Tampilkan postingan dengan label 2014. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2014. Tampilkan semua postingan

12 Oktober 2014

Babak Akhir Dua Setengah Bulan

Ada perasaan lega yang bercampur sedikit haru Sabtu (11/10) pagi kemarin. Semua itu karena kegiatan praktik mengajar di salah satu sekolah menengah kejuruan negeri di Kota Yogyakarta yang gue laksanakan sudah mencapai pertemuan terakhir. Sejak bulan Agustus sampai Oktober gue masuk di kelas X MM pada mata pelajaran Pemrograman Web. Soal kegiatan ini sudah pernah gue bahas di post ini.

Kali ini gue mau cerita soal murid-murid yang gue ajar selama dua setengah bulan.

Pertama kali gue ketemu sama mereka adalah saat pelaksanaan MOPDB. Waktu itu gue jadi pendamping kelas bareng sama Tian dan dua orang panitia dari OSIS, mereka itu Yosi sama Lista. Tujuan gue memilih di kelas X MM waktu MOPDB itu adalah supaya gue bisa belajar untuk mengenal mereka sejak awal. Jadi, pas gue ngajar di kelas nanti, paling enggak gue udah tau sedikit lah mereka kayak apa. Walaupun di MOPDB ini masih banyak pura-puranya. Haha. Maklum, mereka kan baru aja ketemu. Emang sih ada beberapa yang berasal dari sekolah yang sama.

Gue inget pas pemilihan pengurus kelas sampai akhirnya Rayhan yang terpilih. Gue inget waktu dia dihukum gara-gara terlambat masuk kelas. Pas di depan, dia cuma nunduk megangin perutnya. Katanya sih sakit perut. Kebetulan waktu itu juga pas bulan Ramadhan. Selama MOPDB berjalan udah cukup kelihatan sih sikap-sikapnya. Misalnya ada yang nanya mulu, ada yang dieeeeeeeeeeem aja, ada yang mencoba untuk kenalan, ada yang mencoba untuk ngelucu, dan ada yang mulai kelihatan calon-calon badungnya. Hihi.

Sampai akhirnya gue masuk kelas untuk pelajaran. Pertemuan pertama, gue masih meraba-raba, sistem seperti apa yang akan gue terapkan untuk mereka. Gue sih pengennya nyantai tapi serius. Anak-anak merhatiin gue ngomong di depan, merespon apa yang gue bicarakan, tekun, dan mau belajar sendiri atas apa yang tidak gue ajarkan. Jadi, materi udah gue persiapkan sebaik-baiknya dari rumah.

Ternyata gue waktu itu cukup salah. Haha. Gue lupa kalau mereka itu baru lulus SMP, yang notabene belum pernah bersinggungan dengan hal absurd macem Pemrograman Web. Pertemuan pertama emang nggak langsung koding sih, alhasil selama empat jam gue nyerocos teori sampe leher gue sakit. Mereka nggak ribut, mereka nurut dan cenderung diem kok. Mungkin guenya aja yang nggak santai. Haha. Udah gitu, bentuk ruangan laboratorium menyebabkan mereka harus duduk membelakangi gue kalau ada materi yang disampaikan melalui proyektor. Sebagai guru, gue kan juga pengen diperhatiin sama murid-murid :3

Pertemuan selanjutnya, dimana ada tugas laporan yang harus dikumpulkan, beberapa anak ada yang nggak ngumpulin. Awalnya gue mengingatkan supaya mereka mengerjakan laporan karena nilainya akan gue masukkan ke daftar nilai. Eh, minggu berikutnya malah tambah banyak yang nggak ngerjain laporan dengan alasan terbanyak adalah: belum diprint.

Kesel? Emm, dikit sih. Mereka mencoba merayu gue supaya bisa ngumpulin belakangan. Tapi maaf beribu maaf, gue nggak kasih toleransi buat yang telat ngumpulin tugas. Mau disusulin pada hari yang sama, tetep nggak gue terima. Pas kejadiannya udah agak parah, guru pembimbing gue mulai bertindak. Gue juga menampilkan daftar nilai mereka yang masih kosong, dan akhirnya mereka minta ada perbaikan.

Oke, gue siapkan soal-soal tes formatif untuk perbaikan nilai tes formatif. Soal yang gue kasih di ujian perbaikan, sama persis dengan soal yang udah pernah gue kasih di jobsheet, dengan harapan nilai mereka bisa terdongkrak naik. Namun kenyataannya, yang bisa terdongkrak cuma sedikit. Kemudian ada lagi perbaikan laporan. Gue memberikan kesempatan untuk mengirimkan ulang laporan yang mereka kerjakan atau yang belum sempat mengumpulkan laporan karena terlambat. Sebagian besar menuntaskannya dalam waktu yang ditentukan. Sebagian kecil lainnya... emm, gitu deh. Hihi.

Tapi dibalik itu semua, mereka adalah anak-anak yang baik menurut gue. Mereka sudah berusaha semampu mereka untuk mengerjakan tugas-tugas yang gue berikan. Sebenernya, tugas-tugas kayak gitu tujuannya supaya mereka mengerti benar tahapan yang harus mereka lalui sebelum pada akhirnya nanti mereka bisa bikin web mereka sendiri. Gue juga sama-sama belajar untuk bikin web. Dulu, waktu semester dua di kampus, gue cuma dapet materi HTML sama PHP secuil doang. Dan seiring dengan berkembangnya zaman, teknologi yang digunakan untuk membuat web juga semakin canggih. 

Sampai akhirnya, kemarin itu pertemuan terakhir. Gue memberikan dua jobsheet yang harus mereka kerjakan karena pertemuan minggu sebelumnya tidak ada, tersebab ada libur Idul Adha. 10 menit sebelum jam selesai, gue mengumpulkan mereka di bagian tengah laboratorium dan menyampaikan sedikit kata perspisahan.

Gue juga meminta mereka menuliskan kesan, pesan, saran, kritik, evaluasi atau curhatan mereka yang nggak sempat mereka sampaikan ke gue selama ini. Gue pengen tau gimana mereka memandang gue sebagai guru yang menemani mereka belajar selama dua setengah bulan kebelakang. Sebagai kenang-kenangan, gue memberikan sebuah bingkisan yang gue harap bisa menjadi cahaya terang buat mereka dalam belajar. Semoga ilmunya akan terus bermanfaat dimana saja mereka berada.

Kemudian, ditutup dengan acara foto bersama..
*Fotonya masih ada di murid gue. Kemaren minta dikirimin lewat whatsapp tapi dia belum ada paketan data katanya. Haha.

Begitu sampai di rumah, gue bacain semua pesan dari mereka. Bacanya sambil cengar cengir gembel gitu. Haha. Sekali sekali, ngakak.. Sekali-sekali bilang "aamiin..". Ada beberapa poin yang sebagian besar mereka tulis di kertas, misalnya gue itu kalau ngajar kurang tegas, jadinya anak-anak suka pada ribut sendiri. Terus ada yang bilang masih kaku, kalau ini mungkin iya, yaaaa maklum ya namanya juga baru pertama. Terus ada juga yang bilang kalau ngasih tugasnya kebanyakan. Bahkan ada yang nulis tidurnya jam 3 pagi gara-gara ngerjain tugas dari gue -_- Sebagian lain bilang kalau diajarin sama gue tuh seru. Bisa serius tapi santai, nggak galak. Sampai ada yang nulis the best teacher gitu. Ada i miss you nya segala. Ada juga yang curhatnya puanjaaaaang banget. Ada juga yang ngedoain cepet wisuda dan jadi guru beneran. AAAAMIIIIIN :)))))

Aaaaah, terharu nih. PPL sejatinya memang pasti akan memberikan kesan dan banyak pembelajaran untuk siapapun yang menjalaninya dengan sebaik mungkin. Ada banyak hal yang bisa dipetik. Sekarang saatnya gue melanjutkan kehidupan gue. Haha. Menyelesaikan laporan dan PDKT sama skripsi. Doakan semuanya lancar yaaaa..

Eiya, sebelum itu, gue mau liburan dulu. Harus. Kudu. Wajib :D

Buat murid-muridku, barangkali ada yang baca..
Ibu berterima kasih sekali sama kalian, karena kalian sudah dengan senang hati menerima ibu menjadi guru kalian. Terima kasih sudah menjadi murid yang baik, penurut dan nggak macem-macem. Terima kasih sudah berusaha menyelesaikan segala tugas yang ibu berikan dengan sebaik-baiknya. Mohon maaf untuk segala sikap dan ucapan yang mungkin kurang berkenan dari ibu ke kalian. Mengajar kalian selama dua setengah bulan membuat ibu mengerti betapa berat tugas yang diemban oleh seorang guru, namun keberadaan murid yang rajin dan tekun adalah obat untuk itu semua. Ibu akan terus belajar, dan ibu harap kalian juga begitu. Teruslah merasa bodoh, agar kalian tetap lapar akan ilmu pengetahuan yang sangat banyak diluar sana.
Belajarlah untuk membagi waktu. Tidak ada tugas yang terlalu banyak selama kalian bisa membagi waktu dan mencicilnya sedikit demi sedikit. Kehidupan sekolah seperti inilah yang sudah kalian pilih, maka, jalanilah dengan sepenuh hati. Ketika kalian ingin menyerah, ingatlah saat pertama kali kalian mengusahakannya. Ingat bahwa ada banyak sekali orang diluar sana yang telah kalian sisihkan demi menempati 32 kursi di kelas X MM. Tetap semangat dimanapun dan kapanpun kalian berada.
Salam,
Bu Hanifah

Waktu Perbaikan Tes Formatif

8 Agustus 2014

Ramadhan dan Lebaran

Selamat sore gaes~

Entah udah berapa lama gue nggak nulis sesuatu di blog ini. Bukan karena nggak ada bahan cerita sihm tapi karena penyakit males nulisnya lagi nongol. Haha. Seinget gue, gue mulai break nulis tuh pas Ramadhan. Berarti udah sebulan lebih ya? Udah banyak banget cerita yang kejadian, mumpung gue lagi dihadapkan pada waktu yang sedang gue coba untuk diluangkan, serta koneksi internet yang memadai.. So, let me tell you about my life! #sokPenting

Ramadhan.
Gue bocor tiga hari. Biasa, cewek. Tapi cerita Ramadhan gue kali ini fokusnya ada dua, KKN dan penyakit. Kok bisa? Ya bisa. Jadi, gue melalui Ramadhan 1435 H dalam kondisi lagi KKN di masyarakat dan sekolah tempat gue PPL. Kalau tahun kemaren gue sibuk dengan Praktik Industri yang jadwalnya udah tetap setiap harinya, tahun ini gue sempet bingung sama pola Ramadhan gue karena beberapa agenda nggak tentu waktunya. Jadinya yaa gitu deh, ada hal yang tidak bisa gue tuntaskan dalam ibadah di bulan Ramadhan. Ih sebenernya bukan alasan sih ya, cuma guenya aja yang nggak bisa bagi waktu. Tapi gue udah berusaha kok, mungkin aja usahanya kurang. 

Selama KKN, gue yakin pasti temen-temen gue mendadak jadi guru TPA. Gue juga soalnya. Pengalaman menghadapi anak-anak kecil yang mau belajar ngaji. Seneng sih karena anak-anaknya lucu, imut, nggemesin. Ada yang cepet nangkep, ada juga yang ngeyel setengah mati. Untuk beberapa anak yang terlalu susah untuk gue ajarin, pasti gue minta salah satu temen KKN gue yang ngajar. Hehe. Jam TPA kan biasanya jam 16.00, nah sebelum jam mulai itu biasanya gue sama temen-temen KKN udah pada stand by gitu di masjid. Biasanya anak-anak udah pada mandi juga dan nyamperin kita sambil ngegodain gitu. Apalagi kalau anak-anaknya udah pada gemes sama kita, sampe dicubitin --"

Selanjutnya, soal penyakit. Adaaaaa aja penyakit yang menyerang gue dan salah satunya sampai sekarang belum sembuh. Seminggu pertama Ramadhan, gue flu parah. Padahal waktu itu harus ngajar TPA. Gue disaranin istirahat sama ibu, nggak usah ngajar gitu katanya. Tapi gue nggak enak kalau belum apa-apa udah izin di tempat KKN. Alhasil gue tetep ngajar dengan hidung sentrap sentrup dan tenggorokan super gatel. Yang lebih parah adalah, temen-temen KKN gue pada nggak bisa buka sama nutup kelas, jadi gue yang disuruh ambil alih padahal buat teriak aja syusah T.T

Pas hari kedua MOPDB di sekolah, gue kena insiden sehabis sholat subuh. Kaki gue kesiram air panas. Seember. Sebelum keburu nanya 'kenapa bisa?' gue bakal cerita. Jadi, waktu itu Jogja lagi dingin buanget yang sampai 19 derajat celcius. Daripada gue nggak mandi-mandi, akhirnya gue minta dibuatin air panas buat mandi. Pas airnya udah panas, gue pindahin ke ember. Pas embernya gue angkat, pegangannya patah dan kaki gue kesiram dengan suksesnya. Reflek gue lari ke kamar mandi dan mengalirkan air keran ke kaki gue dengan paniknya. Waktu itu gue nggak punya persediaan obat luka bakar di rumah, jadinya dibalurin pakai daun binahong sama kecap (ini titahnya simbah putri) sampai om gue beliin Bioplacenton buat kaki. Begitu paniknya hilang, kaki gue mulai memerah dan perih banget bagian dalamnya. Singkat cerita, kaki gue merah, perih dan akhirnya menghitam. Sekarang kulit yang menghitam itu udah ngelupas dan terganti dengan kulit baru. Belum semua sih, jadinya kaki gue kayak uler ganti kulit. Haha.

Selanjutnya, penyakit yang lebih ekstrim. Sebenernya kalau ini penyakit munculnya di tenggorokan, mungkin akan disepelekan, tapi karena ini adanya di bagian vital manusia, gue jadi khawatir juga. Beberapa diantara temen gue di path atau twitter mungkin pernah lihat gue check in di RS. Mata dr. YAP. Iya, mata gue lagi sakit. Mata sebelah kiri gue awalnya merah, perih, ngganjel sampe gue jadi sipit sebelah. Lama kelamaan, daya penglihatan mata kiri gue berkurang drastis. Jadi kayak lensa kamera yang autofokus nya rusak. Ngeblur. Waktu buber di rumah Selfi itu udah lumayan kerasa tapi masih gue abaikan karena gue pikir macem kelilipan biasa gitu. Ternyataaa, pas diperiksain, itu adalah radang kornea. Gile ya, namanya aja serem kek malem minggu buat jomblo. 

Setelah dua minggu pengobatan, Alhamdulillah udah lumayan enak ini matanya. Tapi masih ngeblur gitu. Doain yaaa biar cepet sehat lagi matanya. Ngganggu banget buat lihat tulisan jarak jauh. Buat ngendarain motor juga jadi nggak enak soalnya..

Lebaran.
30 hari Ramadhan kerasa cepet banget, tau-tau udah H-1 lebaran dan ibu bapak udah sampe Jogja. Alhamdulillah, tahun ini masih dikasih lebaran bareng-bareng sama ibu, bapak, Novi, Radit. Lengkap berlima. Asli, kangen bangeeet sama adik gue yang paling kecil, yang sekarang udah nasionalis banget. Gimana enggak, anak bayi belum genap tiga tahun aja kesenengannya lagu Indonesia Raya, Garuda Pancasila, Maju Tak Gentar. Apalagi kalau lihat gambar garuda pancasila, beuh senengnya kayak nilai Proyek Mandiri dapet A. 

Pas lebaran kemarin juga sempet main ke Pantai Sepanjang sama ibu bapak plus Farid. Drama kemacetan jalan raya wonosari, sampai lihat bintang-bintang yang bertaburan kayak ketombe di jalanan Panggang, Bantul. Gue malah lebih keinget sama suasana langitnya daripada pantainya. Bukit bintang kalah deh. Mungkin suatu hari nanti, kalau ada yang baca blog gue bisa membuktikannya sendiri. Sampai sekarang, kalau gue memejamkan mata, gue masih bisa inget gimana angkasa yang gelap itu ditaburi bintang bintang terang, bahkan Farid sempet lihat bintang jatuh dan make a wish tapi banyak banget. Belum lagi 'bintang-bintang' yang bertaburan di tanah alias cahaya lampu dari rumah-rumah warga. Ah, so sweeet :3 #halah

Oiya, pas Ramadhan kemaren gue belajar masak loh. Ahahaha. Udah ada dua resep yang berhasil gue dan Farid hidangkan. Salah satu resepnya udah pernah gue post di blog ini kayaknya. Dikepo cobak :3 Haha...

Begitu ibu bapak pulang ke Bogor, asli sedih bangeeet. Rumah yang biasanya rame jadi sepi, terus gue jadi sesenggukan gitu kalau misalnya inget biasanya ada Radit sama Novi yang nggak pernah bisa diem. Atau kalau pas manja-manjaan sok-sok gelendotan sama ibu bapak gitu. Hehe. Tapi kata ibu, "Kita semua udah punya tugas masing masing..". Iya, ibu bapak disana, gue disini. Sama-sama sedang berjuang dalam tugas masing-masing. Hihi..

Next, semoga sisa waktu KKN PPL gue bisa lancar semuanyaaaa. Entah karena gue udah bosen apa karena belum nemu hal asyik disana, gue jadi bosenan gitu. Pokoknya gue pengen cepet kelar tapi gue dapet banyak ilmu. Haha aneh ya -_-

Belakangan ini, gue bener-bener menemukan arti rumah dan keluarga yang sebenarnya.
Ah elah selama ini gue kemana aja :')

Ehem, ada yang ketinggalan...
Mumpung masih bulan Syawal, gue mau ngucapin taqabalallahu minna waminkum buat semua yang baca blog ini. Mohon maaf lahir batin yaa kalau selama ini gue ada salah, baik perkataan, perbuatan maupun kata-kata yang tertulis dalam blog ini. Semoga kita semua bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi setiap harinya..... :)))

10 Juli 2014

Awalnya Gara-Gara Disuruh

Hari Minggu kemarin adalah hari ke 7 Ramadhan. Hari ke 6 KKN, tapi hari itu gue nggak ada kegiatan di lokasi KKN. Badan masih kerasa remuk karena seminggu kemarin lumayan padat kegiatannya. Dari yang pelepasan dan penerjunan KKN, sampe bantu PPDB di sekolah tempat PPL dari pagi sampe malem. Entar deh kapan-kapan gue cerita soal PPDB di sekolah. Pas minggu itu juga gue mulai merasa ada yang kurang beres sama badan gue. 

Kecapekan + kehujanan + daya tahan tubuh drop = flu.

Tapi hari itu gue udah janjian sama Farid buat nemenin ke bengkel. Aslinya sih dari Sabtu udah diajakin, tapi karena kita KKNnya jauh-jauhan, jadinya baru selesai sore menjelang maghrib dan bengkelnya udah tutup. Ditunda deh sampe minggu. Awalnya Farid bilang jam 9 sampai di rumah gue, tapi kenyataanya jam 11 baru sampai. Haha. Maklum, dia punya tugas negara sebagai seorang adik baik, yang berbakti pada kakaknya.

Begitu sampai di rumah, dia langsung nanyain tas baru. Iya tuh, yang habis beli tas kamera. Duh, pokoknya itu tas ngawe-awe buat diajak jalan-jalan. Tapi ya gimana, kahanan belum memungkinkan selama KKN belum kelar. Nah, setelah puas mbongkar tas, kita menuju bengkel. Bengkel yang dimaksud bukan bengkel perawatan macem Ah*ss gitu ya.. Tapi ini bengkel yang benerin body motornya gitu. Stang motornya Farid bengkok soalnya habis ada accident gitu pas hari kamis malem #pukpuk

Kita berangkat pakai motor sendiri-sendiri ke bengkel. Bengkelnya ada di jalan Magelang daerah sinduadi, selatannya TVRI. Habis naroh motor di bengkel supaya dibenerin, kita ke Dukuh, dengan niat mau istirahat nunggu motor selesai sambil ngerjain laporan PM sama tulisan Farid buat buku yang masih nunggak. Tapi sebelumnya kita balik lagi ke Jalan Gejayan buat beli kabel data HPnya Farid yang udah keok. Skip skip cerita yang bahkan sempet ketemu Bapak Ibuknya Farid + Kahfi di depan MMTC, akhirnya kita beneran sampe di Dukuh.

Di Dukuh, buka laptop, terus dianggurin. Haha. Ngerjain laporan Cuma jadi wacana. Akhirnya dari habis Dzuhur sampai jam 14.30 kita Cuma mainan HP sambil ngobrol. Sebenernya, sempet ada wacana buat ngajakin temen-temen sekelas buber diluar gitu kan, tapi ternyata responnya kurang bagus. Masak kayak gini…



Ngajakinnya begini..

Responnya begini...
 Haha, gagal sudah~

Tiba-tiba Farid memberikan sebuah ide:

"Kita buka disini aja, nanti kamu yang masak.."

What -____- Setelah tatap-mata-gue-dan-bilang-ini-nggak-serius,  Farid tetep bilang serius. Gue bingung mau masak apa, akhirnya diputuskanlah untuk masak ayam goreng mentega. Ini masak buat buka puasa sekaligus bayar utang ke Farid setelah hampir setahun yang lalu gue menjanjikan bakal masakin dia ayam goreng mentega gara-gara kalah taruhan di Wediombo *kemudian flashback *halah. Sebenernya sih, aduuh, masak yaa.. Emm, gue belum pernah mencoba masak ini. Masak yang lain pun. Gue langsung bego kalau urusan dapur. Malah nanya yang harus dibeli apa aja. Belinya dimana. Dia bilang di pasar. Gue bilang entar ngomongnya gimana? Dia malah ketawa. Katanya, ngomong ya tinggal ngomong aja. Duuuh, iya sih, tapi kan.. 

Ah elu peh kebanyakan ngeles *jitak

Akhirnya kita belanja di Indogrosir Jalan Magelang. Berbekal resep dari google, kita macak ibu ibu dan bapak bapak yang mau belanja buat kebutuhan lebaran. Gue baru pertama loh masuk Indogrosir, haha norak bet yak. Pertama, milih ayam. Kita beli ayam potong, bagian paha atas sama paha bawah. Disini, gue sempet parno banget sama tanggal kadaluarsa. Haha, maklum pernah punya pengalaman buruk soal tanggal kadaluarsa. Habis beli ayam, beli jeruk. Harusnya sih jeruk lemon, tapi berhubung mahal jadi kita ganti pake jeruk nipis. Haha. Beli bawang bombay, kecap manis, kecap asin, mentega, minyak goreng, sari kelapa buat bikin minuman, semangka. Total belanjaan Rp. 68.390

Gue: Besok besok kita bakal sering kesini
Farid: Nggak. Besok lagi kalau belanja ke pasar aja
Gue: -_-

Skip ambil motor Farid di bengkel, kita nyampe lagi di Dukuh. Begitu buka pintu, aku langsung bilang simbah "Mbah, aku mau masak buat buka puasa..". Simbah sangat excited. Ya, mungkin dalam hatinya bersyukur, akhirnya cucu perempuannya yang bandel ini mau belajar masak juga. Haha, sebenernya gue juga nggak terlalu yakin nanti akan berhasil. Ya tapi siapa yang tau hasilnya akan seperti apa kalau dicoba saja belum.

Gue heboh. Kayak biasanya. Langsung nyuci ayam sambil terus terusan nanya "ini bener nggak kayak gini?", "ini pakai wadah yang mana? atau "terus habis ini digimanain?". Sementara itu Farid bantuin gue dengan style seperti biasanya, nyantai. Simbah putri seneng banget tau Farid bisa masak. Gue nyuci ayam, Farid ngulek bumbu. Pas motong jeruk nipis, gue salah motong :| Pas motong bawang bombay makanya gue nanya lagi biar nggak salah kayak sebelumnya. Teknik dasar aja nggak ngerti, duuh, untung belajarnya udah mulai dari sekarang. Haha.

Hasil kreasi tangan gue

Di resep sih ayamnya Cuma dibumbuin terus didiemin satu jam. Tapi biar cepet dan bumbunya lebih meresap, serta berasa mantap, akhirnya ayamnya diungkep gitu. Sementara menunggu ayam ready, gue mempersiapkan irisan bawang putih dan bawang bombay buat ditumis. Sebenernya masak ini tuh agak ribet, soalnya setelah ayamnya diungkep, nanti digoreng dulu sampai coklat, baru ditumis pakai mentega. Prosesi menggoreng ayam juga diwarnai pertanyaan dari gue ke Farid, "ini sampe gimana masaknya?". Gue khawatir nggak mateng apa gosong gitu. 

Sementara itu waktu buka tinggal 10 menitan lagi, dan kita belum bikin minumannya. Jadilah Farid bikin minuman yang entah-apa-namanya. Terdiri dari sari kelapa, air, sirup coco pandan dan potongan semangka. Tanpa es. Iya, soalnya gue lagi pilek jadi nggak boleh minum es. Tapi ya bukan gue namanya kalau nggak ngerusuhin kerjaan orang. Walaupun udah dapet jatah kerjaan sendiri-sendiri, gue tetep banyak nanya sama Farid. Haha. Ya gapapa lah ya mumpung masih ada yang bisa ditanya..

Menjelang berbuka, makanan udah siap santap. Dari baunya sih cukup menggoda.. Es buah ala Farid nya pun..

Pas buka, kita nyicipin minumannya dulu. Seger banget deh. Nggak dingin dan nggak terlalu manis, jadi aman buat tenggorokan. Kita ngabisin masing-masing segelas sebelum akhirnya pindah ke ayam goreng mentega. Begitu nyicipin ayamnya, respon Farid yang pertama adalah "Asin banget.. Pengen nikah kali ya?"

Gue nyengir. Lah kan situ pak yang bikin bumbunya :3

Enak sebenernya, yaaa buat ukuran gue yang newbie ini. Nggak bikin selera makan ilang. Tapi ya sebenernya masih banyak kurangnya disana sini. Misalnya bumbunya kurang meresap, jadi pas diluar itu rasanya kuat banget tapi di dagingnya itu agak kurang. Mungkin ngungkepnya kurang lama. Kedua, ladanya kerasa banget. Mungkin kebanyakan, haha. Ketiga, kurang manis sih.. Tapi tuh enak tau, bener deh. Gue pikir awalnya kayak macem semur ayam gitu, tapi beda kok.

Alhamdulillaaaah, seneng banget rasanya bisa masak bareng gini. Dimana-mana, pengalaman pertama emang seru yaaa.. Apalagi hasilnya juga nggak terlalu buruk. Makasih udah dikasih tantangan kayak gini. Soalnya, kalau nggak disuruh gini mungkin gue nggak bakalan tau kapan gue akan memulai. Semoga masakan kedua, ketiga dan seterusnya nanti bisa lebih baik dari yang pertama.

Eh, ini unforgottable banget loh :)))))))

Ayam Goreng Mentega ala Chef Ipeh sama Farid

10 Juni 2014

Gunung Lawu, Mei 2014

Alhamdulillah, tahun ini dikasih kesempatan untuk naik gunung lagi setelah terakhir naik gunung itu bulan Maret 2013 lalu. Alhamdulillah masih ada yang ngajak, dan Alhamdulillah selalu dapet temen baru setiap pendakian. Pendakian Gunung Lawu kali ini gue ditemenin sama empat orang yang luar biasa. Pertama ada Farid. Kedua ada Pras, temennya Farid. Ketiga ada Mas Irega, temennya Farid juga. Terakhir ada Anggi, pacarnya Pras. Waktu itu hari jum'at sore tanggal 1 Mei kita ngumpul dulu di kampus setelah persiapan sana-sini. Gue sempet kerempongan karena persiapan yang cukup mepet. Maklum, berhubung belum punya semua peralatan pendakian, gue masih harus pinjem sana-sini. Hehe.

Jum'at, 1 Mei 2014 | Jam 17.00 rombongan berangkat lewat Solo.
Gue boncengan sama Farid, pakek motor matic. Pras boncengan sama Anggi pake motor matic juga. Mas Irega sendirian, naik motor yang nggak matic. Gue kan nggak ngerti yaa jalan kesananya tuh bakal kayak gimana, tapi kata Farid, motor gue kuat kok sampai sana. Akhirnya gue nurut. 

Gue duduk di boncengan sambil bawa satu tas carrier yang ukurannya 70 liter. Yang bikin nggak enak adalah karena posisi tasnya yang miring ke kanan. Sumpah sumpaaah, itu nggak nyaman banget. Meskipun beberapa kali udah dibenerin, tapi tetep aja miring. 

Begitu mau masuk arah Solo, hujan deres. Kita berhenti dan pakai jas hujan, terus jalan lagi. Sempet ada insiden Mas Irega ilang karena gue kebelet pipis terus Farid sama Pras belok di pom bensin tanpa ngasih tau Mas Irega. Tapi tenang aja, habis itu kita menemukan Mas Irega yang lagi jongkok di pinggir jalan. Selebihnya, perjalanan cukup lancar karena Pras milihin jalan yang nggak lewat kota. Malam itu langitnya masih mendung, dan di daerah mana tuh gue lupa, hujannya deres banget nggak nyantai. Akhirnya berteduh dulu kurang lebih setengah jam sambil istirahat.

Skip nunggu hujan.

Jam 21.30
Setelah keluar dari jalanan pedesaan gitu, kita sampai di daerah Tawangmangu. Ini pertama kalinya gue kesini. Ternyata, jalannya. Aaaaak, gue cuma berharap motor gue nggak mogok. Habisnya nanjak banget jalannya. Alhamdulillah malem itu udah sepi, jadi naik motornya bisa pake teknik zig zag gitu supaya motornya nggak terlalu kasian. Oiya, satu lagi. Disana duingin buanget gaes.

Jam 22.00
Sampai di Provinsi Jawa Timur, tepatnya di Magetan. Ini cuma beberapa km dari perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur sih. Kita jauh-jauh sampai Jawa Timur karena kita mau mulai pendakian dari Pos Cemoro Sewu yang berada di ketinggian 1.878 mdpl. Setelah ke kamar kecil, dan persiapan terakhir kayak pakai masker, sarung tangan, nyiapin senter dan air minum, ternyata kita dibarengin sama rombongan dari Unversitas Muhammadiyah Surakarta yang juga mau naik malem itu. 

Pendakian diawali dengan berdoa, semoga semuanya lancar, semuanya sehat dan tidak kurang suatu apapun sampai turun nanti. Gue jalan sejajar sama Farid. Pas udah beberapa meter lewat dari pos, ternyata rombongan gue belum registrasi. Hadeh. Haha. Akhirnya yang ngurus registrasinya si Pras, kemudian kita jalan lagi.

Basecamp ke Pos 1 didominasi sama tanjakan tapi jalannya landai. OOTD gue waktu itu adalah kaos, celana jeans yang dibalut dengan jas hujan. Iya, jadi pas kita naik itu masih pada pakai jas hujan. Selain antisipasi kalau ditengah jalan hujan lagi, pakai jas hujan itu lebih anget. Berhubung waktu itu tengah malem dan gue nggak nyalain senter yang gue bawa, gue cuma nunduk, memandangi cahaya dari headlamp yang dipake Farid. "Tempo.. tempo..", kata Farid tiap gue mulai agak kecepetan atau kelambatan. Sementara itu, Mas Irega jalan bareng gue sama Farid. Sedangkan Pras sama Anggi belakangan, soalnya ini juga pertama kalinya Anggi naik gunung. Actually, ini juga pertama kalinya gue naik gunung bawa tas carrier sendiri. Pas pendakian pertama itu karena cowoknya banyak, jadi gue bawa tasnya gantian sama Annis. Hehe.

Engap sih, makanya kita sempet break beberapa kali buat minum sambil ngelurusin kaki. Tapi nggak boleh istirahat terlalu lama, soalnya kalau badannya udah dingin lagi, manasinnya susah. Akhirnya pos satu terlewat pada sekitar jam 00.00. Sempet duduk-duduk sebentar sambil gue terheran-heran karena disana berjajar beberapa warung makanan yang udah tutup (soalnya udah malem). Menurut kabar yang gue denger, serta beberapa tulisan yang gue baca, Gunung Lawu memang punya hal yang tidak biasa yang ditawarkan kepada pendaki dengan warung-warungnya. Bahkan, di puncak pun ada warung yang masih aktif.

Dari pos 1 ke pos 2 adalah perjalanan yang sumpah bikin capek. Karena emang jarak pos 1 ke pos 2 adalah yang terjauh meskipun bukan yang paling terjal. Mulai disini tracknya sudah berupa tangga-tangga yang disusun dari batu. Pada jam 02.00 kita akhirnya menyerah dan memutuskan buat ngecamp dulu. Sayangnya, disana susah banget nyari tanah yang bisa dipake buat ngediriin tenda. Akhirnya kita dapet tempat dipinggir tebing. Setelah sukses mendirikan tenda walaupun itu nggak layak dan penyak penyok, akhirnya kita tidur. Pagi-paginya, kita dipaksa bangun karena posisi tidurnya udah bener-bener nggak PW lagi. Iyalah, di dalem tenda itu miring. Udah gitu batu dimana-mana. Hzzz.

Setelah keluar tenda, ternyata kita beneran ada di pinggir tebing. Sambil nunggu sunrise, kita bikin sesuatu yang bisa menghangatkan badan. Yang masak kali itu adalah Farid. Gue ngerusuhin doang. Segelas susu hangat dan sarapan pakai mie instan sudah. Nonton sunrise sudah. 'buang-buang' juga sudah. Ngobrol sambil menikmati keindahan alam sudah. Kita lanjut perjalanan lagi. Eiya, sebelumnya kita beli gorengan dulu ke ibu-ibu yang jualan waktu kita mau lanjut jalan lagi. Si ibu itu ternyata emang jualannya sampai pos 2. Keren-keren.

Kalau ngelihat yang kayak gitu tuh antara kasihan, salut sama heran. Kasihan karena demi mendapatkan penghasilan untuk kecukupan hidup, si ibu sampai harus naik turun gunung yang nggak deket dan nggak gampang. Sambil bawa-bawa barang dagangan. Gue salut karena si ibu itu kuat banget dan ikhlas ngejalanin itu. Di lain sisi, pendaki juga banyak yang diuntungkan dengan kehadiran si ibu. Ya, simbiosis mutualisme lah yaa..

Sabtu, 2 Mei 2014 | Jam 08.30 kita jalan lagi
Pos 2 kelewat. Banyak yang ngecamp disana. Pos 3 kelewat juga. Lanjut jalan ke pos 4 yang ada tangga sekaligus pegangannya ini. Duh, beneran udah nggak sanggup rasanya. Kaki pegel banget sementara tangga nya nggak udah-udah. Yaudah, istirahatnya dibanyakin tapi nggak dilamain. Ternyata pendakian sama mereka itu seru karena ceritanya banyak. Walaupun kadang-kadang nyeleneh -_-

Setelah pos 4, kita mulai bisa lihat pemandangan yang super keren. Jadi tracknya itu semacam kalau kita pergi ke taman bunga gitu gaes. Udah ditata rapi. Sebelah kanan ada lereng-lereng, sebelah kiri ada sabana. Siang menjelang sore itu kabutnya turun. Fokus gue waktu itu terbagi karena tiba-tiba Farid bilang kalau kepalanya sakit dan dadanya sesek. Akhirnya, kita memperlambat jalan dan posisinya jadi kebalik. Anggi sama Pras udah jauh di depan, Mas Irega, terus baru gue sama Farid. Sering break, sering minum dan mencoba untuk memindahkan beberapa barang dari tasnya Farid ke tas gue. 

Jam 15.00
Alhamdulillah sampai di pos 5. Ngebooking tempat ngecamp, ngediriin tenda, habis itu Farid tepar. Kali ini kita dapet spot yang strategis banget. Pinggir tebing tapi masih ada tanah luas, menghadap ke timur. Dijamin besok pagi keluar tenda langsung dapet sunrise. Hehe. Sore itu gue maksa Farid supaya perutnya diisi dan minum obat terus istirahat. Alhamdulillah, malemnya udah seger lagi dan udah semangat banget bikin video timelapse pake kameranya. Duh, padahal sini masih ketir-ketir... Yang bisa gue lakukan adalah tetap memastikan dia nggak kedinginan supaya itu sakitnya nggak kumat lagi. Jadilah gue bikinin susu anget.

Jam 19.00
Sementara Pras sama Farid menghilang karena bikin timelapse, gue Anggi sama mas Irega ngobrol di deket api unggun yang asepnya nggilani banget baunya. Nggak tau tuh mas irega bikin apinya pake apaan -_- Kita cerita-cerita soal kuliah. Kebetulan kita bertiga dari bidang ilmu yang beda. Sekaligus angkatan yang berbeda juga. Anggi dari Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan, Mas Irega dari Kebijakan Pendidikan dan gue dari Pendidikan Teknik Informatika. Mas Irega paling tua diantara kita bertiga. Walaupun begitu, tidak membuat gue untuk tidak ikut-ikutan yang lain untuk membully mas Irega. Maaf ya mas, hehe. Setelah Farid sama Pras balik, kita masuk tenda dan tidur nyampe pagi.

Bisa lihat bintang sekeren ini

Minggu, 3 Mei 2014 | Jam 05.30
Mas Irega bangun paling pertama dan bangunin kita semua. Pas keluar tenda, kita udah bisa nonton sunrise yang Subhanallah keren bingits. Farid langsung stand by sama kameranya. Mas Irega juga udah mulai foto-foto. Anggi juga. Cuma gue nih yang bingung mau mengabadikan semua momen itu pakai apa kecuali pakai mata sama ingatan gue. Gimana enggak, handphone mati karena lowbatt dan nggak ada yang bawa power bank. Ah sedih sedih


Sunrise 3 Mei 2014

Nah, jatah masak pagi itu gue yang ambil alih. Nggak percaya kan? Haha. Biasa aja sih orang cuma masak sarden sama mie instan kok. Tapi ya tapii, menurut pengakuan mereka, masakan gue enak. Maksudnya, meskipun cuma masak mie sama sarden, tapi tuh pas napa, enak. Duh jadi mili~ :3

Salah satu hal yang membuat gue tambah seneng lagi adalah karena Farid udah balik lagi sehat. Habis sarapan, dia ngajak muncak. Puncak tertinggi di Gunung Lawu adalah Hargo Dumilah. Awalnya gue nggak mau karena gue mau persiapan buat turun, takut kakinya pegel. Gue juga awalnya udah bilang sama Anggi nggak mau muncak. Tapi gue dirayu men. Yaudah, gue akhirnya berangkat. Nggak bawa tas, nggak bawa minum. Cuma bawa kameranya Farid aja. Kita muncak bertiga. Gue, Farid sama Mas Irega. 

Perjalanannya cuma setengah jam sih. Tapi ya cukup nanjak dan cukup bikin engap. Nyesel banget nggak bawa minum, cuma bawa permen doang. Sempet ngajak Farid turun lagi, tapi katanya nanggung udah sampai sini. Alhamdulillah tugu 3.265 mdpl dengan bendera merah putih yang berkibar diatasnya udah kelihatan. But, rame bangeeeeet. Udah kayak ada diskonan baju. Emang sih waktu itu lagi ada penmas kayaknya dari salah satu sekolah di Solo. Yaudah, kita nyari spot yang nggak terlalu rame. Kita ke pinggiir agak turun sedikit dan kita bisa lihat Puncak Gunung Merbabu.

Ceritanya selfie di puncak gunung

Langitnya, Subhanallaaaah. Nyesel deh Anggi nggak sampai sini. Hehe. Sejauh mata memandang adanya langit. Biru, biru dan biru. Alhamdulillah bisa sampai di puncak. Setelah melaksanakan 'ritual', kita foto-foto, termasuk foto di tugu 3.265 mdpl. Setelah itu kita turun ke tenda lagi. Oiya, nggak lupa mampir di sendang buat ngebasahin tenggorokan. Di deket sendang juga rame banget yang ngediriin tenda. Sampahnya itu lho. Duh, semoga pada bawa turun sampahnya masing-masing ya...

Jam 09.00
Kita beres-beres, foto-foto sampai batre kameranya Farid habis. Kemudian kita turun. Awalnya, gue bisa lari gaes. Walaupun bawa carrier, gue masih lincah. Pos 4 lewat, pos 3 lewat. Farid juga ngikutin gue. Sementara Pras sama Anggi lagi-lagi belakangan. Begitu habis break di pos 3, gue sama Farid mulai melambat. Mas Irega paling depan.

Pras - Anggi - Gue - Farid - Mas Irega
Sumpah, perjalanan terberat lagi adalah dari pos 2 ke pos 1. Track panjang dengan sisa tenaga. Asli aslii, kalau nggak ada temen yang nyemangatin, gue mungkin udah nyerah. Intensitas istirahat jadi sering banget sementara stok logistik tinggal sedikit. Tujuan kita bukan lagi basecamp, tapi pos satu. Soalnya mau beli teh anget sama gorengan. Hehe. 

Menjelang pos 1, langkah gue udah nggak beraturan lagi. Udah kayak orang patah dengkul. Farid kayaknya nggak tega kalau lihat gue jalan kayak gitu. Tapi ya mau gimana lagi. Itu adalah sisa tenaga yang gue punya. Akhirnya, begitu sampai di pos satu, gue nggletak. Beuh, betisnya keras banget. Pundak juga udah nggak berasa. Punggung basah semua. Sambil break sambil nunggu Pras sama Anggi.

Setelah ngejejelin perut pake gorengan sama teh anget, kita jalan lagi. Tinggal sedikit lagi sampai basecamp. Sabar... Sabaaar... Sepanjang jalan itu kita berlima tetep bercanda. Yang paling sering kena ya kalau nggak gue, Anggi ya mas Irega. Gue juga bisa lihat pemandangan yang nggak bisa gue lihat waktu naik. Kayak pemandangan hamparan sayuran, terus ada berry hutan gitu. Macem-macem. Walaupun langkah gue tinggal satu-satu, tapi keinginan untuk bisa sampai basecamp itu tinggi banget. Iyalaaah, gue pengen segera menyudahi ini.

Jam 16.00
Alhamdulillah sampai basecamp. Gue langsung tepar di rumput. Tapiiii, baru sebentar tiduran, Farid udah ngajak pulang. Oh my... Baiklah, akhirnya kita langsung menempuh kembali jalanan Magetan - Jogja. Sebelum sampai Jogja, kita mampir makan dulu di alun-alun Sukoharjo. Berharap ketemu Aya, tapi ternyata enggak. Makannya di tengah lapangan sambil nonton langit. Tapi, mahal banget men jajan disana

Pas udah jalan lagi, Mas Irega pake ilang lagi. Duh, ternyata dia salah belok dan nggak ngikutin Pras sebagai penujuk jalan. 

Begitu masuk ringroad utara Jogja, gue udah pengen nangis. Udah nggak kuat nahan tas carrier yang menggantung manis di pundak gue. Berat banget. Gue yakin kalau pundak gue pasti udah lecet. Gue cuma pengen segera sampai rumah dan melepas semua beban ini. Iyalah, gue nonstop bawa carrier dong selama Jogja-Magetan-Jogja. Dewooo~

Jam 20.00
Alhamdulillah mendarat dengan cantik di rumah simbah. Asli, gue baru merasakan nikmatnya kursi setelah gue 3 hari nggak ketemu kursi. Setelah beres-beres dan membawa barang seperlunya, Farid pulang ke rumah.

Woh, lumayan panjang juga ya ceritanya. Tahukah kalian gaes, setelah pendakian ke Gunung Lawu itu, kaki gue sakit luar biasa selama seminggu. Jalannya udah kayak robot. Nggak cuma gue. Farid sama Anggi juga. Dan gue menemukan luka lecet di pundak gue yang sudah jelas asalnya darimana. Tapi, terlepas dari semua kesakitan yang gue rasakan, gue seneng banget bisa menginjakkan kaki di puncak Gunung Lawu. Banyak hal yang bisa gue dapatkan dari pendakian itu. 

Terima kasih sudah memberikan gue pengalaman menakjubkan. Kapan-kapan lagi yaaa :)

Semua foto disini, credit by : @MuhammadNFarid

9 Juni 2014

Void() on ArtJog'14

Hanya ingin sedikit menuliskan ulang, sebuah deskripsi hasil seni yang paling bikin gue berdiri cukup lama kemudian tersenyum sendiri.
It's better to cry than to be angry; because anger hurts others, while tears flow silently through the soul and cleanses the heart - Agus Novianto
Tulisan itu bisa kalian temukan kalau kalian menyempatkan diri untuk bertandang ke Taman Budaya Yogyakarta diantara tanggal 7 - 22 Juni 2014. Sebuah pergelaran karya seni yang mengangkat tema Legacies of Power ini lebih banyak menampilkan potret kehidupan masyarakat dalam politik menjelang pemilu 2014. Kelihatan sih sejak pertama kali memarkirkan motor, kita udah bisa lihat sebuah bangunan (mirip) istana kepresidenan dengan berpuluh-puluh karakter yang terbuat dari karung goni, dimana mereka adalah (mirip) para petinggi negara itu.

Semakin ke dalam, semakin banyak hal yang bisa dilihat. Waktu gue kesana, gue nggak mendokumentasikan banyak hal dengan kamera handphone karena, ya, you know. Handphone gue selalu ngeblur dan nggak asik banget buat foto-foto. Alhasil gue mengabadikan beberapa karya dengan kamera analog yang roll filmnya belum habis jadi belum bisa gue tampilkan disini. Nanti, kalau inget akan gue masukin ke postingan ini.

Buat para penikmat seni, silakan datang ke ArtJog'14. Oiya, nggak seperti tahun sebelumnya yang free registration, tahun ini ArtJog'14 mematok tiket masuk dengan harga Rp. 10.000,-. Ya, sebagai sedikit tanda apresiasi kita terhadap karya seni dan demi keberlangsungan acara ini di tahun yang akan datang. #ciyeIklan

Yang jelas, dari sekian banyak hal yang gue temukan disana, hanya kalimat yang gue kutip diataslah yang paling berkesan buat gue. Gue jadi merasa selama ini udah lumayan bener dalam memberikan perasaan gue sebuah ekspresi. Gue nggak bakat marah, gue bersyukur untuk hal itu. Gue berbakat nangis, ya, gue mengakui itu. But I think, being seorang yang gampang nangis is better than being seseorang yang gampang marah #bahasakuLho

Kalian pasti bisa menemukan salah satu hasil karya seni yang bikin kalian termenung kalau udah kesana. Kalau udah nemu, cerita sama gue ya :)

Btw, ini nih bukti kalau gue udah ke ArtJog'14. Udah gaul belum gue?

Kok dua tiketnya? Iya dong :3

 

20 Mei 2014

Outdoor Activity: Microteaching di Gunung Kidul

Microteaching atau pembelajaran mikro adalah salah satu mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa S1 kependidikan di UNY sebagai syarat untuk dapat mengikuti PPL (Praktik Pengalaman Lapangan). Kelas microteaching biasanya terdiri dari 10 sampai 12 orang mahasiswa. Kegiatan selama mata kuliah microteaching adalah bagaimana belajar menjadi seorang guru, mulai dari berlatih berbagai macam keterampilan dalam pembelajaran sampai dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Mata kuliah microteaching memiliki kelas tersendiri yang memang dikhususkan untuk menunjang mata kuliah tersebut. Untuk semester ini, kelas F2 mendapat mata kuliah tersebut pada hari kamis. Namun, sayangnya pada bulan Mei ini terdapat tiga kali tanggal merah pada hari kamis sehingga sudah dapat dipastikan tidak ada pembelajaran mikro sebanyak tiga kali di ruang kelas seperti biasanya. Padahal, untuk memenuhi persyaratan pada mata kuliah microteaching, setiap mahasiswa harus memperagakan microteaching sebanyak enam kali dalam satu semester. 

Deuh pengantarnya berat banget :3
Habis ini dibikin ringan deh..


Berangkat dari latar belakang tersebut, Kamis kemarin (1/5) kelas F2 Pendidikan Teknik Informatika UNY 2011 diajak sama Pak Totok yang merupakan Dosen Pembimbing Akademik kelas F sekaligus Dosen Microteaching kelas F2 untuk mengadakan kegiatan outdoor microteaching di Pantai Nguyahan, Gunung Kidul, Yogyakarta. Kami yang memang mahasiswa seneng dolan ini ya seneng banget diajakin kegiatan di luar. Berhubung waktu untuk bersama (tsaah..) tinggal sebentar lagi, dan mumpung ini bisa dijadikan ajang pergi sekelas yang niatnya bukan Cuma buat main-main doang. Tadinya, ada rencana biar sekalian nginep di rumah Adit, tapi saya sendiri agak nggak setuju. Bukan apa-apa, ada agenda lain yang mesti dikerjakan hari Jum'atnya.

Skip planning. 
Keputusan finalnya adalah outdoor microteaching hanya akan berlangsung selama sehari penuh dan tanpa acara nginep.

Kamis pagi janjian di rumah Rifa jam 06.00. Tapi ternyata baru bisa berangkat jam tujuh lewat beberapa menit dengan formasi Saya-Nika, Guruh-Disma, Rifa-Akhi, Selfi-Rahma, Andry-Hanan, Romafit-Novita menembus jalan Wonosari buat jemput Yos yang nungguin di Pathuk. Sebenernya kepengen sih berani buat ngendarain motor sendiri ke Gunung Kidul. Tapi berdasarkan pengalaman yang udah udah, saya agak trauma sama jalanan di Gunung Kidul yang dihiasi dengan tanjakan dan belokan yang ternyata kurang bersahabat dengan kepala saya. Terakhir ngebela-belain berani sampai Nglanggeran, habis itu kepalanya pusing -_- Emang dasarnya #mbakatNebeng sih. Padahal Nika badannya kecil gitu, tapi dia setrong banget loh. Nika keren beud #semuaOrangHarusTau

Ini dia squad F2 yang ikut :

Entah kenapa pas bagian mau masukin fotonya Rifa, gambarnya blank semua :o

ini Rifa
Waktu itu posisinya saya pake rok. Biar anggun dan bener-bener "nyewek".  Tapi berhubung Cuma nebeng, jadilah saya duduknya melangkah gitu. Motornya Nika kan Mio, terus pijakan kakinya agak tinggi gitu ya. Alhasil kaki saya naik gitu, dan itu rasanya puegel pol. Pas udah mau sampai di Nguyahan, baru deh saya ngeh kalau di motornya Nika ada pijakan yang lebih rendah. Akhirnya kaki saya bisa berpijak dengan lebih manusiawi :3

Sebelum itu, ada kejadian yang bikin Yos sebagai anak Gunung Kidul diragukan keGunung Kidulan-nya. Gimana enggak, kita tinggal beberapa belas kilometer lagi sampai di Pantai Nguyahan, tapi Yos membelokkan rombongan ke arah Panggang. Saya, Nika, Roma dan Novita yang posisinya paling belakang bingung dan nggak ngelanjutin buat ngikutin Yos. Kita berhenti dan tanya sama penduduk disana. Saya kemudian inisiatif telfon Akhi, ya keleus mereka kesasar atau malah udah nyampe di tempatnya.

"Khi, kamu dimana?"
"Nggak tau. Ini ngikutin Yos.. Kamu dimana?"
"Aku di tempat pertigaan tadi.. Kamu mau lewat mana?"
"Kata Yos, kalau lewat sini lebih cepet. Kalau lewat jalan yang itu, nanti ngalang.."
"Emang Yos udah pernah lewat sana?"
"Bentar ya.. Tak tanyain dulu.."

#duhDek,
Nggak lama kemudian,

"Han, kita balik lagi kesana…"

Tuhkan, lumayan kan.. Bensinnya. Hehe. Akhirnya kita lewat jalur yang biasanya dan beberapa belas menit kemudian, kita sampai di Pantai Nguyahan. Dan ternyataaaa, ombaknyaa..

Gede banget dan bikin ngeri.

Sambil menyusuri pantai, kita mencari keberadaan Pak Totok. Tapi hasilnya nihil, alias Pak Totok kayaknya belum dateng. Alhasil kita duduk-duduk di tepi saung sambil narsis-narsisan. Guruh mulai mengeluarkan bakat narsis dan selfienya. Nggak tanggung-tanggung, tak ada tongsis tripodpun jadi. Walaupun setelan kita hari itu bener-bener udah ready for microteaching banget dan nggak ada unsur pikniknya sama sekali, kita mah santai aja.

Nggak beberapa lama, rombongan kedua yang terdiri dari Annis, Adit sama Arend datang. Tebak dong apa yang mereka bawa.. Tak disangka,mereka bawa layangan loh gaes. Ketara banget Adit butuh banget piknik, soalnya dia yang paling semangat buat nerbangin layang-layangnya. Sayangnya, kita semua terlalu heboh ngeliatin Adit main layangan, sampai-sampai nggak ada yang mendokumentasikan salah satu hal yang jarang banget dilihat dari seorang Adit. Tapi, permainan Adit nggak berlangsung lama soalnya pas layangannya udah terbang, tiba-tiba layangannya jatuh ke laut #pukpukAdit

Hasil mainan air

Sekitar jam setengah 10, Pak Totok dateng sama dua anaknya. Begitu beliau dateng, langsung macak piknik dan nyebur ke laut. Awalnya kita Cuma ngeliatin Pak Totok sambil heboh sendiri. Lama-lama, Guruh diceburin. Lebih lama lagi, semua makin anarkis dengan nyeburin yang masih kering satu persatu. Saya udah berprinsip untuk nggak mau nyebur soalnya saya nggak bawa baju ganti. Belajar lagi dari yang udah-udah, waktu itu saya nekat diceburin di Goa Pindul padahal nggak bawa baju ganti. Hasilnya, besoknya saya demam -_- 

Temen-temen kelihatan menikmati banget acara cebur-ceburannya, padahal nggak semua yang ikut nyebur itu bawa salin. Misalnya, Guruh, Nika sama Rahma. Tapi mereka tetep kena diceburin. Kalau kata Pak Totok sih, sayang udah ke pantai tapi nggak basah. Saya juga nggak lepas dari sasaran cebur-ceburan mereka padahal saya nggak ikutan nyeburin siapapun. Begitu Rifa sama Guruh datengin saya, saya udah megangin tangan Selfi soalnya dia juga bilang kalau dia nggak mau nyebur. Ternyata mereka juga anarkis gaes. Tangan saya dipegangin Rifa sama entah siapa lagi, kaki saya dipegangin Guruh sama entah siapa lagi (kayaknya Adit juga). Tapi posisi saya udah kekunci di tangannya Selfi. Semakin kenceng mereka narik, semakin kenceng saya pegangan di tangannya Selfi. 

Awalnya saya udah bilang nggak mau diceburin, tapi mereka tetep keukeuh. Oke, insting perlawanan mulai aktif dan saya udah nggak tau siapa aja yang megangin saya. Selama masih terjangkau oleh mulut, tangan siapapun saya gigit. Dan selama masih terjangkau sama kaki, siapapun saya tendang. Jahat ya? Tapi ya mau gimana lagi. Hehe. Saya juga pengen seneng-seneng, tapi bukan dengan cara seperti itu. Saya berusaha meminimalisir resiko sakit. Hehe. Akhirnya, saya dilepasin dan mereka cari sasaran lain. Rahma sama Selfi juga ditarik dan mereka akhirnya basah. Yang waktu itu nggak basah kuyup kena air laut Cuma saya sama Annis, soalnya Annis baru sakit.

Jam setengah 12 semuanya naik. Pak Totok minta kita semua untuk mandi dan persiapan microteaching. Tapi karena kita berbanyak dan waktu buat mandi dan bersih-bersih ala cewek nggak cukup sebentar, jadilah semua siap untuk microteaching jam 1 siang. Selama menunggu, kita disuguhi Susu Kedelai dan Kripik Pisang dari Pak Totok. Pak Totok juga banyak cerita soal Gunung Kidul. Dari ceritanya, sudah bisa ditebak kalau Pak Totok dulunya juga seneng piknik karena beliau tau perubahan-perubahan di pantai Nguyahan dari jaman dulu sampai sekarang. Apalagi kalau ceritanya sama Adit juga, udah deh itu nggak ada habisnya.

Pas kita semua udah siap microteaching, kita pindah pantai. Yang jadi penunjuk arah kayaknya Adit deh, lupa juga soalnya waktu itu saya ada di bagian belakang. Perjalanannya nggak jauh kok. Lewat ladang gitu. Tapi berhubung itu tengah hari, jadinya panas to the max. Pemandangannya masih hijau dengan berbagai macam pepohonan yang ditanam di ladang. Ini asik banget men. Di Fakultas Teknik, jarang-jarang nemu tempat kayak gini. Karena itu, kita semua selalu ingin mengabadikan setiap momen. Disinilah peran Yos selaku fotografer jadi paling penting (alias jadi sering dipanggil dan terdengar kalimat seperti ini 'Yos, fotokke dong..'). Hehe. 

Setelah lewat lebatnya pohon pandan dan turunan yang cukup terjal, sampailah kita di sebuah pantai kecil yang teduh. Sepi dan cocok banget untuk microteaching. Waktu itu jumlah mahasiswanya ada 16. Untuk menghemat waktu, kami dibagi menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari lima orang. Satu orang sisanya bertugas sebagai videografer atau fotografer. Awalnya saya jadi murid, tapi setelah itu saya tukeran sama Yos soalnya dia mau maju mikro. Berbekal kameranya Rifa, saya kelilingin semua kelompok. 

Di kelompok 2 ada Adit, Disma, Rahma, Guruh sama Andry. Saya kesana waktu Rahma maju. Walaupun di alam terbuka, menurut saya persiapan Rahma mateng banget. Terbukti dia bikin media pembelajaran yang sesuai sama kondisi di lapangan. Dan lagi, penugasannya juga nggak monoton.

Di kelompok 1 ada Hanan, Novita, Romafit, Nika sama Akhi. Waktu itu yang maju adalah Nika. Dia menyampaikan materi tentang teknik pengambilan gambar (kalau nggak salah). Nika juga niat banget gaes. Dia bikin media pembelajarannya mewah banget. Pokoknya Nika wow bingit.

Di kelompok 3 ada Yos, Annis, Selfi, Arend sama Rifa. Disini paling berisik. Yang majunya cukup niat adalah Yos, soalnya dia bawa motherbboard secara fisik sebagai media pembelajarannya.

ini gurunya

ini muridnya

Selesai microteaching, kita foto-foto. Udah lah ini nggak bisa dideskripsikan. Lihat dari fotonya aja :3




Hari menjelang sore dan kita udah cukup capek buat lebih heboh lagi. Kita balik ke tempat parkir. Pak Totok pamit pulang. Andry sama Hanan juga pamit soalnya ada kerjaan yang harus dikerjain sama Andry. Yang masih tersisa di sana kemudian ke pantai yang ada pura nya itu loh. Namanya Ngrenehan bukan sih? Pura itu letaknya ada di atas laut, bagus dan puas kalau mau ngelihat laut sejauh mata memandang. Atau mau menggalau di pinggir pura. Tapi jangan kelamaan ada disana, bisa masuk angin. Kayaknya sih ini baru di rehab gitu bangunannya, soalnya masih baru.



Jam 4 kita pulang. Saya mencoba untuk gantian boncengin Nika, tapi sepertinya Nika cukup khawatir dengan saya. Alhasil Nika mengambil alih kemudi pas nungguin Selfi yang lagi isi bensin. Oiya, habis itu kita mampir makan bakso di Paliyan. Perut udah laper banget karena seharian belum diisi makanan berat. 

Pas lanjut perjalanan pulang, ternyata kita terjebak nostalgia #halah, bukan ding, kita terjebak hujan deres di daerah Wanagama agak kesana dikit. Sebelum deres, hujannya Cuma cimit-cimit gitu. Saya sama Nika Cuma macak mantolan pakai bajunya doang karena kita lihat kendaraan dari arah berlawanan nggak banyak yang pake mantol. Tapi gaes, ternyata hujannya tambah deres. Terus kita berteduh buat pakai bawahannya meskipun nggak match gara-gara saya pakai celanannya Nika dan Nika pakai rok jas hujan saya. Agak ngeri sih jalan pas hujan deres gitu, jadi saya request sama Nika biar nggak usah ngebut bawa motornya. 

Sampai di Rumah Rifa lagi jam 6 lebih beberapa belas menit. Sholat. Lihat foto dan capcus ke tempat lain karena ada urusan lain~

Overall, aktivitas yang sungguh menyenangkan. Mau berucap terima kasih banyak buat Pak Totok yang udah ngajak kita jalan-jalan. Seneng juga bisa seharian ber enam belas sama temen-temen F2. Barangkali ini aktivitas mikro diluar pertama dan terakhir buat saya, soalnya pas mikro di luar yang kedua nanti, saya nggak bisa ikut karena masih di Bogor. Terima kasih ya temen-temen buat enam semesternya. Semoga saya nggak kalian anggap sebagai salah satu teman yang cukup menyebalkan walaupun saya suka lebay. Saya sayang kalian semua. Emuuuuah :*


Postingan Rifa tentang kegiatan ini bisa dibaca di sini


27 April 2014

Transcendence: IPTEK Tanpa IMTAQ

Poster Film TRANSCENDENCE
Waktu gue diajak nonton film 'I,Frankenstein' beberapa bulan yang lalu, ada trailer film yang keren bingits. Di trailer itu, ditampilkan cuplikan film yang berbau fiksi ilmiah gitu. Ada manusia yang bisa dimasukin ke komputer. Ada kekuatan yang bisa bikin barang rusak bisa jadi bener lagi. Berhubung gue kuliah di TI, jadi gue pengen nonton film itu. Emm, alasannya nggak banget ya --" Enggak sih, nggak cuma itu alasannya. Gue pengen nonton karena gue merasa dijanjikan dengan sebuah film yang luar biasa dahsyat dari segi jalan cerita maupun dari segi teknologi yang digunakan. Akhirnya, gue menunggu film itu tayang.

TRANSCENDENCE.

Gue bukan termasuk penikmat film yang nonton film karena 'siapa' nya. Entah itu siapa aktornya, siapa aktrisnya, siapa sutradaranya, siapa penulis skenarionya atau siapapun yang ada di film itu. Ketika gue merasa pengen nonton ya nonton aja. 

Film ini diawali dengan sebuah presentasi yang dilakukan oleh Will Caster (Johny Deep) serta istrinya Evelyn (Rebecca Hall). Keduanya merupakan ilmuwan yang sedang melakukan riset dan pengembangan teknologi Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan yang disebutkan dapat melebihi kecerdasan para pakar dan ahli apabila digabungkan. Artificial Intelligence diharapkan menjadi sebuah solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi dunia saat ini. Kecerdasan buatan tersebut dapat menyembuhkan kanker, menciptakan udara yang bebas polusi serta dapat meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Seorang peserta dalam presentasi tersebut kemudian bertanya, "Jadi, apakah Anda ingin menciptakan Tuhanmu sendiri?".

Dari pertanyaan tersebut, gue kemudian langsung bisa menebak jalan ceritanya akan seperti apa. Ini pasti tentang teknologi yang dikembangkan sedemikian rupa sehingga bisa amat sangat mempermudah manusia dalam hidupnya. Namun disisi lain, gue merasa akan ada yang salah dari pengembangan teknologi tersebut. Tapi karena gue takut sotoy, jadi gue nonton aja lanjutannya.

Selesai melakukan presentasi, Will ditembak oleh seseorang tak dikenal yang ternyata merupakan anggota dari R.I.F.T atau Revolutionary Independence From Technology. Beruntung Will tidak mati ditempat. Akan tetapi setelah menjalani pemeriksaan, Will dihadapkan pada kenyataan bahwa hidupnya hanya bersisa 4 sampai 5 minggu lagi dikarenakan peluru yang digunakan untuk menembaknya telah dilapisi oleh polonium, sebuah racun yang radiasinya dapat mematikan. Mengetahui hal tersebut, Evelyn sangat sedih. Kemudian, ia teringat pada sebuah robot hasil ciptaan Will yang disebut P.I.N.N (Physical Independent Neural Network). P.I.N.N telah memiliki kecerdasan buatan yang sedang dikembangkan tersebut, sehingga ia dapat mendeteksi keberadaan seseorang. Namun, P.I.N.N masih dalam tahap pengembangan. Demi menyelamatkan Will, Evelyn dibantu Max Waters (Paul Bettany) mengambil beberapa core atau inti dari P.I.N.N kemudian secara bertahap mengunggah kesadaran dan memory Will selama sisa hidup yang dimiliki oleh Will.

Ketika Will betul-betul meninggal, kesadaran dan memorynya telah terpindah ke superkomputer. Kemudian Evelyn mencoba untuk berkomunikasi dengan Will, namun tidak berhasil. Setelah diduga gagal, komputer tersebut memberikan sinyal dengan mengeluarkan sebuah kalimat yang berbunyi, "Apakah ada orang disana?". Mengetahui hal tersebut, Evelyn senang bukan main. Tapi sebaliknya, Max meminta Evelyn untuk segera mematikan komputer tersebut karena ia tidak yakin bahwa itu adalah Will. Sayangnya, Evelyn malah mengusir Max keluar dari ruangan itu. Yah,siapa juga yang nggak seneng kalau orang yang dicintai bisa 'hidup' lagi? Setelah beberapa kali berdialog, Will meminta Evelyn untuk menghubungkan ia dengan jaringan internet agar dapat mengakses jaringan internet di seluruh dunia. Cara tersebut dilakukan untuk menjadikan Will abadi.

Max ditangkap R.I.F.T yang berusaha mencegah agar proyek Will tersebut tidak dilanjutkan lagi. Sementara Max ditangkap, Evelyn dibantuk Will sudah berhasil membuat laboraturium bawah tanah serta pembangkit listrik tenaga surya di sebuah kota terpencil bernama Brightwood dalam skala yang sangat besar. Karena sudah tersambung dengan internet, Will dapat mengakses apapun. Bahkan ia dapat memasukkan uang dengan jumlah yang sangat banyak ke rekening Evelyn. Seharusnya, ini sudah jadi tindakan kriminalitas.

Di dalam laboraturium yang sangat canggih itu, Artificial Intelligence yang menjadi ambisi Will dan Evelyn kembali dikembangkan. Will telah berhasil menguji coba teknologi nano kepada tumbuhan yang mati, lalu kepada salah satu pekerja di laboraturium tersebut yang babak belur dihajar preman menjadi sembuh seperti sedia kala hanya dalam waktu yang sangat singkat. Namun, karena ia dapat disembuhkan dengan teknologi nano tersebut, Will dapat masuk ke tubuh orang tersebut selama ia tersambung dengan internet. Mengetahui hal tersebut, banyak orang sakit yang kemudian berobat ke laboraturium Will. Orang yang disembuhkan dengan teknologi nano akan memiliki kekuatan berlipat ganda dibandingkan dengan manusia biasa. Selain dapat menyembuhkan penyakit, Will juga dapat memperbaiki peralatan yang rusak, bahkan dapat menciptakan hujan. Semua itu dikendalikan oleh Will yang ‘hidup’ dalam sebuah komputer.

Pimpinan R.I.F.T menjelaskan alasan ketidaksetujuannya terhadap proyek tersebut padahal dulunya ia adalah salah satu anak buah dari salah satu ilmuwan yang turut mengembangkan proyek Artificial Intelligence tersebut. Ceritanya membuat Max tersadar bahwa apa yang Evelyn lakukan dapat membahayakan manusia. Di lain tempat, Joseph Tagger (Morgan Freeman) yang merupakan teman Will, Evelyn dan Max akhirnya juga menyadari bahwa ada potensi bahaya dalam lab tersebut, sehingga ia memberikan secarik kertas pada Evelyn yang berisi "Run from this place".  Ternyata, selain memberikan pengobatan kepada orang-orang, Will juga membuat tubuhnya sendiri untuk ditempati sehingga nantinya ia tidak lagi hanya hidup di computer. Ketika Evelyn menyadari hal ini, ia mulai merasa ada yang tidak beres. Terlebih ketika Will bahkan mengetahui hal paling pribadi dalam dirinya, yaitu pikiran dan perasaannya.  Will juga meminta supaya Evelyn ‘diunggah’ agar ketika dia mati, diapun dapat abadi seperti Will.

Satu-satunya jalan untuk menghentikan itu semua dimiliki oleh Will, yakni dengan memasukkan virus ke dalam program untuk menghentikan Will. Atas rencana tersebut, Evelyn diajak untuk bekerja sama dengan FBI dan R.I.F.T. Namun sebelum sempat diunggah, Evelyn terkena serpihan senjata dari penyerangan yang dilakukan oleh R.I.F.T. Pada kondisi Evelyn yang sekarat, virus tersebut berhasil diunggah. Dan seiring dengan kematian mereka berdua, mati pula jaringan internet di seluruh dunia.

Di bagian akhir cerita sekaligus awal cerita, Max menjadi narator yang menceritakan bahwa listrik sudah tidak ada lagi. Alat-alat elektronik seakan menjadi sampah yang sudah tidak ada nilainya lagi. Ini termasuk bagian yang tidak gue mengerti kenapa tiba-tiba listrik bisa nggak ada lagi.

Apa yang dilakukan Will sejatinya adalah apa yang dilakukan manusia saat ini. Berlomba-lomba mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang apabila tidak diimbangi dengan keimanan dan ketaqwaan yang tinggi dapat menyebabkan manusia bertindak seolah-olah mereka adalah Tuhan yang bisa melakukan segalanya. Padahal, manusia diciptakan dengan keterbatasan. Meskipun manusia juga diciptakan memiliki akal. Kecenderungan manusia saat ini adalah mengikuti ambisinya tanpa mempedulikan sisi kemanusiaan dari manusia itu sendiri. Mungkin tujuannya memang amat mulia, namun dibalik pengembangan teknologi yang sedemikian pesat dan canggihnya, manusia tidak dapat melepaskan diri terhadap hakikatnya sebagai seorang manusia.

Sebenernya, film ini visioner banget. Tapi setelah gue nonton film ini secara full (yang kerasanya lama banget ini), gue nggak terlalu merasa wow seperti ketika gue nonton trailernya. Ada perasaan 'nanggung' dengan jalan cerita yang disuguhkan dalam film ini. Ekspektasi gue terhadap film ini bisa dibilang terlalu berlebihan, karena pada akhirnya gue merasa di PHP in sama film ini. Huhuhu T.T Teknologi yang bisa bikin Will 'hidup' lagi diceritakan terlalu cepat sampai-sampai gue merasa kayak nonton sulap. Tapi, sisi positifnya adalah melalui film ini, manusia diajak berfikir tentang segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Bijak bijak aja deh dalam mengambil pesan dari sebuah tontonan. Mungkin setelah ini, gue harus banyak nonton film fiksi ilmiah kayak gini lagi. Hehe..

24 April 2014

Kado.

Seiring bertambahnya nominal angka pada usia seseorang, sejatinya seseorang itu sedang merayakan sebuah kehilangan. Ya, kehilangan jatah sisa tinggal di dunia ini. Momen ini biasanya disebut dengan ulang tahun. Perayaan perulangan tanggal dan bulan yang sama, namun dengan tahun yang berbeda. Sebuah prosesi yang lebih sering dilakukan dengan tiup lilin dan potong kue serta bertaburan kado dan ucapan. Intinya, bisa jadi ada banyak hal yang seseorang terima di hari bahagianya itu.

Lima hari yang lalu gue menjadi seseorang yang mengulang tanggal 20 April ke dua puluh satu (tulisannya sengaja nggak dibikin angka biar nggak ketara tua banget, hehe). Ada beberapa hal yang berkesan, bahkan kesannya nggak cuma pas tanggal 20 aja. Sebelum dan sesudahnya juga berkesan banget buat gue. Ulang tahun gue kali ini, sengaja gue nggak punya banyak wish. Tetep ada sih, tapi nggak banyak. Nggak kayak taun kemaren dimana gue punya "Twenty things that I should have do on twenty" yang sampai di hari terakhir usia dua puluh tahun pun nggak bisa gue lakukan semuanya. Salah satunya adalah, jadi asdos :|

Tapi kali ini gue bukan mau bicarain soal wish gue yang nggak terkabul dari list yang udah gue bikin. Gue tetep bersyukur kok walaupun banyak list yang nggak kecoret, karena gue menyadari bahwa apa yang Tuhan berikan buat gue nggak hanya sekedar apa yang ada di list gue. Melainkan buanyak, buanyak buangeeeeet :')

Tanggal dua puluh kemarin adalah hari minggu, hari dimana gue nggak punya aktivitas kuliah. Malamnya, selepas jam 00.00, Fiani adalah orang yang pertama ngucapin selamat ulang tahun via sms. Gue jadi inget dua tahun yang lalu, ketika Fiani menggunakan metode missed call sebanyak umur gue untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Sebenernya ada yang lebih dulu, tapi sayangnya gue terlalu ngantuk untuk mengangkat telfonnya di jam 00.09, jadinya gue baru ngangkat telfon ketika dia telfon lagi jam 00.47 :3 Paginya, gue main sama adik sepupu gue. Jarang banget gue bisa main sama dia kayak gitu, soalnya gue jarang ada di rumah simbah pas dia lagi main ke rumah simbah. Agak siang dikit, gue diajak makan siang di tempat makan sama tante gue. Disana, gue dapet telfon dari ibu yang ternyata juga lagi jalan-jalan sama bapak dan adek-adek (bikin sirik aja :'' ) dan tanpa dikomando mereka yang ditelfon dan keluarga gue yang lagi satu posisi sama gue waktu itu nyanyiin lagu selamat ulang tahun. Tanpa kue, tanpa lilin. Tapi gue yakin cinta mereka semua buat gue jauh lebih manis daripada kue tart, dan jauh lebih terang daripada sebuah cahaya lilin.

1:27 | Ibuk

Selepas Dzuhur, gue menuju bagian barat Yogyakarta karena ada sesuatu hal yang harus dikerjakan. Sampai sana ya biasa aja, nggak terus dikasih surprise kue ulang tahun pakai lilin atau tiba-tiba ada bungkusan kado segede alaihum gambreng yang dikasih pita warna pink. Gue juga nggak berharap itu. Gue cuma berharap sama seseorang yang mengundang gue kesana. Supaya, supayaaa.... Emm, rahasia :))) Gue tau dia sedang terburu-buru. Gue tau dia banyak yang nyariin karena sebenernya hari itu juga bertepatan dengan hari ulang tahun 'tempat-dia-nyari-ilmu'. Makanya itu, gue nggak mau ngabisin waktu. Begitu gue tau apa yang harus gue lakukan, gue langsung kerjain. Yaa, meskipun di awal sempet grogi dan sering salah, tapi Alhamdulillah kerjaannya bisa (nyaris) selesai.

Berhubung baru nyaris selesai dan sudah ada aktivitas lain yang harus dikerjakan di kampus, akhirnya gue diajak ke kampus dan menyelesaikan semuanya disana. Gue sih duduk anteng di depan laptop sambil sesekali ngobrol sama adek tingkat yang baru break evaluasi acara semnas himpunan. Tapi dia, gue hitung ada kali 10 kali naik turun tangga di gedung tempat acaranya berlangsung cuma buat memastikan bahwa semuanya lancar. Semoga itu bisa mengurangi volume perut yang kayaknya udah mulai endut itu yak :D

Jam 21.00 gue pulang ke rumah dengan niat langsung ngerjain tugas kuliah buat hari seninnya. Tapi begitu sampai rumah, gue mendapati bahwa kuliah besok kosong. Akhirnya gue ngerjainnya belum selesai semuanya dan udah gue tinggal tidur karena gue ngantuk. Pas gue bangun, udah hari Kartini. Jadi, ya tanggal dua puluh gue adalah seperti itu. Gue berusaha untuk tidak terlalu menganggap spesial hari itu, dan berusaha menjalani hari itu seperti hari-hari yang lain. Perbedaannya terletak pada usia gue yang udah nggak dua puluh lagi :)

Kemarin, waktu Farid ngajak ke Toga Mas dan pas lagi ada di deretan sketchbook, dia nanya gini, 
"Kamu udah nggak pernah nulis sama nggambar lagi ya?"
"Aku lagi nggak pengen. Nanti kalau aku pengen, aku pasti nulis sama nggambar lagi.."

Terus, gue nyadar. Keinginan gue nulis atau nggambar itu bisa muncul karena banyak hal, dan salah satu hal yang gue sadarin adalah gue nggak nulis dan nggak nggambar belakangan ini karena nggak ada yang nyuruh gue nulis sama nggambar lagi. Ehm, ringkasnya gini. Gue nggak pengen nulis sama nggambar karena nggak ada yang 'nyuruh' gue ngelakuin itu. Mungkin gue lagi ada dalam fase jadi seorang penulis yang nggak punya pembaca, atau seniman yang nggak punya penggemar yang menikmati hasil karyanya. Dan ketika Farid nanyain hal itu, gue kayak yang, "Ada yang nungguin tulisan gue ternyata.. Ada yang pengen lihat gue nggambar lagi ternyata". Saat itulah, keinginan gue muncul. Sebenernya, gue bukan kehabisan ide buat nulis atau nggambar, tapi gue kehilangan semangat untuk merealisasikan itu semua. Jadi, malam ini gue mulai menulis lagi. Besok gue akan coba menggambar lagi :)

Hari ini, lima hari setelah hari ulang tahun gue, gue baru merasa "Apakah ini benar-benar kado?"

Farid pernah ngasih gue Daily Journal hasil promo temen sekelas gitu buat gue. Dia pernah bilang bakal ngisi buku itu pakai tulisannya. Setelah sebulan lebih, hal itu baru terealisasi tadi siang. Ditengah dia ngerjain tugas statistika, dia mencoret-coret halaman pertama buku gue. Gue berusaha menerka apa yang akan dia tulis. Sesekali gue tengok dia nulis, terus pas gue lihat kok ternyata dia nulisnya banyak yak :| Sampai dia mengakhiri tulisannya ketika dia sudah berhasil menulis satu halaman penuh. Itu adalah tulisan terpanjang yang pernah Farid tulis untuk gue.

Dan begitu gue baca..

Nggak akan gue ceritakan disini. Yang jelas, gue nggak pernah menyangka gue membaca tulisan seperti itu. Seandainya itu bukan di kelas, mungkin gue nggak bakalan maksa diri gue buat nahan supaya air mata gue nggak keluar. Gue terkejut, terharu dan ah gue merasa bahwa pengalaman gue menulis selama ini nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan cara pikir sama cara nulisnya. Gue nggak bisa berkata-kata selain berterima kasih dan berharap semoga Tuhan memberikan semua kesempatan itu :) Selebihnya, gue akan simpan itu di dalam bukunya.

Selepas rapat PPL sore ini, Rahma mendekati gue dan memberikan sebuah bingkisan berbalut kertas kado berwarna biru muda dengan origami burung di atasnya. Sebenernya gue udah tau apa isinya, karena beberapa hari sebelum gue ulang tahun, Akhi tanya ke gue, gue minta hadiah apa untuk ulang tahun. Gue minta ini...

ini apa hayo?

Gue nggak tau kenapa harus itu. Gue hanya merasa yakin bahwa itu akan menjadi sesuatu yang melekat pada diri gue. Entahlah, gue cuma pengen itu. Barangkali, itu juga bisa gue bawa ke suatu tempat dimana gue mempersiapkan diri untuk menghabiskan sisa hidup gue bersama seseorang nanti :)

Pengulangan tahun ke dua puluh satu kali ini juga membuka pemikiran gue bahwa ada banyak hal yang harus gue persiapkan untuk kehidupan gue mendatang. Akhir-akhir ini lagi sering banget denger soal parenting, soal nikah, soal anak kecil. Hehe. Enggak, gue nggak nikah besok pagi kok. Gue dan dia masih dalam langkah awal mempersiapkan banyak hal. Gue cuma berharap semoga Allah selalu meridhoi setiap langkah gue. Semoga gue juga semakin bijak dan dewasa dalam bersikap dan berucap. Bisa membahagiakan orang-orang yang gue sayang, dan menyayangi gue. Termasuk membahagiakan diri gue sendiri.

Sekali lagi, selamat mengulang tanggal dua puluh april yangke dua puluh satu :)