Tampilkan postingan dengan label pregnancy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pregnancy. Tampilkan semua postingan

18 Juli 2019

Kenapa Melahirkan di Puskesmas?

M.H.A ❤
Perjalanan kehamilan diakhiri dengan proses persalinan. Persalinan bisa dilakukan dimanapun, baik di sarana kesehatan, bahkan ada juga yang memilih untuk melahirkan di rumah. Dari sekian banyak pilihan tempat melahirkan, bulan Februari lalu akhirnya aku memilih untuk melahirkan di sebuah puskesmas di wilayah Magelang, Jawa Tengah. Mungkin sedikit cerita ini bisa menjadi insight bagi calon ibu yang masih bingung untuk memilih tempat bersalin.

Oiya, disclaimer dulu ya. Ini murni berbagi pengalaman pribadi. Perbedaan layanan di masing-masing Puskesmas bisa saja terjadi. Tapi kalau berminat untuk melahirkan di puskesmas yang sama denganku, boleh tanya-tanya lebih lanjut ya!

Here we go!

Pertama, selama kehamilan, sejujurnya aku belum punya bayangan sama sekali akan melahirkan dimana. Dokter tempatku kontrol tiap bulannya tidak melayani persalinan di tempat beliau praktik (di rumahnya) karena beliau juga praktik di rumah sakit yang cukup besar di Yogyakarta. Pandangan awalku adalah, aku ingin melahirkan di tempat yang dekat dengan rumah. Jadi, setiap ditanya, aku hanya menjawab "di Bidan". Setelah diskusi dengan keluarga, akhirnya sempat diputuskan untuk rencana melahirkan di bidan dekat rumah (kebetulan memang ada, dan kakak iparku juga melahirkan di sana). Oiya, aku memang tidak berencana melahirkan di rumah sakit ya dari awal. Alhamdulillah, kandunganku tidak ada indikasi medis yang berbahaya pada waktu itu. Tapi ternyata ada second opinion, kakak iparku menawarkan supaya melahirkan di puskesmas tempatnya bekerja. Pertama kali mendengar tawaran melahirkan di puskesmas, aku sempat ragu, kayak yang, "Ntar kalo di puskesmas nyaman nggak ya?"

Kakak iparku menepis kekhawatiranku dengan mengatakan bahwa tempat bersalin di puskesmas tempatnya bekerja sangat nyaman karena terpisah dari bangunan puskesmas utama. Kemudian hanya ada satu ranjang, jadi malah seperti kamar VIP kalau di rumah sakit. Nah, ketika tiba saatnya aku melahirkan di sana, pertama kali aku datang dengan kondisi sudah kontraksi yang cukup intens. Masuk ke ruangannya, Alhamdulillah memang betul terasa nyaman. Bersih, luas, dan nakesnya fokus untuk membantu persalinanku saja. Jadi, konsentrasiku nggak terpecah, tetap fokus, nggak terganggu dengan pasien lain dan mengganggu pasien lain juga.

Kedua, bidannya pro gentle birth. Setelah bayi keluar, ibu dan bayi dikasih kesempatan IMD. Duh aku terharu kalo inget momen yang ini. Tiba-tiba di atas dadaku ada bayi mungil merangkak mencari minuman pertamanya. Terus, nggak main gunting perineum juga. Epis akan dilakukan kalau kita minta deh kayaknya. Jadi, para nakes ini membiarkan kelahiran berjalan sealami mungkin. Mereka juga teman kerja kakak iparku, jadi untuk komunikasi lebih enak. Mereka bener-bener berusaha untuk bikin aku nyaman dan nggak trauma. Terlebih di persalinan kemaren aku lumayan heboh cerewet dan payah banget nafasnya karena lemes. Nggak yang marah-marahin ibu bersalinnya misal gara-gara nafas nggak bener, dll. Kontrol nifas dan bayi juga lebih enak dan santai. Padahal kontrol nifas itu kadang masih bikin aku trauma, dengkul tegang banget pokoknya. Haha.

Ketiga, ruangan persalinan yang super nyaman dan fasilitas lengkap plus Ambulance. Jadi, tempat persalinannya itu sebetulnya rumah dinas yang nggak dipakai. Di dalam ruangan persalinan ada AC juga. Kerasa kayak di tempat VIP juga karena di dalam ruangan itu kasurnya cuma ada satu. Terus kalo tetiba ada indikasi medis yang gawat, Ambulance juga siap sedia. Jadi, jangan khawatir ya. Udah ada SOPnya juga dan bisa dibaca siapapun termasuk ibu yang melahirkan. Ini aku sempet baca juga sih, tapi karena selama melahirkan aku gak pegang HP sama sekali yaa nggak ada foto deh. Hehe.

Keempat, minim orang nggak dikenal. Yang belum ku kenal di ruangan itu cuma 3 bidan. Lainnya ya suami dan keluarga. Kalau di rumah sakit atau rumah bersalin kan bisa terintervensi sama suara orang melahirkan di bed sebelah. Alih-alih bikin tenang, malah bikin khawatir pas dia teriak kesakitan. Orangnya juga banyak yang nggak dikenal. Ada dokter SPOG, dokter anak, suster, bahkan kadang koas. Buatku pribadi, kurang nyaman.

Kelima, nggak perlu rawat inap. Malamnya persalinan, pagi sudah boleh pulang dan istirahat di rumah. Yeeeeeey~ "Loh, udah bisa jalan emang?". Udah kok. Udah buang air juga malahan. Yakali semaleman ngga pipis padahal minumnya lumayan banyak. Asal udah dicek lagi beberapa jam setelah melahirkan dan memang tidak ada indikasi medis, boleh langsung pulang.  

Keenam, muraaaaaah. Hehe. Seluruh tindakan yang aku terima saat persalinan di puskesmas menghabiskan biaya nggak sampai 1 juta lho tanpa BPJS! Ini kejadian gapake BPJS terjadi karena BPJS baru aktif tanggal 14 Februari, sementara anakku lahir tanggal 13 Februari jam 23.05. Hahaha. Emaknya udah ga kuat nahan karena anaknya juga udah kebelet keluar. 

Menurutku, puskesmas bisa jadi pilihan tempat melahirkan juga kok. Tapi ya yang jelas pastikan dulu fasilitas puskesmasnya kayak gimana. Kalau biasa kontrol di dokter, minimal sekali lah kontrol di puskesmas sambil tanya-tanya soal fasilitas persalinannya gimana. 

Lokasi puskesmas:


Menjadi Ibu Baru part. 1

Mengantarmu melihat dunia. Sumber: Unsplash

Ada banyak kisah dalam setiap proses persalinan. Entah itu kelahiran pervaginam atau caesar. Cukup bulan atau prematur. Posisi normal atau sungsang. Proses yang waktunya singkat atau butuh waktu berhari-hari. Banyak orang bilang kalau melahirkan caesar itu enak karena tidak merasakan sakit. Mungkin memang iya, tapi setelah biusnya habis? Banyak yang bilang bahwa dengan melahirkan normal  barulah seorang wanita bisa dikatakan sebagai ibu sejati. Buatku, no. Sama. Setiap proses kelahiran itu memiliki kenikmatannya masing-masing dan sama mulianya. Setelah mengalami rasanya melahirkan, aku bisa bilang bahwa dari awal kehamilan sampai pasca melahirkan adalah tentang mendewasakan diri dan menerima diri ini apa adanya.

Ada yang sudah afirmasi dari A-Z supaya persalinan normal pervaginam, tapi di ujung kehamilan yang sudah bukaan sekian berhari-hari akhirnya juga harus cesar. Yang pervaginam pun sama. Sudah afirmasi supaya bisa melewati kontraksi dengan baik dan tidak adanya robekan di perineum, ternyata juga tetap menjerit dan butuh jahitan di perineum. Gradenya gede lagi, sampe nakesnya bilang, "Wah, robeknya berantakan banget ini bu..". Semua usaha dan do'asudah dilakukan, tapi semua keputusan akhir ada di tangan Tuhan. 

Setelah perjuangan melahirkan selesai, apakah perjuangan lainnya selesai juga? Oooo, tentu tidak. Yang paling menjadi beban pikiran sebagian ibu pasca persalinan adalah, "Apakah setelah melahirkan, tubuh bisa kembali seperti semula saat sebelum hamil?"

Pasca persalinan, perut masih akan terlihat besar seperti sedang hamil 4 bulan. Bedanya, kondisi perut sekarang berkerut. Jelas. Selama 9 bulan kulit meregang seiring dengan besarnya kehamilan, tiba-tiba menyusut karena isinya sudah tak ada lagi. Belum lagi stretch mark yang menghiasi sekeliling perut. Ditambah, bagi yang melahirkan pervaginam akan merasakan rasa tidak nyaman dan takut untuk buang air di beberapa minggu awal. Rasa takut jahitan akan lepas atau nyeri yang tiba-tiba muncul, atau merasakan perasaan yang lain akibat bentuk yang kini berbeda. Bagi yang melahirkan cesar, rasa sakit di bekas jahitan yang katanya masih sering terasa sakit meskipun sudah melahirkan bertahun-tahun, belajar bagaimana caranya duduk, berdiri, berjalan, mengurus bayi dan bahkan mengurus diri-sendiri.

Belum lagi mengubah kebiasaan sehari-hari. Yang mulanya setiap hari bisa tidur nyenyak dari jam 9  malam sampai subuh, kini harus bangun setiap 2 atau 3 jam untuk menyusui. Air susu yang di awal kadang belum keluar, flat nipple, puting lecet, payudara bengkak akan menghiasi hari-hari awal. Yang tadinya bisa nonton drama korea di depan laptop berjam-jam, kini waktunya bisa saja berkurang drastis.

Di proses itulah kita harus belajar menerima diri sendiri. Menerima perubahan fisik yang mungkin tak bisa kembali, maupun perubahan psikis berkaitan dengan mood dan lain-lain. Kalau diri kita sendiri belum bisa menerima, kupikir rasanya akan susah untuk dijalani. Untuk itu, new mom memang harus diberikan support penuh dari orang-orang disekitar, terutama suami. Karena yang paling dekat secara emosional selain ibu kandung biasanya adalah suami.

Ada sedikit pesan nih. Plis lah, kalau menjenguk new mom, biarkan dia banyak bercerita dan jangan terlalu banyak menasehati dan bertentangan pendapat. Kan dia yang baru melahirkan, bukan kamu.

Bercerita soal persalinan tak akan ada habisnya. Tiap aku baca cerita orang-orang yang melahirkan, pasti merebes mili terharu pengen nangis. Kalo kata netijen, "Postingan ini mengandung bawang". Tapi aku suka. Aku bahagia melihat kelahiran, aku bahagia melihat sepasang kekasih yang akhirnya menjadi orang tua. Selepas ini, masih ada proses mengASIhi sampai anak berusia 2 tahun berikut dengan cerita seru dibaliknya. Mungkin nanti aku bakal cerita tentang hal itu. Jadi, kusudahi dulu ya postingan ini. Sampai ketemu di tulisan selanjutnya!

***

20 Juni 2019

Cerita Kehamilan: Persalinan Luar Biasa

Sumber: Photo by Janko Ferlič on Unsplash
Hm, sebelum baca postingan yang ini, diklik dulu ya lagunya. Nanti kamu bisa baca sambil dengerin lagu ini :)



13 Februari 2019

Rabu pagi, hari ketiga cuti.
Bangun tidur aku beraktifitas seperti biasa. Sholat subuh, mengisi perut, kemudian tidur-tiduran sebentar alih-alih jalan pagi yang sangat baik untuk ibu hamil di trimester tiga sepertiku. Hari itu aku tak berencana pergi kemana-mana karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum makin mendekati HPL.

Kira-kira pukul delapan pagi.
Aku asyik mengolah gambar di depan PC suamiku. Satu gambar, dua gambar, masih seperti biasa. Tiba-tiba aku merasakan kemunculan sebuah rasa yang sudah hampir 9 bulan ini tidak aku rasakan. Mulas seperti akan haid. Kala itu usia kandunganku sudah 38 minggu 4 hari. Seketika aku langsung menebak bahwa, “Oh, inikah yang disebut orang-orang dengan kontraksi?”. Masih menduga-duga karena hari-hari sebelumnya tidak terasa ada sesuatu yang lain, termasuk tanda melahirkan berupa flek.

Awalnya biasa saja. Aku masih asyik berkutat dengan pekerjaanku. Setiap rasa itu datang, kucoba mengatur nafasku agar nyerinya sedikit berkurang dan bisa kukendalikan. Sambil kucatat waktu mulai, waktu berakhir serta interval kemunculannya. Ah, masih belum teratur ternyata. Kadang lima menit, kadang sepuluh menit sekali. Pokoknya masih belum teratur. Dari literatur yang kubaca, hal seperti ini disebut kontraksi palsu (braxton hicks).

Semakin siang, ternyata kontraksinya tidak hilang. Tak ingin diam saja, aku masih sempat berjalan-jalan keliling rumah sambil mempersiapkan hospital bag yang belum kusentuh sama sekali (Plis ini jangan ditiru ya teman..). Perlengkapan persalinan, baju bayi, popok, selimut, sampai baju ganti untukku langsung kumasukkan ke dalam tas. Suamiku ikut membantu. Ia kemudian membuatkanku segelas susu dan menyuruhku agar istirahat. Aku merasa masih kuat sekalipun kontraksinya juga tetap muncul dan hilang kapanpun ia mau. Bahkan, aku sempat ditinggal suamiku kurang lebih 1 jam untuk mengambil kendaraan di rumah mertuaku.

Jam tiga sore, interval masih belum teratur.
Kendaraan siap, perlengkapan bayi dan aku juga siap. Setelah suamiku memberi kabar kepada keluarga di Kalibawang, ibu mertua dan kakak iparku segera menyuruhku berangkat ke puskesmas tempatku akan melahirkan. Kupikir, “Ah nanti saja. Toh ini masih kontraksi palsu. Belum 5-1-1. Pasti belum ada bukaan”. Informasi tentang persiapan melahirkan banyak sekali kudapat dari instagram @bidankita, banyak juga cerita dari orang-orang yang membagikan pengalaman persalinannya. Jadi, aku tidak terlalu khawatir dan memang mempersiapkan diri agar tidak cemas berlebihan. Berangkat ke tempat bersalin saat sudah “siap” juga untuk menghindari intervensi berlebihan dari tenaga kesehatan yang akan membantu persalinan yang bisa menyebabkan ibu dan bayi trauma. Walaupun aku sendiri punya argumen, ternyata keberangkatan ke puskesmas tidak bisa ditunda, kami tetap harus berangkat. Mbak iparku bilang agar kandunganku bisa diperiksa terlebih dahulu.

Aku setuju. Selama kehamilan, aku belum pernah memeriksakan kandunganku di puskesmas tempatku akan bersalin. Jadi, untuk pemeriksaan ini kupikir akan baik jika kulakukan.

Perjalanan ke puskesmas kurang lebih 15 menit melewati Jalan Magelang yang lumayan ramai. Aku masih bisa bercanda dengan suamiku. Saat kontraksi datang, masih kucoba untuk tetap mengendalikan diriku sendiri. Walaupun terkadang tetap mengaduh-aduh kesakitan.

Puskesmas Ngluwar, VT pertama.
VT adalah Vaginal Touch. Dilakukan untuk memeriksa bukaan yang terjadi pada jalan lahir bayi di persalinan normal. Dari namanya, sepertinya tak perlu kugambarkan bagaimana prosesnya ya. Yang jelas, bidan disana bilang, sakitnya baru 1/100 nya dari melahirkan. Yang penting saat melakukan VT adalah rileks, dan kalau bisa tidak dilakukan sering-sering. Paling tidak 4 jam sekali. Kenapa? Karena rasanya memang kurang nyaman. Ah, rasanya aku tidak ingin mengingat kembali rasanya ini.

Ternyata, seperti dugaanku. Belum terjadi pembukaan dan kontraksinya masih berupa kontraksi palsu karena belum terjadi setiap lima menit sekali, selama satu menit. Sehingga, belum bisa dipastikan kapan akan terjadi kelahiran. Bisa nanti malam, bisa besok hari, atau lusa. Akhirnya, kami pamit pulang ke rumah. Aku berusaha agar tetap rileks sekalipun kontraksinya tetap muncul dan hilang. Sepanjang perjalanan pulang yang ditemani hujan deras, aku dan suamiku menyempatkan mampir di tempat makan mie ayam favorit kami. Mood booster katanya. Supaya tetap kenyang dan tetap tenang.

Sampai di rumah, aku kembali istirahat. Karena semua perlengkapan sudah siap, tak ada lagi yang aku kerjakan selain menikmati setiap gelombang cinta itu datang. Menjelang maghrib, interval nya semakin rapat. Sudah mulai terasa mulas seperti ingin BAB. Kugunakan waktu yang ada untuk ke belakang karena. Di literatur yang kubaca, jalan lahir itu menekan usus besar dan kandung kemih. Jadi, biasanya kedua tempat penyimpanan hasil eksresi dan defekasi itu dikosongkan lebih dulu agar jalan lahir bisa terbuka.

Selepas maghrib, gelombang cinta makin intens. Perutku terasa kencang dan mulas semakin menjadi-jadi. Kuatur nafasku walaupun terkadang sampai harus merintih kesakitan. Aku mencoba tetap tersenyum walaupun tingkat sakitnya sudah lebih tinggi dari sebelumnya. Selain mulas, perutku juga terasa mual ingin muntah. Setelah memperhatikan catatan waktu kontraksi, akhirnya selepas isya kami berangkat kembali ke puskesmas. Selain ditemani suami, aku meminta tanteku agar turut menjagaku saat di perjalanan. Sepanjang perjalanan kututup mataku sambil berdoa, tetap mencoba tersenyum dan atur nafas ketika gelombang cinta muncul tiap lima menit sekali. Berusaha untuk tetap tenang dan tidak mengaduh-aduh, selain agar diriku tetap tenang, juga agar suamiku tetap konsentrasi menyetir. Perut dan punggungku diusap-usap tanteku sepanjang jalan. Aku tidak sabar ingin bertemu belahan jiwaku, dan kurasa diapun begitu.

Sampai di puskesmas, sudah ada ayah ibu mertuaku, kakak iparku, keponakanku serta tenaga kesehatan yang akan membantu proses persalinanku malam itu. Ruangan sudah siap. Nah, kenapa aku memilih di puskesmas, nanti akan kujelaskan pada tulisan yang lain.

Aku langsung diminta tidur di ruang bersalin, kemudian dilakukan lagi VT. Ternyata sudah bukaan 5. Setengah perjalanan lagi sebelum total bukaan. Pada saat itu, gelombang cinta semakin intens dan kuat, dorongan ingin mengejan sangat kuat tapi aku dilarang mengejan agar jalan lahir tidak bengkak. Kucoba atur nafasku, yaaa, walaupun terkadang diselingi jeritan-jeritan (yang setelah proses lahiran selesai, tanteku bilang sebenarnya ia ingin tertawa mendengar celotehanku saat menjerit).

Kala itu di ruangan bersalin aku ditemani suamiku, kakak iparku, tante serta ibu mertuaku yang tak lelah mendoakan serta menyuapiku makanan serta minuman. Agar badanku kuat saat nanti mengejan, aku harus makan dan minum yang cukup. Tapi karena aku menahan sakit, beberapa kali aku juga muntah dalam jumlah yang cukup banyak. Beberapa kali aku juga meminta agar Bu Bidan memeriksa lagi bukaan pada jalan lahir karena rasanya seperti sudah ada yang mau keluar. Tapi ternyata baru bukaan 7. Posisi bayi sudah masuk panggul tetapi serviksnya masih cukup tebal, kata bu bidan.

Huuuf, sabar-sabar... Sabar ya nak. Anak pintar, seperti afirmasiku padanya agar mencari jalan lahir yang membuat dia dan diriku nyaman.

Jam 22.00.
Akhirnya bukaan lengkap juga setelah aku sempat mengejan saking tidak kuatnya aku menahan. Padahal sudah kucoba untuk mengatur nafas, berganti posisi dari miring kiri menjadi duduk, istighfar, membaca do’a dan mencoba mengalihkan pikiran dari rasa sakit. Setelah bukaan lengkap, aku dipersiapkan untuk mengejan. Saat kontraksi terasa dan perut mengeras, kutarik nafasku dan mulai mengejan sekuat tenaga. Nafas habis, kuulangi lagi. Begitu sampai beberapa kali.

Belum keluar juga. Ayo adek, bantu ibu nak..

Afirmasi selama hamil agar perineumku tetap utuh ternyata gagal. Karena mengangkat bokong, jalan lahirnya mengalami robek yang cukup ‘berantakan’. Bahkan, di tengah jalan ketika mengejan dan kepala bayi sudah nyaris keluar, aku nyaris menyerah karena sakit yang sungguh nikmat. Namun aku juga tak sabar ingin segera bertemu dengan bayi kecil yang sudah kubawa kemanapun aku pergi selama 9 bulan kebelakang.

Jam 23.05
Satu kali mengejan yang terakhir, bayi kecilku keluar bersamaan dengan suara tangis yang memecah ketegangan malam itu. Seorang bayi laki-laki dengan berat 3,5 kg dan panjang 50 cm lahir ke dunia yang fana ini. Ucapan syukur dan tangis haru memenuhi ruangan. Aku menatap suamiku, seolah mengatakan bahwa 'Aku sudah lega, Mas..'. Segera setelah itu, inisiasi menyusui dini dilakukan. Seorang bayi kini merangkak di atas dadaku, mencari minuman pertamanya di dunia ini. Kuusap kepala dan punggungnya. Haru. Tetes air mata tidak dapat lagi dibendung. Sayangnya tak cukup lama karena ada bagian dari plasenta yang nampaknya masih tersisa di dalam rahimku sehingga harus dikeluarkan. Jangan tanya prosesnya, karena itu juga rasanya luar biasa.

Sungguh sayang sekali, aku tidak sempat mendengar suamiku mengadzani dan iqamah di kedua telinga anak kami. Perjuanganku belum selesai.

Lelah, lapar, mengantuk, tapi belum bisa istirahat. Akibat proses persalinan yang membuat jalan lahirku robek, aku perlu mendapat jahitan yang cukup banyak. Grade 2. Rasanya? Walaupun sempat dibius, pada akhirnya aku tetap menangis karena tak kunjung selesai. Pukul 02.30, barulah segala proses persalinanku selesai dan aku bisa beristirahat.

Begitu selesai, bidan yang menolongku berkata, “Habis ini minta maaf ya sama ibu..”. Apa daya, malam itu tak kudapati ibu kandungku berada disisiku. Kami hanya sempat video call sebentar ketika aku sedang dijahit. Kini ku tahu bagaimana rasanya. Dan betapa durhakanya aku ketika aku menyakiti perasaan ibuku, ketika aku tau rasanya bagaimana bertaruh nyawa di meja persalinan. 

Jika kamu bertanya bagaimana rasanya?
Bahagia, penuh syukur dan terharu. Sepanjang kehamilan, entah kenapa aku tidak terbayang-bayang ketakutan akan kelahiran normal pervaginam yang orang-orang bilang sangat sakit. Kuisi kehamilanku dengan rasa bahagia, kegiatan dan afirmasi positif setiap hari. Instagram @bidankita banyak sekali memberi informasi bagaimana agar proses kehamilan dan melahirkan menjadi tidak menyeramkan. Tentang mengatur nafas, memperbanyak pengetahuan tentang posisi bayi dan jalan lahirnya, sampai proses persalinan dan pasca persalinan. Selain itu, Alhamdulillah perkembangan janinku baik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Pada setiap proses persalinan tidak hanya melahirkan bayi baru ke dunia ini, tetapi juga melahirkan seorang ibu dan ayah baru. Aku bersyukur suamiku selalu mendampingi mulai dari proses kehamilan sampai seluruh tindakan selesai. Yang mengurus urusan rumah tangga, yang memastikan aku selalu makan makanan yang baik, yang membelikanku ini itu supaya aku tetap merasa baik, yang bersedia mengantarku kesana kemari, yang kuremas dan kutarik bajunya saat kontraksi berlangsung. Bahkan sampai setelah aku selesai melahirkan, kuyakin yang lelah dan lapar tak hanya aku, suamiku juga.

Adek, terima kasih sudah menjadi teman berjuang yang kompak selama sembilan bulan ini. Ibu harap kekompakan kita tidak berakhir ketika kamu keluar dari rahim ibu ya, Nak. Kita harus kompak sampai kapanpun. Ketika nanti mungkin dunia sedang tak baik padamu, jalan pulang menujuku masih tetap terbuka lebar. Sholih ya, Nak. Love you my son ❤

Melahirkan, apapun dan bagaimanapun prosesnya, tetaplah penuh dengan perjuangan. Setelah ini masih akan ada hari-hari yang perlu dinikmati sebagai sepasang orang tua baru. Kami mohon do’a agar kami dapat membimbing anak kami sebaik-baiknya, serta mohon do'a anak kami menjadi anak sholih, berbakti kepada kedua orang tua, bermanfaat bagi sekitarnya dan selalu bahagia.

Aamiin ❤

Total 14 jam dari awal kontraksiku sampai anakku lahir di dunia ini. Ada yang bilang sebentar, ada juga yang bercerita bahwa waktu yang lebih cepat pun ada. Sudahlah, tak perlu diperdebatkan. Semua proses melahirkan itu sam mulianya. 

Jika ada teman pembaca yang ingin sharing pengalaman atau bertanya, boleh untuk meninggalkannya di kolom komentar.
Terima kasih sudah membaca ˙˚ʚ(´◡`)ɞ˚˙

21 Mei 2019

Cerita Kehamilan: Trimester Tiga Banyak Drama

Dua pertiga perjalanan adek bayik di dalam perut sudah dilewati. Rasanya, badan ini udah terbiasa banget ada malaikat kecil yang setiap hari selalu bikin jatuh cinta. Tinggal sepertiga perjalanan lagi sebelum bisa bertemu muka dan memeluknya.


Postingan sebelumnya: Cerita Kehamilan: Trimester Kedua yang Menyenangkan

Trimester tiga dimulai sejak usia kandungan masuk di 29 minggu. Ya kira-kira udah 7 bulanan lah. Perut udah semakin buncit, gerak kesana kemari udah lumayan agak susah. Buatku, trimester tiga rasanya lebih menakjubkan dibandingkan dengan dua trimester sebelumnya gara-gara di trimester tiga ini qadarullah aku beberapa kali harus berurusan dengan masalah kesehatanku.

Di awal trimester tiga, aku kena bakteri di lambung yang bikin badanku panas sampai hampir 39 derajat  celcius dalam waktu empat hari. Deg-degan dong. Udah mikir aneh-aneh kena tipes atau apa gitu. Udah gitu dada rasanya begah banget dan sesek kalau buat nafas. Karena lagi hamil gede, ku ngga berani minum obat sembarangan. Akhirnya aku ke dokter dan cek darah, baru deh ketauan kalau ternyata ada infeksi bakteri di lambungku.Kaget nggak sih? Kenapa coba bisa tau-tau kena infeksi bakteri? Akhirnya, berdasarkan hasil konsultasi ke dokter, aku harus minum antibiotik yang aman untuk ibu hamil. Sampai habis. Setelah obat habis, panas turun, badanku rasanya berangsur normal.

Kelar infeksi bakteri, sekujur badanku mulai gatel-gatel. Mulai dari paha, bibir, perut, sampai lipatan-lipatan. Ibu hamil kalau gatel-gatel itu sebenernya wajar aja sih. Tapi aku ngerasanya ini lumayan parah. Selama beberapa minggu, kok malah makin nyebar gatelnya. Puncaknya adalah ketika sekujur perutku gatel nggak ketulungan. Ada perubahan fisik di kulit perutku yang sampai setelah melahirkan pun bekasnya belum hilang. Bahkan saking aku ngerasa udah nggak wajar ini rasa gatelnya, sampai aku harus ke dokter spesialis KK di RSUD Sleman. Akhirnya dikasih salep untuk dioles ke perut dan ke bibir. Bayangin gimana kepikirannya aku lihat perubahan yang bener-bener drastis dan nggak tau bakal bisa kembali seperti sedia kala atau enggak. Di sisi lain, aku tetep harus happy, nggak boleh stres dan kepikiran berlebihan karena bakal berpengaruh juga ke adek di perutku. Jadinya ya kalau pas gatel gitu kugaruk aja, atau kalau lagi eling ya ku elus-elus doang. Walaupun kadang nggak mempan dan akhirnya tetep kugaruk dengan kekuatan maksimal. Ini jangan dicontoh ya, haha. Tapi ada satu hal yang aku syukuri dari gatel-gatel berlebihan ini, aku nggak ada stretch mark sama sekali. Yeeeeeey!

Ternyata, setelah baca postingan di ig @ibupedia_id ini dan baca comment sectionnya, aku punya banyak teman senasib yang punya 'bekas hamil' belum hilang sampai beberapa bulan pasca melahirkan.

sumber: IG @ibupedia_id

Aku masih kerja. Di dua sekolah. Lima hari seminggu, dan tetep naik motor sendiri. Baju seragam mulai kehilangan kupnat-nya, haha. Rok udah nggak cukup lagi dipakai dan harus pakai inner gamis tanpa lengan supaya nggak kerasa sesek dan terlihat meletat-meletot perutnya. Nah, ada cerita lagi nih soal kulitku. Tiap ke sekolah aku kan dandan kek biasanya ya, tapi begitu sampai sekolah tuh muka kelihatannya kusemmmm banget. Kalo kata temen-temen guru yang udah senior, karena anak yang ada di perutku itu laki-laki, makanya emaknya kusem. Haha. Padahal dandan ya kek biasanya ngga ada yang dikurangi apa ditambah. Udah gitu, efek gatel-gatel di badanku ternyata pengaruh juga sampai ke bibir. Bibirku nggak bisa dioles lipstik dong! Kek baal gitu rasanya. Kalau dioles lipstik langsung jadi kering dan tambah gatel. Ku kira alergi kan ya, tapi aku nggak habis ganti lipstik tuh. Tetep ku pakai yang biasanya. 

Alhasil udah mah muka kusem, ditambah nggak lipstikan tiap ke sekolah, aku jadi dikira sakit setiap hari gara-gara bibirnya pucat. Hadeeeeh. Awalnya risih juga ke sekolah cuma mosturizer, sunscreen sama bedak tapi demi biar cepet sembuh yaudahlah akhirnya aku bodo amat juga. Lama-lama ya biasa (karena, yaudah sih bodo amat) :D

Konsul ke dokter kandungan setiap bulan Alhamdulillah progressnya baik. Karena udah trimester tiga, suruh dibanyakin jalan. Alhamdulillah aku masih kerja, jadi kalau di sekolah aku jalaaaaan aja. Ngajar juga kadang di lantai dua bahkan lantai tiga, jadi harus naik turun tangga. Walaupun engap, tapi ya emang harus gitu. Kalau cuma di rumah sudah pasti aku bakal mager. Haha. Masuk ke minggu 30, posisi kepala adek sudah di bawah. Dan menjelang minggu-minggu terakhir, kepala adek sudah masuk panggul. Sejak saat itu, kontrol ke dokter kandungannya jadi satu minggu sekali. Selama masa kontrol, nggak ada indikasi medis dari adek dan aku misalnya tekanan darah tinggi, detak jantung kurang atau berlebih, lilitan tali pusat atau plasenta menghalangi jalan lahir, jadinya insya Allah aku bisa melahirkan normal. Ini bener-bener yang aku dan Farid harapkan dan afirmasikan ke adek bayik setiap hari. Mudah-mudahan sampai di ruang persalinan juga tetap bisa normal. Karena ada juga lho yang prediksinya normal, tapi ada permasalahan yang tidak terduga yang mengakibatkan harus dilakukan tindakan operasi sesar.

Katanya, menjelang persalinan tuh hasrat belanja perlengkapan bayi bakalan menggebu-gebu banget. Tapi kok nggak berlaku di aku ya. Haha. Sejak awal hamil, aku tuh jadi males belanja apa-apa, jadinya baju hamil aku ngga punya, celana hamil nggak punya. Bahkan sampai di bulan ke 8-9 dimana para bumil bakal kalap belanja printilan bayi pun, tidak pengaruh ke aku. Untungnya, ada ‘lungsuran’ popok, baju bayi dan perlengkapan lainnya dari temannya adikku. Namanya baju newborn yaa, dipakenya paling cuma sebentar, jadinya ya masih bagus banget. Ini bisa jadi #protips lho! Baju bayi disimpen aja, nanti kalo masih bagus bisa dikasihkan ke saudara atau dipakai buat kehamilan selanjutnya. Lumayan, hemat banget.

Cara mancing kontraksi?
Di minggu ke 36, kan udah udah cukup bulan tuh. Aku mulai mancing-mancing kontraksi dengan makan buah nanas dan durian. Akhirnya, setelah ditahan-tahan sekian lama untuk nggak makan buah nanas, aku bisa makan agak banyak dari biasanya. Udah gitu, pas masuk minggu ke 36, pas banget di rumah ibu mertuaku ada duren yang uwenaaaaak banget. Dibanyakin jalannya, dibanyakin naik turun tangganya. Terus aku juga main birthing ball lungsuran dari mbak iparku. Dan katanya, melakukan hubungan suami istri juga bisa memicu kontraksi, tapi yang ini ku skip karena.........................

Oiya, aku juga follow instagram @bidankita yang isinya banyak banget informasi soal kehamilan dan persalinan. Misalnya, untuk bikin adek supaya lekas masuk panggul, terus tentang gentle birth, hypnoteraphy, afirmasi, prenatal yoga. Wah lengkap deh di situ. Silakan kalian coba buka-buka sendiri ya buat persiapan melahirkan.

Berat badan janin (BBJ) juga perlu banget dikontrol supaya nggak terlalu besar saat akan dikeluarkan. Waktu minggu ke 36, berat badan janinku sekitar 2,7 kg. Ternyata, kenaikan BBJ itu cepet banget di aku, kontrol di minggu setelahnya ternyata udah 3,2 kg. Naik 500gram seminggu. Ini pasti karena aku banyak makan makanan yang manis. Alhasil aku diminta untuk mengurangi konsumsi gula supaya naiknya nggak lebih ekstrim.

Pertanyaan selanjutnya, rencana mau lahiran dimana?
Haha, ini aku sebenernya agak tricky banget sih. Aku sama sekali nggak tau bakal lahiran dimana. Nggak ada bayangan di kepalaku 'aku mau lahiran di RS ini..' atau 'aku mau lahiran di bidan ini..'. Aku cuma jawab, di bidan di Kalibawang (rumah mertua). Aku sama Farid itu kadang suka nunda kerjaan. Kebetulan karena pas aku masuk trimester tiga ini beliau sibuk ngurus yudisium, jadinyaaa ngurus BPJS nya terlambat pemirsa. Wkwk. Beneran, ini jangan dicontoh ya gaes. Harus banget dipersiapkan sedini mungkin karena, ya, who knows what will happen kan. Operasi sesar itu biayanya mahal boook. Akhirnya, keputusan diambil bahwa aku akan melahirkan di tempat kerja mbak iparku. Di puskesmas. Ntar bakal kubahas di postingan tersendiri soal ini.

Beberapa teman tanya, kapan mulai cuti melahirkan?
Karena ini kelahiran pertama, aku masih belum kebayang apakah kemungkinan akan maju persalinannya atau bahkan lewat dari HPL. Ada yang bilang kalau anak cowok biasanya maju, anak pertama biasanya maju, yang haidnya teratur biasanya maju. Padahal, keknya bayi bakal keluar ya kalau emang udah waktunya keluar. Hehehe. Pengenku sih cutinya kalau udah mepet HPL supaya aku punya banyak waktu sama adek bayik setelah dia dilahirkan sebelum aku masuk kerja lagi. Jadinya, aku memutuskan untuk cuti mulai HPL-14. Dua minggu sebelum melahirkan, yang mana masa kehamilanku masuk di usia 38 minggu. Ini untuk mengantisipasi kalau ternyata kelahirannya bakal maju lumayan jauh dari HPL. Selain itu, udah engap beb naik motor sendiri kemana-mana, dengan jalanan yang banyakan lobangnya. Udah paling bener ini deh. Heheh. Oiya, kecuali memang sudah berencana untuk melahirkan dengan cara operasi sesar ya. Karena kan tanggalnya sudah ditentukan tuh, jadi bisa diatur lebih mateng deh cutinya sesuai tanggal rencana operasi.

Aku belum sempet kontrol lagi ke dokter soal kondisi terakhir adek bayik, tapi dari aplikasi Pregnancy+, katanya begini.

Aplikasi Pregnancy+ dari Apps Store

Gembul bats bayiknya. Tapi itu bukan gambar bayi ku lho ya. Oiya, aplikasi ini lengkap banget sih menurutku. Bahkan ada alat hitung kontraksinya juga kalau kalian beli yang full version. Sayangnya ku cuma pake yang gretongan, jadi nggak bisa akses ke semua fiturnya. Pelit ya. Haha~

Pas menunggu waktu kontrol di minggu berikutnya, ternyataa......
Bersambung ke postingan selanjutnya ya!


7 Mei 2019

Cerita Kehamilan: Trimester Kedua yang Nyaman

Setelah lepas dari drama mual dan morning sickness di trimester satu, akhirnya aku bisa merasakan nikmatnya makan ini itu tanpa mual di trimester dua. Dari pengalaman kehamilan pertamaku ini, trimester dua-lah masa yang paling ‘enak’.

Sumber: unsplash

Perut udah mulai kelihatan maju, tapi berat badanku nggak bertambah terlalu banyak. Kegiatan masih sama, ngajar di dua sekolah lima hari seminggu dari pagi sampai sore naik motor sendiri dengan jarak tempuh PP bisa sampai 40km lebih. Waaaaaaaaaw~

Hal yang paliiiing mengesankan di trimester dua adalah ketika ada makhluk kecil yang mulai bergerak di dalam perutku. Tendangan pertama! Yap, lagi tiduran tiba-tiba perutku terasa ada gerakan. Heboh dong, akhirnya si kecil di dalem perutku makin menunjukkan keberadaannya. Sejak hari itu, hampir setiap hari makhluk kecil di perutku nggak pernah absen untuk bikin aku dan Farid jatuh cinta dengan setiap pergerakan yang dia lakukan. Tiap hari kami nungguin adek untuk nendang perutku. Kadang perlu kami panggil-panggil dulu, kadang harus dielus dulu, kadang muncul gitu aja.

Afirmasi selalu aku lakukan. Makhluk kecil di perutku selalu ku ajak ngobrol, mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Ku bilang sama dia, “Nak, hari ini temenin ibu kerja ya. Kita naik motor ke sekolah. Nanti ibu naik motornya pelan kok nggak ngebut biar adek nggak keguncang-guncang. Anak pintar, anak baik, anak sholih..”, ku bilang juga ke dia, “Nak, sehat terus ya.. besok kalau sudah mau keluar, adek cari jalan yang mudah ya. Yang bikin adek seneng, ibu juga nggak susah..”, dan di penghujung hari ku bilang ke dia, “Nak, terima kasih ya hari ini udah jadi anak baik, temenin ibu kerja dan beraktivitas..”. Aku percaya sejak dalam kandungan, dia bisa dengar apa yang aku omongin. Farid juga selalu kuminta untuk interaksi sama adek bayi, ya supaya dia mulai bisa mengenal suara dan sentuhan ayah dan ibunya.

Waktu kontrol rutin kehamilan di minggu ke 19, ternyata jenis kelamin adek sudah kelihatan. Nah, aku dan Farid sudah mulai ancang-ancang untuk siapin nama buat dia, dan mikir-mikir besok kalo udah gede mau diajak main kemana. Hehe. Dalam beberapa kali USG, jenis kelamin adek tetap sama dan selalu kelihatan. Karena kadang kan ada tuh yang pas dilihat pertama kelihatannya perempuan, eeeh begitu kontrol lagi ternyata laki-laki. Alhamdulillah detak jantung normal, air ketuban cukup, posisi adek baik dan setiap ukurannya sesuai dengan usia kehamilan. Walaupun tiap kontrol harus menempuh jarak yang lumayan jauh dari Jalan Magelang sampai Banguntapan (deket JEC), naik motor, dan itu malam hari, rasanya ya bahagia-bahagia aja.

Si kecil tampak samping di usia 16 minggu.
Katanya, waktu yang tepat buat babymoon itu pas trimester dua. Sayangnya kami nggak sempat kemana-mana juga sih. Wkwk Paling cuma sempet kondangan ke Gunungkidul sama ke Bantul. Yaaa, karena kerjaanku yang full Senin-Sabtu, kadang kalo libur juga pengennya di rumah aja, ditambah Farid lagi on the way yudisium, jadinya yaa harus puas dengan berangkat kondangan. Lumayan, bisa sambil ketemu temen-temen kuliah yang akhirnya untuk pertama kali lihat aku dan perutku yang membuncit. Sebenernya di kehamilanku ini aku penasaran banget gimana sih kalau aku gendut? Karena nggak ada sejarahnya aku mengalami masalah kelebihan berat badan alias kutilang (kurus tinggi langsing). Kenyataannya, badan tetep aja kecil, cuma perut yang makin maju. Kalau yang nggak tau aku hamil, barangkali nggak ngeh kalau perutku ini sebenernya ada bayinya. Sisi positifnya, aku jadi nggak perlu ngeluarin uang untuk beli pakaian khusus hamil karena semua bajuku ketika masih gadis pun masih muat. Haahaha~

Untuk makanan yang aku konsumsi selama trimester dua sih masih sama dengan sebelumnya. Tapi karena udah nggak perlu pilih-pilih makanan, jadinya aku udah bisa makan makanan yang berkuah, banyak sayur dan banyak protein. Misalnya ikan laut. Alhasil, piknik deh ke Pantai Baru Bantul buat makan ikan laut #modus. Plus ditambah buah-buahan juga. Buah apa aja deh kalo aku mah, even nanas yang katanya nggak boleh dimakan juga tep aku makan. Tapi yaa cuma dalam bentuk rujak atau lotis yang jumlahnya nggak seberapa itu. Aku juga tetep konsumsi susu ibu hamil. Walaupun di beberapa literasi dan forum ku baca bahwa susu ibu hamil itu nggak wajib, karena ada beberapa yang alergi susu sapi, ada juga yang mual kalau minum susu sapi. Nah, sebagai substitusinya juga dengan minum susu UHT. Lebih ringkas juga sih karena kan tinggal colok terus sedot aja #ehApa. Kalau aku sih biasanya diselang seling. Kadang susu ibu hamil, kadang susu UHT full cream yang kandungan gulanya nggak terlalu banyak.

Untuk makanan yang dipantang, selama aku konsul ke dokter kandunganku itu sih beliau bilang nggak ada. Kecuali makanan mentah (kek sushi gitu) dan soda. Lainnya boleh, asalkan nggak berlebihan #bumilHappy Yeaaa!

Di trimester dua juga aku masih sempet-sempetnya jahit baju lho! Haha. Ada 3 baju yang bisa kujahit dan sudah dipakai juga. Satu atasan dan dua gamis umbrella. Ini bener-bener kuanggap sebagai prestasi besar sih haha. Aku ngerjainnya nggak ngoyo kok, kek harus sehari jadi gitu. Kalau udah capek nginjek dinamo mesin ya berhenti. Kalau adek udah nendang-nendang terus gegara keberisikan suara mesin jahit juga aku berhenti. Tapi puas banget! Baju yang aku bikin bisa selesai. Padahal kalau pas nggak hamil itu kadang bikin baju cuma badan depan sama belakang. Lengannya masih buntung dan udah males mau lanjutin lagi. Haha.

Enak banget sih rasanya. Nah, begitu masuk ke trimester tiga, ada banyak banget nih hal yang berubah. Lanjutin di tulisan berikutnya ya!

3 Mei 2019

Cerita Kehamilan: Hadiah LDR

Disclaimer:
Tulisan ini dibuat sebagai draft saat bulan September 2018.

Halo pembaca~

Setelah sekian lama nggak update apa-apa di blog ini karena belum ada bahan (bilang aja males, wkwk), akhirnya hari ini akan dimulai seri terbaru cerita hidup dan pengalamanku dalam menapaki sisi lanjutan dari dunia pernikahan. Tsah.

Setelah kurang lebih 8 bulan menikah, Alhamdulillah akhirnya aku dan Farid saat ini hampir menjadi sepasang Ibu dan Ayah baru. Cerita tentang proses kehamilanku nggak serta-merta langsung aku posting saat tau bahwa aku hamil, sebabnya, ya banyak. Aku pengen ini berjalan dulu sampai si jabang bayi lahir, baru sekalian deh aku tuntasin ceritanya. Walaupun saat nulis ini, ya aku masih dalam keadaan hamil. Hehe, takut lupa aja setiap detailnya. Tapi cukup disimpan dulu di draft, nanti akan diupload pada saat yang lebih tepat. 

Jadi, masih mau baca? Boleh..

Picture: unsplash.com

Pertama Kali Tahu Kalau Hamil
Sejak menikah, aku dan Farid memang tidak berencana untuk menunda momongan. Tapi juga nggak segera pengen buru-buru banget punya anak. Terserah menurut Allah aja waktu yang paling tepat itu kapan. Lingkungan juga lebih bersahabat sih dengan nggak keseringan nanya “Udah isi belum?” “Kapan hamil?” atau yang lainnya. Jadinya kami nyantai, apalagi Farid. Dia mah nyantai banget. Hehe. Jadilah selama masa penantian itu, kami sering plesir kemana-mana, pacaran lah yaa mumpung kemana-mana belum bawa anak bayik beserta segala perintilannya. 

Selama delapan bulan nikah itulah kami nggak pernah sama sekali saling berjauh-jauhan. I mean, aku  harus nginep karena ada tugas dinas atau gimana, begitupun Farid. Sampai akhirnya setelah Idul Fitri 2018 kemarin ada momen dimana kami harus LDR dulu sementara. Aku pulang ke rumah orang tuaku Bogor karena adikku yang paling kecil mau sunat, sedangkan Farid ada hal yang harus diselesaikan di Jogja jadinya nggak bisa nemenin aku ke Bogor.

Sebelum berangkat, aku inget banget obrolan di ruang guru beberapa waktu yang lalu tentang seorang teman yang hamil, nggak lama setelah suaminya pulang dari umroh, alias habis LDR kan. Cuma, ya kuanggap cerita lewat aja gitu, nggak bikin aku kepikiran banget. Singkatnya, aku ke Bogor dan sampai di Bogor dengan sukses.

Dua hari di Bogor, mendadak badanku berasa nggak enak banget. Perutku mual dan kepalaku pusing sampai buat bangun tidur aja susah. Waktu itu belum kepikiran kalau hamil, karena gejalanya sama banget kayak kalo magh ku kambuh. Akhirnya, diminumin obat magh dan obat pusing dong. Wkwk. Emang sih waktu itu udah telat haid hampir dua minggu, tapi sejak sebelum nikah siklus haidku emang gitu, mundur. Itu juga yang bikin aku nggak kepikiran kalo aku hamil.

Akhirnya cerita sama Farid dan mulai curiga kalau aku hamil. Besoknya, Ibuku juga tiba-tiba bilang, “Kamu hamil kali mbak..”. Hahaha. Entah kenapa pada saat itu rasanya kayak nggak siap kalau emang beneran hamil, secaraaa, lagi jauh sama suami kan ya. Padahal pengennya ngecek hasil testpack bareng-bareng. Terus, karena ini ada indikasi hamil, aku nggak nerusin minum obat padahal badan rasanya masih ‘bingung’ banget. Aku juga kekeuh nggak mau testpack di Bogor, maunya di Jogja aja. Hahaha elah, udah mo jadi mbok-mbok tapi masih aja begitu.

Singkat cerita, setelah drama tiket pesawat dan lain-lain, akhirnya aku testpack di Bogor. Hasilnya, dua garis merah yang amat sangat jelas. Rasanya….? Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bahagia, bersyukur, kaget, terharu, bingung. Wah beneran campur-campur deh. Segera langsung aku kabari Farid.

Testpack kedua ketika periksa urin di puskesmas. Testpack pertama? Di Bogoooor~ Wkwk

Ternyata saat ketahuan kalau hamil itu, usia kandunganku udah masuk 6 minggu. Padahal kurang lebih sebulan sebelumnya tu (pas Ramadan) kegiatanku ya lumayan banyak, apalagi pas dua hari Idul Fitri. Aku (sebagai menantu baru) sedang menjalani aktivitas di keluarga suami yang padet-det-det. Silaturahim non stop dari pagi sampe malam. Keliling Jogja - Magelang dan sekitarnya. Rasanya badan jadi lebih cepet capek daripada biasanya, cuma aku nggak ada curiga apa-apa, wong rasanya sehat wal afiat.

Nah, setelah dua garis merah, perjuangan babak pertama baru saja akan dimulai. Selama di Bogor, yang nge-treat aku ya Ibu dan Bapak. Beliau seneng banget mau punya cucu pertama. Setelahnya, perjuangan dilanjutkan berdua dengan Farid di Jogja. 

Mempersiapkan Kebutuhan di Awal Kehamilan
Sesampainya di Jogja, aku sama Farid memeriksakan awal kehamilanku di Puskesmas dekat rumah. Sampai di Puskesmas aku diminta untuk tes urin lagi sambil konsultasi dan menentukan Hari Perkiraan Lahir (HPL). Hitungan kehamilan dimulai sejak Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) ya temans, jadi bukan dari hari terakhir haid. HPL dihitung sebanyak 40 minggu sejak HPHT. Karena HPHT ku bulan Mei, maka HPL kandunganku adalah bulan Februari tahun berikutnya.

Di Puskesmas juga akan diberikan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang harus dibawa setiap kali berkunjung ke fasilitas kesehatan dan harus awet sampai anak berusia 5 tahun. Kenapaaah? Gimana dengan aku yang kemproh ini? Ya pokoknya jangan hilang, karena di dalamnya berisi informasi perkembangan anak mulai dari kandungan sampai anak usia 5 tahun. Termasuk riwayat kehamilan ibu, riwayat kelahiran, pemantauan tinggi dan berat badan, dan lain-lain.

Jadi, kalaupun belum pernah baca apa-apa tentang kehamilan, dengan buku KIA ini paling enggak bisa memberikan calon orang tua sedikit pengetahuan lah. Tapi ya kebangetan sih kalau ngga cari informasi dari sumber-sumber lainnya. IG itulhoo, banyak akun-akun parenting yang berseliweran. Akhirnya, list followingku bertambah dengan kehadiran akun-akun parenting, termasuk yang bisa aku rekomendasikan adalah akun Instagram @bidankita.

Suplemen yang harus diminum ibu hamil adalah asam folat dan vitamin B. Biasanya bakal diresepin dari Puskesmas kok. Kalau kontrol ke dokter juga pasti dikasih, atau paling enggak, pasti ditawarin sama dokternya.

Aku juga langsung ganti susu. Yang tadinya esensis jadi emesis. Alhamdulillah aku nggak ada alergi susu, jadinya tetap konsumsi susu hamil.


Morning Sickness dan Ngidam
Setiap calon ibu yang sedang hamil kondisinya bakal beda-beda, termasuk saat ngerasain si morning sickness ini. Ada yang biasa aja, ada yang berat banget, bahkan ada juga yang nggak ngerasain. Nah, kalo aku termasuknya yang lumayan sedang ke arah berat. 

Rasa yang paling dominan itu adalah mual, bahkan bisa sampai nggak beranjak dari kasur seharian saking buat geser aja mual. Urusan rumah dan dapur dihandle pak suami. Kalau ditanya, mualnya tiap kecium bau apa, emm, hampir semuanya sih. Bahkan sabun cuci, sabun mandi yang dipake Farid, bawang putih, bau kalo ngeliwet nasi, bahkan bau parfumku sendiri bikin aku mual. Hahaha. 

Untungnya pas trimester pertama itu masih dalam keadaan liburan sekolah. Jadinya aku bisa istirahat penuh di rumah, kurang lebih selama dua mingguan lah. 

Ditengah perasaan mual itulah aku tetap harus masukin makanan ke perut supaya nggak kosong. Untungnya aku nggak ngalamin yang namanya ngidam aneh-aneh, kek minta dibeliin bubur ayam malem-malem, atau minta dicolongin manga punya tetangga gitu. Palingan minta sate ayam deket rumah, tapi habis itu Cuma dimakan dua tusuk. Haha. Atau minta direbusin sayur, tapi habis itu dikeluarin lagi. Gapapa yaaa :3

Oiya satu lagi, aku akan sangat mual kalau kedinginan. Perjuangannya adalah  saat mulai masuk kerja lagi dan harus naik motor sendiri sejauh kurang lebih 40 km PP. Dari rumah, alat tempurnya harus ready banget: pake jaket tebel, selendang buat nutupin dada, masker tebel, dan sarung tangan.

Tips dari aku ketika menghadapi morning sickness: nikmatin aja.

Eh, serius? Iya, serius. Yang namanya orang hamil muda, mabok itu wajar banget. Mual muntah wajar banget. Secara kan ya tubuh lagi menyesuaikan dengan hormon-hormon kehamilan yang mulai bermunculan. Yang penting tetep usahakan ada makanan yang masuk ke tubuh (sukur-sukur selalu bisa makan makanan bergizi) dan banyakin minum air putih. Oiya, asam folat, vitamin dan penambah darah juga diminum ya! Morning sickness biasanya bakalan berkurang dan bahkan hilang ketika sudah masuk trimester kedua. Jadi, bener-bener dinikmatin aja deh. Kan bisa tuh kesempatan buat manja-manjaan sama suami. Hahahahahahahahahahahaha~ #apaanseh

Oiya, suami juga harus siap sedia setiap saat lho ya kalau bumil butuh apa-apa dan minta diapa-apain. Maksudnya, minta diambilin ini itu, minta dibeliin ini itu. Bahkan, sampai pas istrinya muntah ya siap sedia, pijitin tengkuknya dan ambilkan wadah untuk menampung kotoran. Ini kan anaknya berdua, masa iya emaknya harus ngurus sendiri semuanya? 

Detak Jantung Pertama
Selama hamil, aku kontrol rutin sebulan sekali di dr. Lusiana Irene, Sp,OG. Aku tau beliau dari salah seorang teman kuliahku, namanya Disma. Dokter Lusi praktik di daerah Banguntapan (dekat JEC). Lokasi pasnya kalian googling aja ya gengs. Walaupun jaraknya lumayan jauh dari rumahku di Jl. Magelang, tapi sangat worth it. Dokter Lusi ini ramah banget, baik, dan penjelasannya ngga bikin bingung. Kalau masih ada yang perlu ditanyakan juga nggak perlu segan buat tanya ke beliau. Tapi, kalau mau  kontrol di sana, daftarnya harus jam 00.00, kalau kelewat satu jam aja bisa nggak kebagian antrian.

USG pertama pas minggu ke 9. Salah satu momen mengharukan di kehamilan ini adalah; mendengar detak jantung calon anakku dan Farid. Se-speechless itu. Di minggu ke 9, ukurannya masih segede kacang. Jadinya si calon baby ini sering kami panggil 'Peanut', kayak Scott Lang ke Cassie. Haha #termarvel


Setelah masuk bulan keempat, pengalaman yang aku rasakan ternyata beda lagi. Kalo klean penasaran, tunggu kelanjutan ceritanya ya!