13 Januari 2013

Keinginan Rehan

"Bunda, Ayah kok belum pulang? Kita jadi kan pergi ke kebun binatang?", Rehan kecil yang baru keluar dari kamar mandi bertanya sambil menarik-narik manja gamis unguku.


"Sebentar lagi pulang, sayang. Rehan sekarang ganti baju dulu, udah bunda siapin di tempat tidur. Bunda mau siapin bekal untuk Rehan dulu ya..", aku bergegas meninggalkan Rehan dengan handuk hijaunya, ke dapur lalu mematikan kompor yang sedari tadi memanaskan masakanku. Sayur sop kesukaan Rehan.

Sesekali ku lirik sulungku yang mematut diri di depan cermin. Gayanya sungguh mirip ayahnya. Rambutnya dibuat gaya yang paling trendi, menurutnya. Sambil sisirnya digunakan menjadi microphone kemudian ia bernyanyi kecil menirukan penyanyi favoritnya. Aku tersenyum kecil, aku sungguh bahagia memiliki Rehan, dan ayahnya. Dua jagoanku yang selalu bisa menghadirkan tawa dalam setiap hariku. Sungguh, Tuhan, aku berterima kasih Engkau sudah berkenan mengirimkan dua malaikat yang indah ini.

Tiga tahun kebersamaanku dengan Rehan, membuat aku setiap harinya belajar untuk menjadi seorang ibu yang baik, ketika ayahnya Rehan harus bertugas di luar kota. Seperti saat ini, kami menunggunya kembali setelah seminggu masa dinasnya di Surabaya. Semalam, ia menelfon dan Rehan meminta ayahnya untuk mengajaknya berjalan-jalan ke kebun binatang. Sudah ku katakan pada Rehan bahwa ayahnya lelah, tapi Rehan bersikeras dan pada akhirnya ayahnya menuruti keinginan Rehan. Suamiku bilang, dia sudah berhutang banyak waktu dengan kami berdua. Pergi ke kebun binatang dengan kami malah akan menambah semangatnya. Baiklah, dan di lubuk hatiku yang paling dalam, aku pun turut senang. Bahkan aku sudah lupa kapan kami pergi bertiga dalam setahun terakhir ini.

Aku tersentak saat handphoneku berbunyi, sebuah telepon dari nomor suamiku.

"Halo, Assalamu'alaikum. Benar ini istri bapak Afif?", tanya seseorang di seberang sana.

"Wa'alaikumsalam. Iya benar, ini dengan siapa ya? Kenapa menggunakan nomor suami saya?"

"Saya Budi, teman seperjalanan Pak Afif dari Surabaya. Saya harap ibu tabah mendengarnya. Travel yang kami tumpangi untuk kembali ke Jakarta mengalami kecelakaan di jalan tol dalam kota. Dari 8 orang yang mengisi travel tersebut, 3 diantaranya meninggal dunia, dan salah satunya Pak Afif........"

Aku kehilangan sebagian pendengaranku. Tidak percaya. Penglihatanku membuyar, dan semuanya gelap..

***
"Mbak Nai, Mbak Naila..."

Aku membuka mataku. Yang kulihat saat itu adalah kerumunan orang yang mengelilingiku. Dan yang memanggilku tadi adalah Fitri, adik suamiku yang wajahnya pun tak kalah sendu daripada diriku.

"Mbak, Mas Afif mau dikafani. Mbak Naila mau bertemu dulu untuk terakhir kalinya?", tanyanya sekali lagi. Dan aku masih belum bisa menerima semua yang kudengar.

"Mas Afif nggak pergi. Mas Afif masih di jalan, kami mau ke kebun binatang hari ini. Mana Rehan, Fit. Manaa?", aku kehilangan sebagian kontrol emosiku. Cengkraman Fitri di tanganku makin kuat dan aku hanya bisa duduk sambil terisak. Rehan menghampiriku masuk kedalam kamar.

"Bunda, Bunda nggak mau ketemu Ayah? Ayah nungguin Bunda. Rehan udah ketemu ayah, udah cium ayah.."

"Iya sayaaang. Bunda juga mau ketemu ayah.."

"Bunda, berarti hari ini ayah nggak jadi nganterin kita ya? Berarti hari ini kita yang nganterin ayah ya Bun? Padahal kan Rehan besok mau cerita sama temen-temen Rehan kalo Rehan habis dari kebun binatang sama Ayah..."

Kupeluk Rehan kecilku, erat. Bahkan ia tidak menangis sama sekali. Aku tak kuasa menahan seluruh bulir air mata yang mendesak ingin keluar. Sambil tertatih, kupaksakan langkahku keluar kamar. Pergi ke sebuah ruangan yang menampilkan pemandangan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Kudekati wajah suamiku. Ia tersenyum dalam beku tubuhnya. Kucium keningnya, sambil kubisikkan. Selamat jalan suamiku, semoga kau mendapat tempat terindah disisiNya, aku akan merawat Rehan sampai ia bisa seperti dirimu. Sampai ia bisa menjadi seseorang yang selalu dirindukan orang lain, yang bisa menjadi pelengkap dalam kehidupan seseorang. Seperti kamu, yang melengkapi hidupku ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar dari: