Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

13 April 2016

Di Balik Kali Kedua



"Jika wangimu saja bisa
Memindahkan duniaku
Maka cintamu pasti bisa
Mengubah jalan hidupku..."

Perlahan sebuah lagu mengalun di radio. Aku yang sedang memusatkan perhatianku pada layar handphone kemudian memalingkan wajah ke radio sambil memicingkan telinga. "Raisa..", ucapku menyebut sebuah nama. Seorang penyanyi wanita yang cantik jelita dan memiliki suara merdu. Aku bukan penggemarnya, tapi seseorang di sana adalah penggemar beratnya. Kuubah posisi tubuhku menjadi lebih dekat dengan radio, ku besarkan volume suaranya dan memejamkan mata. Lagu ini belum pernah kudengar sebelumnya, nampaknya lagu baru Raisa.

"...Cukup sekali saja aku pernah merasa
Betapa menyiksa kehilanganmu
Kau tak terganti kau yang slalu kunanti
Takkan kulepas lagi.."

Satu-satunya hal yang terbayang saat itu adalah, dia. Seseorang yang sangat mengagumi Raisa. Seseorang yang selalu menyamakan dirinya dengan Raisa, tapi selalu ku bantah dan ku bilang bahwa dia lebih mirip Fitri Tropica. Iya, menurutku, Raisa kurang cocok karena sebenarnya dia lucu seperti Fitri Tropica. Kalau sudah begitu, biasanya dia akan memajukan bibirnya tanda kesal atau sesekali mencubit gemas pinggangku. 

Lagu ini mengingatkan aku tentang suatu waktu dimana aku dan dia sedang 'jauh'. Jauh, karena walaupun setiap hari kami bertemu, dia tidak dapat ku jangkau. Jangankan mengajaknya berbicara, menatapnya saja seakan aku tak dapat izin. Hal yang saat itu bisa aku lakukan hanya berusaha untuk menghargai perasaanku dengan membiarkan jarak itu ada. Ini seakan menjadi sebuah hal yang tidak dapat ku mengerti dan ku bayangkan sebelumnya. Ada yang merenggut tawa yang semestinya bisa kami buat berdua. Ya, ini memang pilihannya. Tanpa dia sadari pilihannya membawa konsekuensi bahwa ada yang mesti pergi.

Tak ada yang bisa aku lakukan selain berharap bahwa dia bahagia dengan pilihannya. Aku tidak akan pernah memaksanya untuk memilih sesuai dengan apa yang aku mau, aku ingin dia membuat pilihannya sendiri.

Tak kusangka, suatu waktu dia kutemukan sedang menangis tersedu. Aku hanya bisa menatapnya dari sudut tempatku berdiri. Ada bagian dari diriku yang ikut tersakiti melihat dia sesenggukan di samping koridor kelas. Tanganku mengepal keras, kalau bisa ingin sekali ku pukul wajahku sendiri yang hanya bisa mematung tanpa berani menghampiri dan mengusap air matanya. Ya, aku sudah mendengar kabar tentang bagaimana pilihannya menghancurkan perasaannya sendiri. Tak perlu ku ceritakan lebih, aku muak mengingatnya.

Dia berkata bahwa ia sangat kehilangan. Tapi seharusnya dia tau bahwa dia tak pernah kehilangan apapun. Ada yang tetap menunggunya tanpa pernah punya keinginan untuk pergi sama sekali. 

"...Pegang tanganku bersama jatuh cinta
Kali kedua pada yang sama.."

Hari ini, sudah jauh sekali dari masa itu. Kami sedang mempersiapkan diri membangun cinta kami di atas janji suci. Dia selalu terlihat bersemangat dan sangat bahagia. Tak ada hal lain yang selalu aku minta pada Tuhan selain agar dia selalu menemukan kebahagiaan atas pilihan hidupnya. Terima kasih telah memilih kesempatan ini, tidak akan pernah ku sia-siakan apa yang telah aku miliki saat ini.

Dan menjelang akhir lagu diputar, aku meraih handphoneku. Mencari namanya dalam daftar kontak, menekan tombol "Panggil", dan dari seberang sana terdengar suaranya,

"Halo..."
"Hai, Sayang. I love you.."

"...Jika senyummu saja bisa
Mencuri detak jantungku
Maka pelukkan mu yang bisa
Menyapu seluruh hatiku..

Cukup sekali saja aku pernah merasa
Betapa menyiksa kehilanganmu
Kau tak terganti
Kau yang slalu kunanti
Takkan kulepas lagi

Pegang tanganku bersama jatuh cinta
Kali kedua pada yang sama

(Jatuhkan hati, tanpa peduli)
Kedua kali kita bersama lagi

Pegang tanganku bersama jatuh cinta
Kali kedua pada yang sama

Sama indahnya..."

Song:
Kali Kedua by Raisa (Handmade - 2016)

***

p.s. Ini cuma cerita buat visualisasi lagu menurut interpretasiku aja. Kalau mungkin ada kesamaan cerita, mungkin emang kejadiannya kayak gitu. Hihi. Anw, Raisa's song always touch my heart. Maybe someday I have chance to meet her. Aamiin. Hihi (again).

10 Oktober 2013

Aku Tidak Akan Lagi.




***
Seperti biasa pukul 6.15 aku berangkat menjemputmu di rumah. Mentari masih malu-malu di ufuk timur. Jalanan lengang, seolah memberikan aku kesempatan untuk bisa lekas sampai di rumahmu. Sebuah tempat yang hampir setiap hari aku kunjungi. Baik hanya sekedar menjemputmu untuk berangkat ke tempat kita menuntut ilmu, atau untuk menghabiskan hari sambil tidur-tiduran di halaman belakang rumahmu. Kemudian aku teringat pertama kali kita bertemu dulu. Kala itu kita menjadi tetangga yang rumahnya hanya dibatasi selapis batu bata.

Kamulah orang yang pertama kali menyadarkanku bahwa aku memiliki dunia seindah yang aku miliki sekarang. Peduli apa kedua orang tuaku bermasalah dan memutuskan untuk berpisah, selama aku bersamamu, aku tidak pernah kehilangan sepeser kebahagiaan itu. Memang, kala itu kita masih sama-sama duduk di bangku sekolah dasar. Masih terlalu kecil untuk mengerti permasalahan orang dewasa. Yang aku tahu hanya, aku ingin selalu ada di dekatmu.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Perceraian itu benar-benar terjadi ketika aku mulai bertumbuh menjadi remaja yang hampir habis masanya. Dan aku baru paham tentang 'orang ketiga' yang turut andil dalam perpisahan kedua orang tuaku. Namun, seperti yang selalu aku bilang, selama bersamamu aku tidak pernah kehilangan sepeser kebahagiaan itu. Yang aku tahu hanya, aku ingin selalu ada di dekatmu.

Sampai ketika aku harus meninggalkan saksi-saksi bisu kedekatan kita karena aku harus tinggal bersama ibu. Malam itu kamu menangis. Diantara rerumputan halaman belakang rumahmu yang selalu menjadi saksi tawa kita, bulir-bulir bening itu jatuh. Aku tahu aku tak mampu mencegahnya. Aku hanya menjanjikan bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Maksudku, hatiku akan tetap pada tempatnya. Hanya fisik kita yang akan disekat oleh jarak. Dalam hitungan puluhan kilometer, dan bukan hanya sekedar selapis batu bata lagi. Kemudian baru kamu berani menatapku.

Selepas kepindahan itu, aku berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi janjiku. Datang ke rumahmu, menemuimu. Bercerita apapun. Membuatmu tertawa. Dan Tuhan amat baik dengan membuat kita berkuliah pada satu kampus yang sama. Kemudian setiap hari aku selalu mampir ke rumahmu. Memacak diri dengan penampilan paling baik yang bisa aku lakukan setiap hari. Kemudian menekan bel rumahmu sambil senyum-senyum sendiri. Dan setelah kamu membukakan pintu, senyum itu ku bagi satu denganmu. Hingga selanjutnya, senyum-senyum itu menjadi, satu senyum milikku dan satu senyum milikmu.

Tak terasa sejak pertemuan kita yang pertama dulu.... Sudah sewindu...

Kini kita telah sama-sama dewasa. Jauh di lubuk hatiku yang paling dalam aku memiliki keinginan suci untuk kita berdua. Namun, ini semua urung ku sampaikan padamu. Nanti saja sambil aku mempersiapkan matang-matang.

Sesampainya di depan rumahmu. Sebuah mobil lain telah terparkir rapi di depan pagar rumahmu. Lewat jendela mobilku, aku melongokkan kepalaku. Seorang laki-laki berbadan tegap yang kali ini menekan bel rumahmu. Kemudian kamu keluar dari dalam rumah, memberikannya senyum, kemudian memeluknya.

Sebelum kamu menyadari keberadaanku, aku segera tancap gas. Dikepalaku, kesakitan-kesakitan selama sewindu kebelakang hadir dan menusuk-nusuk setiap jengkal kebahagiaan yang dulu pernah menutupinya. Aku menjadi mengerti mengapa aku harus benci 'orang ketiga'.

Aku laki-laki. Aku harus kuat. Ibuku tak ingin aku menjadi laki-laki yang lemah, apalagi hanya karena urusan cinta. Kuputuskan untuk tidak pernah kembali ke rumahmu. Kubuang jauh semua hal yang bisa mengingatkanku padamu. Aku tidak benci padamu. Aku hanya tidak ingin menjadi bodoh.

Dan, aku tidak akan lagi....

***

Sudah sewindu ku di dekatmu
Ada di setiap pagi, di sepanjang hari
Tak mungkin bila engkau tak tahu
Bila ku menyimpan rasa yang ku benam sejak lama

Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu

Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita

Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu

Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita

Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

Jujur memang sakit di hati
Bila kini nyatanya kau memilih dia
Takkan lagi ku sebodoh ini
Larut di dalam angan-angan tanpa tujuan

Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

***

23 Agustus 2013

Pilihan dan Kehilangan

Malem ini kepikiran hal absurd.

Seandainya kita dalam sebuah kondisi dimana kita memiliki kedekatan dengan lawan jenis. Kalau hanya satu orang sih bukan masalah besar, tapi ketika jumlahnya tiga dan mereka punya kecenderungan dalam waktu dekat akan mengutarakan perasaannya pada kita. Namun, karena sejak awal, kedekatan yang kita bangun memiliki pondasi persahabatan, kita hanya menganggap kedekatan itu adalah kedekatan yang wajar selayaknya sahabat pada umumnya. Namun, ketika waktu menujukkan kesempatannya, mereka bertiga mengutarakan rasa tertariknya pada kita (nembak), dan saat itu berarti kita dihadapkan pada pilihan-pilihan...

Tapi dari sekian banyak pilihan yang ada, konsekuensi yang akan selalu ada dalam setiap pilihannya adalah, kita akan kehilangan. Entah kehilangan satu, dua atau bahkan ketiganya sekaligus. Ketika kita memutuskan untuk memilih salah satu, maka kita kehilangan dua. Ketika kita memutuskan untuk tidak memilih ketiganya, kemungkinan kita juga akan kehilangan ketiganya. Karena kita tidak mungkin memilih dua atau bahkan ketiganya.

Kenapa harus kehilangan? Ya, sadar atau tidak, kedekatan yang awalnya dikira hanya sebatas persahabatan itu ternyata dilihat dari sudut pandang seorang pencinta oleh para lawan jenis tersebut. Sehingga kedekatan yang timbul setelah perasaan 'ingin memiliki kita' itu muncul, bukan lagi persahabatan murni, tetapi karena ada modus terselubung di dalamnya. Ketika mereka mengetahui bahwa ada tiga orang yang berebut hati yang sama, kemungkinannya bisa jadi salah satu dari mereka menjauhi kita, merasa dirinya kurang pantas bersanding dengan kita, kemudian merelakan kita untuk orang lain dan mengubur dalam-dalam perasaannya pada kita. Atau bisa juga malah mereka bertiga semakin merasa tertantang dan paling ingin menjadi nomor satu dimata kita.

Padahal, hati kita tidak terletak pada mereka bertiga. Hati kita masih tercecer pada guratan perih yang mengembalikan hati kita dalam bentuk yang tidak lagi utuh. Suatu hari kita bercerita pada sahabat, dan dia memberikan pandangan, jika memang kita tetap bertahan pada hati yang entah sisanya berceceran dimana, kemungkinan kita akan kehilangan bukan hanya tiga, tapi sampai lima. Karena belum tentu seseorang yang dinanti lantas akan kembali, bahkan kita bisa juga kehilangan hati kita sendiri. Tetapi sahabat memberikan pandangan lain, kalau sebaiknya tidak usah memilih jika memang tidak merasa mantap. Khawatir suatu hari nanti, kita yang akan menyebabkan salah satu diantara mereka kecewa.

Kemudian, keputusan telah dibuat. Kita tidak memilih ketiganya..

Pada akhirnya, satu persatu pergi. Pergi mencari hati lain yang bisa mereka tempati..

nb. sepanjang perjalanan pulang dari kampus, cuma pemikiran absurd aja sih. bukan kisah nyata. apalagi pengalaman pribadi :)

11 Juli 2013

Maafkan aku, Nad.




Aku baru saja memasukkan seluruh buku kuliahku ketika handphoneku berdering panjang. Ada panggilan rupanya. Sebuah nama tercetak besar sekali di layar handphoneku. Nada. Untuk apa pula dia menelponku sore seperti ini. Aku tidak pernah berharap nama itu muncul di handphoneku. Sejenak ingin sekali ku abaikan panggilan masuk itu, tetapi pada deringan terakhir kuputuskan untuk mengangkatnya.

"Halo Assalamualaikum," sebuah suara terdengar di seberang sana.
"Wa'alaikumussalam..", jawabku. Singkat. Ah, rasanya tidak ingin aku bicara berlama-lama dengan seseorang yang sedang menelponku ini.
"Fi, kamu masih di kampus?", tanyanya lagi.
"Iya. Ada apa?"
"Emm, kalau tidak sibuk, bisa kita ketemu sebentar sore ini? Ada yang ingin aku bicarakan."

9 Juli 2013

Sunset Bersama Rosie



Novel dengan jumlah halaman sebanyak 426 ini bisa-bisanya menyita perhatian saya ditengah kesibukan saya Praktik Industri. Hehe, kalo boleh jujur sih sebenarnya juga nggak sibuk-sibuk banget di tempat PI, jadi untuk mengisi waktu yang terlewat selo ini, dan karena menurut beberapa teman yang udah pernah baca bilang kalau novel ini bagus, akhirnya saya memutuskan buat pinjem novel ini ke Siti dan kemudian bertekad menamatkannya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. 

13 Januari 2013

Keinginan Rehan

"Bunda, Ayah kok belum pulang? Kita jadi kan pergi ke kebun binatang?", Rehan kecil yang baru keluar dari kamar mandi bertanya sambil menarik-narik manja gamis unguku.

28 Oktober 2010

Ketika Harus Menyerah Pada Waktu

                Pagi ini, pagi di bulan Oktober 2009.

                Fani mengawali harinya dengan bimbel di salah satu tempat bimbingan belajar terkemuka dikotanya. Langkah Fani begitu lunglai karena ia merasa sangat malas untuk berangkat ke sana dipagi yang dingin itu. Sekolah Fani memang masuk siang, karena itulah, ia mengikuti bimbel di pagi hari. Beberapa kali Fani menguap, ia masih merasa sangat mengantuk karena semalam ia begadang mengerjakan tugas biologi dari gurunya.

                Seperti biasa, Fani selalu datang paling pertama di kelasnya. Namun alangkah kagetnya saat ia melihat seorang siswa laki-laki yang duduk di bangku paling belakang. Sejenak Fani berhenti di depan pintu, sambil menerka, siapa ya laki-laki itu? Rupanya Fani memang tidak kenal, dan akhirnya Fani hanya duduk di depan laki-laki itu tanpa berkenalan terlebih dahulu.

                Tidak beberapa lama, teman-teman les Fani datang. Mikha, Rifa, dan Ajeng memasuki kelas sambil menyapa Fani. Saat Mikha melihat sosok lelaki itu, ia berkata,

                “Eh, Fito, lu les disini juga?” , tanyanya
                Seseorang yang dipanggil Fito itu menoleh kearah Mikha. “Eh elu, Mikh. Iya nih, hehehe”
                Fani terdiam, ternyata Mikha kenal dengan lelaki itu. Dan tanpa ragu, Fani berkata, “Mikha, kok kenal sih sama dia?”. Mikha menjawab,
                “Yaiyalah, dia kan temen sekelas gue disekolah, Fan. Masa lu nggak tau sih?” Mikha malah balik bertanya. Jujur saja, Fani memang tidak pernah bertemu, apalagi mengenal Fito. Jadi, Fani agak linglung saat ditanya seperti itu oleh Mikha.
                “Hah? Enggak kok. Emang dia dulunya kelas X berapa sih?” Tanya Fani
                “X-D, Fan. Haduh lu payah banget masa nggak tau” Ujar Mikha. “Yaudah, kalo nggak tau, sekarang kenalan dulu. Fito, ini Fani. Fani, ini Fito” Ujar Mikha lagi sambil memperkenalkan Fani dan Fito.
                “Fani”, Fani mengulurkan tangannya dan disambut oleh Fito. Begitupun sebaliknya.
                Begitulah perkenalan Fani dan Fito. Mereka mulai berteman sejak itu. Mereka terlihat dekat, karena itulah teman-teman les mereka menjodoh-jodohkan mereka. Fani dan Fito hanya bias mengelak. Namun, lama kelamaan, Fani mulai merasa ada perasaan yang lebih terhadap Fito.
                Intinya, Fani jatuh cinta dengan Fito, tapi Fito tidak tahu.
              Mereka memang hanya bertemu di tempat les, berbagi segalanya di tempat les. Fani mengagumi setiap hal yang dilakukan dan dimiliki Fito. Yah, namanya juga percintaan anak muda.
                ***
                Desember 2009,
                Ujian Semester 1 dimulai. Fani sering ber-sms ria dengan Fito. Saling menyemangati agar tetap fokus dalam Ujian semester kali ini.
To : Fito
Semangat, Fitooo J Hari terakhir nih !
From : Fito
Iya, Fan. Semangaaaat !
                Begitu selalu, sampai ujian semester berakhir dan berlanjut pada hari-hari berikutnya.
                Suatu hari, Fani sedang bercerita kepada teman-temannya mengenai perasaannya kepada Fito. Saat sedang asyik bercerita, tanpa Fani sadari, Fito mendengar semuanya.
                “Emang lu suka sama Fito dari mananya sih Fan?” , Tanya Mikha
                “Semuanya. Dia tuh, ganteng, sholeh, pinter pula” Jawab Fani
                “Ih padahal kan kalo di kelas dia tuh cacat banget Fan. Coba aja lu tau aslinya dia kaya gimana, pasti langsung ilfil. Kaya gue nih contohnya.Hii….”
                “Hahaha bisa aja lu Mikh. Gapapa, kan menerima segala kekurangan dia adalah tahap awal gw..” Ujar Fani. Masih banyak hal lain yang Fito dengarkan dari percakapan Fani dan Mikha. Dan sejujurnya, Fito mulai agak tidak suka terhadap sikap Fani yang berlebihan kepadanya, namun Fito berusaha menutupi itu semua agar tidak menyakiti hati Fani.
                Begitu seterusnya, Fani masih dan terus mengagumi Fito. Menceritakan tentang segala hal tentang Fito. Selalu mencari Fito apabila ia menghilang dari pandangannya. Dan saat itu juga, Fito merasa risih selalu diikuti Fani. Perlahan, Fito mulai menjauhi Fani. Dimulai dengan tidak menyapa Fani saat berpapasan, sampai tidak membalas sms-sms dari Fani.
                Fani yang merasa dijauhi Fitopun heran dan sedih. Namun ia tak punya keberanian untuk menanyakan hal itu pada Fito. Dia hanya diam, dan bercerita kepada salah satu lelakinya, Rifki. Rifki beberapa kali dicurhati oleh Fani. Namun sayangnya beberapa curhatan Fani, disebarluaskan oleh Rifki. Padahal sebelumnya Rifki telah berjanji tidak akan membocorkan pada siapapun, termasuk kepada Fito. Fani bisa saja tidak percaya lagi pada Rifki, namun Fani yang sudah bersahabat selama 6 tahun dengan Rifki, memaafkan Rifki yang membocorkan rahasianya. Walaupun dengan demikian, Fito semakin tahu apa yang sebenarnya Fani rasakan terhadap Fito.
                Fani menajdikan Fito sebagai pusat dari dunianya, dari hari-harinya. Menjadikan Fito sebagai alasan apabila Fani melakukan sesuatu. Semakin Fani giat menegjar Fito, Fito semakin menjauhi Fani. Sempat Fani berfikir bahwa Fito sudah mengetahui perasannya, namun Fani segera berfikir “Yaudahlah biarin aja dia tau. Toh cepat atau lambat dia bakalan tau”
                Tetapi, meskipun Fani tahu bahwa Fito sudah berubah dan tidak lagi se ramah dulu, Fani tetap tidak bergeming. Ia selalu mengatakan bahwa ia hanya ingin mempertahankan apa yang dia rasakan, apapun respon yang diberikan Fito. Walupun, tak jarang Fani menangis karena tingkah Fito yang membuat Fani bersedih.
                Tahun ajaran baru, Juli 2010
                Hari pertama sekolah, setelah libur panjang selama 2 minggupun datang. Seperti biasanya, setiap tahun ajaran baru, selalu ada pembagian kelas. Sesampainya Fani disekolah, ia bertemu Rifa
                “Hey, Fan. Sayang ya kita nggak sekelas ..” Ujar Rifa sedih
                “Ha? Masa iya? Terus gw sekelas sama siapa dong?” Ujar Fani sambil bergegas menuju papan pengumuman. Ternyata, Fani tidak sekelas dengan sahabat-sahabatnya, apalagi sekelas dengan Fito. Pupuslah harapan Fani untuk satu langkah lebih maju mendekati Fito.
                Hari-hari yang dijalani Fani dan Fito semakin aneh dan tidak wajar. Pertemanan mereka seperti semu. Mereka saling menutupi atas segala yang terjadi. Mereka berlindung dibalik kata ‘teman’. Mereka sepeti teman, tapi mereka bukan teman. Fito selalu memperlakukan Fani berbeda dengan teman-teman yang lain. Mengucilkan Fani, tak pernah menyapa Fani. Maka dari itu, ketika suatu hari Fito mengajak Fani berbicara, Fani senang bukan main.
                Saking senangnya, ia tumpahkan kebahagiaan itu di situs jejaring sosialnya. Berharap agar seluruh dunia tahu bahwa ia sedang bahagia. Tapi, Fito yang mengetahui hal tersebut merasa tindakan Fani berlebihan. Sehingga ada sedikti rasa menyesal bahwa ia telah menyapa Fani tadi.
                Fani sering pergi ke kelas Fito dengan berbagai alasan , padahal intinya, dia hanya ingin bertemu Fito barang satu detik dua detik. Namun seringkali Fito menghilang.
                Oktober, 2010
                Tak terasa, sudah setahun masa perkenalan Fani dengan Fito. Dalam setahun ini , sudah banyak hal yang ia alami dengan Fito. Entah itu hal yang baik,  maupun hal yang benar-benar menguras air mata.
                Sampai suatu hari, ketika Fani berada di kantin, Fito dan dua temannya sedang berbicara serius. Dan samar-samar Fani mendengar percakapan mereka
                “Fito, gimana sama Fani?” Tanya Putri, teman Fito
                “Ah, gw males ngomongin dia” Balas Fito
                “Tapi kan, Fit. Kita harus menghargai perasaan orang lain ..” Ujar Faishal, teman Fito yang satu lagi.
                “Tapi, kalo dianya berlebihan, gimana?” Tanya Fito.
                Fani yang ketika itu sedang asyik mengunyah nasi goreng tersentak. Apakah yang dimaksud adalah dirinya? Sepertinya iya. Fani merasa dia berlebihan dalam menyampaikan perasaannya pada Fito.
                “Aduh, gw bingung nih, Putri. Gw lagi galau” Ucap Fito
                “Gue tau kok, Fit. Lo lagi terjebak diantara 2 hati kan? Udah, fokus aja sama yang itu..” Jawab Putri.
                Terlebih lagi saat mendengar percakapan itu. Nafsu makan Fani seketika menghilang. Matanya terasa pedih. Ia segera mengakhiri makan siangnya. Dan segera pergi dari kantin. Ia pulang.
                Dirumah, Fani menangis sejadi-jadinya. Ia menyesali caranya yang salah. Ia menyesali tindakan bodoh yang dia lakukan. Ia menyesali kesempatan yang seharusnya bisa ia dapat, namun sekarang hilang begitu saja. Setelah beberapa lama menangis, dan dapat berfikir jernih, Fani memutuskan utnuk mundur. Mengahpus sedikit demi sediki rasa yang ia miliki terhadap Fito. Merelakan orag yang ia sayangi, untuk orang lain yang Fani tahu, pasti lebih baik daripada dirinya, meskipun Fani tahu, ini adalah kenyataan yang sulit diterima. Tapi dia harus tetap realistis.
                November, 2010
                Kelas Fito ramai. Fani yang kebetulan baru saja keluar dari perpustakaan segera menghampiri kerumunan itu. Memeriksa, ada keramaian apa dikelas Fito.
                Ketika Fani hampir sampai, Mikha menyerbu Fani dan memeluknya. “Fan, sabar ya ..”
                “Mikh,kenapa lu? Sabar kenapa?” Tanya Fani, antusias.
                “Fito, jadian sama Winda. Barusan ..” ujar Mikha dengan hati-hati, berusaha selembut mungkin agar tidak menyakiti perasaan Fani. Jelas saja Fani kaget, tapi Fani sudah mempersiapkan hal ini dari jauh-jauh hari, saat ia memutuskan untuk mundur dari perasaannya terhadap Fito.
                “Hehe, yaudah ngga apa-apa kali Mikh. Emang dia siapa gue? Akhirnya hari ini datang juga” Ujar Fani seraya tersenyum kecut. Padahal, seberusahanya Fani menghilangkan perasaan itu, rasa itu belum sepenuhnya lenyap.
                “Pasti lu dapet lelaki yang lebih baik daripada dia kok, percaya sama gue” ujar Mikha
                “Iyaaaaaa, makasih ya Mikh. Udah ah gue ke kelas dulu ya, ngga enak nih disini lama-lama. Hehehe” Fani melangkah menuju kelas. Ketika baru berjalan beberapa langkah, ia dicegat Rifki.
                “Fani, kasih selamat dulu dong buat temen kita yang baru jadian !” ujarnya sambil menunjuk Fito dan Winda. Fanipun kaget, teman-teman yang ada disitupun kaget. Rifki sahabat Fani, bisa-bisanya dia menyuruh Fani memberikan selamat pada Fito sementara hati Fani masih tercabik dengan hebatnya.
                Fani hanya melengos pergi tanpa memperdulikan kata-kata Rifki.
                2 Bulan sebelum UN,
                Seluruh siswa kelas XII mengikuti ESQ untuk mempersiapkan UN. Di bagian akhir acara tersebut, para siswa bersalam-salaman dengan teman satu angkatan. Tak terkecuali Fito dan Fani. Fani yang semenjak mengetahui berita jadiannya Fito dan Winda sudah bisa melupakan Fito dan fokus belajar untuk UN. Saat mereka bersalaman,
                “Fan, gue minta maaf ya” Ujar Fito
                “Maaf buat apa Fit?” Tanya Fani
                “Buat semuanya. Buat semua luka yang pernah gw goreskan di hati lw” Jawab Fito, lalu pergi. Fani tidak mengerti apa yang Fito maksud dengan hal itu. Fani mengabaikannya karena memang dia sudah tidak ada rasa lagi dengan Fito.
                Keesokan harinya, siswa kelas XII IPA di sekolah Fani mendapat kesempatan untuk berkunjung ke LIPI. Mereka diberi tugas untuk mengisi buku LKS yang diberikan sekolah. Kelas Fani digabung dengan kelas Fito. Awalnya, Fito meminjam pulpen milik Fani dengan alasan ia tidak membawa pulpen.
                “Hayooooooo, Fito awas nanti Windanya marah loh. Hehehehe” Ujar Putri kepada Fani dan Fito
                “Windanya udah gw kerangkeng di kandang, Put. Jadi nggak akan lepas” Jawab Fito sambil bercanda.
                “Iya nih, Put. Bilangin sama Winda, Fitonya genit. Hehehe” ujar Fani sambil bercanda. Di LIPI, Fito banyak membantu Fani mengisi LKS. Saking asyiknya melihat-lihat, mereka tidak sadar bahwa mereka ketinggalan rombongan.
                “Fit, kok sepi ya?” Tanya Fani sambil melihat ke sekitarnya. Sepi.
                “Oh iya, pada kemana ya Fan? Wah jangan-jangan kita ditinggal, Fan !” ujar Fito sambil menelpon Faishal. Benar saja, mereka tertinggal. Akhirnya,dengan terburu-buru, mereka mencari rombongan mereka. Setelah 15 menit berputar-putar, mereka bertemu juga dengan rombongannya.
                “Lu pake nyasar segala Fan” ucap Mikha
                “Mana gue tau, tadi kan gue lagi ngisi LKS, eeeeeh tau-tanunya udah sepi aja” jawab Fani
                “Sama Fito ya?” Tanya Mikha lagi
                “Huum. Nggak enak gw sama Winda. Eh, tapi kok daritadi gw nggak lihat Winda ya?” Tanya Fani
                “Winda kan sakit, Fan. Bebaslah lu berdua hari ini hehe. Hati-hati CLBK loh sama Fito. Hehe” ucap Mikha, iseng.
                “Ih apa sih Mikha. Kita sekarang cuma temen. Nggak lebih. Kaya nggak tau aja gue sama dia dulunya gimana? Susah-susah nih perasaan ilang. Jangan sampe balik lagi deh,  NYUSAHIN! Hehe” jawab Fani.
                Begitulah Fani, berusaha konsisten dengan apa yang pernah dia putuskan.
                Ketika akan kembali ke sekolah, ternyata hujan turun dengan derasnya. Fani dan teman-teman lainnya menaiki angkot yang telah disewa menuju sekolah. Sesampainya di sekolah, baju Fani basah kuyup. Fito yang melihat hal itu segera mengahmpiri Fani
                “Neng, abis ngojekin payung ya? Basah semua gitu. Hahaha” canda Fito
                “Yee, ni anak nyolot banget. Temen lagi susah malah diketawain. Jahat ya” balas Fani
                “Hahaha peace Fan. Kasian juga ya nih temen gue, kalo masuk angin kan repot tuh nanti ibu lu. Ngga ada yang bantuin masak deh hehe. Nih, pake aja jaket gue” ujar Fito seraya memberikan jaketnya pada Fani.
                “Ah, sok baik lu, Fit. Ngga usah deh,” tolak Fani halus
                “Lu mau masuk angin? Udah deh timbang pake doang aja susah banget kayaknya” paksa Fito
                “Nggak ah, pinjem yang lain aja. Lu kan punya macan, ntar gue digigit kan ngeri banget. Hehehe” jawab Fani sekenanya. Ia merasa tidak enak hati jika harus menerima pinjaman dari Fito. Padahal Fani memang sangat butuh jaket itu.
                “Ngeyel ya. Pake, nggak! Gue nggak tega lihat lu menggigil kaya gini” paksa Fito lagi. Fani yang muali kehabisan akal untuk menolak, menerima pinjaman jaket milik Fito tersebut. “ Nah, gini kan damai Fan.” Ujar Fito
                “Heeh. Makasih ya Fit. Gue pulang dulu ya, pingin mandi, takut masuk angin beneran. Heheh. Dah Fito” Ujar Fani sambil melangkah pulang
                “Hati-hati Fan !”
                ***
                Winda mengetahui perihal Fito yang memninjamkan jaketnya pada Fani. Windapun marah besar, baik kepada Fito, maupun kepada Fani. Winda memang tidak melabrak Fani secara langsung, tetapi ia menyidir lewat statusnya di Facebook.                Mikha yang melihat status Windapun terlibat adu komentar di Facebook. Mikha membela Fani, sedangkan Winda terus-terusan menyalahkan Fani.
                Fito yang menegtahui hal tersebut, berniat untk meluruskan semuanya agar tidak terjadi salah paham. Untuk itu ia mengumpulkan Fani, Winda dan Mikha dalam satu ruangan.
                “Oke, Win. Jadi cuma gara-gara jaket?” Tanya Fito
                “Cuma?! Kamu bilang cuma. Buatku, apapun yang bersangkutan sama Fani. Aku nggak suka!” jawab Winda sambil berteriak. Fani yang tidak enak hati angkat bicara
                “Win, waktu itu gue yang minjem jaket Fito, soalnya nggak ada lagi yang bawa. Bukan Fito kok yang minjemin” Ujar Fani berbohong
                “Loh, Fan..”Ujar Fito
                “Tuh kan, apa gue bilang. Lo itu emang genit Fan. Lo itu udah kalah. Nggak bisa ya ngejauhin cowok orang?” sela Winda
                “Sorry Win, tapi gue ngga ada maksud apapun. Kalo lo emang nggak percaya ya terserah. Tapi gue sama sekali nggak ada niat apapun. Dan satu hal, jangan bahas masa lalu itu lagi.” Suara Fani meninggi. “Oh iya, Fit. Nih jaketnya, makasih”, Fani segera berjalan keluar. Ia tidak suka masa lalunya diungkit-ungkit kembali, apalagi itu tentang perasannya. Ia sengaja berbohong, bukan karena ia ingin melindungi Fito atau membela Fito. Ia hanya tak ingin Fito dan Winda bertengkar.
                Namun, pada kenyataannya. Fito tetap saja bertengkar dengan Winda. Sampai-sampai, kabar terakhir yang Fani terima, mereka putus. Fani tidak terlihat senang ataupun sedih mendengar hal itu. Bagi Fani, itu biasa. Sebiasa perasannya pada Fito.
                1 Bulan sebelum UN,
                Sikap Fani berubah menjadi lebih “perempuan”, tingkah lakunya sudah tidak se-berlebihan dulu, kata-kata yang dia ucapkan benar-benar ia jaga. Semua itu ia dapatkan dari pelajaran hidupnya selama ini. Dimana, kehidupan memberikan banyak pengetahuan. Memberikan banyak pertanda. Dan demi kesuksesannya dimasa depan, dia tahu dia harus berubah.
                1 Minggu sebelum UN,
                Fani sangat siap untuk UN, segala pikiran yang tidak berhubungan ia singkirkan sejenak. Namun ada hal yang masih mengganjal di benaknya, yaitu sms Fito tadi malam.
From : Fito
Fan, 2 bulan setelah ini. Gue tunjukkin kalo gw bisa J
                Apa maksudnya? Fani tidak pernah mempelajari rumus untuk jawaban dari pernyataan itu. Fanipun tidak pernah menceritakan kepada siapapun, termasuk kepada Mikha.
                1 Bulan setelah UN,
                Fani lega, seluruh siswa di Indonesia lega. Ia telah berhasil menyelesaikan UN dengan baik. Fani merasa usahanya tidak sia-sia. Sekarang, tinggal menunggu hasilnya. Saat senggang itulah, Fani mempunyai banyak waktu luang yang ia gunakan untuk mengikuti UTUL UGM di Yogyakarta.
                Fani pergi tanpa pamit, pamit pada Mikha, sahabatnya. Pamit pada Fito juga tentunya. Fani tidak ingin diganggu selama ia ujian di Jogja.
                Mikha dan Fito kelabakan di Bogor. Mereka mencari Fani, namun handphonenya tidak aktif sejak 2 hari yang lalu. Fanipun tidak nampak disekolah. Padahal ada yang ingin Mikha dan Fito sampaikan yang berhubungan dengan perasaan Fito kepada Fani dan juga ingin memberitahukan bahwa Fito mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Australia. Mereka sampai mencari kerumah Fani, namun saat itu rumah Fani dalam keadaan kosong. Mereka tidak mendapat hasil apapun.
                Seminggu kemudian, Fani mucul kembali disekolah. Namun, Fito sudah tidak pernah hadir disekolah semenjak Fani menghilang. Hanya Mikha yang menemui Fani disekolah.
                “Fani, kemana aja neng seminggu tiba-tiba ngilang” Tanya Mikha
                “Emm.. Ada deh. Hehehehe..”jawab Fani, misterius.
                “Wo pelit deh nggak mau ngasihtau gue. Oke yaa, cukup tau” ujar Mikha
                “Hahaha gitu aja ngambek lu Mikh, jelek ah. Nanti kalo udah tepat waktunya, gue kasihtau deh” jawab Fani
                “Kalo udah tepat waktu atau kalau ada Fito? Hehe” canda Mikha. Aku seketika tertawa.
                “Ah apaan sih kan Fito lagi , Fito lagi..”
                “Loh gapapa kan Fan. Udah selesi UN nih, lagian Fito udah putus sama Winda. Lo punya peluang kalo lo mau nyoba lagi” ujar Mikha
                “Hahaha dikirain test SIM apa ada coba lagi?” celoteh Fani. Seujurnya, Fani memang rindu pada Fito. Hanya saja ia gengsi untuk mengakuinya.
                “Serius nih gue.. Dia kelabakan nyariin lu pas lu ilang. Dan sekarang dia ikut-ikut ngilang juga” ujar Mkha
                “Lah elu kenapa bias jadi deket sama Fito?” Tanya Fani
                “Haha, gara-gara elu non. Waktu lu ngilang, kita kerumah lu, tapi kosong. HP ga diaktifin. Jahat banget sih bikin kita khawatir” ujar Mikha.
                “Maaf deh Mikh. Tapi serius deh gue tuh pergi nggak main-main. Tapi kalo mau teu gue pergi kemana, nanti aja kalo udah waktunya. Hehe” Jawab Fani.
                ***
                1 Minggu sebelum wisuda,
                Akhirnya, Fani dan Fito dapat bertemu juga. Meskipun masih satu sekolah, tapi karena jadwal Ujian Parktek dan kesibukan lainnya sangat padat, mereka baru dapat bertemu sekarang.
                “Fani, gue mau ngasihtau sesuatu sama lw..” ujar Fito “ Sebenernya ini udah lama banget gw simpen, dan lw adalah orang ke .. hmm …5 yang tau hal ini”
                “Emang yang pertama sampe ke 4 siapa Fit?” Tanya Fani
“Kedua orang tua gue, Kakak gue, adik gw, dan Mikha” jawab Fito
“Gw juga punya sesuatu buat lw Fit. Baru gue dapet kemaren ..” ujar Fani tak mau kalah
                “Punya lo apa?” Tanya Fito
                “Tukeran aja ya ngasih taunya. Nih buka..” ujar Fani sambil menyodorkan amplop coklat pada Fito, dan Fito menyodorkan map biru pada Fani. Seketika, semuanya terdiam.
                “Fit,  Ausie???” Tanya Fani kaget
                “Heheh, eh selamat ya diterima di UGM” ujar Fito
                “Jawab dulu, apa maksudnya Ausie?!” Tanya Fani lagi
                “Gue.. dapet beasiswa kuliah disana. Minggu depan gue berangkat, Fan” ucap Fito
                “Minggu depan kan wisuda Fit! Terus wisuda lo gimana?” ujar Fani seolah tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
                “Yaa, gue nggak ikut wisuda. Pesawat gue berangkat jam 9 Fan” jawab Fito
                Fani terdiam. Dia ingin memberikan kejutan utnuk Fito, tetapi malah ia yang dikejutkan oleh Fito. “Katanya, lo mau ke Teknik Industri UI , Fit?”
                “Tadinya emang gitu, tapi berhubung beasiswa gue tembus, ya gue lepas yang UI” ujar Fito “Kenapa Fan?”
                “Hemh, enggak enggak. Gue cuma … shock aja Fit”
                “Makanya itu, kita manfaatin waktu yang tersisa sekarang, Fan. Setelah itu, gue di Ausie, lw di Jogja. Jauh banget..”
                “Iya, Fit.. Sebelum akhirnya kita..menyesal..” Ujar Fani, terduduk. Tiba-tiba HP Fito berbunyi. Ternyata itu telfon dari ayah Fito, yang mengatakan bahwa Fito harus mengurus surat-surat untuk kuliah di Ausie. Hari itu harus berakhir disitu.
                6 Hari sebelum wisuda,
                Tadinya, Fito ingin mengantar Fani untuk memilih kebaya yang akan Fani gunakan saat wisuda. Namun lagi-lagi Fito membatalkannya, karena ia harus mengurus paspor.
                5 Hari sebelum wisuda,
                Hari itu bisa saja dia bertemu dengan Fito, hanya saja ia terlebih dulu berjanji akan datang di acara reuni SMP. Mereka gagal bertemu kembali.
                4 Hari sebelum wisuda,
Hujan deras turun seharian.
3 Hari sebelum wisuda,
Fito pergi ke kantor imigrasi. Fito berkata bahwa itu hanya memerlukan waktu 2 jam, nyatanya, seharian penuh.
2 Hari sebelum wisuda,
Karena terlalu lelah, Fito sakit thypus. Sementara Fani harus pergi ke Jogja mengurus surat-surat penting.
1 Hari sebelum wisuda,
Pukul 18.00 Fani baru tiba dirumah setelah pulang dari Jogja.
12 Jam sebelum jam 09.00 pagi

From : Fito
Fan, gue baru ngerti betapa berharganya waktu yang kita punya. Dan betapa banyaknya waktu yang kita sia-siakan selama ini. Andai saja dari dulu gue tau, kalo kita nggak akan punya waktu di saat-saat terakhir ini. Mungkin dulu gue akan menghitung setiap detik yang gue laluin sama lw. Namun, karena terlalu banayk tawa dan tangis disana, gue sampai melupakan detik demi detik itu, sampai akhirnya, tanpa terasa, waktu yang kita miliki sudah habis.
Gue minta maaf kalo gue pernah menyakiti perasaan lw. Gw tau semuanya ngga akan pernah bisa terulang lagi. Di Jogja nanti, jaga diri lo baik-baik ya. Mungkin, nanti ada orang lain yang minjemin jaketnya buat lw, waktu lw lagi kebasahan.
Maaf, gue belum bisa jujur selama ini. Kalau gue .. sayang sama lw ..

***
Fani menangis saat terbangun dan mendapati SMS dari Fito yang berisi seperti itu. Ia menyadari bahwa waktu yang dimilikinya sudah habis, tanpa pernah ia tahu bahwa kesempatannya untuk mengutarakan isi hatinya sudah hilang.
Saat Fani berangkat ke Gedung Serbaguna, Fito menelponnya. Tapi tidak Fani gubris karena Fani yakin ia akan menangis, dan ia tidak ingin make upnya luntur terkena air mata.
Sesampainya di Gedung serbaguna, acar sudah hamper dimulai. Jam menunjukkan pukul 07.00. Fani melihat sekeliling sebelum memutuskan untuk masuk kedalam. Saat ia memastikan tak ada Fito disana, ia melangkah masuk. Namun,
“FANI !” teriak seseorang diujung sana. Fani menoleh. FITO !
Mereka akhirnya bertemu, melepas segala rindu mereka.
“Fan, aku tau ini udah terlambat. Tapi aku mau bilang dari mulutku sendiri, aklo aku sayang kamu ..”
“Aku ngerti, Fit. Aku juga sayang kamu. Tapi .. maaf..”
“Maaf kenapa Fan?”
“Kamu terlambat, Ausie – Jogja bakal jauh banget..”
“Tapi kan teknologi sekarang udah canggih..”
“Aku nggak mau kamu menunggu yang nggak pasti .. Kehidupan kita bakal beda, kamu nggak mungkin nunggu aku terus. Kamu bisa cari seseorang yang lebih baik dari aku disana..”
“Oke, kalo itu mau kamu. Aku terima. Maaf Fan.. aku pergi sekarang. Kamu baik-baik ya di Jogja..”
“Iya Fit..”

***
Akhirnya Fito pergi. Mereka tidak menyimpan hutang perasaan. Walaupun terlambat, namun mereka sudah mengungkapkan. Akhirnya mereka menjalani kehidupan mereka masing-masing, menympan dalam-dalam perasaan mereka, sampai mereka menemukan pasangan sejati mereka. Namun, mereka menyadari satu hal bahwa waktu tidak pernah bisa diulang.

19 Juni 2010

Ketika Petang

ini kisah satu jam di petang hari . saat kukira yang semuanya tak mungkin , ternyata menjadi kenyataan . saat aku pulang kuliah dan hendak menunggu bis yang akan mngantarku pulang di halte seberang kampusku , tiba- tiba kamu lewat didepanku (dengan motor matik merahmu) dan brhenti persis di depanku . sekilas aku terlihat ragu denganmu , lalu kamu membuka kaca helm mu dan berkata .

"maura, mau pulang ya ?"

aku merutuk dalam hati , tapi senang bukan kepalang "iya .. ini juga lagi nunggu bis. kamu kok berhenti disini?"

"kamu mau aku antar pulang ? kelihatannya kamu sudah lama menunggu disini "

aku melirik arloji ditangan kiriku, 17.50 rupanya . awan sore sudah melambaikan tangannya , dan langit hitam sudah mulai berlari-lari dilangit "emm , kita kan beda arah"

"haha itu urusan mudah . aku tinggal mengantarmu pulang , dan aku akan kembali kerumah . beres kan ?"

sebenarnya itu memang urusan mudah saja seperti yang kamu katakan , hanya saja hatiku tak semudah itu menjabarkan segala yang kamu ucapkan barusan. kamu , seseorang yang sering kulihat mondar-mandir di perpustakaan kampus, seseorang yang sering kulihat mengisi acara mentoring di masjid kampus. seseorang yang seharusnya bisa kukagumi dengan mudah, andai saja aku megenal kamu lebih dulu.

tanpa banyak berkata lagi , dan kebetulan aku sudah sangat lelah untuk menunggu bis yang tak kunjung tiba , aku mengiyakan tawaranmu untuk mengantarku pulang. langit makin menghitam , dan saat ini aku sudah berada diatas motor merahmu.

jarak yang kutempuh sekitar 15km , itu terasa sangat lama sekarang. padahal, setiap hari aku selalu melakukan ini. tapi kali ini berbeda.

hembusan angin menerpa wajahku , dingin. terang saja, aku , tanpa helm dan jaket diserbu gelitikan angin yang harus kutahan selama dalam perjalanan. hidungku mulai dingin.

5 menit pertama

"bagaimana kuliahmu?" tanya kamu

aku mungkin terlalu menikmati saat itu, sehingga aku terkejut mendengar kamu bicara "aa..aaapa ?"

"bagaimana kuliahmu?" tanya kamu lagi 

"eh , baik. hanya saja ada beberapa tugas yang membuatku cepat lelah" jawabku

"sebaiknya jangan memaksakan. akan semakin repot jika kamu sakit" ujarmu sambil menatap lurus jalanan di depanmu.

"iya, terima kasih"

ya, itu terlihat sangat kaku untuk ukuran orang yang sudah kenal selama hampir 2 tahun. aku, yang mengenalmu di tahun kedua masa perkuliahan, saat ada ospek mahasiswa baru dan kita menjadi pendamping bersama. awalnya kita sering di jodoh-jodohkan oleh teman seangkatan karena aku pernah meminjam jaketmu saat aku datang ke kampus dengan kondisi basah kuyup kehujanan.
setelah ospek selesai , kita tak meneruskan pertemanan itu , mungkin. karena kita sudah sama-sama sibuk di dunia kita masing-masing. sampai ketika suatu hari , kita dijadikan pendamping ospek lagi ditahun selanjutnya. aku terkejut saat harus bertemu kamu lagi. bayangan ledek-ledekan dari teman seangkatan kembali membayangiku. tapi beruntungnya, mereka mendapatkan bahan ledekan baru, sehingga kami terlupakan oleh mereka.

saat itu, kamu menunjukkan segala kebaikanmu kepadaku. menunjukkan kedewasaan dan kewibawaanmu, yang membuat aku sedikit mencair. oh tidak, bukan hanya sedikit. tapi hampir separuh hatiku yang lebih dahulu terisi Rehan , mulai kamu jejali dengan berbagai kebaikan yang membuat dadaku semakin sesak.

"maura , bagaimana keadaan Rehan ?" tanya kamu

kembali aku gelagapan "rehan .. hm. rehan baik. ada apa ya dil ?"

"tidak ada apa-apa. kulihat, daritadi kau mengerutkan dahi. ada yang kau pikirkan , ra ?" 

pertanyaannya sedikit mengejutkanku. apa iya sedari tadi dia memperhatikanku dari kaca spionnya, sampai dia melihat ada krutan di dahiku ?

"enggak kok dil. aku cuma mikirin, tugas apa yang paling pertama akan aku kaerjakan saat aku sampai di rumah nanti" ujarku , ngeles. aku tak ingin lelaki didepanku ini membongkar semua yang dia lihat dari spion, dan membuatku bingung harus berbohong dengan jawaban seperti apa.

45 menit perjalanan.

aku mulai terbawa dengan alur pembicaraanmu. sesekali aku tertawa , sesekali aku mendekatkan kepalaku pada bagian samping helmn mu, mencoba mendengar dengan jelas setiap perkataanmu. tanpa sadar , kucengkeram jaket abu-abumu saat kamu mengerem mendadak dan kepalaku terbentur helm. aku merasa ada desiran hangat yang mengisi dadaku. tapi saat aku mulai tersadar lagi dan mencoba bernafas , terasa sesak. aku tahu, hati ini terlalu sempit untuk disinggahi dua laki-laki.

2 menit terakhir.

tidak terasa , kami sudah sampai di depan gang rumahku. tinnggal melewati beberapa rumah lagi, dan kami akan sampai. saat melewati rumah bercat oranye , sampailah kami . dan aku kembali melihat arlojiku . 18.50  satu jam tepat aku bersamamu di motor merah itu. membelah jalanan, membelah hatiku , tapi itu terlalu sulit.

"terima kasih ya , fadil" ujarku sambil turun dari motormu. kata-kataku sudah tak sekaku saat aku baru saja naik.

"sama-sama, aku pulang ya maura" kamu menstater motormu dan bergegas meninggalkan aku di depan pagar rumaku itu. aku masuk kedalam rumah dan, segera membuka binder kesayanganku.

satu jam tadi hampir saja merubah segalanya ..
tapi , aku masih ingat kamu , rehan. aku minta maaf , jika saja kamu tau tingkahku tadi .. tapi ..