Tampilkan postingan dengan label 2015. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2015. Tampilkan semua postingan

12 Agustus 2015

Akhirnya Nonton Surga yang Tak Dirindukan

It's been a long day after my last post here.

Kali ini gue mau sedikit menceritakan kembali soal sebuah film yang baru aja gue lihat kemaren sore. Sebuah film yang bikin penasaran karena gue follow penulis ceritanya di Twitter dan dia gencar banget promo sambil ngeretweetin testimoni orang-orang yang udah nonton filmnya. Setelah hampir pesimis nggak bisa nonton di bioskop karena nggak ada temen, akhirnya kemaren berangkatlah gue dengan modus nemenin sahabat yang baru galau-karena-cinta. Haha.

Ini lho filmnya :3

Poster Film Surga yang Tak Dirindukan taken from here
Kenapa gue kepengen banget nonton film ini? Emm, pengen lihat debutnya Laudya Chintya Bella di dunia akting setelah berhijab, ditambah ada Fedi Nuril yang setiap gue lihat di film tu ekspresinya total abis, terus mau lihat Raline Shah yang terakhir gue lihat di film 5cm. Dari awal gue udah tau film ini isinya tentang poligami. Dan yang bikin makin pengen nonton adalah karena gue ingin menjawab pertanyaan dari dalam diri gue sendiri, bagaimana kisah poligami yang ada di film ini, serta bagaimana tokoh dalam film ini menyikapi dan menyelesaikan konflik yang terjadi. 

Setelah diuber-uber waktu yang mepet karena cuma ada waktu kurang dari 45 menit buat makan dan naik-turun-naik lagi ke lantai paling bawah dan lantai paling atas, akhirnya kami bisa duduk manis di studio 3 row D seat 12 dan 13.

***
Kesan pertama saat masuk studio adalah bertanya-tanya kenapa isi studio hampir sebagian besar berisi mbak-mbak berusia semuran gue. Ya, mungkin mereka penasarannya sama kayak gue. Haha. Meskipun gue juga lihat ada beberapa mas mas yang ikutan nonton, sendirian pula. Tapi yasudahlah yaa mari kita mulai menikmati film sambil Akhi di sebelahku udah nyiapin tisu buat jaga-jaga kalau air mata tak dapat terbendung lagi.

Oiya, satu hal lagi. Gue udah tau juga kalau lokasi syuting film ini full di Jogja. Darimana taunyaa? Karena gue follow instagramnya Zaskia Adya Mecca yang juga turut serta main di film ini. Zaskia pernah update waktu lagi syuting di Jogja. Kalau nggak salah, suaminya Zaskia (Hanung Bramantyo) jadi co-produser di film ini. 

***
Cerita diawali dari pencarian sebuah mushola di daerah Bantul, yang pada akhirnya mempertemukan Pras (Fedi Nuril) dan Arini (Laudya Chintya Bella). Arini adalah seorang guru yang sering bercerita tentang dongeng Madaniah. Pertemuan pertama itu akhirnya menjadi jalan bagi mereka menuju ke pernikahan yang dikaruniai seorang anak perempuan bernama Nadia. Pernikahan mereka begitu indah karena diisi dengan kasih sayang serta kesetiaan dari Pras untuk Arini.

Suatu hari saat Pras ingin mengecek pembangunan jembatan di daerah Kulonprogo, ia menjumpai ada mobil yang masuk jurang. Setelah dicek, langsung saja Pras membawa korban tersebut ke rumah sakit. Ternyata, seseorang yang ditolong Pras itu sedang mengandung dan dokter harus segera melakukan operasi sesar untuk menyelamatkan keduanya. Tidak sempat mengabari Arini karena baterai handphonenya habis, Pras tetap berada di rumah sakit untuk menunggu orang yang ditolongnya tersebut. Alhamdulillah ibu dan bayinya selamat, kemudian Pras memberi nama bayi tersebut Akbar Muhammad. Saat itulah Pras mengenal Mei Rose (Raline Shah), perempuan yang ditolongnya itu.

Celaka, Mei Rose tidak ada di kamar saat Pras mencoba mengecek. Ternyata, Mei Rose berusaha melakukan percobaan bunuh diri kedua kalinya dengan melompat dari ketinggian 19,5 meter tepatnya dari bagian atap rumah sakit. Dia depresi. Sebelumnya, Pras sempat melihat video yang terdapat dalam handphone milik Mei Rose yang berisi cerita tentang bagaimana ayahnya pergi meninggalkan ia dan ibunya saat ia berulang tahun ke 12, kemudian ibunya meninggal karena bunuh diri. Ditambah lagi ia ditinggalkan oleh orang yang berjanji akan menikahinya padahal kandungannya sudah membesar. Kurang lebih sama dengan yang pernah dialami Pras saat ia masih kecil, dimana ibunya juga meninggal bunuh diri dihadapannya sendiri, sehingga sedikit banyak Pras juga paham apa yang dirasakan oleh Mei Rose.

Saat Mei Rose melompat, beruntung tangan Pras sempat menggapainya. Sehingga ada adegan dimana Mei Rose bergelantungan di tangan Pras. Mei Rose meminta agar Pras melepaskan tangannya, namun Pras tetap bersikukuh menahannya, karena dia tidak ingin Akbar tidak memiliki siapa-siapa lagi. Pras tidak ingin sejarah terulang kembali dengan orang yang berbeda. Ditengah kondisi seperti itu, akhirnya Pras membuat keputusan untuk menikahi Mei Rose saat itu juga. Akhirnya, Mei Rose mau diangkat dan malam itu juga, Pras menikahi Mei Rose. Kedua sahabat Pras yakni Amran (Kemal Pahlevi) dan Hartono (Tanta Ginting), datang ke rumah sakit saat Pras selesai mengucapkan ijab qabul. Disitulah awal kerumitan cerita dimulai.

Merasa bersalah pada Arini, Pras menyusul Arini dan Nadia ke Muntilan, rumah kedua orang tua Arini. Di perjalanan, Pras mendapat telfon dari Arini yang suaranya terdengar sesenggukan. Ternyata ketika Pras sampai di rumah, ayah Arini sudah meninggal dunia. Saat berduka itu, datanglah seorang perempuan beserta anaknya. Yang ternyata merupakan istri kedua ayahnya yang selama 15 tahun telah melakukan poligami dan diketahui oleh ibunya, namun ibunya menutupi semuanya dari Arini. Arini sedih dan kecewa mengetahui ayahnya melakukan poligami. Dia kemudian mempertanyakan kesetiaan Pras terhadap dirinya, tanpa dia tahu bahwa saat itu Pras pun telah menikahi seorang perempuan tanpa sepengetahuannya.

Mei Rose sudah mulai stabil, dia juga sudah bertanya pada Pras tentang kapan Pras akan memberitahu Arini. Pras hanya menjawab "Belum saatnya..". Mei Rose juga sudah siap dengan segala konsekuensi apabilan suatu hari nanti Arini tahu perihal pernikahan mereka. Dan, pada akhirnya, lewat sebuah surat yang ditemukan di saku celana Pras, Arini mengetahui sendiri bahwa Pras sudah memiliki istri lainnya. Sungguh, hati perempuan mana yang tidak hancur mengetahui bahwa dirinya harus berbagi suami dengan perempuan lain? Jelas, Arini marah. Arini kecewa. Kekecewaannya itu ditumpahkan di rumah saat Pras sudah mengetahui bahwa Arini sudah tahu perihal pernikahannya dengan Mei Rose. Pras berusaha menjelaskan, sementara Arini berkata bahwa semakin Pras berusaha menjelaskan, semakin sakit hati Arini. Arini ingin pergi dari rumah itu, tapi Pras mengalah.

"Aku yang salah, aku yang harus pergi..", katanya.

Ditengah kegalauan hati Arini, Pras, dan Mei Rose, selalu ada Allah diantara ketiganya. Meskipun Mei Rose baru saja memeluk islam saat akan dinikahi Pras, tapi dia berusaha menjadi muslimah yang baik. Dia juga paham tentang posisinya saat itu. Sebagai seorang wanita, ia juga tahu bahwa ia sedang membangun dongengnya di atas air mata perempuan lain. Satu adegan yang membuat terharu adalah saat Nadia dijemput oleh Arini di sekolah, kemudian mereka bertemu Pras. Arini yang waktu itu masih marah, tidak berkata apapun pada Pras. Nadia yang tidak mengerti otomatis mempertanyakan mengapa kedua orang tuanya diam saja saat bertemu, disitu Pras menangis. Saat Pras pulang ke rumah Mei Rose pun, yang paling pertama dicari adalah Akbar. Tidak pernah sekalipun Pras datang khusus untuk mencari Mei Rose. Saat ia bertengkar hebat dengan Arini pun, Pras mencari Allah, bukan berlari pada Mei Rose.

Arini yang pada awalnya tidak bisa menerima pernikahan Pras dengan Mei Rose akhirnya mulai belajar untuk menerima dan mengikhlaskan bahwa surga yang ia bangun bersama Pras tidak akan berakhir bahagia. Surga yang selama ini ia bangun bukan lagi surga yang ia rindukan. Arini belajar banyak hal dari ibunya tentang bagaimana bersikap, ia belajar banyak karena ibunya juga pernah merasakan apa yang dia rasakan saat itu. Ibunya hanya berkata bahwa dia ikhlas, dia hanya ingin melihat anak-anaknya tak kurang suatu apapun. Arini kemudian mulai membuka hati untuk menerima Mei Rose. Karena lebih dulu memiliki anak, Arini sedikit banyak membantu Mei Rose dalam mengurus bayinya. Pras juga berusaha memenuhi janji yang ia ucapkan pada Nadia, yaitu datang di acara pentas tahunan yang diselenggarakan di sekolah Nadia.

Suatu hari, ditengah malam dan hujan yang deras, Pras melihat ada seorang perempuan yang berteriak karena hampir diperkosa oleh seorang laki-laki. Naluri Pras kemudian membuatnya bergerak untuk menolong perempuan tersebut. Perempuan tersebut berhasil lari, namun Pras tertahan dan dipukuli oleh orang-orang jahat yang ternyata bersembunyi, kemudian ia ditusuk di bagian perut. Beuntung Pras masih selamat. Mei Rose menunggui Pras di rumah sakit. Namun dalam ketidaksadarannya, nama Arini yang Pras sebut. Saat Arini datangpun, kemudian Mei Rose beranjak pergi meninggalkan mereka berdua. 

"Arini..."
"Iya mas, iya, ini Arini. Mas yang kuat ya..."

Beberapa hari dirawat di rumah sakit, Arini pergi ke rumah Mei Rose. Ia mengajak Mei Rose menjenguk Pras di rumah sakit. Di sana berkumpul semua orang terdekat Arini. Mulai dari Nadia, ibunya, kedua sahabat Arini, Amran dan Hartono. Agak kaget saat melihat Arini masuk bersama dengan Mei Rose. Namun Arini berusaha untuk mencairkan suasana dengan memperkenalkan Mei Rose pada orang-orang yang ada di ruangan itu. Saat Nadia bertanya tentang siapa Mei Rose, Arini memperkenalkan bahwa mulai hari itu, Mei Rose menjadi adiknya. Dan Nadia juga memiliki adik laki-laki bernama Akbar.

Setelah Pras pulih dari luka yang dialaminya, Mei Rose bersama Akbar mengunjungi rumah Pras. Pras terlihat sangat canggung saat kedua istrinya berada dalam satu meja makan yang sama. Arini melayani Pras dan Mei Rose dengan sangat baik, bahkan mengiyakan permintaan Nadia yang meminta agar Mei Rose menginap di rumahnya. 

Keesokan harinya saat Arini akan mengajak Mei Rose untuk sholat subuh berjamaah, ternyata Mei Rose tidak ada di kamarnya. Hanya ada Akbar dan handphonenya di sana. Arini lantas membuka handphone Mei Rose dan menemukan sebuah video yang berisi ucapan perpisahan dan pesan agar Pras dan Arini menjaga Akbar sampai ia dewasa. Arini panik dan segera memberitahukan hal itu pada Pras. Mereka berdua kemudian bergegas mencari Mei Rose, khawatir dengan kemungkinan terburuk. Sesampainya di rumah Mei Rose, mbok yang menemani Mei Rose berkata bahwa Mei Rose baru saja pergi ke stasiun.

Arini dan Pras akhirnya mengejar Mei Rose sampai stasiun. Setelah mencari di berbagai tempat, akhirnya Pras menemukan Mei Rose di salah satu gerbong kereta. Pras kemudian menarik Mei Rose keluar. Pras bersikukuh menahan Mei Rose, tapi Mei Rose sudah bertekad bulat untuk pergi ke Jakarta, menyusul ayahnya yang lumpuh di Jakarta.

Pras: "Arini sudah ikhlas..."
Mei Rose: "Tidak ada yang benar-benar ikhlas berbagi, yang ada kita cuma sama-sama berkorban..."

Dan di akhir cerita, Arini memeluk Mei Rose yang akan pergi. Merekapun berpamitan dan kereta yang ditumpangi Mei Rose makin menjauh ke arah barat.

***
So, begitulah kira-kira ceritanya. Gue merasakan sedih yang tidak klimaks di film ini, nggak seperti ekspektasi gue sebelumnya dimana kalau mau nonton film ini gue harus siap-siap tisu dan siap-siap jadi jelek pas keluar dari studio gara-gara nangis kejer. Ternyata air mata itu hanya setetes saja mengalir, masih banyakan air mata gue yang keluar kalau pas gue ngantuk :3 Mungkin itu bisa jadi karena gue kebanyakan salah fokus di film, sok nebak-nebak, dan baru mau nangis udah ketawa gara-gara part humornya. 

Bayangin aja, waktu Pras sama Arini ijab qabul. Gue malah merhatiin jerawat di jidatnya Fedi Nuril. Kan wagu. Terus pas ada shoot di ultahnya Nadia, gue sibuk merhatiin Sybil (Anaknya Zaskia Adya Mecca) yang ikut main film itu ternyata. Aku ngefans sama kamu lho, dek. Hehe. Adegan humornya juga banyak, apalagi Amran sama Hartono. Yang satu pro-poligami, yang satu anti poligami. Sampai bawa surat An-Nisa di angkringan.

Buat pengambilan gambarnya... Jogja dibikin jadi keren banget men! Apalagi ada beberapa shoot yang pakai drone. Wuuuh, fly over Jombor aja jadi keren banget. Ditambah ada Panggung Krapyak, Rumah Sakit JIH, Plengkung Gading, Apotik Gadjah Mada, Bunderan UGM, Stasiun Tugu, Pantai Goa Cemara. Sayang, nggak ada stadion UNY. Ahahaha :3 Di film ini, Jogja juga kelihatan jadi sepiiiii banget. Keren banget. Cuma sebagai orang yang ngerti lokasinya, waktu ada kecelakaan di daerah Kulonprogo kok dibawanya ke JIH ya? Kan ada rumah sakit yang lebih deket. Ahahaa. Namanya juga film.

Akhi yang lagi galau, duduk disebelah kananku sambil sesenggukan. Sesekali idungnya terdengar sentrap-sentrup. Haha.

Terus, Peh. Pertanyaannya udah kejawab belum?
Oiya, emm, at least, hidup ini berjalan diatas takdir yang sudah Allah gariskan atas pilihan-pilihan yang kita ambil. Di film itu, bisa aja Pras nggak usah berhenti buat nolongin orang kecelakaan. Dia nggak akan poligami, dia nggak mesti berantem sama Arini. Tapi di akhir, dengan Pras menikahi Mei Rose, semuanya bisa 'dipaksa' belajar untuk lebih ikhlas. Gue nggak melihat sisi ketidaksetiaan Pras di film itu. Karena di film itu, waktu Pras ketemu sama Arini dengan Pras ketemu sama Mei Rose itu digambarkan dengan cara yang beda. Pras nggak pernah niat buat poligami, tapi saat ia terlanjur terjebak dalam kondisi seperti yang dia alami di depan matanya, apakah dia akan membiarkan seseorang mati bunuh diri di depan matanya (lagi)?

Coba deh kalau pas nonton film ini, perhatikan pas bagian Nadia mendongeng. Sesungguhnya disanalah esensi film ini berada. Iyee, yang pas dia nyeritain rajanya pulang bawa peri jahat itu...

Penasaran kan penasaraaan? Lihat deh di bioskop, masih tayang kok filmnya :)

***
Soundtrack Surga yang Tak Dirindukan by Krisdayanti:

p.s. Habis ini pengen baca novelnyaaaa~ Mbak Asma Nadia, aku dikirimi novelnya sih :3 *wuuuu njaluk-an

***
Arini: "Mas, mau jadi imam?" | Pras: "Secepat itu?" | Arini: "Loh, bukannya sholat harus disegerakan?"

12 April 2015

#TheParade2015 ada NAIF!

Mau ngepost dikit ah. Haha.

Siapa yang malam mingguannya seru angkat tangaaaaan?!!
Gue! Gue! Hehe. Duh maap nggak kontrol gini ya. Habisnya seneng sih soalnya semalem bisa karaokean di depan panggung outdoor #TheParade2015 di Jogja Expo Center.

Jadi, beberapa hari yang lalu Farid bilang kalau White Shoes and The Couples Company sama Naif bakal manggung di #TheParade2015. Keduanya itu band yang disenengin sama Farid, jadinya dia excited buat nonton. Eh, bener aja pas hari Jum'at, setelah ditinggal sibuk seharian, tau-tau gue disms dan dimention:

"Besok nonton WSATCC sama Naif yuk"

Wahaha, semangat doong.. Mau mauu... Udah lama banget nggak keluar pas malem minggu, begitu diajakin langsung girang. Kebetulan gue belum pernah lihat WSATCC manggung, tapi gue tau beberapa lagunya Naif. Jadilah lantas nyari-nyari lagu mereka dan pemanasan dengerin dulu biar nggak cengo aja nantinya. 

Skip.

Sampailah di venue, diantara para anak gaul Jogja. Kami sempet muter-muter dulu di dalam Hall Expo nya JEC buat lihat-lihat apa aja yang ada di #TheParade2015. Tapi karena emang nggak ada niatan buat beli sesuatu dan memang tak ada sesuatu yang menarik di mata gue, kami langsung ke panggung outdoor buat menunggu waktu yang dinanti #tsah.

Sambil duduk, gue ngeliatin katalog apa brosur apa leaflet atau apalah itu yang dibagiin pas masuk ke venue, setelah baca-baca agak banyak gitu, sampailah gue di bagian yang bikin alis naik sebelah sambil bilang 'heeeee' --"


Tau maksudnya? Enggak? Yaudah :3

Di rundown sih, WSATCC bakal perform jam 20.30, namun pada kenyataannya baru keluar jam 21.00 hihi. First impression gue waktu lihat WSATCC adalah, wauw, vokalisnya seru abis. Gue nggak hafal lagu-lagunya, tapi sepanjang mereka perform, gue nggak berenti merhatiin gerakan-gerakan vokalisnya. Yah, gue nggak menemukan kalimat yang bisa menggambarkan itu. Apa ya, epic aja gitu. Lihat-lihat di youtube aja deh kalau mereka perform. Hihi.

Aaaaaaand, finally... NAIF!
Dibuka dengan lagu yang berjudul 'Jikalau'. Gue baru pertama kali denger lagu ini, tapi langsung ngena banget karena seseorang-yang-berdiri-di-sebelah-kiri-gue-nyanyinya-sambil-nengok-nengok-ke-gue-gitu, kan jadinya aaaaaa gitu deh :3

Lagunya macem ini nih:


Dengerin deh..

Terus disusul lagu Kuda Besi. Terus, tau-tau 'Karena Kamu Cuma Satu'. Ah, ini sih juaranya :D Terus ada 'Dimana aku disini', 'Posesif', 'Air dan api', 'Aku Rela', 'Dia adalah pusaka sejuta umat manusia di dunia', 'Televisi'. Pokoknya satu jam lebih deh Naif nyanyi. Pas David udah closing, ternyata masih ditambah satu lagu lagi 'Mobil Balap'. Gue banyak bisa lagu-lagu yang dibawain Naif semalam tadi, makanya meskipun lapeeeeeeeer banget karena belum makan dan kaki pegel-pegel karena berdiri cukup lama, gue tetep heboh nyanyi. Hihi. Farid juga, keliatan banget kalau capek. Iyalah, secara, seharian dia udah banyak agenda dari siang. Habis ngecat markas kerjanya juga. Tapi kami menikmati semalam tadi kok. Berdiri sambil nonton band kesukaan, nyanyi bareng, yah sesederhana itu :)

Menurut gue, nonton konser rasanya lebih puas karena meskipun lagu-lagunya Naif terkesan jadul-jadul, tapi dengan musik live dan suara yang menggelegar, jadi keren abis hasilnya. Beda kalau cuma dengerin dari mp3. Ini gue nulis sambil dengerin lagu-lagunya Naif yang semalem dinyanyiin, biar feelnya masih kerasa. Haha. Walaupun kalau nonton konser sambil berdiri adalah suatu hal yang kurang menyenangkan bagi manusia-manusia imut (baca: pendek), karena harus pinter nyari sela-sela kepala orang biar bisa lihat apa yang ada di panggung, tapi gue puas. Eh, tapi ada satu hal yang membuat agak kurang nyaman. Bukan kurang nyaman sih, tapi lebih ke kasian aja gitu. Pas semalem nonton sampe jam 23.00 lewat itu, ada penonton yang bawa anak kecil. Seumuran Radit lah, 3 tahun-an. Kasian banget jam segitu masih melek, udah gitu kan disana banyak asep rokok. Tapi ya, yasudahlah ya mungkin yang ngajak punya alasan logis dan masuk akal kenapa anak sekecil itu diajak nonton.

Btw, ini nih ke-petjah-an semalem sama Naif:

Gue di situ tuh, nyempil sambil ngangkat kedua tangan gue ke atas :D

Btw, makasih ya 

❤ 

30 Maret 2015

Ujung Genteng, Maret 2015

Baru aja pulang dari piknik tiga hari dua malam di Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat. Dibalik 6 jam perjalanan berangkat dan 8 jam perjalanan pulang ke Bogor, ini dia sedikit oleh-oleh yang bisa dibagikan:
Kalau pagi-pagi pantai disini agak surut, jadinya bisa jalan ke tengah laut dan nyari ikan diantara karang-karang.




Pantai jam 10.00






Ayah - Ibu - Radit. Menanti Senja.




One of my favorite photos :3 Lebih mirip gurun dibanding pantai.



Foto-foto lain, pas pantai lagi bagus-bagusnya. Sayangnya udah kena filter dari  B612 :|





Gimana?
Subhanallah banget kan? Barangkali Ujung Genteng bisa jadi salah satu destinasi wisata bloggers sekalian. Tapi sebelum yas yes yas yes mau kesana, silakan dilihat dulu, sebenernya Ujung Genteng ada dimana sih...

Ujung Genteng itu di:

Di sini..

Ciracap, Sukabumi, Jawa Barat

Terus, kalau dari Bogor sebelah mananya?

Sebelah sini~~~

 Jauh? Ya lumayan lah sekitar 170km dari rumah gue. Jangan dibayangkan perjalanan yang mulus halus ya, soalnya perjalanan ke Ujung Genteng ini harus melewati gunung yang jalannya bener-bener berkelok dan banyak yang masih rusak. Alhasil perjalanan kemarin gue harus minum obat anti mabuk perjalanan supaya sepanjang jalan gue tertidur pulas. Haha.

Kalau udah sampai di Ujung Genteng, seharusnya bayar dulu di pos registrasi. Tapi karena waktu itu gue dateng hari Jum'at dan udah mepet waktu Jum'atan, jadilah pos registrasinya nggak ada yang jagain, njuk bablas. Hehe. Jangan khawatir nggak dapet tempat buat nginep atau istirahat, karena di sepanjang pantai bakalan ada banyak banget pondokan yang ditawarkan. Pas kemaren gue kesana sih gue nginep di Pondok Hexa. Berhubung kesananya berlima sama Ibu Ayah dan Adek adek, kami nyewa satu kamar dengan dua bed seharga hampir 400k per malam. Dengan fasilitas AC dan hot water. Worth it sih, soalnya mumpung gue lagi nggak liburan ala-ala backpacker gitu jadinya ya liburan senyaman mungkin. Haha.

Selain bisa menikmati pantai dari pagi sampai pagi lagi, pengunjung juga bisa ke berbagai destinasi lain. Contohnya ke Konservasi Penyu buat lihat pelepasan penyu, atau ke pantai yang biasa dipakai buat surfing. Kalau mau ke Konservasi Penyu, dari Ujung Genteng harus jalan/berkendara dulu kira-kira 5km dengan rute yang non aspal alus. Terus masuk ke kawasan konservasi yang namanya Kawasan Konservasi Penyu Pantai Pangumbahan dengan membayar Rp. 10.000 per kepala untuk ikutan pelepasan penyu. Pelepasan penyu ada setiap hari jam 17.30. Sayangnya waktu itu mendung, nggak dapet sunset dan ngelepasin penyu sambil hujan-hujanan. Haha.

Btw, sedikit informasi soal penyu yaa.. Jadi, penyu yang dilepas di Pantai Pangumbahan ini baru berusia sehari semalam. Terus dia kudu dilepas gitu aja di lautan, sendiri. Tujuannya adalah supaya penyu itu bisa tumbuh secara alami di lautan lepas untuk suatu hari nanti kembali lagi ke Pantai Pangumbahan saat mereka udah dewasa, untuk bertelur dan menghasilkan generasi penyu selanjutnya. Salah satu syaratnya adalah, Pantai Pangumbahan tidak boleh dirusak dan harus tetap dapat dikenali si penyu sebagai rumahnya. Ini petjah bangen dan mengandung filosofi banget men. Karena sejauh apapun si penyu pergi, dia akan pulang lagi ke tempat yang disebut rumah. Dengan terms and condition yang harus dipenuhi, yakni si penyu masih mengenali tempat yang disebut dengan rumah itu.

Di Kawasan Konservasi Penyu Pantai Pangumbahan

Umurnya baru sehari semalam, tapi udah harus dilepas hidup di lautan lepas.

"Tungguin akuu..."
Yang paling bikin seneng adalah, bisa liburan berlima. Novi pas libur karena kelas XII pada ujian, kemudian Ayah pas dapet libur piket dari kantor. Insya Allah selalu ada waktu untuk berbahagia bersama orang-orang tersayang :)
Nah, liburan kelar. Habis ini mau piknik lagi apa ngerjain skripsi? :3

Piknik kemana lagi nih?

18 Maret 2015

Welcome Back

Wuaaaah, bersalah sekali rasanya sama blog ini karena terbengkalai begitu saja tanpa ada postingan baru sejak sebulan yang lalu. Maapin aku yang baru asik nulis di tempat lain yaaaa *nyengir :D

Iya, jadi selama gue nggak ngeblog disini, gue menulis di beberapa tempat lainnya. Di tumblr iya, sampai beberapa draft tulisan di One Note yang memang tidak untuk keperluan publikasi *sok banget kayak bakal ada yang nyariin kalau nggak nulis di blog*. Barangkali karena dunia nyata lagi menenggelamkan gue didalamnya, jadi gue nggak terlalu banyak menuliskan ekspresi disini.

So, apa yang akan gue ceritakan kali ini?
Emm, mungkin diawali dari membaiknya hubungan gue dengan salah seorang perempuan yang sempet nggak enak dua tahun yang lalu. Bener sih, kadang, waktu memang bisa menjadi obat dari luka. Waktu memberikan gue spasi yang akhirnya bisa gue isi dengan berbagai hal lain yang bisa bikin gue bahagia. Dan akhirnya secara sendirinya, gue bisa memaafkan dan memulai lagi semuanya dari awal. Haha, ribet kan bacanya. Barangkali setelah ini gue dan dia bisa berteman baik. Barangkali..

Terus, tentang gue yang akhir-akhir ini jadi lumayan sering masak. Haha. Banyak sih alasan kenapa pada akhirnya gue mau mulai sering menyentuh dapur rumah simbah. Pertama, bikin minum buat kakang jurnalis yang sering main ke rumah, sekedar mampir, ngerjain sesuatu atau cuma bermalas-malasan seharian. Kedua, karena gue mulai kangen masakan rumah yang dimasakin ibu. Gue sering nggak cocok sama masakan yang dibikin simbah, makanya, gue belajar buat masak kecil-kecilan. Alasan terakhir karena kakang jurnalis sering lebih memilih masak sendiri daripada jajan di luar kalau urusan makanan.

Misal,
Gue: "Habis ini mau makan dimana?"
Kakang: "Masak aja..."

Pada dasarnya, kakang ini memang lebih lihai di dapur ketimbang gue. Lebih kreatif juga. Jadilah beberapa eksperimen sudah kami lakukan di dapur simbah. Dan simbah ya udah yang biasa aja lihat kami ribet di dapur. Malah seneng, biar gue kenal dapur, dan makannya jadi lebih banyak. Yaaa, itung-itung latihan biar istriable gituu. Haha.

Belakangan ini intensitas ketemuan sama temen-temen Cuplaxer agak berkurang. Hal ini disebabkan karena kami udah mulai sibuk sama urusan kami masing-masing. Maklum, mahasiswa semester banyak yang udah mulai merencanakan kapan keluar kampus bawa gelar S.Pd biar nggak menuh-menuhin parkiran lagi. Kami udah nggak ada kelas, jadilah kalau ketemu biasanya di perpus aja. Nyicil ngerjain cklipci sambil diselingi ngobrol. Kalau pas waktu makan siang ya dilanjut makan siang. Kadang kangen aja gitu sama suasana kelas dari semester satu sampai semester enam. Ah, masanya sudah lewat ternyata....

Tuh kan jadi sedih...

Beberapa temen udah hampir selesai ngerjain skripsi. Kalau gue sih masih slow but sure. Ada juga temen-temen yang belum memulai, dengan alasan yang mereka punya masing-masing. Tapi doa gue, selalu dan selalu, semoga skripsi gue dan temen-temen selalu diberikan kemudahan dan kelancaran, biar bisa lulus tepat waktu. Aaaaaamiiiiiin~~~

Jadi inget, kemaren banget nih, gue konsultasi bab I sama kakang jurnalis. Lebih tepatnya konsultasi latar belakang. Awalnya kakang nggak mau, karena dia takut dosbing gue magabut alias makan gaji buta. Padahal niatnya tuh biar nggak malu-maluin banget kalau pas bimbingan ke dosbing. Haha. Ternyata bener, pas baca paragraf per paragraf, dia udah nyengir-nyengir tanda ada sesuatu yang menurut dia masih kurang beres. Bener aja, mulai dari repetisi kata yang terlalu banyak, sampai kalimat yang terlalu panjang. Gue jadi dapet pelajaran lagi soal menulis kalimat efektif dari kakang. Terus, kakang bantu gue ngelurusin alasan pembuatan skripsi gue. Dengan gayanya dia yang serius tapi malah bikin pengen ketawa. Pokoknya makasih banget buat masukannya yaaaa <3 aaaamiiiin="" juga="" lancar="" nanti="" p="" semoga="" skripsimu="" yaaa..="">

Belakangan ini juga lagi 'harus' seneng sama nggambar..

Hasil karya beberapa minggu kebelakang

Ah, sebenernya banyak banget wishlist gue dalam hidup ini. Semoga semuanya lancar... 
Bismillah.... :)

Udah ya, mau bobok.

2 Januari 2015

End and Beginning

Pagi kedua di 2015. Hujan semalaman ceritanya, alhasil bikin gue nggak bangun sampe Subuh padahal udah niat mau ngelanjutin revisian proposal. Jadinya, waktu tulisan ini gue ketik, gue lagi ngerjain revisian proposal. Haha. Prolog yang aneh. Semoga hujan semalaman ini hanya punya efek yang bermanfaat buat seluruh dunia.

Well, 2014 telah berlalu di belakang sana. Selama dua belas bulan gue melewati banyak hal. Mulai dari ulang tahun diri sendiri, ulang tahun orang-orang tersayang, pergi ke tempat ini, pergi ke tempat itu, sampai di penghujung tahun kemarin, gue melewati satu momen bersejarah dalam hidup gue. Sesuatu yang hanya akan gue alami sekali seumur hidup. Yang dulu cuma dibercandain waktu semester satu kuliah, dan di semester tujuh ini jadi kenyataan. Yang prosesnya Alhamdulillah cepet dan lancar. Dan semoga ini memang membawa kebaikan buat semuanya. Aamiin..

Setiap orang akan menempuh jalannya masing-masing, begitupun kami. Saat temen-temen sibuk untuk menggeluti persyaratan kelulusan, kami melakukan hal yang lain. Kami punya cita-cita dan harapan untuk beberapa tahun kedepan. Jadi, saat malam penghujung tahun 2014 kemarin itu kami lihat ratusan kembang api berpendar di langit dengan suara yang sebenernya bikin telinga jadi pengang, kami sempet bicara sekilas,

"Udah 2015, cepet ya.."

Itu menandakan bahwa tahun ini kami harus lebih serius untuk membangun semuanya. Persiapan memang tidak butuh waktu yang sebentar. Tapi karena kami mengerjakannya bersama, semoga segalanya menjadi lebih mudah. Dan semoga orang-orang di sekeliling kami selalu memberikan doa yang terbaik untuk kami.

Ketika tahun baru dimulai, maka orang-orang akan membicarakan soal resolusi. Gue juga punya. Salah satu yang terbesar adalah, menyelesaikan tanggungan gue sebagai seorang mahasiswa. Ya, mau tidak mau, suka tidak suka, inilah gerbang yang harus dilewati sebelum gue bisa melangkah ke jenjang selanjutnya. Jadiiii, tahun ini gue kudu semangat untuk berlari dengan santai *apaan* --"

Yang kedua adalah, mulai merintis usaha yang akan kami besarkan bersama satu orang lainnya. Doain semoga lancar dan berkah buat kami. Aamiiin... Ditunggu aja launching webnya. Hihi.

Gue memang tidak terlalu bisa untuk memotivasi diri gue sendiri dengan kata-kata yang sulit dicerna orang-orang. Gue cuma bisa cerita lewat tulisan, tapi gue nggak bisa bikin berita. Haha. Jadinya, ya seperti ini. Bahasa yang gue gunakan ya seperti ini. Acak-acakannya juga ya seperti ini. Tapi semoga gue nggak lupa caranya nulis skripsi yah :')))))

Oiya, di 2014 gue menemukan ini di twitter Farid.


Gambar dari: sini

Pie perasaanmu? Aku? Aku sih njuk nggak bisa bicara apa-apa. Cuma terdiam daaaaan.. 
Ya gitu deh :3