Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

8 Maret 2017

Tanpa Tangis di Surga yang Tak Dirindukan 2

Selasa sore minggu kemarin gue diminta untuk ke Ambarrukmo untuk ngasihin titipan babe buat simbah. Ya, semenjak kerja di Kulon Progo, gue jadi jarang ke Ambarrukmo karena kalau kesana itu lebih enak sekalian nginep tapi kalau mau ke tempat kerja jadi jauh banget dan perjalannya bakal macet. Kan lumayan 23 km kalo sambil macet-macetan. Saking lamanya nggak kesana, gue sampe sering banget ditanyain sama simbah. Dan pas kebeneran kemaren ada titipan itulah, gue akhirnya memutusan untuk ke Ambarrukmo, ngasihin titipan babe ke simbah sekalian nginep semalem. Besokannya udah gue niatin berangkat ke tempat kerjanya lebih pagi, which is sebelum jam 6 gue udah harus jalan.

Sebelum pulang dari tempat kerja, tiba-tiba gue kepikiran untuk ngajak temen-temen kuliah buat meetup karena Ambarrukmo itu kan searah sama Kota, mumpung. Hehe. Biasanya kalo berangkat-pulang dari tempat kerja, gue lewat pinggir kota yang pemandangannya masih sawah semua. Nah, temen-temen yang gue ajak ini adalah temen-temen kuliah yang sekarang udah sama-sama jadi guru di berbagai sekolah, punya wacana buat ketemuan tapi selalu aja gagal. Eh ternyata gayung pun bersambut. Ketika gue ngajak, ternyata Akhi langsung ngajak nonton, terus Disma juga bisa join. Setelah diskusi mau nonton film apa, dimana dan jam berapa, akhirnya kami memutuskan untuk langsung ketemu di bioskopnya.

Filmnya mulai jam 16.40, gue kelar kerja jam 14.45. Estimasi perjalanan dari Nanggulan sampe Jalan Solo pas jam segitu adalah 60 menit. Ternyataaa, ketika gue berangkat dari sekolah jam 15.15, gue sampai di Jalan Solo udah jam 16.25. Lama juga ternyata. Oiya, tempat kami janjian adalah Lippo Mall Jogja. Kemaren itu adalah kali pertama gue masuk ke sana, sendirian pula. Begitu selesai parkirin motor, masuk lift sambil agak parno, seketika gue mengalami disorientasi arah. Bingung, celingak celinguk, ditambah sinyal yang nggak stabil jadinya gue mau telfon aja susah -_____- 

Jadi sebenernya, kami juga janjian sama Rahma sama Annis dan langsung ketemuan di Cinemaxx juga. Setelah nungguin Disma dateng, kami masuk ke bioskop sekitar jam 16.50 dan untungnya filmnya belum mulai.

Film yang mau ditonton itu sequelnya Surga yang Tak Dirindukan, alias Surga yang Tak Dirindukan 2. Pas film pertamanya muncul, gue nonton sama Akhi di XXI Ambarrukmo Plaza. Janjiannya dadakan juga kek gini. Tapi berdua doang. Pas nonton film itu, yaaaa cukup lah membuat gue meneteskan air mata. Kalo nggak salah film pertamanya keluar tahun 2014. Postingan gue tentang SYTD bisa dibaca di sini. Pas nonton, sesenggukan. Keluar bioskop mata merah dan sentrap-sentrup. Wkwk. Makanya gue penasaran, apakah SYTD 2 ini juga bisa bikin gue nangis lagi? Begitu duduk di kursi bioskop, gue langsung ancang-ancang siapin tissu. 


Poster from here

SYTD 2 awalnya bakal dilaunching bulan Desember 2016, tapi ternyata diundur dan baru tayang tanggal 9 Februari 2017. Awal keluar, pengen sih nonton. Pengen tau kelanjutan kisah Arini-Pras-Meirose kek gimana. Apalagi ditambah banyak karakter baru. Gue penasaran apakah masih tentang poligami lagi atau enggak. Tapiii, waktu itu partner nontonnya belum ada. Kalo Farid diajakin nonton film Indonesia mah mana mauu. Hehe.

Di awal film, seolah flashback adegan kecelakaan mobil Meirose (Raline Shah) dulu. Tapi tenang aja, Pras (Fedi Nuril) di film ini nggak nambah istri lagi kok. Adegan kecelakaan malah dibikin kocak dan banyak penonton yang ketawa. Terus, rumah Pras sama Arini (Laudya Chintya Bella) juga udah bukan di rumah yang di Sewon itu alias udah pindah ke rumah yang lebih gede. Nggak kayak seri pertamanya, SYTD 2 lebih banyak mengahbiskan latar cerita di Budapest. Hampir 90% cerita berlatar di Budapest saat Arini, managernya Arini (Nora Danish) dan Nadia harus menghadiri acara yang berkaitan dengan buku dongeng yang diterbitin sama Arini. Yang bikin ketawa nggak udah-udah adalah kelakuannya guide Arini selama di Budapest (Muhadkly Acho). Ditambah Amran (Kemal Palevi) dan Hartono (Tanta Ginting) yang masih aja ngomongin soal poligami. 

Jauh-jauh ke Budapest, ternyata di sana Arini ketemu lagi sama Meirose. Hidup Meirose udah baik di sana, udah ketemu bapaknya juga dan udah punya toko sendiri. Hubungan Arini dengan Meirose juga udah membaik, nggak kek pas pertama kali Arini tau Meirose adalah juga istrinya Pras.

Adegan yang udah mulai sedih adalah ketika Arini ketauan sakit. Okelah, Arininya bikin sedih, tapi yang lebih sedih adalah Nadia (Sandrina Michelle), anak sekecil itu harus tau rahasia ibunya. Harus bersiap menghadapi sesuatu hal yang besar dalam hidupnya dan harus bisa menata hatinya sendiri juga menata hati orang yang dia sayang. 

Ternyata kisah cinta di SYTD 2 ini lebih rumit dibanding seri pertamanya, ditambah dengan kehadiran Dokter Syarif (Reza Rahadian) yang ternyata punya andil cukup besar dalam cerita, dan bikin penonton gemes karena ada kisah cinta yang ternyata muter-muter. Hahaha. 

Di film ini, semua orang ingin berusaha saling membahagiakan. Ada yang dengan cara berusaha menutupi sesuatu, ada yang dengan cara menuruti semua keinginannya, ada yang memberikan kejutan-kejutan kecil, ada juga yang dengan lapang dada menerima. Bahwa setiap orang punya keinginan, tapi tetap harus ada yang mengalah. Mengalah untuk kebaikan bersama dengan berbagai pertimbangan yang ada. 

Walaupun di akhir film ini ada adegan yang harusnya membahagiakan, tapi karena suasananya masih sedih ya gue sendiri sih feelnya nggak dapet buat ikut bahagia. Pertanyaan-pertanyaan tentang si Dokter Syarif ini akhirnya bakal gimana juga terjawab di bagian akhir.

Daaaan tebaaak, gue nggak nangis ternyata nonton film ini. Mungkin karena baru mau sedih, terus ketawa lagi, mau sedih, ketawa lagi, udah gitu pas nonton kemaren itu gue lagi pilek. Kebayang dong kalo gue nangis efeknya bakal kek gimana? Tapi overall SYTD 2 ini menawarkan cerita yang serupa tapi tak sama dengan SYTD. Kalau nontonnya serius sih kemungkinan bakal nangis, soalnya pas nonton gue denger ada yang sesenggukan juga. Tapi kalo gue, Disma sama Rahma malah cekikikan. Banyak yang bikin salah fokus karena pengambilan gambar yang kebanyakan close up wajah aktris dan aktornya, misalnya gue gagal fokus karena alisnya Meirose yang suka ketarik-tarik ke atas, dan betapa Indonesia banget itu wajahnya Fedi Nuril.

Yah, at least film ini bisa bikin gue dan buibu guru bisa ketemu walaupun cuma sebentar. Habis nonton lanjut foto-foto dengan muka lecek, masih pake seragam dan udah capek karena seharian di tempat kerja. 

Habis itu lanjut makan, terus pulang deeeh. Makasih yaa untuk waktu yang sudah diluangkan. Kapan-kapan kita ayo lagik!

P.S. Ini ada link OST nya SYTD 2 yang dinyanyiin Krisdayanti. Pas didengerin lagi pake earphone terus jadi kebayang-bayang bagian sedih dari film itu. Hiks.




12 Agustus 2015

Akhirnya Nonton Surga yang Tak Dirindukan

It's been a long day after my last post here.

Kali ini gue mau sedikit menceritakan kembali soal sebuah film yang baru aja gue lihat kemaren sore. Sebuah film yang bikin penasaran karena gue follow penulis ceritanya di Twitter dan dia gencar banget promo sambil ngeretweetin testimoni orang-orang yang udah nonton filmnya. Setelah hampir pesimis nggak bisa nonton di bioskop karena nggak ada temen, akhirnya kemaren berangkatlah gue dengan modus nemenin sahabat yang baru galau-karena-cinta. Haha.

Ini lho filmnya :3

Poster Film Surga yang Tak Dirindukan taken from here
Kenapa gue kepengen banget nonton film ini? Emm, pengen lihat debutnya Laudya Chintya Bella di dunia akting setelah berhijab, ditambah ada Fedi Nuril yang setiap gue lihat di film tu ekspresinya total abis, terus mau lihat Raline Shah yang terakhir gue lihat di film 5cm. Dari awal gue udah tau film ini isinya tentang poligami. Dan yang bikin makin pengen nonton adalah karena gue ingin menjawab pertanyaan dari dalam diri gue sendiri, bagaimana kisah poligami yang ada di film ini, serta bagaimana tokoh dalam film ini menyikapi dan menyelesaikan konflik yang terjadi. 

Setelah diuber-uber waktu yang mepet karena cuma ada waktu kurang dari 45 menit buat makan dan naik-turun-naik lagi ke lantai paling bawah dan lantai paling atas, akhirnya kami bisa duduk manis di studio 3 row D seat 12 dan 13.

***
Kesan pertama saat masuk studio adalah bertanya-tanya kenapa isi studio hampir sebagian besar berisi mbak-mbak berusia semuran gue. Ya, mungkin mereka penasarannya sama kayak gue. Haha. Meskipun gue juga lihat ada beberapa mas mas yang ikutan nonton, sendirian pula. Tapi yasudahlah yaa mari kita mulai menikmati film sambil Akhi di sebelahku udah nyiapin tisu buat jaga-jaga kalau air mata tak dapat terbendung lagi.

Oiya, satu hal lagi. Gue udah tau juga kalau lokasi syuting film ini full di Jogja. Darimana taunyaa? Karena gue follow instagramnya Zaskia Adya Mecca yang juga turut serta main di film ini. Zaskia pernah update waktu lagi syuting di Jogja. Kalau nggak salah, suaminya Zaskia (Hanung Bramantyo) jadi co-produser di film ini. 

***
Cerita diawali dari pencarian sebuah mushola di daerah Bantul, yang pada akhirnya mempertemukan Pras (Fedi Nuril) dan Arini (Laudya Chintya Bella). Arini adalah seorang guru yang sering bercerita tentang dongeng Madaniah. Pertemuan pertama itu akhirnya menjadi jalan bagi mereka menuju ke pernikahan yang dikaruniai seorang anak perempuan bernama Nadia. Pernikahan mereka begitu indah karena diisi dengan kasih sayang serta kesetiaan dari Pras untuk Arini.

Suatu hari saat Pras ingin mengecek pembangunan jembatan di daerah Kulonprogo, ia menjumpai ada mobil yang masuk jurang. Setelah dicek, langsung saja Pras membawa korban tersebut ke rumah sakit. Ternyata, seseorang yang ditolong Pras itu sedang mengandung dan dokter harus segera melakukan operasi sesar untuk menyelamatkan keduanya. Tidak sempat mengabari Arini karena baterai handphonenya habis, Pras tetap berada di rumah sakit untuk menunggu orang yang ditolongnya tersebut. Alhamdulillah ibu dan bayinya selamat, kemudian Pras memberi nama bayi tersebut Akbar Muhammad. Saat itulah Pras mengenal Mei Rose (Raline Shah), perempuan yang ditolongnya itu.

Celaka, Mei Rose tidak ada di kamar saat Pras mencoba mengecek. Ternyata, Mei Rose berusaha melakukan percobaan bunuh diri kedua kalinya dengan melompat dari ketinggian 19,5 meter tepatnya dari bagian atap rumah sakit. Dia depresi. Sebelumnya, Pras sempat melihat video yang terdapat dalam handphone milik Mei Rose yang berisi cerita tentang bagaimana ayahnya pergi meninggalkan ia dan ibunya saat ia berulang tahun ke 12, kemudian ibunya meninggal karena bunuh diri. Ditambah lagi ia ditinggalkan oleh orang yang berjanji akan menikahinya padahal kandungannya sudah membesar. Kurang lebih sama dengan yang pernah dialami Pras saat ia masih kecil, dimana ibunya juga meninggal bunuh diri dihadapannya sendiri, sehingga sedikit banyak Pras juga paham apa yang dirasakan oleh Mei Rose.

Saat Mei Rose melompat, beruntung tangan Pras sempat menggapainya. Sehingga ada adegan dimana Mei Rose bergelantungan di tangan Pras. Mei Rose meminta agar Pras melepaskan tangannya, namun Pras tetap bersikukuh menahannya, karena dia tidak ingin Akbar tidak memiliki siapa-siapa lagi. Pras tidak ingin sejarah terulang kembali dengan orang yang berbeda. Ditengah kondisi seperti itu, akhirnya Pras membuat keputusan untuk menikahi Mei Rose saat itu juga. Akhirnya, Mei Rose mau diangkat dan malam itu juga, Pras menikahi Mei Rose. Kedua sahabat Pras yakni Amran (Kemal Pahlevi) dan Hartono (Tanta Ginting), datang ke rumah sakit saat Pras selesai mengucapkan ijab qabul. Disitulah awal kerumitan cerita dimulai.

Merasa bersalah pada Arini, Pras menyusul Arini dan Nadia ke Muntilan, rumah kedua orang tua Arini. Di perjalanan, Pras mendapat telfon dari Arini yang suaranya terdengar sesenggukan. Ternyata ketika Pras sampai di rumah, ayah Arini sudah meninggal dunia. Saat berduka itu, datanglah seorang perempuan beserta anaknya. Yang ternyata merupakan istri kedua ayahnya yang selama 15 tahun telah melakukan poligami dan diketahui oleh ibunya, namun ibunya menutupi semuanya dari Arini. Arini sedih dan kecewa mengetahui ayahnya melakukan poligami. Dia kemudian mempertanyakan kesetiaan Pras terhadap dirinya, tanpa dia tahu bahwa saat itu Pras pun telah menikahi seorang perempuan tanpa sepengetahuannya.

Mei Rose sudah mulai stabil, dia juga sudah bertanya pada Pras tentang kapan Pras akan memberitahu Arini. Pras hanya menjawab "Belum saatnya..". Mei Rose juga sudah siap dengan segala konsekuensi apabilan suatu hari nanti Arini tahu perihal pernikahan mereka. Dan, pada akhirnya, lewat sebuah surat yang ditemukan di saku celana Pras, Arini mengetahui sendiri bahwa Pras sudah memiliki istri lainnya. Sungguh, hati perempuan mana yang tidak hancur mengetahui bahwa dirinya harus berbagi suami dengan perempuan lain? Jelas, Arini marah. Arini kecewa. Kekecewaannya itu ditumpahkan di rumah saat Pras sudah mengetahui bahwa Arini sudah tahu perihal pernikahannya dengan Mei Rose. Pras berusaha menjelaskan, sementara Arini berkata bahwa semakin Pras berusaha menjelaskan, semakin sakit hati Arini. Arini ingin pergi dari rumah itu, tapi Pras mengalah.

"Aku yang salah, aku yang harus pergi..", katanya.

Ditengah kegalauan hati Arini, Pras, dan Mei Rose, selalu ada Allah diantara ketiganya. Meskipun Mei Rose baru saja memeluk islam saat akan dinikahi Pras, tapi dia berusaha menjadi muslimah yang baik. Dia juga paham tentang posisinya saat itu. Sebagai seorang wanita, ia juga tahu bahwa ia sedang membangun dongengnya di atas air mata perempuan lain. Satu adegan yang membuat terharu adalah saat Nadia dijemput oleh Arini di sekolah, kemudian mereka bertemu Pras. Arini yang waktu itu masih marah, tidak berkata apapun pada Pras. Nadia yang tidak mengerti otomatis mempertanyakan mengapa kedua orang tuanya diam saja saat bertemu, disitu Pras menangis. Saat Pras pulang ke rumah Mei Rose pun, yang paling pertama dicari adalah Akbar. Tidak pernah sekalipun Pras datang khusus untuk mencari Mei Rose. Saat ia bertengkar hebat dengan Arini pun, Pras mencari Allah, bukan berlari pada Mei Rose.

Arini yang pada awalnya tidak bisa menerima pernikahan Pras dengan Mei Rose akhirnya mulai belajar untuk menerima dan mengikhlaskan bahwa surga yang ia bangun bersama Pras tidak akan berakhir bahagia. Surga yang selama ini ia bangun bukan lagi surga yang ia rindukan. Arini belajar banyak hal dari ibunya tentang bagaimana bersikap, ia belajar banyak karena ibunya juga pernah merasakan apa yang dia rasakan saat itu. Ibunya hanya berkata bahwa dia ikhlas, dia hanya ingin melihat anak-anaknya tak kurang suatu apapun. Arini kemudian mulai membuka hati untuk menerima Mei Rose. Karena lebih dulu memiliki anak, Arini sedikit banyak membantu Mei Rose dalam mengurus bayinya. Pras juga berusaha memenuhi janji yang ia ucapkan pada Nadia, yaitu datang di acara pentas tahunan yang diselenggarakan di sekolah Nadia.

Suatu hari, ditengah malam dan hujan yang deras, Pras melihat ada seorang perempuan yang berteriak karena hampir diperkosa oleh seorang laki-laki. Naluri Pras kemudian membuatnya bergerak untuk menolong perempuan tersebut. Perempuan tersebut berhasil lari, namun Pras tertahan dan dipukuli oleh orang-orang jahat yang ternyata bersembunyi, kemudian ia ditusuk di bagian perut. Beuntung Pras masih selamat. Mei Rose menunggui Pras di rumah sakit. Namun dalam ketidaksadarannya, nama Arini yang Pras sebut. Saat Arini datangpun, kemudian Mei Rose beranjak pergi meninggalkan mereka berdua. 

"Arini..."
"Iya mas, iya, ini Arini. Mas yang kuat ya..."

Beberapa hari dirawat di rumah sakit, Arini pergi ke rumah Mei Rose. Ia mengajak Mei Rose menjenguk Pras di rumah sakit. Di sana berkumpul semua orang terdekat Arini. Mulai dari Nadia, ibunya, kedua sahabat Arini, Amran dan Hartono. Agak kaget saat melihat Arini masuk bersama dengan Mei Rose. Namun Arini berusaha untuk mencairkan suasana dengan memperkenalkan Mei Rose pada orang-orang yang ada di ruangan itu. Saat Nadia bertanya tentang siapa Mei Rose, Arini memperkenalkan bahwa mulai hari itu, Mei Rose menjadi adiknya. Dan Nadia juga memiliki adik laki-laki bernama Akbar.

Setelah Pras pulih dari luka yang dialaminya, Mei Rose bersama Akbar mengunjungi rumah Pras. Pras terlihat sangat canggung saat kedua istrinya berada dalam satu meja makan yang sama. Arini melayani Pras dan Mei Rose dengan sangat baik, bahkan mengiyakan permintaan Nadia yang meminta agar Mei Rose menginap di rumahnya. 

Keesokan harinya saat Arini akan mengajak Mei Rose untuk sholat subuh berjamaah, ternyata Mei Rose tidak ada di kamarnya. Hanya ada Akbar dan handphonenya di sana. Arini lantas membuka handphone Mei Rose dan menemukan sebuah video yang berisi ucapan perpisahan dan pesan agar Pras dan Arini menjaga Akbar sampai ia dewasa. Arini panik dan segera memberitahukan hal itu pada Pras. Mereka berdua kemudian bergegas mencari Mei Rose, khawatir dengan kemungkinan terburuk. Sesampainya di rumah Mei Rose, mbok yang menemani Mei Rose berkata bahwa Mei Rose baru saja pergi ke stasiun.

Arini dan Pras akhirnya mengejar Mei Rose sampai stasiun. Setelah mencari di berbagai tempat, akhirnya Pras menemukan Mei Rose di salah satu gerbong kereta. Pras kemudian menarik Mei Rose keluar. Pras bersikukuh menahan Mei Rose, tapi Mei Rose sudah bertekad bulat untuk pergi ke Jakarta, menyusul ayahnya yang lumpuh di Jakarta.

Pras: "Arini sudah ikhlas..."
Mei Rose: "Tidak ada yang benar-benar ikhlas berbagi, yang ada kita cuma sama-sama berkorban..."

Dan di akhir cerita, Arini memeluk Mei Rose yang akan pergi. Merekapun berpamitan dan kereta yang ditumpangi Mei Rose makin menjauh ke arah barat.

***
So, begitulah kira-kira ceritanya. Gue merasakan sedih yang tidak klimaks di film ini, nggak seperti ekspektasi gue sebelumnya dimana kalau mau nonton film ini gue harus siap-siap tisu dan siap-siap jadi jelek pas keluar dari studio gara-gara nangis kejer. Ternyata air mata itu hanya setetes saja mengalir, masih banyakan air mata gue yang keluar kalau pas gue ngantuk :3 Mungkin itu bisa jadi karena gue kebanyakan salah fokus di film, sok nebak-nebak, dan baru mau nangis udah ketawa gara-gara part humornya. 

Bayangin aja, waktu Pras sama Arini ijab qabul. Gue malah merhatiin jerawat di jidatnya Fedi Nuril. Kan wagu. Terus pas ada shoot di ultahnya Nadia, gue sibuk merhatiin Sybil (Anaknya Zaskia Adya Mecca) yang ikut main film itu ternyata. Aku ngefans sama kamu lho, dek. Hehe. Adegan humornya juga banyak, apalagi Amran sama Hartono. Yang satu pro-poligami, yang satu anti poligami. Sampai bawa surat An-Nisa di angkringan.

Buat pengambilan gambarnya... Jogja dibikin jadi keren banget men! Apalagi ada beberapa shoot yang pakai drone. Wuuuh, fly over Jombor aja jadi keren banget. Ditambah ada Panggung Krapyak, Rumah Sakit JIH, Plengkung Gading, Apotik Gadjah Mada, Bunderan UGM, Stasiun Tugu, Pantai Goa Cemara. Sayang, nggak ada stadion UNY. Ahahaha :3 Di film ini, Jogja juga kelihatan jadi sepiiiii banget. Keren banget. Cuma sebagai orang yang ngerti lokasinya, waktu ada kecelakaan di daerah Kulonprogo kok dibawanya ke JIH ya? Kan ada rumah sakit yang lebih deket. Ahahaa. Namanya juga film.

Akhi yang lagi galau, duduk disebelah kananku sambil sesenggukan. Sesekali idungnya terdengar sentrap-sentrup. Haha.

Terus, Peh. Pertanyaannya udah kejawab belum?
Oiya, emm, at least, hidup ini berjalan diatas takdir yang sudah Allah gariskan atas pilihan-pilihan yang kita ambil. Di film itu, bisa aja Pras nggak usah berhenti buat nolongin orang kecelakaan. Dia nggak akan poligami, dia nggak mesti berantem sama Arini. Tapi di akhir, dengan Pras menikahi Mei Rose, semuanya bisa 'dipaksa' belajar untuk lebih ikhlas. Gue nggak melihat sisi ketidaksetiaan Pras di film itu. Karena di film itu, waktu Pras ketemu sama Arini dengan Pras ketemu sama Mei Rose itu digambarkan dengan cara yang beda. Pras nggak pernah niat buat poligami, tapi saat ia terlanjur terjebak dalam kondisi seperti yang dia alami di depan matanya, apakah dia akan membiarkan seseorang mati bunuh diri di depan matanya (lagi)?

Coba deh kalau pas nonton film ini, perhatikan pas bagian Nadia mendongeng. Sesungguhnya disanalah esensi film ini berada. Iyee, yang pas dia nyeritain rajanya pulang bawa peri jahat itu...

Penasaran kan penasaraaan? Lihat deh di bioskop, masih tayang kok filmnya :)

***
Soundtrack Surga yang Tak Dirindukan by Krisdayanti:

p.s. Habis ini pengen baca novelnyaaaa~ Mbak Asma Nadia, aku dikirimi novelnya sih :3 *wuuuu njaluk-an

***
Arini: "Mas, mau jadi imam?" | Pras: "Secepat itu?" | Arini: "Loh, bukannya sholat harus disegerakan?"

5 Juni 2014

My Name is Love

Sumber : sini


"My Name is Love"
"My name is Ipeh"

Skip -_-

Sebenernya itu adalah judul film yang baru aja aku lihat. Udah lama ada di hardisk, hasil ngopy dari hardisknya Selfi tapi baru sempet nonton full sekarang. Dulu Cuma pernah lihat sekilas dan terlihat tidak menarik hehe. Terus, tiba-tiba malem ini mendadak selo karena udah nggak mikirin grusa grusunya PM lagi. Kepengen nonton film-film baru, tapi hardisk eksternal ada di Farid, jadilah ngubrak-abrik hardisk laptop dan nonton film ini.

Film ini adalah film Thailand. Seperti film-film Thailand pada umumnya, cewek-ceweknya cantik haha. Enggak nding, sebenernya film thailand itu mau gimana juga tetep jadi ada lucunya. Apalagi kalau bukan karena dialek bahasanya. Kalau belum pernah nonton film thailand ya coba aja nonton Suckseed, A Little Thing Called Love, ATM Error, The Billionare, Yes or No, You're the Apple of My Eyes atau ya film ini aja. Hehe. Hampir sebagian besar contoh tadi lebih ke drama sih, jadi ya mungkn agak-agak ada yang bikin sesenggukan gitu. Kayak misalnya A Little Thing Called Love. Waktu itu aku nonton pas lagi galau sih, jadinya yaudah deh bisa dipastikan itu bukan Cuma sesenggukan… tapi meler kemana-mana. Haha.

Oke, tapi bukan film itu yang akan kita bahas. Kita bakal bahas My Name is Love.

Film ini ceritanya tentang kisah seorang cowok yang biasa dipanggil Q. Pas dia SMA tuh dia paling femes gitu makanya dia jadi sombong sama orang-orang. Ada satu cowok, namanya Big. Dia pengen masuk ke gengnya si Q gitu, sampai dia rela disuruh ngambil kura-kura yang ada di dasar danau sekolah. Pas Big udah berhasil ngambil, ternyata dia tetep nggak bisa gabung sama Q, alias dibohongin. Selanjutnya ada cewek gendut yang suka sama Q, namany Kerr. Saking sombyongnya, si Q ini bukan Cuma nolak Kerr mentah-mentah tapi juga nyiram Kerr pakai selang air -_- Akhirnya, Kerr semacam ngutuk Q dengan bilang gini 

"When I grow up. Even if you take off your clothes and say love me, I will not accept"

Ngerti artinya kan? :3

Nah pas udah pada gede-gede, si Q bareng sama temennya yang namanya Jo itu kerja di perusahaan perlatan air gitu. Perlu dicatet, ke-femes-an mereka sama sekali nggak bersisa. Disana, mereka Cuma jadi sales gitu. Dan ternyata, bos baru mereka adalah orang yang dulu pernah mereka suruh ngambil kura-kura di dasar danau sekolah.

Kerr juga bermetamorfosis jadi cewek yang cantik, pinter dan terkenal di kampusnya. Si Q ini suka sama Kerr, tapi ya dia nggak bilang. Dia Cuma ngerusuhin semua cowok yang terdeteksi deket sama Kerr. Dia juga ngerusuhin Kerr pakai shuttlecock yang sengaja dilempar ke rumah Kerr.

Pas lagi ngepo foto-fotonya Kerr di Facebook, ternyata Q dapet iklan dari pop up gitu yang nggak bisa diclose. Akhirnya dia ngeklik iklannya dan ikutan daftar di website yang namanya mynameislove.com. Tahukah kalian gaes, website itu merubah jalan hidup Q.

Pasca daftar website itu, Q resmi menjadi seorang cupid yang tugasnya bikin dua orang jadi sepasang. Dia punya misi ngejodohin 3 pasangan dulu sampai akhirnya nanti dia bisa milih mau jadi orang normal lagi atau tetep jadi cupid. Nggak enaknya jadi cupid adalah, dia nggak bisa ngungkapin cinta ke orang yang dia sayang.

Selama jadi cupid, Q dibantuin sama beberapa cupid yang lain soalnya tiap Q mau ngejodohin orang selalu aja gagal. Jadilah dia dibantu para expert. Tiap cupid dikasih tool gitu buat mengetahui siapa orang-orang yang bakal dijadikan misi perjodohan. Nah si Q ini dapet notebook, sedangkan temen-temen cupid yang lain ada yang dapet koran dan ada juga yang pake tablet pc.

Dua orang berhasil dijodohin sama Q. Nah, pasangan yang ketiga adalah Jo dan teman mereka sekantor namanya Milk. Mereka ini sebenernya saling suka, tapi si Jo gengsinya lebih tinggi dari menara petronas. Jadinya pas udah ngungkapin ke Milk, dia mengakhirinya dengan perkataan bahwa itu semua Cuma bercanda. Milk marah, akhirnya pindah kerja.

Di lain cerita, Kerr semakin femes dan semakin cantik. Temennya Q, yang dapet tablet itu namanya Os. Di tabletnya Os, muncul nama Kerr sama Big sebagai pasangan selanjutnya yang mesti dijodohin. Tapi sebelum Os sempet lihat tabletnya, Q udah ngumpetin tabletnya duluan. Dia nggak mau sampai Kerr dan Big berjodoh, soalnya track recordnya si Os ini nggak pernah gagal kalau ngejodohin orang. Akhirnya, Os tetep tau kalau Q yang ambil tabletnya dia, kemudian dia marah sama Q dan malah berpihak ke Big.

Balik lagi ke Jo. Pas dia udah siap buat serius dan udah sempet bilang I love you ke Milk, ternyata dia telat. Milk udah punya pacar. Jo depresi tapi tetep gengsi nggak mau ngaku, bahkan sama Q. Ujung-ujungnya, Jo mencoba bunuh diri tapi selamat. Pas di rumah sakit, Milk sempet nengokin Jo, tapi nengokinnya bareng sama pacarnya. Disitu juga dia sempet nyelipin kertas gitu, aku kira itu bakal jadi semacam surat yang isinya pernyataan Milk kalau dia juga sayang sama Jo. Ternyata isinya undangan pernikahan Milk sama pacarnya

Q sebenernya udah mencoba untuk bilang ke Kerr soal perasaannya, tapi karena dia masih jadi cupid, apapun yang dia ingin katakan tentang cinta di depan orang yang dia cinta, itu yang keluar dari mulut malah kalimat yang "iyuh" banget. Bayangin dong gimana rasanya udah suka banget sama seseorang, dan seseorang itu sebenernya punya perasaan yang sama tapi kita nggak bisa ngomonginnya? Bukan karena kita nggak mau, tapi karena nggak bisa.

Akhirnya, Q bisa dibilang menyerah. Milk udah nggak mungkin lagi sama Jo, berarti dia juga nggak mungkin punya kesempatan buat bilang yang sebenernya ke Kerr. Dalam satu scene, ada dialog kayak gini:

"In this world, nothing exizt for forever."
"Q.."
"I borrow this sentence from other. Sometimes, we should choose a person who love you, not who you love"
"…."
"I borrow this sentence from other, too."
"….."
"But love, if it's not a sincere love, then it go nowhere, finally. This is my own thinking"
"Stop. If you want to say, then tell me"
"If you want someone takes care of you, you have to open your heart"
"What do you want to say?"
"I want to say things that you want to know"
"…."
"At the past period, I've never cared or think about Kerr"
"…"
"So that, don't doubt. Come back to your life"
"Did you borrow this sentence?"
"It's from my heart.. Kerr has someone better than me waiting for you"

Terus si Q pergi dan dia papasan sama Big.

"Big, help me to take care of Kerr"

Owwwwwwh~  Tapi gaes, ternyata Kerr ngejar Q loh. Dia masih kekeuh nanya sama Q apa yang sebenernya pengen dia omongin. Q pikir itu udah nggak mungkin lagi, soalnya dia pasti bakal ngeluarin kalimat aneh-aneh lagi kalau dia mencoba untuk bilang cinta ke Kerr. Pas situasi udah nohope lagi, ternyata Q bisa bilang I love you ke Kerr. Bersamaan dengan itu, ada salah satu temen Q yang telfon Q dan bilang kalau dia berhasil nyatain cintanya ke temen sekantornya. Kayaknya itu yang berhasil bikin Q nyelesaiin 3 couple dan akhirnya dia bisa milih jadi manusia normal lagi.

Gimana nasibnya Jo?

Dia dateng ke nikahannya Milk dan dia nulis sesuatu di guest book sampai berlembar-lembar tapi aku nggak tau detailnya apa soalnya nggak dikasihlihat. Tapi kayaknya sih isinya kayak cerita si Jo tentang Milk. At the end, mereka semua bahagia karena menemukan pasangannya sendiri-sendiri.

Ada hal yang mungkin cukup baik untuk disimak bahwa Jo lebih ingin melihat Milk bahagia dengan orang lain yang bisa dibilang lebih bisa membahagiakan Milk. Tapi Jo juga nggak bisa bohongin hatinya sendiri kalau dia ya sayang sama Milk, dia Cuma nggak mau egois. Sering kan yah, nemu kejadian macem ini di kehidupan sehari-hari. Nggak melulu soal cinta sih. Ya banyak lah contohnya. Keterbatasan kadang bikin kita jadi ngerti dan sadar bahwa ada hal yang nggak bisa saat itu langsung bisa dicapai. Butuh kerja keras, kesabaran dan ya kepercayaan bahwa cinta sejati pasti akan menemukan jalan pulang. Whatever the way is.

Aku jadi inget soal perjuangan seseorang. Hehe. Barangkali aku yang terlalu nyocok-nyocokin yaa, tapi kurang lebih ya hampir sama sih. Pada akhirnya, selamat, karena sesuatu yang dia perjuangan dan dia tunggu pada akhirnya kembali pulang padanya. Aku ikut senang bisa menjadi bagian dari kebahagiaannya, walaupun bisa dibilang aku yang pertama menyakitinya. Ciyeeeeh~ #halah

27 April 2014

Transcendence: IPTEK Tanpa IMTAQ

Poster Film TRANSCENDENCE
Waktu gue diajak nonton film 'I,Frankenstein' beberapa bulan yang lalu, ada trailer film yang keren bingits. Di trailer itu, ditampilkan cuplikan film yang berbau fiksi ilmiah gitu. Ada manusia yang bisa dimasukin ke komputer. Ada kekuatan yang bisa bikin barang rusak bisa jadi bener lagi. Berhubung gue kuliah di TI, jadi gue pengen nonton film itu. Emm, alasannya nggak banget ya --" Enggak sih, nggak cuma itu alasannya. Gue pengen nonton karena gue merasa dijanjikan dengan sebuah film yang luar biasa dahsyat dari segi jalan cerita maupun dari segi teknologi yang digunakan. Akhirnya, gue menunggu film itu tayang.

TRANSCENDENCE.

Gue bukan termasuk penikmat film yang nonton film karena 'siapa' nya. Entah itu siapa aktornya, siapa aktrisnya, siapa sutradaranya, siapa penulis skenarionya atau siapapun yang ada di film itu. Ketika gue merasa pengen nonton ya nonton aja. 

Film ini diawali dengan sebuah presentasi yang dilakukan oleh Will Caster (Johny Deep) serta istrinya Evelyn (Rebecca Hall). Keduanya merupakan ilmuwan yang sedang melakukan riset dan pengembangan teknologi Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan yang disebutkan dapat melebihi kecerdasan para pakar dan ahli apabila digabungkan. Artificial Intelligence diharapkan menjadi sebuah solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi dunia saat ini. Kecerdasan buatan tersebut dapat menyembuhkan kanker, menciptakan udara yang bebas polusi serta dapat meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Seorang peserta dalam presentasi tersebut kemudian bertanya, "Jadi, apakah Anda ingin menciptakan Tuhanmu sendiri?".

Dari pertanyaan tersebut, gue kemudian langsung bisa menebak jalan ceritanya akan seperti apa. Ini pasti tentang teknologi yang dikembangkan sedemikian rupa sehingga bisa amat sangat mempermudah manusia dalam hidupnya. Namun disisi lain, gue merasa akan ada yang salah dari pengembangan teknologi tersebut. Tapi karena gue takut sotoy, jadi gue nonton aja lanjutannya.

Selesai melakukan presentasi, Will ditembak oleh seseorang tak dikenal yang ternyata merupakan anggota dari R.I.F.T atau Revolutionary Independence From Technology. Beruntung Will tidak mati ditempat. Akan tetapi setelah menjalani pemeriksaan, Will dihadapkan pada kenyataan bahwa hidupnya hanya bersisa 4 sampai 5 minggu lagi dikarenakan peluru yang digunakan untuk menembaknya telah dilapisi oleh polonium, sebuah racun yang radiasinya dapat mematikan. Mengetahui hal tersebut, Evelyn sangat sedih. Kemudian, ia teringat pada sebuah robot hasil ciptaan Will yang disebut P.I.N.N (Physical Independent Neural Network). P.I.N.N telah memiliki kecerdasan buatan yang sedang dikembangkan tersebut, sehingga ia dapat mendeteksi keberadaan seseorang. Namun, P.I.N.N masih dalam tahap pengembangan. Demi menyelamatkan Will, Evelyn dibantu Max Waters (Paul Bettany) mengambil beberapa core atau inti dari P.I.N.N kemudian secara bertahap mengunggah kesadaran dan memory Will selama sisa hidup yang dimiliki oleh Will.

Ketika Will betul-betul meninggal, kesadaran dan memorynya telah terpindah ke superkomputer. Kemudian Evelyn mencoba untuk berkomunikasi dengan Will, namun tidak berhasil. Setelah diduga gagal, komputer tersebut memberikan sinyal dengan mengeluarkan sebuah kalimat yang berbunyi, "Apakah ada orang disana?". Mengetahui hal tersebut, Evelyn senang bukan main. Tapi sebaliknya, Max meminta Evelyn untuk segera mematikan komputer tersebut karena ia tidak yakin bahwa itu adalah Will. Sayangnya, Evelyn malah mengusir Max keluar dari ruangan itu. Yah,siapa juga yang nggak seneng kalau orang yang dicintai bisa 'hidup' lagi? Setelah beberapa kali berdialog, Will meminta Evelyn untuk menghubungkan ia dengan jaringan internet agar dapat mengakses jaringan internet di seluruh dunia. Cara tersebut dilakukan untuk menjadikan Will abadi.

Max ditangkap R.I.F.T yang berusaha mencegah agar proyek Will tersebut tidak dilanjutkan lagi. Sementara Max ditangkap, Evelyn dibantuk Will sudah berhasil membuat laboraturium bawah tanah serta pembangkit listrik tenaga surya di sebuah kota terpencil bernama Brightwood dalam skala yang sangat besar. Karena sudah tersambung dengan internet, Will dapat mengakses apapun. Bahkan ia dapat memasukkan uang dengan jumlah yang sangat banyak ke rekening Evelyn. Seharusnya, ini sudah jadi tindakan kriminalitas.

Di dalam laboraturium yang sangat canggih itu, Artificial Intelligence yang menjadi ambisi Will dan Evelyn kembali dikembangkan. Will telah berhasil menguji coba teknologi nano kepada tumbuhan yang mati, lalu kepada salah satu pekerja di laboraturium tersebut yang babak belur dihajar preman menjadi sembuh seperti sedia kala hanya dalam waktu yang sangat singkat. Namun, karena ia dapat disembuhkan dengan teknologi nano tersebut, Will dapat masuk ke tubuh orang tersebut selama ia tersambung dengan internet. Mengetahui hal tersebut, banyak orang sakit yang kemudian berobat ke laboraturium Will. Orang yang disembuhkan dengan teknologi nano akan memiliki kekuatan berlipat ganda dibandingkan dengan manusia biasa. Selain dapat menyembuhkan penyakit, Will juga dapat memperbaiki peralatan yang rusak, bahkan dapat menciptakan hujan. Semua itu dikendalikan oleh Will yang ‘hidup’ dalam sebuah komputer.

Pimpinan R.I.F.T menjelaskan alasan ketidaksetujuannya terhadap proyek tersebut padahal dulunya ia adalah salah satu anak buah dari salah satu ilmuwan yang turut mengembangkan proyek Artificial Intelligence tersebut. Ceritanya membuat Max tersadar bahwa apa yang Evelyn lakukan dapat membahayakan manusia. Di lain tempat, Joseph Tagger (Morgan Freeman) yang merupakan teman Will, Evelyn dan Max akhirnya juga menyadari bahwa ada potensi bahaya dalam lab tersebut, sehingga ia memberikan secarik kertas pada Evelyn yang berisi "Run from this place".  Ternyata, selain memberikan pengobatan kepada orang-orang, Will juga membuat tubuhnya sendiri untuk ditempati sehingga nantinya ia tidak lagi hanya hidup di computer. Ketika Evelyn menyadari hal ini, ia mulai merasa ada yang tidak beres. Terlebih ketika Will bahkan mengetahui hal paling pribadi dalam dirinya, yaitu pikiran dan perasaannya.  Will juga meminta supaya Evelyn ‘diunggah’ agar ketika dia mati, diapun dapat abadi seperti Will.

Satu-satunya jalan untuk menghentikan itu semua dimiliki oleh Will, yakni dengan memasukkan virus ke dalam program untuk menghentikan Will. Atas rencana tersebut, Evelyn diajak untuk bekerja sama dengan FBI dan R.I.F.T. Namun sebelum sempat diunggah, Evelyn terkena serpihan senjata dari penyerangan yang dilakukan oleh R.I.F.T. Pada kondisi Evelyn yang sekarat, virus tersebut berhasil diunggah. Dan seiring dengan kematian mereka berdua, mati pula jaringan internet di seluruh dunia.

Di bagian akhir cerita sekaligus awal cerita, Max menjadi narator yang menceritakan bahwa listrik sudah tidak ada lagi. Alat-alat elektronik seakan menjadi sampah yang sudah tidak ada nilainya lagi. Ini termasuk bagian yang tidak gue mengerti kenapa tiba-tiba listrik bisa nggak ada lagi.

Apa yang dilakukan Will sejatinya adalah apa yang dilakukan manusia saat ini. Berlomba-lomba mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang apabila tidak diimbangi dengan keimanan dan ketaqwaan yang tinggi dapat menyebabkan manusia bertindak seolah-olah mereka adalah Tuhan yang bisa melakukan segalanya. Padahal, manusia diciptakan dengan keterbatasan. Meskipun manusia juga diciptakan memiliki akal. Kecenderungan manusia saat ini adalah mengikuti ambisinya tanpa mempedulikan sisi kemanusiaan dari manusia itu sendiri. Mungkin tujuannya memang amat mulia, namun dibalik pengembangan teknologi yang sedemikian pesat dan canggihnya, manusia tidak dapat melepaskan diri terhadap hakikatnya sebagai seorang manusia.

Sebenernya, film ini visioner banget. Tapi setelah gue nonton film ini secara full (yang kerasanya lama banget ini), gue nggak terlalu merasa wow seperti ketika gue nonton trailernya. Ada perasaan 'nanggung' dengan jalan cerita yang disuguhkan dalam film ini. Ekspektasi gue terhadap film ini bisa dibilang terlalu berlebihan, karena pada akhirnya gue merasa di PHP in sama film ini. Huhuhu T.T Teknologi yang bisa bikin Will 'hidup' lagi diceritakan terlalu cepat sampai-sampai gue merasa kayak nonton sulap. Tapi, sisi positifnya adalah melalui film ini, manusia diajak berfikir tentang segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Bijak bijak aja deh dalam mengambil pesan dari sebuah tontonan. Mungkin setelah ini, gue harus banyak nonton film fiksi ilmiah kayak gini lagi. Hehe..

20 Juni 2013

Man of Steel


Akhirnya setelah terakhir kali nonton Superman Returns dengan Brandon Routh yang ganteng sekali *uhuk*, saya nonton lagi film superhero yang punya lambang "S" di kostumnya ini. Kali ini judul filmnya tidak menggunakan embel-embel Superman, tapi film besutan Zack Synder ini mengambil judul Man of Steel. Semenjak awal tanda-tanda kemunculan film ini, saya udah ngebet banget pengen nonton. Dan Alhamdulillah, saya nggak sendirian. Beberapa teman ternyata punya antusias yang sama, alhasil kami nonton bareng-bareng.

1 Januari 2013

Habibie-Ainun

Pic taken from here

Hari pertama di tahun 2013, diisi dengan menyaksikan sebuah film yang saya sebutkan di postingan sebelum ini. Sebuah film yang pada tahun 2012 belum sempat saya saksikan karena setelah tanggal 31 Desember 2012 tidak ada tanggal 32 Desember 2012, jadi film ini saya tonton di halaman pertama dari 2013.

19 Agustus 2012

Film Perahu Kertas

Pic taken from here