foto-foto. Sayangnya tidak ada yang membawa kamera. Sehingga, diputuskanlah menggunakan kamera depan iPhone nya Farid yang punya resolusi 1,2MP (kamera depan HP gue yang cuma VGA jadi nggak laku :|). Nah, pas cari pencahayaan yang pas, ternyata susah. Kenapa? Karena saya terlalu item ._____________. Jadinya, wajah temen-temen yang lain kelihatan semua, sedangkan wajah saya tidak.

Fiani, Saya, Budi, Farid

Ternyata foto sambil kebanyakan ngakaknya juga bikin laper. Akhirnya kami memutuskan untuk makan disana. Farid kepingin makan kepiting, tapi kata Fiani, kalau tidak ada perahu merapat, kepiting agak susah dicari di tempat penjualan ikannya. Setelah diskusi singkat, akhirnya kami memutuskan membeli kerang hijau sebanyak 1,25kg dimasak asam manis, dan cakalang bakar.

"Mau pesen ikan apa?"
"Dulu pas kita makan disini sama Selfi itu, ikannya namanya apa sih?"
"Cakalang itu.."
"Cakalang apa becok? Cakalang apa kemalen?"
"Sekarang itu, Peh"

Seperti biasanya, perut-perut kami memang buas kalau urusan makanan. Farid sih ngakunya nggak buncit, tapi keliatan kok kalo buncit. Budi mah emang kurus. Kalau saya sama Fiani, emmm... emmm.... kami cuma seneng makan aja kok. Hehe. Oiyak, kan pas makan siang ini, Farid pesen kelapa muda lagi. Tapi sayang seribu sayang, kali ini kelapanya sudah tua. Memakannya pun penuh perjuangan karena daging buahnya susah di congkel. Duh, kasian betul :p

Bisa disimpulkan sendiri

Selesai makan, kami mampir kerumah Akhi untuk menjenguknya yang dikabarkan sedang sakit. Tapi tidak seperti pembesuk biasanya, sesampainya disana kami malah 'ngerusuh'. Saya ngantuk dan akhirnya minta di puk-puk sama Akhi sampai akhirnya ketiduran di kursi ruang tamu Akhi. 

Bangun-bangun langsung ditodong pertanyaan ini sama Akhi :
"Udah sampe mana Han, tidurnya? Kalasan?"

Haha, mendingan diem aja.

Ternyata Farid masih juga membahas soal pasir yang masuk ke kelapa mudanya tadi. Duh .______.

Daaaaan, tahukah.. Setelah itu kami makan lagi. Gara-garanya Farid kepingin makan mie ayam. Akhirnya kami makan mie ayam di dekat rumah Akhi. Selesai makan, kami kembali ngobrol. Kali ini soal golongan darah. Kembali Akhi bercerita kalau golongan darah O itu nggak setia, kalau golongan darah A itu perfeksionis. Kalau golongan darah B itu setia tapi suka telat. Sampai akhirnya membahas soal pernikahan, dan Farid nyeletuk supaya bikin Trophy yang nantinya bakalan digilir untuk teman-teman yang lebih dahulu melangsungkan pernikahan. Aaaak, kok saya jadi mikir nanti nikahnya sama siapa yak?

Berhubung sudah nyaris Maghrib, kami berpamitan pulang pada Akhi. Karena saya pulang bersama Farid, saya 'dipaksa' cerita supaya dia nggak ngantuk :p

"Kalau yang ini namanya delman rid, soalnya yang ngendarain cowok. Coba kalau cewek, namanya delwoman"
"Oooh, berarti kalau becak itu dari...."
"Dari Madura?"
"Iyak... Kalo dari jawa, namanya bemas. Kalo dari jakarta namanya bebang.."
"Kalo dari sunda, namanya be'a atau bekang.."
"Kalo dari timur, namanya bekaka" *sambil logat timur indonesia*

Pokoknya, terima kasih banyak untuk waktu luangnya hari ini. Terima kasih sudah mengembalikan saya kepada saya yang bisa tertawa lepas seperti dulu. Buat Fiani, buat Farid, buat Budi, buat Akhi... Saya.. Sungguh senang :)

Ini adalah tawa yang tertunda dan tertahan dua bulan.


23 September 2010

Manusia Biasa

Ini gue alamin pas gue lagi di Joja liburan lebaran kemaren, kangen banget ngepost lagi nih. Begitu banyak cerita tentang Jogja, tapi mood nulis gue selalu kalah sama mood malesnya. Hehehe, lagipula baru ada waktu santainya sekarang nih #ngeles -_______________- biarin hehe. Sebenernya setiap jengkal milik Jogja adalah kenangan buat gue. Tapi, ini adalah kenangan paling mantep yang gue alamin.

Hari itu hari Minggu, 12 September 2010. Hari ke3 lebaran. Sesuai tradisi tahunan Trah keluarga besar gue, pasti ada pertemuan gitu kan ya, buat silaturhami sekalian biar kenal sama semua saudara, ada yang dari Bogor (gw), Surabaya, Rembang, Indramayu, Solo dan Jogja juga.

Dan ceritanya juga, di Jogja, gue punya sodara yang sepantaran sama gw, sayangnya cowok semua. Ada satu cewek, tapi nggak terlalu akrab. Hehehe. Sisanya, yang cewek udah pada gede2, ada yang udah mau wisuda, ada yang udah kerja. Nah, Sodara gw namanya Om Rizki sm Mas Ihsan. Mereka adalah mahasiswa baru di dua PTN ternama di Jogja. Keren yaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ^^,

Nah, pas di Jogja itu kita punya rencana buat nonton Film SANG PENCERAH, yang udah direncanain dari jauh-jauh hari. Akhirnya diputuskan untuk pergi nonton hari Minggu itu juga, sorenya lah. Awalnya semua berjalan lancar sampe ada sebuah insiden yang mengeluarkan air mata marah --,gara-gara adek gue tuh. Huaaaaaah. Hampir aja acara nontonnya batal -_____________-

Tapi, dengan waktu yang bener2 mepet, akhirnya bisa nonton juga, (sama mas Ihsan, Om Rizki sama bulek Iko) walupun dapet di seat N (yang bikin gue cukup ndongak untuk ngeliat film di layar yang lebar itu). Tapi nggak mengurangi makna film itu kok, gila ya. Gue nonton film tentang Jogja, pas di Jogja, disekeliling orang Jogja, ditemenin orang Jogja, ketawa bareng orang Jogja. Karena dialognyapun kebanyakan pake bahasa Jawa, gue puas banget bisa nonton di Jogja :) :) *thank's banget buat bulek Atik yang modalin buat nonton ya, eheheh

Selesai nonotn film jam 10 malem, berhubung perut keruyukan, kita mau cari makan. Sayangnya, tempat makan  rekomendasi bulek Iko-nya tutup :( Huwaaaaaaaaaaaaaaaa. Terus, gw dibawa ke tempat apalah namanya gatau, gue buta banget soal jogja, yang jelas lewat selokan mataram itulooooooooh :)

Ternyata, gue dibawa ke UGM !! UGM LOH ! UGM !! Calon kampus gue AMIN YA ALLAH :) :)

Dibawa ke bunderan sama pintu masuknya. 

Loh ngapain , Han malem2 ke UGM??

Jawabannya : FOTO-FOTO -_____________-
Dan itu, bulek Iko yang nagajak loh. Mantan mahasiswa UGM jurusan statistika yang kerja di bulog ini bilang, kalo pas kuliah dulu, dia belum sempet foto2 disini. eheheheh :D Lah, gue sih mumpung ada kesempatan yaudah aja jeprat-jepret sana-sini. Hahaha sampe nggak kerasa udah malem banget.

AGJ --> Anak Gahoel Jogja :D




Dan next destination --> ALUN ALUN KIDUL a.k.a ALAKID
Waktu itu, jam menunjukkan pukul 22.45an --, (masih keluyuran nih gue, ehehehe). Di alun-alun kidul rasanya kayak masih jam 7 malem loh. Masih rame bangeeeeeeeeeeeeeeeeeeet (Jogja tuh ngga pernah mati ya, malioboro aja jam setengah 5 subuh rame banget loh). Disana, kita nyewa sepeda tandem. Berdua-berdua, gw sama Om Rizki, bulek iko sama mas Ihsan. Ongkosnya Rp. 20.000 buat 4x putaran alun-alun kidul. Seru banget loh, hehehe. Gue dibonceng di belakang. Agak ripuh pake sepeda tandem, soalnya kalo gue geser goesan yang belakang, yang depan juga geser kan, kasian om gue yang di depan. Hahaha :D

 Bulek Iko - Mas Ihsan

Me :) sama Om Rizki


Pas udah 2x puteran, capek juga. Terus kita transit dulu di lesehannya. Sayangnya, disini kamera gue lowbat -______________________- untung sempet foto sekali. Hahahah :D Dan pesanlah makanan dan minuman penghangat badan, yaitu wedang ronde dan roti bakar :9 yummy. Pas lagi asyik makan, ada segerombolan tukang ngamen, yang kata om rizki itu sebagian besar mahasiswa gitu. Mereka ngamennya modal, nggak asal-asal bawa kecrekan terus nyanyinya kaya orang kumur2. Asyiknya lagi, kita boleh request lagu loh. Eeheheheheh :D

 menanti dengan wajah ngantuk yang berusaha tersenyum :p

Lagu pertama : JANGAN MENYERAH - D'MASIV
Agak melow yaaaaa, ihihihi. Suaranya bagus, ada yang pake biola juga loooooooooooh :D
Lagu kedua : MANUSIA BIASA - YOVIE AND NUNO

Lagu ini direquest sama bulek iko, jujur aja gue baru pertama kali denger lagu itu di Jogja. Pas gue denger, wiiiiih enak :3

masih ku ingat selalu
saat kau berjanji padaku
takkan pernah ada cinta yang lainnya
terasa begitu indah

tapi semua berbeda

saat kau kenali dirinya
sadarkah dirimu diriku terluka
saat kau sebut namanya

reff:
aku memang manusia biasa
yang tak sempurna dan kadang salah
namun di hatiku hanya satu
cinta untukmu luar biasa

andaikan saja kau tahu
aku takkan mudah berubah
aku kan bertahan selalu bertahan
sampai waktu memanggilku

repeat reff

kemanakah dirimu yang dulu cinta aku
dimanakah dirimu yang selalu merindukanku

repeat reff [2x]

namun di hatiku hanya satu
cinta untukmu luar biasa
cinta untukmu luar biasa


Gue ngerasa romantis banget malem itu, makan roti bakar, minum ronde, ditemani lagu kaya gitu, sama ngeliat kembang api :) Makin cintaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget sama Jogja :* :* #kisshug

Kyaaaaaaaaaaaa, udah setengh 12 malem. Udah di sms bokap gue disuruh pulang. Ehehe bandel ya pulangnya malem banget. Ckckc ---, Akhirnya kita ngabisin jatah nyewa sepedanya dulu, baru memutuskan untuk pulang. Pas pulang, mampir dulu ke masjid kauman (Masjid Gede, yang ada di alun-alun utara Jogja). Pas disitu, gue dapet sms dari temen gue yang mudik ke Bantul :

Aan : Han, barusan gempa ya?
Gw : Ha? Emang iya? Kok gue ga ngerasa ya ? -_________-
Aan : Iya kok..
Gw : Lindu kali ?
Aan : Orang mobil aja sampe goyang

Lah, jujur aja gue nggak ngerasain goyangan gitu kok --, Gw kira si Aan hoax malem2 buta begitu, taunya pas bulek iko konfirmasi ke temennye, ternyata bener loh ada gempa. Besoknya ada di berita juga. Alhamdulillah gue nggak ngerasa :)

Akhirnya, jam 00.00 lewat beberapa menit, kita pulang. Dijalanan, hujan -____________- Sampe rumah dikunciin. Untung masih ada mbah saniman yag masih bangun, lagi nonton bola. Jadi ada yang bukain. Yeeeeeeeeeeeeheeeey, sampe rumah ternyata jam 00.30. Dan gue langsung tertidur pulas :)

Huwh, akhirnya sampe juga di penghujung postigan kali ini :) Agak sedikit lega udah bisa nuangin cerita ini disini, keburu males lagi + lupa soalnya. Dan sampe sekarang, tiap denger lagu Manusia biasa, image di pikiran gue yang kebayang cuma : JOGJA - KERATON - RONDE - KEMBANG API . cocwiiiiiiiiiiiiiit :*

Suatu saat gue pasti bisa kesana, tapi sama 'someone'. Heheheheh :D