7 Januari 2012

Once Upon a Love dan Gagal Move On

Kemarin, sempet dipinjami teman kuliahku sebuah novel. Judulnya 'Once Upon a Love'. Novel itu tertarik temanku beli karena baca sinopsis di sampul novel tersebut. Tapi beberapa jam setelah ia beli, ia berkata bahwa novel itu kurang menarik menurutnya. Karena penasaran, akhirnya aku meminjam novel tersebut keesokan harinya.


Once Upon a Love,
Begitu aku membuka halaman ucapan terima kasih, mataku tertuju pada 3 huruf yang ditulis berhimpitan itu. IPB. Seketika aku teringat seseorang. Lalu kulanjutkan membaca sampai pada halaman dua, tercetak paragraf ini ..

"Ia kembali lagi kesini, Bogor, dan toko buku tempatnya berpijak sekarang. Waktu yang tela ia lewatkan sejak pergi dari kota ini sama sekali tak ingin dikenangnya. Namun, sejanak langkahnya membawaya melintasi kota ini, ingatan demi ingatan mulai bergulir pelan. Belum beberapa jam dia berada di kota ini, tapi pikirannya sudah penuh sesak.."

Aku pikir, novel ini akan menjadi "gue banget". Dikisahkan ada 3 tokoh utama, Lolita, Ferio dan Dru. Lolita sudah mencintai Ferio selama dua tahun, tetapi Ferio mencintai sahabatnya, Dru. Klasik sih ceritanya. Kisah diawali dari sebuah novel yang diterbitkan Lolita, yang berjudul "Inspirasiku" yang memang based on true story dimana Ferio lah yang menjadi inspirasi Lolita dalam menulis. Sebuah kalimat khusus dalam novelnya pun sampai tertulis :

"teruntuk Ferio Harris yang tak pernah lekang oleh waktu. Aku mencintaimu.."

Begitu beraninya Lolita menuliskan itu pada bukunya. Suatu hari, Ferio meminta Lolita untuk menemuinya di Kebun Raya Bogor. Uh, tiap setting yang ada di novel itu mampu membangkitkan seluruh kenanganku akan kota Bogor, bersama seseorang. Pada intinya, Lolita akhirnya secara langsung mengungkapkan perasaannya kepada Ferio, namun Ferio benar-benar tidak bisa mencintai Lolita, bahkan setelah dua tahun lamanya perasaan itu ada di hati Lolita dan setelah seluruh pengorbanan Lolita untuk Ferio. Setelah diajak menaik-turunkan emosi dengan ceritanya yang alurnya membingungkan menurutku, sampailah di titik dimana Dru menyuruh Ferio pergi dan meninggalkannya karena Dru hanya mencintai Ferio sebagai sahabat, dan karena memang Dru sudah tidak sendiri lagi.

Dan novel ini diakhiri dengan.

"Terima kasih untuk hari ini, La"
Lolita hanya membisu
"Terima kasih sudah peduli padaku dan mencintaiku. Dan lo tau kan apa jawaban gue atas pernyataan di buku lo itu?"
Lolita mengigit bibir. Ferio menepuk bahu Lolita pelan,
"You better move on.."

Gila.. Endingnya tuh. Aduh...
Aku seketika memposisikan diriku sebagai Lolita. Yah, mungkin mirip-mirip lah bedanya aku tidak pernah menulis novel, tapi ada seseorang di Bogor sana yang memang selama dua tahun ini menginsprasiku untuk menulis. Apapun itu. Lalu ketika settingan berada di kampus IPB Dramaga. Wah, ini semakin membuatku tak bisa menahan diri untuk tidak menghubungi orang tersebut. Hujan, KRB, Istana Bogor, Botani Square, Tugu Kujang. Semua ingatan terulang kembali, menguap dalam otakku, lalu berjejalan keluar. Rebutan. Dan itu sakit.

Mungkin endingku sama seperti novel itu, pada akhirnya aku yang harus move on. Dan, sekarang, ketika aku sudah 7 bulan berada di Yogyakarta. Kesempatan move on itu sempat terbuka beberapa kali. Tapi jatuh cinta itu harus datang di waktu dan orang yang tepat. Mereka yang lebih dahulu datang, tak bisa begitu saja diterima oleh hatiku. Masih ada perasaan tidak rela ketika aku harus memindahkan perasaanku begitu saja. Akhirnya aku sendiri, membiarkan perasaanku mengalir kemanapun dia mau tanpa pernah ku paksa untuk berhenti pada satu orang. 

Sampai orang itu datang, membawa kata-kata indah dan perhatian yang seolah tulus. Hatiku perlahan memilih dan tertaut. Mungkin sekaranglah waktu yang tepat, dan ternyata memang tepat. Tetapi, ternyata caraku salah. Mungkin waktunya tepat, tetapi orangnya yang tidak tepat. Mungkin cara hatiku mendeskripsikan dan menguraikan segala sikapnya yang terlewat berlebihan. Aku ingin menghindarinya. Tapi ketika ku hindari, ia mnghampiri. Dan ketika aku tertarik kembali, dia yang lari. Tidak jelas. Bahkan sampai sekarang aku tidak tahu statusnya apa. Haha. 

Ya, saya sekarang paham kenapa saya harus mundur. Mumpung belum terlalu jauh. Jatuh cinta harus pada waktu dan orang yang tepat. Sekarang, waktunya tepat tetapi orangnya yang tidak tepat. Saya deklarasikan, sampai detik ini saya menulis ini, saya gagal move on.

3 komentar:

Komentar dari: