Tampilkan postingan dengan label piknik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label piknik. Tampilkan semua postingan

17 Maret 2017

Kunjungan Industri: Belajar Bisa Dari Mana Saja

Lokasi Kunjungan Industri tahun 2017

Sore ini akhirnya bisa rebahan di kasur setelah tiga hari dua malam gue habiskan dengan duduk di kursi bus yang membawa gue dan rombongan guru plus anak-anak di sekolah tempat gue ngajar ke beberapa tempat di sekitaran Jakarta - Bekasi. Bukan buat main ke tempat wisata, tapi mengunjungi beberapa lokasi industri atau di dunia SMK disebutnya Kunjungan Industri (KI), etapi nggak SMK doang sih, dulu gue kuliah pas semester 3 juga ada KI ke Bogor. Rombongan yang berangkat ada 3 bus, dua bus pertama diisi guru pendamping dan siswa jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR), bus terakhir diisi guru pendamping dan siswa jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ). Nah, gue di bus terakhir. Tebak, gue gurunya apa anak-anaknyaaa? *ngaca peh, ngacaa.

Berangkat dari Kulon Progo hari Selasa (14/3) sore lewat jalur tengah, rombongan transit buat ishoma di Purwakarta jam 4.00 pagi besok harinya. Nah, sampai di sini rombongan bakal kepisah. Yang jurusan TKR bakal ke pabrik Suzuki di Cikarang, sedangkan rombongan TKJ bakal ke PT. Berca Cakra di Sunter. Nah, karena gue ngikut yang TKJ, jadi ceritanya bakal lebih banyak tentang apa yang gue lakukan di tempat KI TKJ.

Setelah menembus kemacetan di tol Cikampek dan mulai masuk Jakarta, ternyata mencari PT. Berca Cakra itu nggak gampang karena lokasinya nggak ada di pinggir jalan besar, alias harus agak masuk gang yang lumayan sempit walaupun di sekitar PT itu juga ada beberapa perusahaan lain yang notabene banyak truk keluar masuk. Dari luar juga nggak keliatan kalau itu perusahaan yang bakal dikunjungi karena sejauh mata memandang, gue pun nggak ngeliat ada papan namanya. Sebelum berangkat sempet denger-denger kalau perusahaan yang bakal dikunjungi itu adalah perusahaan produsen komputer. Tapi gue masih belum ngeh sampai akhirnya gue dan rombongan masuk ke perusahaan tersebut dan dikumpulkan di ruang meeting. Sayangnya gue sama sekali nggak inget siapa-siapa aja yang menyampaikan informasi di sana. Yang jelas, setelah penyampaian maksud dan tujuan kami ke sana, kami dibagi jadi dua kelompok. Kelompok pertama dengerin teori dulu, sementara kelompok kedua ke tempat perakitan dulu.

Nah, setelah dijelaskan panjang lebar, ternyata PT. Berca Cakra Teknologi itu awalnya distributor vendor perangkat komputer dari berbagai merk, kek misal Compact, HP, Acer dll sekitar tahun 2010an. Karena Cuma jadi distributor, mesti nurut lah sama regulasi dari pihak asing. PT. Berca Cakra ini juga pengen mandiri, jadi selanjutnya mereka melakukan proses perakitan PC di perusahaan tersebut dan membuat merk sendiri yang diberi nama Relion. PT. Berca Cakra Cuma melakukan proses perakitan seluruh komponennya, namun tidak melakukan produksi komponen karena di Indonesia belum ada pabrik komponennya.

PT. Berca Cakra Teknologi sendiri punya banyak cabang di Pulau Jawa, diantaranya di Jogja dan Semarang. Sementara kantor pusatnya ada di Tanah Abang, Jakarta. PT. Berca Cakra juga melakukan kerja sama dengan beberapa perusahaan lain, salah satunya dengan ACER dalam bidang pelayanan after sales (service center). PT. Berca Cakra juga sudah mengantongi sertifikat ISO 9001 (Manajemen mutu), ISO 18001 (Manajemen lingkungan hidup), dan ISO 14001 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja). Deuuuh kalo ngomongin soal ISO, jadi inget jaman bersusah-susah nguji kualitas software pake standar ISO *kibas skripsi

Ternyata, PT. Berca Cakra ini adalah perusahaan yang dipercaya oleh pemerintah dalam bidang pendidikan untuk menjadi penyuplai PC yang digunakan untuk SMK se Indonesia. Ini salah satu pendukung berlangsungnya Ujian Nasional Berbasis Komputer yang sudah dimulai beberapa tahun yang lalu. Produk yang dikasih merk Relion diantaranya ada PC biasa, Mini PC, PC Server, netbook, RealPen, dan berbagai perangkat komputer lainnya (Monitor, keyboard, dll). Proses produksi di PT. Berca Cakra ini nggak dilakukan setiap hari secara terus menerus lho gaes. Jadi, produksi masal hanya dilakukan ketika ada orderan masuk. Itulah sebabnya, merk Relion tidak dibuat untuk Retail jadi nggak bisa beli satuan. Kata Bapak lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) yang ngasih info ke kami itu, dulu pernah jual satuan, tapi ternyata kalah saing dengan perusahaan dengan modal yang lebih besar. Makanya, pertanyaan gue kenapa gue nggak pernah lihat merk Relion itu ya karena emang nggak bakal tuh ditemuin di Jogjatronik, atau Ramai, atau toko komputer dimana-mana, karena pangsa pasar PT. Berca Cakra emang bukan di situ. Barangkali nemunya justru malah di sekolah-sekolah yang udah kerja sama dengan PT. Berca Cakra. 

Salah satu produk yang diunggulkan di PT. Berca Cakra adalah mini PC. Bentuk mini PC bisa dilihat pas gue masuk ke sesi kedua. Ternyata mini PC sebenernya sama dengan PC biasa, cumaaaa bentuk mainboardnya lebih kecil dan komponen di dalamnya hampir sama dengan komponen dalam netbook.  Jika dibandingkan dengan PC biasa, mini PC lebih unggul dalam penghematan daya listrik yang digunakan. Kalau PC biasa bisa sampai 400 watt, mini PC Cuma butuh daya 60 - 80 watt. Cocok kalau Cuma dipakai untuk ngetik atau browsing, tapi nggak cocok buat keperluan editing video dan rendering. Yaiyalaaaaah.. Bisa jebol :3

Tempat perakitan

Untuk yang mau PKL di PT. Berca Cakra, kalian tinggal kirim surat permohonan ke PT. Berca Cakra. Buat yang diterima PKL di sana, bakal ada training dulu selama satu minggu buat membiasakan diri dengan apa yang bakal dikerjakan selama PKL. Sedangkan waktu pelaksanaannya, sekolah lah yang harus mengikuti jadwal di PT. Berca Cakra, karena kayak yang udah gue sebutkan tadi, produksi masal Cuma ada ketika ada orderan. Kalau mau PKL di PT. Berca Cakra harus siap kerja lembur, jadi bisa aja satu hari harus di pabrik selama 12 jam. Nanti tinggal dikonversi ke jumlah jam yang dibutuhkan siswa untuk menyelesaikan PKL. Setelah selesai PKL di PT. Berca Cakra, siswa bisa dapat sertifikat.

Kemaren gue nggak tanya contact personnya sih, Cuma kalau emang beneran niat buat PKL di sana, bisa googling dulu kontaknya. Kalau nggak nemu, kontak gue nanti gue kasih alamatnya buat kirim surat. Ini ada alamat webnya, cuma sayangnya masih under construction.

Oiya, PT. Berca Cakra juga ngasih penawaran buat sekolah yang punya jurusan TKJ atau teknologi informasi. Jadi, mengingat teknologi yang secara tidak langsung memaksa kita untuk terus belajar hal baru, PT. Berca Cakra punya program satu siswa satu netbook/laptop. Jadi, saat masuk sekolah, siswa dapat netbook/laptop yang kisaran harganya 2-3juta rupiah. Nanti, pembayaran laptopnya itu dicicil selama siswa sekolah (3 tahun) yang besaran cicilannya bisa ditambahkan saat siswa bayar uang SPP tiap bulannya. Sekolah bisa kerja sama dengan bank daerah buat pengadaan netbook/laptop ini. Nanti netbook/laptopnya bisa dikasih dalam bentuk pretelan *halah, jadi siswa yang akan merakit netbook/laptopnya sendiri untuk dimiliki sendiri. Jadi, dari SMK oleh SMK untuk SMK. Hehehehe.

Sebenernya cukup menarik sih kunjungannya, tapi gue merasa anak-anak tuh kayak nggak bergairah buat tau lebih banyak dari mereka. Muka udah pada lemes, lesu, cemberut. Iya, mungkin capek karena udah seharian di bus yang mungkin buat beberapa orang itu bisa jadi pengalaman pertama mereka, tapi paling enggak sembunyikan dulu rasa lelah itu. Kita bertamu, dan sang tuan rumah lihat muka tamunya cemberut semua. Gimana coba perasaannya?

Di PT. Berca Cakra nggak bisa terlalu lama, karena gue dan rombongan harus segera cus ke destinasi selanjutnya di Bekasi. Kemanaaaa? Baca duluu sampai selesai.

Oleh-oleh dari PT. Berca Cakra
Dua jam perjalanan Sunter-Bekasi gue habiskan untuk tidur setelah ngabisin makan siang. Bukan apa-apa, biar nggak berasa aja perjalanannya. Bener aja, tau-tau udah masuk di kawasan industri MM2100 di Cikarang Barat - Bekasi. Alamat webnya di sini. Sejauh mata memandang, semua isinya pabrik gede-gede. Ada AHM, ada Lotte wah banyak deh pokoknya. Setelah muter-muter, sampailah gue dan rombongan di SMK Mitra Industri MM2100.

Mau ngapain ke situ?
Ya mau belajar lah. Yang gue denger dari pak kepala sekolah tentang sekolah ini tuh hebat banget, dan sekarang gue mau lihat kehebatan sekolah ini beneran nggak kayak yang pak kepala sekolah ceritain.

Begitu turun dari bus dan selesai sholat, gue dan rombongan dari bus 3 langsung dihadapkan dengan lahan yang ditutupi konblok dan dicat hijau menyerupai jalan dan diberi arah panah warna kuning. Ya, jalannya harus lewat bagian yang dicat hijau itu. Terus kami diarahkan untuk menuju aula. Pas naik tangga, di anak tangga pertama sebelah kiri ditulisin "IN" terus di bagian tengah ada garis merah, dan bagian kanan ada tulisan "OUT". Paham dong maksudnya apa. Selepas dari tangga langsung disambut siswa SMK Mitra Industri dengan senyum ramah, dan dibagiin snack sama siswa yang pakai terusan rok warna merah, dengan stocking hitam dan dilengkapi dengan high heels hitam. Gue berdecak kagum. Temen-temen gue yang jadi panitia acara pas kuliah dulu mah lewaaaaaat….

Gedung dan jalur hijau yang dilewati

Selamat datang!

Jadi, SMK Mitra Industri MM 2100 adalah sekolah yang didirikan untuk memenuhi kebutuhan karyawan di dunia industri. Pendirinya adalah orang-orang dari dunia industri, salah satunya adalah Bu Lis selaku kepala sekolah di SMK Mitra Industri MM2100 yang juga bagian dari salah satu perusahaan cat terkemuka. Nah, karena latar belakang pendirinya aja merupakan orang-orang dari dunia industri, mereka mencoba menerapkan di sekolah yang mereka buat itu. Mulai dari tata tertibnya, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, sikap yang harus dimiliki. Hasilnya, banyak lulusan dari SMK Mitra Industri yang dicari oleh HRD dari banyak perusahaan besar. 

Dalam sambutannya, Bu Lis menyampaikan bahwa anak-anak adalah calon kupu-kupu yang indah. Dimana sebelum menjadi kupu-kupu, ulat akan menjadi kepompong terlebih dahulu. Panas, gerah, sakit pasti dirasakan. Tapi ketika proses itu diterima dan dilakukan dengan baik, maka kupu-kupu dengan sayap indah akan lahir dan bisa terbang bebas di angkasa. Namun tidak akan jadi kupu-kupu yang indah kalau saat jadi kepompong sudah tidak tahan. Ibarat saat di sekolah, ada peraturan dan tata tertib sekolah yang dibuat untuk kebaikan siswa, ternyata siswa terlalu banyak mengeluh, terlalu banyak memberontak, dan akhirnya keluar dari sekolah, tentu apa yang sudah dibentuk tidak akan berakhir sempurna. 

Oiya, soal punishment dan reward buat siswa di SMK Mitra Industri MM2100 dilakukan dengan poin. Untuk poin dibawah 50, maka siswa tidak naik kelas. Terus untuk punishment, SMK Mitra Industri MM2100 tidak melakukan hukuman fisik karena hanya akan menyisakan sakit hati. Sebagai gantinya, hukuman untuk siswa yang melanggar mulai dari mengerjakan soal Matematika sepulang sekolah, mencatat ceramah khatib saat sholat jum'at, sampai sholat tahajud tiap malam selama 3 bulan berturut-turut dan ditandatangani orang tua. Gatau kenapa punishment ini senada dengan opini gue saat gue berpikir hukuman seperti apa yang sekiranya pantas diterima oleh siswa yang melanggar. Bentak-bentak gue rasa nggak akan bikin hati orang jadi luluh, gue pikir pendekatan agama akan jauh lebih berefek. Bukan Cuma buat siswa yang melanggar tata tertib di sekolah, tapi buat pelajar yang suka terlibat tindak kriminalitas di luar sekolah. Barangkali yang awalnya dipaksa untuk ibadah, akhirnya bisa melunakkan hati mereka. Apa sih yang nggak mungkin di mata Allah?

Menurut Bu Lis lagi, guru di sekolah harus jadi role model. Kalau guru datang terlambat ya minta maaf, kalau guru melakukan kesalahan ya minta maaf, kalau habis diberi bantuan ucapkan terima kasih. Dan berbagai sikap baik yang harus dilakukan terlebih dahulu oleh guru dan seluruh komponen yang ada dalam sekolah. Karena guru itu digugu lan ditiru. Hal penting lainnya adalah, libatkan orang tua. Setiap orang tua harus tau kegiatan yang dilakukan anaknya. Kalau orang tua mau anaknya menjadi orang sukses, orang tua harus melakukan tugasnya juga. Tidak bisa semua hal dalam mendidik anak diserahkan sepenuhnya kepada guru di sekolah. 

Pertemuan di Aula SMK Mitra Industri MM2100 juga dihadiri oleh beberapa orang dari Suzuki. Salah satunya adalah orang yang biasa melakukan tes kepada calon karyawan, namanya Pak Soko (cmiiiw, tolong dibenerin yaa kalau salah). Beliau cerita pengalamannya dalam melakukan tes kepada siswa yang ingin bekerja di Suzuki. Ternyata, masih banyaaaaak sekali yang belum bisa melakukan pengukuran dengan alat ukur (bisa macrometer atau jangka sorong) dengan tepat. 

Kunjungan di SMK Mitra Industri MM2100 diakhiri dengan menyaksikan sekaligus mengikuti kegiatan apel sore bersama seluruh siswa dan guru-guru. Jadi, awalnya bel pulang bunyi. Habis itu disetelin lagu Maju Tak Gentar sembari seluruh siswa keluar dari kelas, membentuk barisan dan jalan lewatin jalur hijau buat membentuk barisan per kelas. Sampai di lapangan, mereka jalan di tempat sampai lagu selesai diputar. Setelah itu mulailah prosesi apel, mulai dari laporan masing-masing kelas sampai menyerukan yel-yel. Yang bikin salut adalah, mereka tuh rapih banget barisnya. Semuanya serius pas apel, nggak ada yang sibuk sendiri di belakang. Terlebih lagi, sampai jam pulang sekolah yang udah sesore itu (16.00), jumlah siswa per kelas rata-rata masih lengkap. Kalaupun ada yang kurang, itu karena mereka ada yang lagi magang. Dari ujung rambut sampai ujung kaki sama semua kecuali wajahnya. Buat yang jurusan selain perhotelan pakai setelan seragam dan sepatu yang sama. Kerudungnya sama, dan harus pakai ciput. Terus buat siswa perhotelan pake terusan rok merah kayak yang tadi udah gue tulis di atas. 

Yang lebih mencengangkan lagi adalah saat mereka kompak teriakin yel-yel sekolah mereka pakai tiga bahasa. Bahasa Indonesia, Bahasa Jepang sama Bahasa Inggris. Merinding. Pas gue nengok ke belakang ternyata itu adalah salah satu ruangan kelas mereka. Bersih banget. Nggak ada tuh meja yang berantakan, nggak ada juga coret-coretan. Pintu ruang kelas dibuat transparan. Wali kelas juga bertanggung jawab penuh terhadap siswa yang diampunya. Kalau ada siswa yang pakaiannya nggak seragam, wali kelas ikut nemenin dihukum. Luar biasa. Sayangnya gue nggak sempet ambil banyak gambar dan video, mungkin bakal gue cariin via youtube aja ya.

Siswa SMK Mitra Industri MM2100


Video dari youtube

Nah, sikap-sikap siswa di SMK Mitra Industri MM2100 inilah yang coba diterapkan pak kepala sekolah di tempat gue ngajar. Pak kepala sekolah pengen ada perubahan di siswa sekolah gue yang saat ini bisa dibilang 'lumayan parah' dalam hal sikap yang harusnya mereka punya. Nggak akan gue jembrengin di sini sih gimana-gimananya, Cuma gue berharap semoga apa yang sudah mulai diinisiasi oleh pak kepala sekolah bisa menular ke guru-guru lain dan lama kelamaan seluruh isi sekolah bisa jadi lebih baik. Somehow gue ngerasa nggak semua orang bakal bisa di kayak giniin. Bakal ada yang dalam hatinya berontak, kayak "Ah, buat apa sih gue nurut aja disuruh kayak gini dan kayak gitu. Males banget. Gue pengen bebas aja.". Tapi kalau emang punya niat untuk memperbaiki diri dan pada akhirnya bisa kerja di perusahaan besar dan biar bisa ikut bantu mensejahterakan keluarga ya mau nggak mau harus berubah. 

Kemaren itu gue jadi berfikir, orang-orang di dunia pendidikan bahkan harus berguru ilmu pada orang non kependidikan untuk belajar bagaimana caranya mendidik. Bukannya nggak boleh, justru bagus, karena jadi lebih bisa terbuka pandangannya soal apa yang belum diketahui. Orang kependidikan nggak tau kerja di pabrik yang sebenernya tu gimana sih? Ya mungkin tau, tapi paling juga dari katanya-katanya. Nah, orang non kependidikan dari dunia industri ini justru yang lebih tau seluk beluk dunia industri dan akhirnya diterapkan dalam dunia pendidikan supaya bisa menghasilkan lulusan seperti apa yang dunia kerja mau. Apalagi di era MEA ini, saingannya akan tambah banyak. Kalo nggak punya sikap baik dan mental tangguh, modalnya mau apa? Pinter doang? Ya nggak bisa. Walaupun di SMK ada PKL, tapi ya beda-beda aturan dan tata tertibnya. Ada yang harus masuk jam sekian sampai jam sekian dengan target sekian, ada juga yang terserah mau masuk jam berapa asalkan target hari ini harus selesai. Tergantung tempatnya nanti kayak gimana, yang penting sikap dasarnya udah tertanam dalam diri.

That's why belajar itu bisa dari mana aja. Dan jangan pernah merasa pintar dan berhenti untuk belajar. Sampai kapan? Ya sampai mati.

Sepulang dari SMK Mitra Industri gue jadi merenung, apakah selama gue ngajar gue udah berusaha jadi guru yang baik? Apakah gue sudah berusaha untuk menjadi contoh yang baik buat murid-murid gue? Apakah ketika ada murid yang nggak ngerti materi yang gue ajarin itu murni karena mereka males? Atau gue yang nggak bisa menyampaikan dengan baik? Yah, perubahan kadang nggak bisa instan. Butuh proses. 

Kok tegang ya? Hahaha.

Perjalanan berlanjut ke Cibaduyut ditemani hujan di tol Purbaleunyi. Karena kursi di sebelah gue kosong, gue lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur. Mencoba menyembunyikan rasa nyesek karena udah jauh sampe Jakarta tapi nggak bisa pulang ke Bogor. Hiks.

Di Cibaduyut, buat ngobatin kangen gue beliin kaos reglan yang seragaman buat Ibu, Ayah, Novi sama Radit. At least paling enggak kalaupun guenya nggak sampe sana, paketannya yang bisa sampe sana. Nah, ini juga belajar nih. Belajar nahan kangeeeeeen.

Hehehe.

Sisa perjalanan pulang ke Kulon Progo pun gue habiskan dengan tidur. Capek banget rasanya. Ahamdulillah sampai dengan selamat di sekolah jam 9.15 pagi. Sarapan di Soto Pak Dullah, pulang dan mandi.


17 Januari 2017

Awal Tahun ke Wonosobo

Ini adalah postingan pertama di tahun 2017! Yeaaaa~ Happy New Year!

Tahun 2017 sebenernya diawali dengan  semester baru di sekolahan tempat gue ngajar. Di semester genap juga nampaknya gue akan cukup sibuk karena harus ikut ribet mempersiapkan UNBK san USBK buat murid-murid, dimana weekend gue akan dipenuhi jadwal ngawas try out, ngawas simulasi dan ngawas murid-murid les. Nah, sebelum itu semua berlangsung, boleh dong gue 'nyelo' dulu sebentar. Hehe.

Keinginan itu gue sampaikan ke Farid, dia 'yes'. Kemudian kita nyari temen, dan akhirnya terkumpullah lima orang (termasuk gue dan Farid) yang akan touring ke Wonosobo. Salah satunya adalah Anggi yang rumahnya di Wonosobo bakal jadi tempat nginep kami. Waktu itu Farid kepengennya ke pemandian air panas di Kalianget, tapi kemudian agenda ditambah dengan berburu sunrise di Sikunir, Dieng. Kepasan banget gue juga belum pernah ke dua tempat itu. Dulu pernah sih ke Dieng, tapi karena Cuma-ngikut jadinya acaranya juga Cuma ngikut dan nggak sempet explore Dieng lebih lama dan lebih luas lagi.

Kami memilih waktu ke Wonosobo di hari Minggu sampai Senin. Kenapa? Ya niatnya sih biar nggak rame aja di sananya. Kan biasanya kalo weekend bakal penuh tuh tempat-tempat wisatanya, dengan berangkat hari Minggu siang, kami berharap pas berburu sunrise di Sikunir tuh nggak terlalu rame. Jadilah Minggu, 8 Januari 2017 kami berangkat berlima dengan 3 motor. Kami berangkat dari Jalan Magelang km 11 sekitar jam 10.30. Jalanan cukup ramai, tapi kami memilih untuk ke Wonosobo melalui jalur Salaman, jadinya nggak barengan sama bus-bus dan kendaraan besar. Ya, meskipun jalanannya lebih kecil dan naik-turun-belok-belok, at least itu bisa bikin kami lebih cepet sampai. Sayangnya gue lupa untuk ngambil foto karena asik lihat pemandangan sambil fokus pegangan karena jalannya belok-belok, udah gitu Farid ngendarain motornya lumayan ngebut.

Kami sampai di rumah Anggi sekitar jam 12.30. Lokasi rumahnya Anggi nggak jauh dari alun-alun Wonosobo, paling sekitar 5 menit naik motor. Hal pertama yang gue lakukan adalah ngelurusin punggung sambil bersihin muka pake tisu buat ngecek seberapa banyak debu dan kotoran yang nempel di muka. Hasilnya….. Hiyeeeek -___-

Begitu duduk, Anggi menyuguhkan beberapa makanan khas Wonosobo. Pertama, kami disuguh tempe kemul yang sama Farid itu dibilang mendoan. Padahal kalo mendoan itu kan lembek, sedangkan kalo tempe kemul itu bagian tepungnya ada yang keras. Yaudahlah ya, gue aja malah taunya tempe ditepungin doang. Hahaha.


Tempe Kemul Wonosobo. Pic from here

Setelah puas makan tempe kemul, Anggi masuk ke dapur dan keluar sambil bawa beberapa gelas es Carica. Wuuuiiih cucok banget untuk melepas dahaga. Seger banget sih. Rasanya pas, nggak terlalu manis juga. Sambil ngobrol kami ngabisin es Caricanya, daaaaaan Anggi nyuguhin lagi semangkuk mie ongklok buat kami masing-masing. Ini adalah pertama kalinya gue makan mie ongklok loh #pentingBanget. Jadi, buat yang nggak tau mie ongklok nih, mie ongklok itu salah satu makanan khas Wonosobo. Isinya ada mie kuning, kubis, dan kucai, terus atasnya disiram pakai air tepung kanji yang udah dikasih kaldu ayam. Jadi tekstur si kuah itu kentel gitu. Pertama kali nyoba gue kasih sambel dikit. Rasanya enak kok, dan kalo gue diajak makan mie ongklok lagi, gue mah hayu aja. Hehehe. Oiya, ibuknya Anggi masakin mie ongkloknya juga dilengkapi dengan sate ayam. Wah gue makin doyan. 

Mie Ongklok Wonosobo. Pic from here

Selesai mie ongklok, ternyata masih ada satu suguhan lain, yaitu lotis atau rujak dari tetangga sebelah rumah Anggi. Isinya lengkap, ada nanas, bengkuang, jambu, kedondong, dan ada satu buah yang namanya diperdebatkan sama Anggi-Hesti-Randi dan ujung-ujungnya gue tetep lupa namanya apa. Kami lahap lagi lotis itu sampai akhirnya perut udah nggak muat nampung apa-apa lagi. Kalo kata Farid, di Wonosobo kita udah nggak boleh jajan lagi karena semua makanan khasnya udah disediain di rumah Anggi. Yaaaa, lumayan hemat :3

Sambil istirahat kami ngomongin soal destinasi yang bakal dikunjungi sore itu. Rencana awal kan kami mau ke Kalianget. Tapiiii setelah diskusi soal update terkini tempat itu, kami mengurungkan niat untuk ke sana. Dan malah bingung mau main ke mana sore itu. Akhirnya, karena bingung mikir, kami malah tidur dulu tanpa ada keputusan mau kemana. Hahahaha. Habis makan malah tidur. Nggak bener ini.

Sekitar jam 16.00 gue bangun tidur kemudian diskusi lagi sama temen-temen soal mau-kemana-kita, dan diputuskanlah kami akan ke Alun-alun Wonosobo untuk mencari dedek gemes Wonosobo *ini kata Farid*. Terus, kami siap-siap dan berangkat ke alun-alun sekitar jam 17.00.

Kami parkir di depan Taman Anggrek. Ternyata, di Wonosobo itu tukang parkirnya tidak se-menggila di Jogja. Motor ditinggal gitu aja ternyata nggak ada tukang parkirnya. Hebat sih. Terus kami keliling alun-alun dan beli jagung bakar yang seporsinya cukup lima ribu rupiah saja. Farid beli jamur goreng yang nggak tau harganya berapa. Sambil ngobrol, sambil menikmati senja di Wonosobo, tapi tetep, scroll scroll feeds di instagram. Betapa tidak berkualitas. Hahahaha.

Btw, di alun-alun Wonosobo ternyata koneksi datanya Indos*at masih 3G doang lho. Gue kira udah 4G :|

Senja berganti petang, saatnya pulang. Setelah jagung dan jamurnya habis, kami lanjut jalan lagi ngelilingin alun-alun buat menuju parkiran. Aktivitas warga kek misalnya berdagang, becak-becakan, sepeda tandem, terus ada freestyle motorcycle gitu juga selesai pas udah Maghrib. Kami sempet berhenti dulu di depan tiang bendera dan ngobrolin beberapa hal kek misalnya ternyata cagak benderanya itu bisa dipindah, terus kenapa pohon beringin di alun-alun Wonosobo itu Cuma ada satu. Terus Anggi bilang, belum sah ke Wonosobo kalau belum foto di depan tulisan Wonosobo Asri.

Wonosobo Asri.

Pulang ke rumah Anggi lagi, sholat, terus makan lagi. Udara Wonosobo malem itu nggak begitu dingin sih, tapi tetep dingin, Cuma nggak terlalu dingin. Lah apa sih. Si Randi masih sempet-sempetnya mandi, sedangkan gue, Farid dan Hesti tetep melambaikan tangan tanda nggak mau. Jangankan di Wonosobo yang dingin kek gitu, di Jogja aja kalo nggak merasa kotor banget juga gue mandi cukup sehari sekali. Hehehehe. Jorok ya?

Karena mesti bangun jam 2 pagi buat berangkat ke Sikunir, akhirnya sekitar jam 20.30 kami udah mulai terkapar. Si Randi malah nyalain laptop dan sempet-sempetnya nonton DotA sama Farid. Terus, pas tinggal Randi yang di depan laptop, dia malah sempet muterin suara yang katanya narkoba itu lho, i-Dozer kalo nggak salah. Beuh, belum ada semenit dengerin gue udah langsung minta stop. Gimana ya, nadanya tu nggak ngenakin. Bukan nggak enak yak, tapi nggak ngenakin. Jadinya tuh kayak seirama dengan detak jantung, tapi nadanya beda-beda, terus ditambah istrumen lain. Yah gitu lah pokoknya.

Gue lupa mulai jam berapa, yang jelas baru bisa lumayan pules itu kira-kira jam 12 malem.

Jam setengah 2 gue bangun. Ternyata Anggi juga udah bangun dan dia siap-siap buat ke Sikunir. Gue bangunin Farid. Terus Hesti bangun, Randi bangun. Persiapan secukupnya, sikat gigi, cuci muka, langsung kami berangkat membelah dingin dan heningnya Wonosobo jam 2.30 pagi. 

Pas berangkat, udah diniatin mau ngisi bensin dulu di pom terakhir sebelum naik. Ternyataaa, pom bensinnya nggak 24 jam alias jam segitu masih tutup. Sedangkan bensin di motornya Farid dan Randi udah menipis. Mereka sih sok-sokan bilang 'Aman.. Aman..' gitu, lah yang parno yang diboncengin malahan. Apa kabar kalo pas ditengah-tengah nanjak ternyata bensinnya kosong *emot ketawa yang ada air matanya. 

Perjalanan ke Sikunir ditempuh dalam waktu satu jam. Beberapa tanjakan sebelum masuk ke Dieng Plateau, Alhamdulillah nemu bapak-bapak yang jual bensin. Gue lupa bensin yang dibeli jenis apa, tapi harganya jadi 9.000 per liter. Warbiasak. Tapi mau gimana lagi, semahal apapun bakal tetep dibeli kan? Selesai beli bensin kami lanjut jalan lagi dan sampailah di pos retribusi. Ternyata masuk Sikunir sekarang tarifnya 10.000 per orang. Kalo kata Anggi sih dulu Cuma 3.000 gitu. Yah, time flies.

Di senin subuh yang dingin itu, kami pikir yang bakal nanjak nggak se ramai biasanya. Tapi setelah sampai parkiran, ternyata hari itu kami barengan sama anak sekolahan yang lagi study tour! OMG! Ruameeee banget. Dan mereka tuh kayak yang heran pas lihat gue dan rombongan dateng pake motor. Yah, emang sih jalan buat ke dieng itu banyak tanjakan panjang dan berliku-liku. Tapi gue yang lebih heran, apa rasanya ke Dieng tapi naik bis. Hahahaha. Oke, yang gue pikirin kemudian adalah, ini gimana ceritanya nanti di atas kalau segini banyak yang bakal naik? Yaudah deh, jadinya kami ngeduluin rombongan mereka buat naik duluan. 

Kami mulai jalan dari parkiran sekitar jam 3.30. Tracknya lumayan curam sih, tapi kebantu karena ada paving block dan udah dibikinin pegangan berupa besi dan tali di bagian yang ada anak tangganya. Berhubung udah lama nggak tracking atau naik gunung, jadilah gue kudu pembiasaan diri lagi. Jangan lupa atur nafas dan jangan kebanyakan ketawa, nanti cepet capeknya. Kalau udah hampir sampai di puncak bukit, tracknya udah mulai landai dan enak buat dilewatin.

Jam 4.00 kami sampai. Udah ada banyak orang ternyata. Akhirnya kami cari tempat duduk dulu, shubuhan, dan lanjut nunggu sunrise. Ternyata lihat di aplikasi Muslim Pro, sunrisenya sekitar jam 5.26, itungannya sih kecepetan sampe puncaknya. Hehehe. Sambil nunggu, kami ngobrol banyak, termasuk nyinyirin orang ngerokok sama orang yang vaping dengan asyik di depan kami. Hahaha. Sempet-sempetnya.

Sekitar jam 5, kok masih gelap. Lah lah, kok malah grimis. Feeling udah mulai nggak enak. Daaaan setelah lama nunggu, ternyata sampai jam setengah 6 kabutnya malah tambah tebel. Alhasil nggak dapet golden sunrise deh. Nunggu terang, foto-foto kemudian langsung turun. Syedih sih, soalnya udah ngarep-ngarep dapet sunrise karena seharian kemarinnya tuh cuacanya lagi bagus banget, ternyata tetep kebagian kabut juga. Mungkin juga karena lagi musim hujan jadi peluang berkabutnya lebih tinggi daripada kalau musim kemarau. Yasudahlah untuk mengobati kekecewaa n dan rasa laper akibat kedinginan, pas di bawah kami beli tempe kemul dan kentang goreng buat anget-anget. Oiya, tiket masuk ke Sikunir itu juga jadi satu sama tiket ke Telaga Cebong loh. Tapi yaa sebenernya nggak terlalu waw pemandangannya menurut gue.

Berkabut dan ramai.

Telaga Cebong berkabut.

Habis dari Telaga Cebong, kami mampir Candi Arjuna dulu sebelum pulang. Hari itu Senin pagi, hujan gerimis, dan loket tiket masuk belum buka. Jadilah kami masuk Candi Arjuna gratiiiis… Kalo nggak gratis tuh bayarnya Rp.15.000 per orang. Kan lumayaan. Ternyata, Candi Arjunanya lagi dipugar, jadilah bentuknya kayak gini.

Candi Arjuna berkabut.
Cuma jalan-jalan bentar, terus langsung cus pulang ke Rumah Anggi. Di jalan sempet mampir ke Telaga Menjer, tapi entah kenapa semuanya nggak berminat untuk turun dan kita langsung bablas balik. Niatnya mau makan di RM Mbok Ro. Eeeeeeh ujung-ujungnya nggak jadi juga karena dari luar, rumah makannya terlihat 'mahal' dan nggak cucok sama kantong kami ini. Hahaha. Kalo gue sih ngerasanya, jadi nggak minat jalan-jalan dan pengen cepet pulang tuh karena kami ngantuk. Iyalaah, baru pules tidur selama 2 jam semalem. Perlu balas dendam. Hehehe.

Akhirnya sampe rumah Anggi sekitar jam setengah 9, sarapan Nasi Megono, bersih-bersih, kemudian melanjutkan apa yang tertunda. Yak, tidoooooooor. Hahaha. Kami ngebo sampe sekitar jam 12 siang, kemudian glundang-glundung sampe jam 1 siang. Sholat, makan, dan packing buat balik ke Jogja. Kami start dari rumah Anggi sekitar jam setengah 3 karena khawatir keburu hujan, sempet mampir ke Pasar Binangun buat beli kentang dan Alhamdulillah jam setengah 5.30 gue udah sampai di rumah Farid buat ngambil motor.

Nasi Megono Wonosobo. Pic from here
Oiya, pesen gue kalo beli kentang di sana, pastikan yang kualitasnya bagus dan jangan terlalu tergiur dengan harga murah dan kulit kentang yang bersih. Teruuus, perjalanan kali ini lumayan bisa ngirit karena Anggi dan keluarganya menyuguhkan makanan khas Wonosobo yang bikin kami nggak perlu jajan lagi. Perut kenyang, hati senang. Terima kasih Ibu Bapaknya Anggi, maafkan kami yang makannya banyak ini :3

Sampai ketemu di perjalanan berikutnya!

Mohon maaf soalnya nggak terlalu banyak ngambil gambar, jadinya gambar makanannya nyomot aja dari internet, tapi sumber gue cantumkan kok.

Biaya:
Bensin (Pertamax) Jogja - Dieng - Jogja: Rp.20.000 + Rp.20.000 = Rp.40.000
Bensin (Pertalite) jam 2 pagi di Dieng: Rp.18.000 (Rp. 9.000/liter) 
Masuk Sikunir Rp.10.000
Tempe kemul Rp.1.000 per potong
Kentang di Pasar Binangun Rp.6.000/kg
Jagung bakar alun-alun Rp.5.000

29 Agustus 2016

One Day Trip: Mangrove Pasir Kadilangu


Semenjak udah kerja, hari libur menjadi saat yang paling ditunggu-tunggu buat gue. Hari dimana bisa mengendurkan urat leher sejenak dari aktivitas ngajar. Hari dimana gue pengennya nggak ada di dalam ruangan, tapi pergi main ke tempat yang bernuansa alam yang seger, menghindari tempat macet dan bisa jadi quality time sama partner-in-crime gue.

Hari Jum'at gue terbebas dari jam ngajar, alhasil gue nggak ke sekolah. Pas kamis itu gue udah ngode-ngode ngajakin Farid piknik di daerah Kulon Progo gitu, tapi kayaknya dia lagi nggak kepengen main gitu dan menawarkan buat masak-masak aja di rumahnya (yang fasilitas masaknya lebih lengkap dan menyenangkan hahaha). Ya pokoknya dia kelihatannya emang lagi nggak pengen pergi-pergi gitu, pas tanggal tua juga soalnya. Kita sama-sama lagi nggak punya duit haha. Yaudah gue nurut aja kalo dia nggak mau. Nah, pas malem itu gue mimpi buruk dong. Jadi di mimpi itu gue ditodong orang di pinggir jalan, semua barang bawaan gue diambil, terus penjahatnya serem banget gitulah. Dan kejadian di mimpi itu ceritanya pas gue pulang ngajar. Gue biasanya kalo mimpi serem apa mimpi seneng gitu emang cerita sama Farid, yaudah habis mimpi buruk itu gue kebangun dan langsung cerita ke Farid. Tak disangka dia bilang gini:

"Duh, kayaknya kamu lagi stres nih… Yaudah yuk besok kita piknik…"

:')

Nggak tau mesti gimana sih, antara masih panik tapi seneng juga. Gitu deh :')

Jadilah keesokan harinya gue udah di rumah Farid buat piknik. Nah, dari awal sebenernya gue udah pengen banget piknik ke Hutan Mangrove yang di daerah Temon, Kulon Progo itu. Tapi Farid menolak karena kejauhan. Dia malah ngajak cari merica ke Purworejo yang setelah dicari alamatnya ternyata 84 Km dari Kulon Progo dan akhirnya kita mengurungkan niat buat cari merica. Setelah diskusi dan sesi kamu-pengennya-kemana, jadilah kami ke Hutan Mangrove seperti tujuan awal. Hahaha. Ujung-ujungnya tetep piknik ke sana juga.

Berhubung hari Jum'at, jadinya mampir di Masjid Agung Kulon Progo dulu di Wates dan ternyata datengnya barengan sama Plt. Bupati Kulon Progo yang sama-sama hampir telat karena udah iqomah. 

Hutan Mangrove terletak di Jangkaran, Temon, Kulon Progo. Kalau dari arah Jalan Wates, ikutin jalan ke arah Pantai Congot/Purworejo. Kalo kemaren gue lewat belokan yang ke arah Pantai Glagah, terus belok kanan masuk Jalan Daendels ke arah barat. Setelah jembatan Congot, kurang lebih 300 m di sebelah kiri jalan ada petunjuk jalan ke Hutan Mangrove. Gangnya lumayan kecil dan belum ada gapuranya jadinya kalo udah sampai jembatan Congot mendingan jangan ngebut daripada kebablasan.

Setelah belok kiri, lurus terus ke selatan (sambil ditemenin bau gula aren) sampai ketemu perempatan yang ada posnya dan dijaga 4 orang berseragam. Di situ harus bayar Rp.2.000 dan kami langsung bilang kalo murah banget masuknya. Tapi yang gue bingung adalah nggak ada papan daftar biaya retribusi yang resmi gitu kayak di objek wisata yang udah femes, udah gitu nggak dikasih tiket pula. Dari situ kita masih lurus terus sampai mentok dan nemu papan penunjuk jalan. Kalau ke arah kanan itu ke Jembatan Si Api-api, kalau ke kiri ke Kadilangu. Nah, kemaren itu kami nggak ngerti mesti kemana dulu. Jadilah kami coba-coba ke kiri dulu dan ternyata di sanalah letak retribusi sebenarnya berada. Menurut pengelola di sana, pembayaran yang di luar tadi itu bukan yang resmi. Jadi kayak orang desa yang deket jalan gede itu kan jalan desanya dilewatin sama orang-orang yang mau wisata, tapi mereka kan nggak dapet apa-apa, sedangkan jalan mereka dilewatin dan kemungkinan bisa rusak. Nah, makanya mereka mintain uang gitu. Tapi informasi ini masih berdasarkan katanya-katanya lho yaa jadi kalau ada yang punya info lebih valid boleh banget disampaikan ke gue biar gue post di sini :)

Biaya retribusi di Mangrove Kadilangu (atau di kertas retribusinya tertulis Pantai Pasir Kadilangu) per orang Rp.3000 dan untuk motor bayar parkirnya Rp.2.000.


Retribusi Resmi Mangrove Kadilangu
Fasilitas di Mangrove Kadilangu ini cukup lengkap kok. Ada tempat parkir beratap, toilet, mushola, dan tempat jajan. Dari parkiran kami masih harus jalan sekitar 100 meter untuk sampai di gerbang hutan mangrove. 

Nah, hutan mangrove ini belakangan jadi tempat yang cukup hits di kalangan anak muda (kalo kata Farid sih buat kalangan kelas menengah ngehe, termasuk kami). Tempat ini juga masih dalam tahap pengembangan, jadi pas gue ke sana masih ada fasilitas yang lagi dibangun atau diperbaiki.

Pintu Masuk Mangrove Kadilangu
Emmm, apa sih daya tarik Mangrove Kadilangu sampai jadi rame didatengin orang-orang?

Menurut gue penduduk di sana tuh pinter banget baca pasar. Mereka paham banget kalau jaman sekarang orang-orang butuh eksis. Butuh foto-foto yang instagram-able banget buat diposting. Jadilah Mangrove Kadilangu ini dibikin jembatan-jembatan yang dibentuk dan dihias sedemikian rupa biar cucok jadi spot foto. Nggak lupa, dikasih nama yang unik dan bikin ngekek. Kalo nggak salah sih ya salah satunya ada 'Jembatan Melupakan Mantan' (CMIIW, lupa soalnya haha). Terus ada juga jembatan yang bentuknya love, ada ayunan yang bentuknya hits banget, pokoknya banyak banget spot foto di sana. Tak lupa dilengkapi fasilitas balon yang bisa jadi properti foto haha.



Ayunan Hiiiiiitzzzzzzz
Jembatan Love
Kami dateng ke sana pas hari Jum'at jam 12.30. Panas dong? Kalau hari normal sih pasti panas banget, tapi pas kemaren kami kesana tuh kayak feel blessed gitu. Cuacanya nggak panas, lumayan mendung tapi nggak gelap. Udah gitu karena bukan weekend, jadinya sepi banget dan puas buat foto tanpa perlu takut fotonya 'bocor'. 

Tapi persiapan kami ke sana tuh nggak maksimal, karena nggak bawa bekal makanan, nggak bawa topi dan nggak bawa kamera. Haha. Diomelin Farid nih gara-gara ini, katanya gue kalo piknik nggak niat :'D Padahal baru kali ini doang nggak fully prepared. Jadinya kami nggak ngambil foto terlalu banyak dan Cuma mengandalkan kamera dari ipun.



Menanti siapa? Menanti kapan kamu lulus, mz :3
Mangrove Kadilangu ini nggak terlalu luas sih menurut gue. Tadinya kan gue pikir tuh jembatannya tuh terintegrasi ke Mangrove Jembatan si Api-api ya, ternyata enggak. Kalau mau ke Jembatan si Api-api harus naik motor lagi dan kayaknya sih bayar lagi. Oiya di Mangrove Kadilangu ada tempat duduk yang cukup luas gitu, letaknya di bawah rerimbunan pohon mangrove. Harus kuat iman kalo ke sini. Hahahaha. 

Menyusup
Selain memperhatikan spot foto, kami juga memperhatikan banyak hal di Mangrove Kadilangu. Diantaranya soal Pohon Mangrovenya, akarnya, terus biota yang ada di hutan mangrove. Kami nemu kepiting, sumpil (atau sompil, itu lho yang kayak keong sawah tapi panjang cangkangnya), terus ada ikan yang punya kaki. Iyaa, jadi ikannya bisa jalan di lumpur gitu. Kalau nama ikannya cek di google atau ensiklopedia aja yaa (wuuuu blogger pemalas :p).

Ikan yang Bisa Jalan
Siang itu lautnya lagi surut, sehingga menampakkan apa-apa yang tertutup saat laut pasang. Daaaan inilah diaaa… Jengjeeeeng! Yap, sampah. Di bawah jembatan yang bagus buat difoto ternyata sampahnya banyak banget. Yang gue heran, kenapa sampah sandal banyak banget di sini .___. Bukan rahasia lagi sih kalau sebagian sampah rumahan itu ya ikut kebuang di laut. Sayang banget kan kalau kotor kayak gini, khawatirnya sih nanti ekosistem di hutan mangrove bisa terganggu. Oiya hutan mangrove ini banyak banget lho fungsinya. Nih contohnya ajaa, kalo misalkan nggak ada hutan mangrove, tanah di deket-deket pantai nggak bisa subur.

Sampah yang Menumpuk
Setelah puas ngelilingin jembatan Mangrove Kadilangu, kami balik ke parkiran buat ngambil sompil. Gue sih nggak tau apa-apa soal sompil, karena baru lihat pertama kali. Tapi Farid bilang itu enak di makan. Padahal di sana tuh kayak hama gitu, berserakan dimana-mana tanpa ada yang ngopeni. Udah gitu ada kejadian kocak pas Farid mau ngambil sompil, dimana dengan pedenya Farid melangkah ke atas gundukan lumpur yang dikiranya padat ternyata mblesek. Mbleseknya tuh sampe betis dan bikin celana kotor, panik tapi lucu. Hahahaha. Duh beneran nggak kuat nahan ketawa. Maaf yaa maaaaaaf :3

Selesai ambil sompil kami memutuskan untuk pulang sambil bawa satu kantong plastik sompil. Ternyataaa pas sampai rumah, masnya Farid bilang kalo sompil itu haram. Alhasil ya harus dibuang. Hihi. Padahal ngambilnya udah pake acara kejeblos lumpur segala. Yah, itulah hidup. Kadang yang diperjuangkan demikian kerasnya, harus berakhir tanpa hasil.

Alhamdulillah seneng rasanya bisa piknik. Yang bikin gue seneng kalo piknik ke Kulon Progo adalah masih sepi, jalanannya lengang dan nggak macet. Jadinya walaupun jauh tapi nggak kerasa bete aja di jalan. Biaya yang dikeluarkan juga nggak terlalu besar jadi masih bisa ditolerir untuk jadi destinasi wisata di tanggal tua.

Farid jangan bosen nemenin aku piknik ya :) 

10 Juni 2014

Gunung Lawu, Mei 2014

Alhamdulillah, tahun ini dikasih kesempatan untuk naik gunung lagi setelah terakhir naik gunung itu bulan Maret 2013 lalu. Alhamdulillah masih ada yang ngajak, dan Alhamdulillah selalu dapet temen baru setiap pendakian. Pendakian Gunung Lawu kali ini gue ditemenin sama empat orang yang luar biasa. Pertama ada Farid. Kedua ada Pras, temennya Farid. Ketiga ada Mas Irega, temennya Farid juga. Terakhir ada Anggi, pacarnya Pras. Waktu itu hari jum'at sore tanggal 1 Mei kita ngumpul dulu di kampus setelah persiapan sana-sini. Gue sempet kerempongan karena persiapan yang cukup mepet. Maklum, berhubung belum punya semua peralatan pendakian, gue masih harus pinjem sana-sini. Hehe.

Jum'at, 1 Mei 2014 | Jam 17.00 rombongan berangkat lewat Solo.
Gue boncengan sama Farid, pakek motor matic. Pras boncengan sama Anggi pake motor matic juga. Mas Irega sendirian, naik motor yang nggak matic. Gue kan nggak ngerti yaa jalan kesananya tuh bakal kayak gimana, tapi kata Farid, motor gue kuat kok sampai sana. Akhirnya gue nurut. 

Gue duduk di boncengan sambil bawa satu tas carrier yang ukurannya 70 liter. Yang bikin nggak enak adalah karena posisi tasnya yang miring ke kanan. Sumpah sumpaaah, itu nggak nyaman banget. Meskipun beberapa kali udah dibenerin, tapi tetep aja miring. 

Begitu mau masuk arah Solo, hujan deres. Kita berhenti dan pakai jas hujan, terus jalan lagi. Sempet ada insiden Mas Irega ilang karena gue kebelet pipis terus Farid sama Pras belok di pom bensin tanpa ngasih tau Mas Irega. Tapi tenang aja, habis itu kita menemukan Mas Irega yang lagi jongkok di pinggir jalan. Selebihnya, perjalanan cukup lancar karena Pras milihin jalan yang nggak lewat kota. Malam itu langitnya masih mendung, dan di daerah mana tuh gue lupa, hujannya deres banget nggak nyantai. Akhirnya berteduh dulu kurang lebih setengah jam sambil istirahat.

Skip nunggu hujan.

Jam 21.30
Setelah keluar dari jalanan pedesaan gitu, kita sampai di daerah Tawangmangu. Ini pertama kalinya gue kesini. Ternyata, jalannya. Aaaaak, gue cuma berharap motor gue nggak mogok. Habisnya nanjak banget jalannya. Alhamdulillah malem itu udah sepi, jadi naik motornya bisa pake teknik zig zag gitu supaya motornya nggak terlalu kasian. Oiya, satu lagi. Disana duingin buanget gaes.

Jam 22.00
Sampai di Provinsi Jawa Timur, tepatnya di Magetan. Ini cuma beberapa km dari perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur sih. Kita jauh-jauh sampai Jawa Timur karena kita mau mulai pendakian dari Pos Cemoro Sewu yang berada di ketinggian 1.878 mdpl. Setelah ke kamar kecil, dan persiapan terakhir kayak pakai masker, sarung tangan, nyiapin senter dan air minum, ternyata kita dibarengin sama rombongan dari Unversitas Muhammadiyah Surakarta yang juga mau naik malem itu. 

Pendakian diawali dengan berdoa, semoga semuanya lancar, semuanya sehat dan tidak kurang suatu apapun sampai turun nanti. Gue jalan sejajar sama Farid. Pas udah beberapa meter lewat dari pos, ternyata rombongan gue belum registrasi. Hadeh. Haha. Akhirnya yang ngurus registrasinya si Pras, kemudian kita jalan lagi.

Basecamp ke Pos 1 didominasi sama tanjakan tapi jalannya landai. OOTD gue waktu itu adalah kaos, celana jeans yang dibalut dengan jas hujan. Iya, jadi pas kita naik itu masih pada pakai jas hujan. Selain antisipasi kalau ditengah jalan hujan lagi, pakai jas hujan itu lebih anget. Berhubung waktu itu tengah malem dan gue nggak nyalain senter yang gue bawa, gue cuma nunduk, memandangi cahaya dari headlamp yang dipake Farid. "Tempo.. tempo..", kata Farid tiap gue mulai agak kecepetan atau kelambatan. Sementara itu, Mas Irega jalan bareng gue sama Farid. Sedangkan Pras sama Anggi belakangan, soalnya ini juga pertama kalinya Anggi naik gunung. Actually, ini juga pertama kalinya gue naik gunung bawa tas carrier sendiri. Pas pendakian pertama itu karena cowoknya banyak, jadi gue bawa tasnya gantian sama Annis. Hehe.

Engap sih, makanya kita sempet break beberapa kali buat minum sambil ngelurusin kaki. Tapi nggak boleh istirahat terlalu lama, soalnya kalau badannya udah dingin lagi, manasinnya susah. Akhirnya pos satu terlewat pada sekitar jam 00.00. Sempet duduk-duduk sebentar sambil gue terheran-heran karena disana berjajar beberapa warung makanan yang udah tutup (soalnya udah malem). Menurut kabar yang gue denger, serta beberapa tulisan yang gue baca, Gunung Lawu memang punya hal yang tidak biasa yang ditawarkan kepada pendaki dengan warung-warungnya. Bahkan, di puncak pun ada warung yang masih aktif.

Dari pos 1 ke pos 2 adalah perjalanan yang sumpah bikin capek. Karena emang jarak pos 1 ke pos 2 adalah yang terjauh meskipun bukan yang paling terjal. Mulai disini tracknya sudah berupa tangga-tangga yang disusun dari batu. Pada jam 02.00 kita akhirnya menyerah dan memutuskan buat ngecamp dulu. Sayangnya, disana susah banget nyari tanah yang bisa dipake buat ngediriin tenda. Akhirnya kita dapet tempat dipinggir tebing. Setelah sukses mendirikan tenda walaupun itu nggak layak dan penyak penyok, akhirnya kita tidur. Pagi-paginya, kita dipaksa bangun karena posisi tidurnya udah bener-bener nggak PW lagi. Iyalah, di dalem tenda itu miring. Udah gitu batu dimana-mana. Hzzz.

Setelah keluar tenda, ternyata kita beneran ada di pinggir tebing. Sambil nunggu sunrise, kita bikin sesuatu yang bisa menghangatkan badan. Yang masak kali itu adalah Farid. Gue ngerusuhin doang. Segelas susu hangat dan sarapan pakai mie instan sudah. Nonton sunrise sudah. 'buang-buang' juga sudah. Ngobrol sambil menikmati keindahan alam sudah. Kita lanjut perjalanan lagi. Eiya, sebelumnya kita beli gorengan dulu ke ibu-ibu yang jualan waktu kita mau lanjut jalan lagi. Si ibu itu ternyata emang jualannya sampai pos 2. Keren-keren.

Kalau ngelihat yang kayak gitu tuh antara kasihan, salut sama heran. Kasihan karena demi mendapatkan penghasilan untuk kecukupan hidup, si ibu sampai harus naik turun gunung yang nggak deket dan nggak gampang. Sambil bawa-bawa barang dagangan. Gue salut karena si ibu itu kuat banget dan ikhlas ngejalanin itu. Di lain sisi, pendaki juga banyak yang diuntungkan dengan kehadiran si ibu. Ya, simbiosis mutualisme lah yaa..

Sabtu, 2 Mei 2014 | Jam 08.30 kita jalan lagi
Pos 2 kelewat. Banyak yang ngecamp disana. Pos 3 kelewat juga. Lanjut jalan ke pos 4 yang ada tangga sekaligus pegangannya ini. Duh, beneran udah nggak sanggup rasanya. Kaki pegel banget sementara tangga nya nggak udah-udah. Yaudah, istirahatnya dibanyakin tapi nggak dilamain. Ternyata pendakian sama mereka itu seru karena ceritanya banyak. Walaupun kadang-kadang nyeleneh -_-

Setelah pos 4, kita mulai bisa lihat pemandangan yang super keren. Jadi tracknya itu semacam kalau kita pergi ke taman bunga gitu gaes. Udah ditata rapi. Sebelah kanan ada lereng-lereng, sebelah kiri ada sabana. Siang menjelang sore itu kabutnya turun. Fokus gue waktu itu terbagi karena tiba-tiba Farid bilang kalau kepalanya sakit dan dadanya sesek. Akhirnya, kita memperlambat jalan dan posisinya jadi kebalik. Anggi sama Pras udah jauh di depan, Mas Irega, terus baru gue sama Farid. Sering break, sering minum dan mencoba untuk memindahkan beberapa barang dari tasnya Farid ke tas gue. 

Jam 15.00
Alhamdulillah sampai di pos 5. Ngebooking tempat ngecamp, ngediriin tenda, habis itu Farid tepar. Kali ini kita dapet spot yang strategis banget. Pinggir tebing tapi masih ada tanah luas, menghadap ke timur. Dijamin besok pagi keluar tenda langsung dapet sunrise. Hehe. Sore itu gue maksa Farid supaya perutnya diisi dan minum obat terus istirahat. Alhamdulillah, malemnya udah seger lagi dan udah semangat banget bikin video timelapse pake kameranya. Duh, padahal sini masih ketir-ketir... Yang bisa gue lakukan adalah tetap memastikan dia nggak kedinginan supaya itu sakitnya nggak kumat lagi. Jadilah gue bikinin susu anget.

Jam 19.00
Sementara Pras sama Farid menghilang karena bikin timelapse, gue Anggi sama mas Irega ngobrol di deket api unggun yang asepnya nggilani banget baunya. Nggak tau tuh mas irega bikin apinya pake apaan -_- Kita cerita-cerita soal kuliah. Kebetulan kita bertiga dari bidang ilmu yang beda. Sekaligus angkatan yang berbeda juga. Anggi dari Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan, Mas Irega dari Kebijakan Pendidikan dan gue dari Pendidikan Teknik Informatika. Mas Irega paling tua diantara kita bertiga. Walaupun begitu, tidak membuat gue untuk tidak ikut-ikutan yang lain untuk membully mas Irega. Maaf ya mas, hehe. Setelah Farid sama Pras balik, kita masuk tenda dan tidur nyampe pagi.

Bisa lihat bintang sekeren ini

Minggu, 3 Mei 2014 | Jam 05.30
Mas Irega bangun paling pertama dan bangunin kita semua. Pas keluar tenda, kita udah bisa nonton sunrise yang Subhanallah keren bingits. Farid langsung stand by sama kameranya. Mas Irega juga udah mulai foto-foto. Anggi juga. Cuma gue nih yang bingung mau mengabadikan semua momen itu pakai apa kecuali pakai mata sama ingatan gue. Gimana enggak, handphone mati karena lowbatt dan nggak ada yang bawa power bank. Ah sedih sedih


Sunrise 3 Mei 2014

Nah, jatah masak pagi itu gue yang ambil alih. Nggak percaya kan? Haha. Biasa aja sih orang cuma masak sarden sama mie instan kok. Tapi ya tapii, menurut pengakuan mereka, masakan gue enak. Maksudnya, meskipun cuma masak mie sama sarden, tapi tuh pas napa, enak. Duh jadi mili~ :3

Salah satu hal yang membuat gue tambah seneng lagi adalah karena Farid udah balik lagi sehat. Habis sarapan, dia ngajak muncak. Puncak tertinggi di Gunung Lawu adalah Hargo Dumilah. Awalnya gue nggak mau karena gue mau persiapan buat turun, takut kakinya pegel. Gue juga awalnya udah bilang sama Anggi nggak mau muncak. Tapi gue dirayu men. Yaudah, gue akhirnya berangkat. Nggak bawa tas, nggak bawa minum. Cuma bawa kameranya Farid aja. Kita muncak bertiga. Gue, Farid sama Mas Irega. 

Perjalanannya cuma setengah jam sih. Tapi ya cukup nanjak dan cukup bikin engap. Nyesel banget nggak bawa minum, cuma bawa permen doang. Sempet ngajak Farid turun lagi, tapi katanya nanggung udah sampai sini. Alhamdulillah tugu 3.265 mdpl dengan bendera merah putih yang berkibar diatasnya udah kelihatan. But, rame bangeeeeet. Udah kayak ada diskonan baju. Emang sih waktu itu lagi ada penmas kayaknya dari salah satu sekolah di Solo. Yaudah, kita nyari spot yang nggak terlalu rame. Kita ke pinggiir agak turun sedikit dan kita bisa lihat Puncak Gunung Merbabu.

Ceritanya selfie di puncak gunung

Langitnya, Subhanallaaaah. Nyesel deh Anggi nggak sampai sini. Hehe. Sejauh mata memandang adanya langit. Biru, biru dan biru. Alhamdulillah bisa sampai di puncak. Setelah melaksanakan 'ritual', kita foto-foto, termasuk foto di tugu 3.265 mdpl. Setelah itu kita turun ke tenda lagi. Oiya, nggak lupa mampir di sendang buat ngebasahin tenggorokan. Di deket sendang juga rame banget yang ngediriin tenda. Sampahnya itu lho. Duh, semoga pada bawa turun sampahnya masing-masing ya...

Jam 09.00
Kita beres-beres, foto-foto sampai batre kameranya Farid habis. Kemudian kita turun. Awalnya, gue bisa lari gaes. Walaupun bawa carrier, gue masih lincah. Pos 4 lewat, pos 3 lewat. Farid juga ngikutin gue. Sementara Pras sama Anggi lagi-lagi belakangan. Begitu habis break di pos 3, gue sama Farid mulai melambat. Mas Irega paling depan.

Pras - Anggi - Gue - Farid - Mas Irega
Sumpah, perjalanan terberat lagi adalah dari pos 2 ke pos 1. Track panjang dengan sisa tenaga. Asli aslii, kalau nggak ada temen yang nyemangatin, gue mungkin udah nyerah. Intensitas istirahat jadi sering banget sementara stok logistik tinggal sedikit. Tujuan kita bukan lagi basecamp, tapi pos satu. Soalnya mau beli teh anget sama gorengan. Hehe. 

Menjelang pos 1, langkah gue udah nggak beraturan lagi. Udah kayak orang patah dengkul. Farid kayaknya nggak tega kalau lihat gue jalan kayak gitu. Tapi ya mau gimana lagi. Itu adalah sisa tenaga yang gue punya. Akhirnya, begitu sampai di pos satu, gue nggletak. Beuh, betisnya keras banget. Pundak juga udah nggak berasa. Punggung basah semua. Sambil break sambil nunggu Pras sama Anggi.

Setelah ngejejelin perut pake gorengan sama teh anget, kita jalan lagi. Tinggal sedikit lagi sampai basecamp. Sabar... Sabaaar... Sepanjang jalan itu kita berlima tetep bercanda. Yang paling sering kena ya kalau nggak gue, Anggi ya mas Irega. Gue juga bisa lihat pemandangan yang nggak bisa gue lihat waktu naik. Kayak pemandangan hamparan sayuran, terus ada berry hutan gitu. Macem-macem. Walaupun langkah gue tinggal satu-satu, tapi keinginan untuk bisa sampai basecamp itu tinggi banget. Iyalaaah, gue pengen segera menyudahi ini.

Jam 16.00
Alhamdulillah sampai basecamp. Gue langsung tepar di rumput. Tapiiii, baru sebentar tiduran, Farid udah ngajak pulang. Oh my... Baiklah, akhirnya kita langsung menempuh kembali jalanan Magetan - Jogja. Sebelum sampai Jogja, kita mampir makan dulu di alun-alun Sukoharjo. Berharap ketemu Aya, tapi ternyata enggak. Makannya di tengah lapangan sambil nonton langit. Tapi, mahal banget men jajan disana

Pas udah jalan lagi, Mas Irega pake ilang lagi. Duh, ternyata dia salah belok dan nggak ngikutin Pras sebagai penujuk jalan. 

Begitu masuk ringroad utara Jogja, gue udah pengen nangis. Udah nggak kuat nahan tas carrier yang menggantung manis di pundak gue. Berat banget. Gue yakin kalau pundak gue pasti udah lecet. Gue cuma pengen segera sampai rumah dan melepas semua beban ini. Iyalah, gue nonstop bawa carrier dong selama Jogja-Magetan-Jogja. Dewooo~

Jam 20.00
Alhamdulillah mendarat dengan cantik di rumah simbah. Asli, gue baru merasakan nikmatnya kursi setelah gue 3 hari nggak ketemu kursi. Setelah beres-beres dan membawa barang seperlunya, Farid pulang ke rumah.

Woh, lumayan panjang juga ya ceritanya. Tahukah kalian gaes, setelah pendakian ke Gunung Lawu itu, kaki gue sakit luar biasa selama seminggu. Jalannya udah kayak robot. Nggak cuma gue. Farid sama Anggi juga. Dan gue menemukan luka lecet di pundak gue yang sudah jelas asalnya darimana. Tapi, terlepas dari semua kesakitan yang gue rasakan, gue seneng banget bisa menginjakkan kaki di puncak Gunung Lawu. Banyak hal yang bisa gue dapatkan dari pendakian itu. 

Terima kasih sudah memberikan gue pengalaman menakjubkan. Kapan-kapan lagi yaaa :)

Semua foto disini, credit by : @MuhammadNFarid